Rabu, 27 Juli 2022

MUKTAMAR KE-48

MUKTAMAR KE-48

"Pak Bei dari mana pagi-pagi kok sudah kelihatan capek?" tanya Sasa katika Pak Bei baru turun dari mobil.

"Dari Tawangmangu, Sa? Kurang tidur," jawab Pak Bei sambil masuk ke warung Soto Kartongali Jolotundo. Sasa pun mengantar sahabatnya dan menemani duduk di meja depan dapur. Pak Bei langsung pesan soto dan teh nasgithel. Satu porsi untuk Pek Bei sendiri dan satu porsi untuk Sasa sahabatnya.

"Piknik kok sendirian to, Pak Bei? Nginap lagi."

"Cuma nginap semalam, tapi bukan piknik, Sa."

"Loh, ke Tawangmangu kalau bukan piknik terus apa, Pak Bei?"

"Rapat, Sa."

"Rapat apa? Politik?"

"Ya bukanlah, Sa. Aku kan bukan orang politik."

"Ya siapa tahu Pak Bei ikut trend nyiapkan Calon Presiden untuk Pemilu 2024 nanti?"

"Walah, Sa. Politik kan sudah banyak yang ngurusi. Bahkan saling berebut peran. Rebutan investasi untuk masa depan."

Mbak-mbak pelayan datang mengantar soto dan teh pesanan Pak Bei. Dua sahabat itu pun langsung sibuk dengan botol kecap, sambel, dan sendok masing-masing. Sambil menikmati soto, Sasa membuka obrolan lagi.

"Lha terus Pak Bei rapat apa jauh-jauh ke Tawangmangu? Pas musim dingin lagi. Pasti dingin banget di sana."

"Rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo, Sa."

"Ooh iya, ya. Mau ada Muktamar di Solo. Jadinya kapan, Pak Bei? Harusnya sudah Juli 2020 lalu, ya?"

"Betul, Sa. Karena pandemi covid-19, Muktamar tertunda hingga 2,5 tahun, dan Insya Allah baru akan terlaksana tanggal 18-20 November 2022 nanti.

"Berarti tinggal 3 bulanan lagi, ya. Wah pasti panitia sudah sibuk sekali."

"Ya iyalah, Sa. Sebagai tuan rumah, wajar kalau panitia kerja keras menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal agar Muktamar nanti sukses."

"Iya, Pak Bei. Saya paham. Namanya juga Muktamar, musyawarah terbesar. Muhammadiyah duwe gawe besar."

"Bener, Sa. Diperkirakan akan hadir tamu  dari seluruh penjuru Tanah Air dan Luar Negeri sekitar 3 juta orang Muktamirin, Penggembira, dan Tamu Undangan. Jutaan orang akan tumplek-blek ke Solo, dan semua tamu harus kita layani dengan sebaik-baiknya."

"Wah pasti Solo nanti luar biasa ramai ya, Pak Bei."

"Ya pasti, Sa. Ini sudah ada beberapa daerah yang ngabari akan hadir ribuan orang. Sekedar contoh, dari Sulawesi Selatan saja akan hadir 15.000 orang Penggembira. Entah berapa kapal PELNI yang akan dicarter dari Makassar-Surabaya PP, lalu berapa puluh bus akan dicarter dari Surabaya-Solo PP. Salah satu Cabang di Gresik juga ngabari akan hadir 15 bus. Dari salah satu Ranting di Surabaya juga akan hadir 7 bus. Itu baru cantoh yang sudah ngabari panitia, Sa."

"Wah terus jutaan orang nanti mau nginap di mana, Pak Bei?"

"Hampir seluruh hotel di Solo sudah kita booking, Sa. Gedung-gedung sekolah Muhammadiyah juga siap difungsikan sebagai penginapan bagi para Penggembira. Rumah-rumah warga juga siap menampung tamu. Insya Allah amanlah, Sa."

"Saya percaya, Pak Bei. Untuk urusan seperti ini Muhammadiyah sudah cukup berpengalaman."

"Yang penting persiapan panitia semaksimal mungkin, Sa."

"Pak Bei sendiri ngurusi apa di kepanitiaan?"

"Aku kebagian ngurusi Seksi Syiar, Sa."

"Seksi Syiar? Apa itu?"

"Seksi yang bertugas mensyiarkan Muktamar, Sa. Ada 6 kegiatan menarik untuk diikuti masyarakat."

"Apa saja itu?"

"Pertama, Apel Kesiapan yang akan kita adakan pada 24 September 2022. Acara ini untuk menunjukkan kesiapan seluruh Panitia, warga Muhammadiyah, dan Pemerintah Surakarta menyelenggarakan Muktamar dan menyambut tamu."

"Terus apa lagi?"

"Tabligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat pada 8 Oktober 2022 di Edutorium UMS. Acara ini akan dihadiri ribuan jamaah dan dapat disaksikan secara daring dari seluruh penjuru dunia."

"Wah menarik ini. Saya boleh hadir gak, Pak Bei?"

"Boleh, Sa. Hadir saja ramai-ramai ke Solo. Ajak teman-teman dan jamaah mesjidmu untuk menimba ilmu."

"Siap, Pak Bei. Terus ada acara apalagi?"

"Gowes Virtual."

"Apa itu?"

"Lomba gowes secara daring, Sa. Lomba ini bisa diikuti oleh penggemar gowes dari manapun, seluruh dunia, dan akan menjadi lomba gowes dengan peserta terbanyak."

"Wah asyik itu. Semua peserta hadir ke Solo begitu?  

"Ye enggaklah, Sa. Namanya juga Gowe Virtual. Peserta cukup bersepeda di daerahnya masing-masing dengan jarak tempuh 48 km. Angka ini sesuai dengan Muktamar yang ke-48. Waktunya bulan September-Oktober 2022, terserah mau ambil tanggal berapa yang penting peserta sudah terdaftar dan mengaktifkan STRAVA agar jarak tempuhnya bisa dimonitor Panitia."

"STRAVA itu apa, Pak Bei?"

"Itu aplikasi agar Panitia bisa memonitor secara virtual jarak tempuh peserta. Aplikasi ini bisa didownload dari Playstore. Oya, Sa, pesertanya bukan perorangan, lho, tapi kelompok terdiri dari 5 orang anggota."

"Ooh jadi persertanya berkelompok 5 orang, ya. Baik, akan saya infokan ke para pegowes yang biasa mampir nyoto di sini. Terus kegiatan apalagi, Pak Bei?"

"Lomba Kreatif, Sa. Ada 4 jenis lomba: 1. Lomba Cover Lagu Themesong Muktamar, 2. Lomba bikin Desain Ucapan Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48, 3. Festival Baca Al-Quran, dan 4. Lomba Dai Cilik.

"Itu lomba untuk umum, Pak Bei?"

"Untuk pelajar dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan Umum."

"Apalagi, Pak Bei?"

"Muktamar Talk bersama Mata Najwa dan Narasi TV dengan narasumber Ketum PP Muhammadiyah, Ketum PBNU, dan lain-lain. Bertempat di Edutorium UMS tanggal 10 November 2022."

"Wah menarik. Itu nanti seperti yang sering kita lihat di TV dengan presenter Najwa Shihab yang pinter itu, ya?"

"Iya, Sa."

"Kalau saya pengin datang boleh gak, Pak Bei?"

"Boleh saja. Tapi tentu audiens yang masuk ke ruangan akan diatur sesuai dengan kebutuhan broadcasting, Sa."

"Terus kegiatan apalagi Pak Bei? Itu tadi baru 5."

"Nah ini kegiatan Syiar yang terakhir: Malam Mangayubagyo, tanggal 18 November malam di halaman parkir Edutorium UMS."

"Malam Mangayubagyo itu apa, Pak Bei?"

"Ini acara penyambutan 'Selamat Datang' yang diselenggarakan oleh Panitia untuk para Musyawirin dan Penggembira, Sa. Acara ini akan dimeriahkan oleh Metronome Band dari Semarang, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, LETTO dari Yogyakarta, dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah gayeng tenan ini. Masyarakat umum boleh datang gak?"

"Boleh banget, Sa. Silakan datang ikut menikmati acara ini. Oya, di acara itu nanti juga akan dilakukan Penyerahan Anugerah Kebudayaan dari PP Muhammadiyah untuk 3 Maestro Keroncong Solo, yakni Pak Gesang (alm.), Bu Waldjinah, dan Didi Kempot (alm.). Ketiganya dipandang sebagai seniman musik asli Solo yang sudah berjasa besar bagi perkembangan musik keroncong di Tanah Air."

"Alhamdulillaah, bagus banget itu, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Ya mumpung Muktamarnya di Solo, jadi sekalian aja Muhammadiyah memberikan penghargaan untuk seniman-seniman besar dari Solo. Nanti kalau Muktamarnya di kota lain juga bagus kalau bisa ada agenda yang sama, memberi penghargaan pada seniman setempat."

"Ada juga kegiatan menarik untuk dikunjungi, Sa."

"Apa, Pak Bei?"

"Selama Muktamar nanti akan diadakan Bazar UMKM dan Expo karya-karya inovatif dari Sekolah-Sekolah, Perguruan-Perguruan Tinggi, dan Lembaga-Lembaga Muhammadiyah. Bazar UMKM nanti akan diikuti 500an stand pelaku usaha yang menampilkan aneka produk."

"Jadi seperti Pasar Rakyat ya, Pak Bei. Bagus itu. Semua Muktamirin dan Penggembira tentu butuh oleh-oleh. Semoga semua peserta Bazar sukses menjual produknya." 

"Iya, Sa. Semoga sukses semua. Aku pulang dulu ya, Sa. Mau istirahat. Istriku tentu juga sudah nunggu-nunggu."

"Njih, Pak Bei. Terima kasih informasi dan traktirannya. Salam untuk Mbakyu di rumah."

Pak Bei menuju kasir, mambayar makanan, dan langsung pulang. 

#serialpakbei






















Rabu, 20 Juli 2022

SASA RINDU DEMO

SASA RINDU DEMO

"Kalau melihat kahanan negeri kita saat ini, bagaimana menurut Pak Bei? Apa yang mungkin akan terjadi?," tanya Sasa yang tiba-tiba duduk di samping Pak Bei yang baru asyik menikmati soto.

"Kahanan apa maksudmu, Sa?"

"Ya kahanan negara kita saat ini."

"Baik-baik saja, kok."

"Baik-baik saja bagaimana to, Pak Bei? Jelas semakin mengkhawatirkan, lho."

"Apanya yang mengkhawatirkan? Gak usah baper, Sa. Gak usah kagetan. Slow wae," kata Pak Bei sambil asyik menghabiskan soto di mangkuknya.

"Wah gimana, ya. Mau bilang apa kalau hidup seakan terus-menerus dibayang-bayangi hantu, Pak Bei?"

"Hantu? Apa maksudmu?"

"Sejak pandemi covid-19 kita dioyak-oyak dan ditakut-takuti harus ikut vaksin. Pas mau Idul Adha kemarin, sapi-sapi milik petani-peternak pada mati bergelimpangan tiap hari karena virus PMK. Ibu-ibu harus rela antri panjang hanya untuk beli minyak goreng murah karena harga di pasaran membumbung tinggi. Perajin tahu-tempe kesulitan cari bahan baku, kedelai. Harga BBM dan listrik PLN tiba-tiba naik. Anak-anak sekolah juga dipaksa beli bahan seragam di sekolah dengan harga sangat mahal." Tampak Sasa masih mengingat-ingat masalah yang dilihat dan dirasakannya.

"Terus apalagi, Sa?"

"Lha ini malah ada lagi drama seorang polisi ditembak mati oleh sesama polisi di rumah dinas seorang petinggi polisi, lalu keluarganya tidak terima dan lapor polisi. Ini lakon apa, Pak Bei?"

"Terus apalagi?"

"Para menteri dan politisi sibuk membangun koalisi menghadapi Pilpres 2024, majang foto di jalan-jalan seakan mereka orang penting dan telah berjasa besar bagi rakyat. Ngrai gedhek semua, gak punya malu. Tiap hari pidato dan ngomong ke wartawan dan media seolah mereka orang hebat, padahal sebenarnya tidak punya prestasi apa-apa selama menjadi pejabat. Tapi rakyat diyakin-yakinkan tiap hari bahwa dia hebat, dan di Pemilu nanti rakyat mau memilihnya."

"Terus....," Pak Bei sudah menghabiskan sotonya, lalu nyeruput teh nasgithel dan menyulut rokok kreteknya.

"Rakyat kok cuma dibohongi dan dianiaya terus-terusan. Saya jadi khawatir ini akan jadi peristiwa besar seperti tahun 97-98, Pak Bei."

"Maksudmu Pemerintah kita jatuh, begitu?"

"Ya itu yang saya khawatirkan."

"Ah kamu saja yang berlebihan, Sa. Kejauhan pikiranmu. Mustahil itu."

"Ya makanya saya tanya Sampeyan, Pak Bei. Bagaimana kita memahami kahanan ini?"

"Kalau menurutku, Sa, kecil kemungkinan Presiden kita jatuh sebelum habis masa jabatannya."

"Kok bisa, Pak Bei? Lha wong tidak punya wibawa gitu kok. Sering tindakannya hanya jadi bahan guyonan anak-anak kecil."

"Tentu Sasa masih ingat, dulu ketika Presiden kita jatuh, itu karena ada kekuatan rakyat dan mahasiswa yang sama-sama gelisah pengin ada perubahan, lalu ada seorang tokoh yang berani tampil dengan segala resikonya memimpin demo berjilid-jilid di berbagai daerah yang terus menyuarakan reformasi. Lha sekarang...mana ada, Sa? Yang ada saat ini hanya para politisi yang masing-masing punya agenda dan harapan bisa ganti jadi penguasa, ganti menguasai aset negeri ini, atau bahkan dia hanya boneka yang dimainkan oleh kekuatan kapital di belakangnya. Gak ada negarawan yang sungguh-sungguh berjuang untuk rakyatnya."

"Wah Pak Bei kok pesimis gitu sih.?"

"Bukan pesimis, Sa. Ini kenyataan."

"Kalau soal polisi ditembak polisi di rumah polisi tadi bagaimana, Pak Bei?"

"Wah gimana ya, Sa. Sekali lagi ini hanya soal adakah orang yang sungguh-sungguh mau dan berani ambil resiko memperbaiki negeri ini. Kalau ternyata tidak ada, toh nanti pelan-pelan rakyat juga akan lupa dengan sendirinya. Rakyat ini gampang dialihkan perhatiannya ke kasus-kasus lain yang juga gampang diadakan, Sa."

"Maksud, Pak Bei?"

"Rakyat ini gampang lali, gampang lupa, gampang emaafkan. Sudah jelas koruptor dan merampok harta negara bertrilyun-trilyun saja, kalau suatu saat dia datang pakai peci dan memberi bantuan ke pesantren, misalnya, rakyat akan memaafkan dan berebut mencium tangannya, kok. Iya, kan?"

"Iya juga ya, Pak Bei. Wah kalau begini, saya jadi kangen pengin ikut demo lagi seperti demo 411 dan 212 dulu."

"Untuk apa, Sa?"

"Setidaknya saya pengin ikut menyadarkan rakyat bahwa setuasi rusak-rusakan ini harus diperbaiki bersama-sama."

"Bagus itu. Kudoakan semoga keinginanmu terlaksana. Aku hanya bisa nyangoni slamet, Sa. Dah ya aku pulang dulu. Kerja, Sa. Kerja. Kerja."

"Siap, Bei. Matur nuwun obrolannya."

Pak Bei pulang untuk mengurus pekerjaannya. Sasa pun kembali ke depan warung, mengatur parkir kendaraan pengunjung Soto Kartongali dengan properti seperti biasanya: sempritan, bendera kecil-lusuh, dan balok pengganjal ban mobil.

#serialpakbei










Sabtu, 09 Juli 2022

JAGAL

JAGAL

"Pangapunten, Pak Bei, saya mau nggenahke," kata Sasa setelah dipersilakan duduk. Tumben Sasa datang pagi-pagi ketika Pak Bei sedang bersih-bersih halaman. 

"Nggenahke soal apa, Sa?" 

"Kemarin ada orang cerita katanya Pak Bei yang jadi jagal sapi kurban di kampung ini."

"Bukan hanya aku, Sa. Ada 3 Jagal di sini, aku salah satunya. Kemarin kami nyembelih 10 ekor sapi. Memangnya kenapa, Sa?"

"Penasaran saja, Pak Bei."

"Kenapa penasaran?"

"Lah setahuku dari dulu Pak Bei ini orangnya lembut, gak tegaan, bahkan gak suka melihat darah. Kok berani jadi jagal? Apa memang sekarang sudah berubah?"

"Hahaha....berubah bagaimana? Aku masih seperti yang dulu, Sa," kata Pak Bei sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi sahabatnya. 

"Lha wong cuma soal nyembelih hewan kurban saja kok Sasa sampai keroyo-royo datang pagi-pagi untuk klarifikasi. Apa masalahnya? Apa ada yang salah?" Pak Bei bertanya-tanya dalam hati sambil membuat kopi di dapur.

"Begini lho, Pak Bei. Selama ini orang beranggapan bahwa jagal itu orang yang punya watak keras dan tegelan, tegaan, bukan hanya pada hewan, tapi juga pada sesama manusia," kata Sasa sambil menikmati kopi panas yang baru disuguhkan Pak Bei. Tampak tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan menyulut satu batang. Asap putih bergumpal-gumpal mulai mengepul dari bibirnya yang hitam menghiasi  teras nDalem Pak Bei. Matahari merah tampak menyembul dari timur, tepat dari balik Gunung Lawu yang tampak biru di kejauhan. "Srengengene wis mlethek, begitu kata orang Jawa. Matahari sudah terbit.

"Lalu apa masalahnya kalau aku jadi jagal kurban, Sa?"

"Sebenarnya ya gak apa-apa, Pak Bei. Aku justru semakin yakin bahwa jagal kurban itu beda dengan jagal manusia."

"Maksudnya?"

"Pak Bei dipilih oleh masyarakat jadi jagal kurban pasti bukan karena Pak Bei ini orangnya sadis dan tegalan, tapi karena dipandang mampu nyembelih hewan kurban sesuai syariat. Ini bukan berarti Pak Bei tidak punya peri-kebinatangan, suka menyiksa binatang, tapi semata-mata karena dipandang mampu menyembelih hewan secara baik dan benar."

"Wah kok adoh temen analisismu, Sa."

"Ya terpaksa mikirku sampai ke sana, Pak Bei."

"Kok terpaksa. Memang ada apa?"

"Aku betul-betul gak habis pikir, bahkan tersinggung, kok ada orang yang berani terang-terangan menuduh umat Islam itu sadis, tidak punya peri-kebinatangan, suka menumpahkan darah, lalu berpesta pora memakan daging hewan yang dicincangnya ramai-ramai. Karena pemakan daging, makanya umat Islam gampang emosi, sumbu pendek, anaknya banyak, dan suka poligami. Jelas ini tuduhan yang tidak main-main, Pak Bei."

"Memang ada orang yang berpikiran seperti itu, Sa?"

"Walah Pak Bei pasti juga pernah bahkan sering baca di medsos. Jangan pura-pura gak tahulah. Banyak orang yang benci Islam, Pak Bei, bahkan berani terang-terangan menghina agama kita."

"Lha terus bagaimana, Sa? Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan soal ujaran kebencian dan menebar kebohongan kan itu soal hukum. Sudah ada yang kawogan, berkompeten. Aparat penegak hukum yang harus gerak cepat agar tidak semakin rusak persatuan dan kesatuan bangsa ini."

"Ya itulah, Pak Bei. Anehnya, para pembenci itu justru mingkem alias diam saja menyaksikan jutaan rakyat tercekik lehernya karena kebijakan politik yang salah. Banyak orang miskin dan  kelaparan, anak-anak kurang gizi dan stunting. Mereka diam saja. Bukankah pemerintah,  pejabat, dan politisi yang mengambil kebijakan salah itulah yang jauh lebih sadis dari jagal hewan kurban, Pak Bei? Lha kok malah dho mingkem?"

"Wah gak tahu aku, Sa. Yang kutahu hanya sederhana, bahwa kita berkurban itu melaksanakan perintah agama, sedangkan menganiaya dan membunuh sesama manusia itu warisan si-Qabil anak Adam yang rakus, tamak, dan bersahabat dengan iblis."

Tampak matahari di timur laut sudah tidak berwarna merah lagi, posisinya sudah agak naik. Udara pagi terasa lebih hangat. Itu pertanda Sasa harus segera pamit untuk menunaikan tugasnya sebagai juru parkir warung Soto Kartongali Jolotundo. Pak Bei pun harus kembali ke halaman menyelesaikan tugas paginya, menyapu dedaunan kering yang berceceran.

#serialpakbei










Jumat, 08 Juli 2022

SASA BINGUNG


SASA BINGUNG

Sasa memang jindul tenan kok. Gak empan papan. Seenaknya sendiri. Maksud Pak Bei cuma pulang sebentar, sekedar mandi, ganti baju, dan ngambilkan beberapa barang pesenan Bu Bei yang lagi bed-rest di Rumah Sakit. Tak lupa sebelum berangkat ngopi dulu segelas agar mata kemepyar tidak ngantuk. Meski badan terasa capek, tapi Pak Bei tetap harus tampil prima dan full-smile agar Bu Bei gembira hatinya dan semangat untuk sembuh.

Tapi apa boleh buat, sore ini Pak Bei gak bisa cepat-cepat kembali ke RS karena Sasa tiba-tiba datang. Untuk sahabatnya yang satu ini, kadang memang Pak Bei lebih sering tidak berdaya menolak kehadirannya.

"Pak Bei, jadinya jamaah mesjid kampung kami akan ikut Idul Adha besok pagi, Sabtu tanggal 9 Juli," kata Sasa setelah nyucup kopi panas yang baru kusuguhkan.

"Looh...katamu mau ikut keputusan Pemerintah tanggal 10 Juli?"

"Ya memang kemarin begitu, Pak Bei. Hari ini pun kami tidak puasa Arafah."

"Kenapa mau ikut sholat Ied besok?"

"Gara-gara ini lho, Pak Bei," Sasa menunjukkan dua foto di HP-nya.

"Dapat dari mana foto ini, Sa?"

"Tadi siang habis sholat dhuhur, beberapa pemuda ribut di serambi mushola. Waktu kudekati, ternyata mereka ngobrol soal foto ini. Lalu mereka tanya ke aku, kapan jadinya mau Idul Adha."

"Terus bagaimana jawabanmu?"

"Kubilang ke mereka, kalau jelas sudah ada bukti seperti ini, aku cenderung lebih percaya keputusan yang pertama."

"Maksudnya?," tanya para pemuda

"Kalender dan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri ini sudah dibuat lebih dulu, maka lebih jujur dan tanpa tendensi politik.
Maka saya lebih percaya itu," kataku pada mereka.

"Jadinya kita akan ikut Idul Adha besok ya, Lek Sas. Kalau begitu jamaah harus dikasih tahu."

"Silakan diumumkan."

"Sa, kalender dan SKB itu kan itu dibuat jauh sebelum ada sidang isbat. Jadi masih bisa dikoreksi," kata Pak Bei.

"Kalau masih bisa dikoreksi mbok gak usah diumumkan tanggalnya. Kasih aja keterangan "menunggu hasil sidang isbat". Tapi kan tidak, Pak Bei. Yang kalender ini juga tidak ada catatan seperti itu. Jelas sekali tanggal merahnya 9 Juli kok."

"Wis sak karepmu, Sa. Itu soal kemantapan hati. Kalau aku jelas, hari ini puasa Arafah dan besok pagi bertugas jadi Khotib Sholat Ied."

"Itu kan Pak Bei. Lha kalau kami, hanya orang-orang desa yang masih minim ilmu agama. Kami hanya bisa berharap Pemerintah membuat keputusan yang menenteramkan dan membahagiakan, bukan malah membingungkan rakyatnya."

"Ya bilang saja pada wakilmu di DPR, Sa. Dulu kalian milih siapa dan dari partai apa? Merekalah yang berkewajiban menangkap dan memperjuangkan aspirasi pemilihnya agar keputusan apapun yang dibuat bersama Pemerintah tidak membingungkan atau bahkan merugikan rakyatnya."

"Walah, Pak Bei ini kok kaya tidak tau saja."

"Tidak tau bagaimana?"

"Lah waktu Pilpres, Pileg, Pilgub, dan Pilkada, rakyat ini milih siapa kan tergantung amplop yang dibagikan para calo. Kami hanya manut hasil nyang-nyangan Pak Lurah, Pak RW, dan Pak RT dengan para calo."

"Ya sudah kalau begitu. Gak usah disesali. Gak usah bingung. Gak usah nanya ke aku. Aku ini juga sama dengan kalian, cuma rakyat biasa, gak bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."

"Aku ini cuma curhat kok, Pak Bei. Ke mana lagi Sasa mau curhat kalau tidak ke Pak Bei sahabat paling setia?"

"Halaah...wis kana ndang balio. Aku mau balek ke RS dulu. Istriku sudah menunggu dari tadi."

"Njih siap, Pak Bei. Salam untuk Bu Bei, semoga lekas sehat bugar kembali...aamiin."

Sasa pamit pulang setelah menghabiskan kopinya. Pak Bei pun langsung tancap gas ke RS untuk kembali ngancani Bu Bei.

#serialpakbei