JAGAL
"Pangapunten, Pak Bei, saya mau nggenahke," kata Sasa setelah dipersilakan duduk. Tumben Sasa datang pagi-pagi ketika Pak Bei sedang bersih-bersih halaman.
"Nggenahke soal apa, Sa?"
"Kemarin ada orang cerita katanya Pak Bei yang jadi jagal sapi kurban di kampung ini."
"Bukan hanya aku, Sa. Ada 3 Jagal di sini, aku salah satunya. Kemarin kami nyembelih 10 ekor sapi. Memangnya kenapa, Sa?"
"Penasaran saja, Pak Bei."
"Kenapa penasaran?"
"Lah setahuku dari dulu Pak Bei ini orangnya lembut, gak tegaan, bahkan gak suka melihat darah. Kok berani jadi jagal? Apa memang sekarang sudah berubah?"
"Hahaha....berubah bagaimana? Aku masih seperti yang dulu, Sa," kata Pak Bei sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi sahabatnya.
"Lha wong cuma soal nyembelih hewan kurban saja kok Sasa sampai keroyo-royo datang pagi-pagi untuk klarifikasi. Apa masalahnya? Apa ada yang salah?" Pak Bei bertanya-tanya dalam hati sambil membuat kopi di dapur.
"Begini lho, Pak Bei. Selama ini orang beranggapan bahwa jagal itu orang yang punya watak keras dan tegelan, tegaan, bukan hanya pada hewan, tapi juga pada sesama manusia," kata Sasa sambil menikmati kopi panas yang baru disuguhkan Pak Bei. Tampak tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan menyulut satu batang. Asap putih bergumpal-gumpal mulai mengepul dari bibirnya yang hitam menghiasi teras nDalem Pak Bei. Matahari merah tampak menyembul dari timur, tepat dari balik Gunung Lawu yang tampak biru di kejauhan. "Srengengene wis mlethek, begitu kata orang Jawa. Matahari sudah terbit.
"Lalu apa masalahnya kalau aku jadi jagal kurban, Sa?"
"Sebenarnya ya gak apa-apa, Pak Bei. Aku justru semakin yakin bahwa jagal kurban itu beda dengan jagal manusia."
"Maksudnya?"
"Pak Bei dipilih oleh masyarakat jadi jagal kurban pasti bukan karena Pak Bei ini orangnya sadis dan tegalan, tapi karena dipandang mampu nyembelih hewan kurban sesuai syariat. Ini bukan berarti Pak Bei tidak punya peri-kebinatangan, suka menyiksa binatang, tapi semata-mata karena dipandang mampu menyembelih hewan secara baik dan benar."
"Wah kok adoh temen analisismu, Sa."
"Ya terpaksa mikirku sampai ke sana, Pak Bei."
"Kok terpaksa. Memang ada apa?"
"Aku betul-betul gak habis pikir, bahkan tersinggung, kok ada orang yang berani terang-terangan menuduh umat Islam itu sadis, tidak punya peri-kebinatangan, suka menumpahkan darah, lalu berpesta pora memakan daging hewan yang dicincangnya ramai-ramai. Karena pemakan daging, makanya umat Islam gampang emosi, sumbu pendek, anaknya banyak, dan suka poligami. Jelas ini tuduhan yang tidak main-main, Pak Bei."
"Memang ada orang yang berpikiran seperti itu, Sa?"
"Walah Pak Bei pasti juga pernah bahkan sering baca di medsos. Jangan pura-pura gak tahulah. Banyak orang yang benci Islam, Pak Bei, bahkan berani terang-terangan menghina agama kita."
"Lha terus bagaimana, Sa? Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan soal ujaran kebencian dan menebar kebohongan kan itu soal hukum. Sudah ada yang kawogan, berkompeten. Aparat penegak hukum yang harus gerak cepat agar tidak semakin rusak persatuan dan kesatuan bangsa ini."
"Ya itulah, Pak Bei. Anehnya, para pembenci itu justru mingkem alias diam saja menyaksikan jutaan rakyat tercekik lehernya karena kebijakan politik yang salah. Banyak orang miskin dan kelaparan, anak-anak kurang gizi dan stunting. Mereka diam saja. Bukankah pemerintah, pejabat, dan politisi yang mengambil kebijakan salah itulah yang jauh lebih sadis dari jagal hewan kurban, Pak Bei? Lha kok malah dho mingkem?"
"Wah gak tahu aku, Sa. Yang kutahu hanya sederhana, bahwa kita berkurban itu melaksanakan perintah agama, sedangkan menganiaya dan membunuh sesama manusia itu warisan si-Qabil anak Adam yang rakus, tamak, dan bersahabat dengan iblis."
Tampak matahari di timur laut sudah tidak berwarna merah lagi, posisinya sudah agak naik. Udara pagi terasa lebih hangat. Itu pertanda Sasa harus segera pamit untuk menunaikan tugasnya sebagai juru parkir warung Soto Kartongali Jolotundo. Pak Bei pun harus kembali ke halaman menyelesaikan tugas paginya, menyapu dedaunan kering yang berceceran.
#serialpakbei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar