SASA BINGUNG
Sasa memang jindul tenan kok. Gak empan papan. Seenaknya sendiri. Maksud Pak Bei cuma pulang sebentar, sekedar mandi, ganti baju, dan ngambilkan beberapa barang pesenan Bu Bei yang lagi bed-rest di Rumah Sakit. Tak lupa sebelum berangkat ngopi dulu segelas agar mata kemepyar tidak ngantuk. Meski badan terasa capek, tapi Pak Bei tetap harus tampil prima dan full-smile agar Bu Bei gembira hatinya dan semangat untuk sembuh.
Tapi apa boleh buat, sore ini Pak Bei gak bisa cepat-cepat kembali ke RS karena Sasa tiba-tiba datang. Untuk sahabatnya yang satu ini, kadang memang Pak Bei lebih sering tidak berdaya menolak kehadirannya.
"Pak Bei, jadinya jamaah mesjid kampung kami akan ikut Idul Adha besok pagi, Sabtu tanggal 9 Juli," kata Sasa setelah nyucup kopi panas yang baru kusuguhkan.
"Looh...katamu mau ikut keputusan Pemerintah tanggal 10 Juli?"
"Ya memang kemarin begitu, Pak Bei. Hari ini pun kami tidak puasa Arafah."
"Kenapa mau ikut sholat Ied besok?"
"Gara-gara ini lho, Pak Bei," Sasa menunjukkan dua foto di HP-nya.
"Dapat dari mana foto ini, Sa?"
"Tadi siang habis sholat dhuhur, beberapa pemuda ribut di serambi mushola. Waktu kudekati, ternyata mereka ngobrol soal foto ini. Lalu mereka tanya ke aku, kapan jadinya mau Idul Adha."
"Terus bagaimana jawabanmu?"
"Kubilang ke mereka, kalau jelas sudah ada bukti seperti ini, aku cenderung lebih percaya keputusan yang pertama."
"Maksudnya?," tanya para pemuda
"Kalender dan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri ini sudah dibuat lebih dulu, maka lebih jujur dan tanpa tendensi politik.
Maka saya lebih percaya itu," kataku pada mereka.
"Jadinya kita akan ikut Idul Adha besok ya, Lek Sas. Kalau begitu jamaah harus dikasih tahu."
"Silakan diumumkan."
"Sa, kalender dan SKB itu kan itu dibuat jauh sebelum ada sidang isbat. Jadi masih bisa dikoreksi," kata Pak Bei.
"Kalau masih bisa dikoreksi mbok gak usah diumumkan tanggalnya. Kasih aja keterangan "menunggu hasil sidang isbat". Tapi kan tidak, Pak Bei. Yang kalender ini juga tidak ada catatan seperti itu. Jelas sekali tanggal merahnya 9 Juli kok."
"Wis sak karepmu, Sa. Itu soal kemantapan hati. Kalau aku jelas, hari ini puasa Arafah dan besok pagi bertugas jadi Khotib Sholat Ied."
"Itu kan Pak Bei. Lha kalau kami, hanya orang-orang desa yang masih minim ilmu agama. Kami hanya bisa berharap Pemerintah membuat keputusan yang menenteramkan dan membahagiakan, bukan malah membingungkan rakyatnya."
"Ya bilang saja pada wakilmu di DPR, Sa. Dulu kalian milih siapa dan dari partai apa? Merekalah yang berkewajiban menangkap dan memperjuangkan aspirasi pemilihnya agar keputusan apapun yang dibuat bersama Pemerintah tidak membingungkan atau bahkan merugikan rakyatnya."
"Walah, Pak Bei ini kok kaya tidak tau saja."
"Tidak tau bagaimana?"
"Lah waktu Pilpres, Pileg, Pilgub, dan Pilkada, rakyat ini milih siapa kan tergantung amplop yang dibagikan para calo. Kami hanya manut hasil nyang-nyangan Pak Lurah, Pak RW, dan Pak RT dengan para calo."
"Ya sudah kalau begitu. Gak usah disesali. Gak usah bingung. Gak usah nanya ke aku. Aku ini juga sama dengan kalian, cuma rakyat biasa, gak bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."
"Aku ini cuma curhat kok, Pak Bei. Ke mana lagi Sasa mau curhat kalau tidak ke Pak Bei sahabat paling setia?"
"Halaah...wis kana ndang balio. Aku mau balek ke RS dulu. Istriku sudah menunggu dari tadi."
"Njih siap, Pak Bei. Salam untuk Bu Bei, semoga lekas sehat bugar kembali...aamiin."
Sasa pamit pulang setelah menghabiskan kopinya. Pak Bei pun langsung tancap gas ke RS untuk kembali ngancani Bu Bei.
#serialpakbei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar