Rabu, 20 Juli 2022

SASA RINDU DEMO

SASA RINDU DEMO

"Kalau melihat kahanan negeri kita saat ini, bagaimana menurut Pak Bei? Apa yang mungkin akan terjadi?," tanya Sasa yang tiba-tiba duduk di samping Pak Bei yang baru asyik menikmati soto.

"Kahanan apa maksudmu, Sa?"

"Ya kahanan negara kita saat ini."

"Baik-baik saja, kok."

"Baik-baik saja bagaimana to, Pak Bei? Jelas semakin mengkhawatirkan, lho."

"Apanya yang mengkhawatirkan? Gak usah baper, Sa. Gak usah kagetan. Slow wae," kata Pak Bei sambil asyik menghabiskan soto di mangkuknya.

"Wah gimana, ya. Mau bilang apa kalau hidup seakan terus-menerus dibayang-bayangi hantu, Pak Bei?"

"Hantu? Apa maksudmu?"

"Sejak pandemi covid-19 kita dioyak-oyak dan ditakut-takuti harus ikut vaksin. Pas mau Idul Adha kemarin, sapi-sapi milik petani-peternak pada mati bergelimpangan tiap hari karena virus PMK. Ibu-ibu harus rela antri panjang hanya untuk beli minyak goreng murah karena harga di pasaran membumbung tinggi. Perajin tahu-tempe kesulitan cari bahan baku, kedelai. Harga BBM dan listrik PLN tiba-tiba naik. Anak-anak sekolah juga dipaksa beli bahan seragam di sekolah dengan harga sangat mahal." Tampak Sasa masih mengingat-ingat masalah yang dilihat dan dirasakannya.

"Terus apalagi, Sa?"

"Lha ini malah ada lagi drama seorang polisi ditembak mati oleh sesama polisi di rumah dinas seorang petinggi polisi, lalu keluarganya tidak terima dan lapor polisi. Ini lakon apa, Pak Bei?"

"Terus apalagi?"

"Para menteri dan politisi sibuk membangun koalisi menghadapi Pilpres 2024, majang foto di jalan-jalan seakan mereka orang penting dan telah berjasa besar bagi rakyat. Ngrai gedhek semua, gak punya malu. Tiap hari pidato dan ngomong ke wartawan dan media seolah mereka orang hebat, padahal sebenarnya tidak punya prestasi apa-apa selama menjadi pejabat. Tapi rakyat diyakin-yakinkan tiap hari bahwa dia hebat, dan di Pemilu nanti rakyat mau memilihnya."

"Terus....," Pak Bei sudah menghabiskan sotonya, lalu nyeruput teh nasgithel dan menyulut rokok kreteknya.

"Rakyat kok cuma dibohongi dan dianiaya terus-terusan. Saya jadi khawatir ini akan jadi peristiwa besar seperti tahun 97-98, Pak Bei."

"Maksudmu Pemerintah kita jatuh, begitu?"

"Ya itu yang saya khawatirkan."

"Ah kamu saja yang berlebihan, Sa. Kejauhan pikiranmu. Mustahil itu."

"Ya makanya saya tanya Sampeyan, Pak Bei. Bagaimana kita memahami kahanan ini?"

"Kalau menurutku, Sa, kecil kemungkinan Presiden kita jatuh sebelum habis masa jabatannya."

"Kok bisa, Pak Bei? Lha wong tidak punya wibawa gitu kok. Sering tindakannya hanya jadi bahan guyonan anak-anak kecil."

"Tentu Sasa masih ingat, dulu ketika Presiden kita jatuh, itu karena ada kekuatan rakyat dan mahasiswa yang sama-sama gelisah pengin ada perubahan, lalu ada seorang tokoh yang berani tampil dengan segala resikonya memimpin demo berjilid-jilid di berbagai daerah yang terus menyuarakan reformasi. Lha sekarang...mana ada, Sa? Yang ada saat ini hanya para politisi yang masing-masing punya agenda dan harapan bisa ganti jadi penguasa, ganti menguasai aset negeri ini, atau bahkan dia hanya boneka yang dimainkan oleh kekuatan kapital di belakangnya. Gak ada negarawan yang sungguh-sungguh berjuang untuk rakyatnya."

"Wah Pak Bei kok pesimis gitu sih.?"

"Bukan pesimis, Sa. Ini kenyataan."

"Kalau soal polisi ditembak polisi di rumah polisi tadi bagaimana, Pak Bei?"

"Wah gimana ya, Sa. Sekali lagi ini hanya soal adakah orang yang sungguh-sungguh mau dan berani ambil resiko memperbaiki negeri ini. Kalau ternyata tidak ada, toh nanti pelan-pelan rakyat juga akan lupa dengan sendirinya. Rakyat ini gampang dialihkan perhatiannya ke kasus-kasus lain yang juga gampang diadakan, Sa."

"Maksud, Pak Bei?"

"Rakyat ini gampang lali, gampang lupa, gampang emaafkan. Sudah jelas koruptor dan merampok harta negara bertrilyun-trilyun saja, kalau suatu saat dia datang pakai peci dan memberi bantuan ke pesantren, misalnya, rakyat akan memaafkan dan berebut mencium tangannya, kok. Iya, kan?"

"Iya juga ya, Pak Bei. Wah kalau begini, saya jadi kangen pengin ikut demo lagi seperti demo 411 dan 212 dulu."

"Untuk apa, Sa?"

"Setidaknya saya pengin ikut menyadarkan rakyat bahwa setuasi rusak-rusakan ini harus diperbaiki bersama-sama."

"Bagus itu. Kudoakan semoga keinginanmu terlaksana. Aku hanya bisa nyangoni slamet, Sa. Dah ya aku pulang dulu. Kerja, Sa. Kerja. Kerja."

"Siap, Bei. Matur nuwun obrolannya."

Pak Bei pulang untuk mengurus pekerjaannya. Sasa pun kembali ke depan warung, mengatur parkir kendaraan pengunjung Soto Kartongali dengan properti seperti biasanya: sempritan, bendera kecil-lusuh, dan balok pengganjal ban mobil.

#serialpakbei










Tidak ada komentar:

Posting Komentar