Senin, 19 Desember 2022

MUSIM DOLOP TIBA

MUSIM DOLOP TIBA

"Musim dolop sudah mulai lagi ya, Pak Bei," kata Narjo sambil melemparkan lipatan koran.

"Apa, Kang?"

"Musim dolop sudah tiba." 

Dolop. Sudah lama Pak Bei tidak mendengar istilah itu. Dulu waktu masih usia SD, hampir setiap hari pasaran Minggu Legi, Pak Bei dan teman-teman sebaya biasa main ke Pasar Jatinom nonton keramaian di sana. Dimulai dari los pasar burung, pindah ke pasar kambing, pindah lagi ke pasar sapi, lalu ikut uyel-uyelan nonton pedagang jamu mendemonstrasikan kehebatan jamunya. 

Dari seringnya nonton atraksi bakul jamu, anak-anak pun jadi tahu bahwa sebenarnya pedagang jamu itu bukan sendirian, tapi ada tim kerja yang masing-masing anggotanya memainkan peran. Beberapa orang berperan sebagai pengunjung yang ikut berkerumun dan ikut menawar harga. Bukan mau benar-benar  membeli, tapi hanya akting sekedar untuk mempengaruhi psikologi penonton. Ada yang pura-pura sakit lempoh yang hanya dengan olesan obat dan satu sentuhan tangan pedagang, si sakit langsung pun sembuh, bisa berdiri dan berjalan. Anggota tim yang lain mencoba menawar harga, di susul anggota lainnya menawar dengan harga lebih tinggi. Mereka benar-benar kompak  mempengaruhi pengunjung agar mau menawar dan membeli obat atau barang yang ditawarkan si pedagang. Itulah fungsi dolob.  

"Apa sekarang masih ada dolop, Kang? Jamannya sudah beda, lho."

"Semakin banyak, Pak Bei. Ada yang profesional alias bayaran, dan ada yang hanya relawan."

"Maksudnya?"

"Kalau dulu di Pasar Legi Jatinom yang dijual kan obat atau jamu. Ada obat pegel linu, obat encok, obat kuat lelaki, dan sebagainya."

"Kalau sekarang?"

"Sekarang yang dijual janji-janji."

"Janji-janji apa?"

"Janji tidak akan impor beras, janji tidak akan nambah hutang negara, janji membuka jutaan lapangan kerja, janji dana abadi pesantren, janji akan memberi contoh hidup sederhana, janji tidak akan menaikkan tarif listrik, BBM, dan pajak, dan masih banyak janji lainnya yang manis-manis."

"Terus..."

"Tapi semuanya kan cuma mbelgedhes."

"Maksudnya?" 

"Ngapusi kabeh, omong kosong. Tapi rakyat gampang percaya, dan akhirnya ketipu lagi."

"Kenapa rakyat bisa ketipu terus ya, Kang?"

"Ya karena ulah para dolop, Pak Bei. Tiap hari rakyat dijejali informasi tentang kehebatan jamu atau jagonya, digiring agar ikut menjelekkan merk jamu yang lain. Lama-lama rakyat pun percaya. Rakyat terpedaya oleh trik para dolop bayaran, dan akhirnya kembali tertipu, hanya menjadi objek penderita."

"Mesakke ya, Kang."

"Tapi rakyat juga kebangetan kok, Pak Bei. Gampang lupa, tidak titen. Asal para dolop sudah bagi-bagi amplop, rakyat pun lupa semua penderitaannya."

"Begitu ya, Kang."

"Dan sekarang ini sudah mulai bermunculan lagi dolop-dolop, baik yang perorangan maupun yang terorganisir dan resmi."

"Contohnya, Kang?"

"Ada yang kelihatannya partai politik peserta pemilu, tapi sebenarnya cuma dolop. Ada yang kelihatannya lembaga survey bonafid, tapi sesungguhnya cuma dolop yang bertugas menggiring opini publik. Namanya juga orang cari makan, Pak Bei. Berbagai cara pun ditempuh."

"Wislah, Kang. Pagi-pagi ngomong politik, bisa hilang selera sarapan."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku mau lanjut kerja dulu.  Pamit, ya. Wassalam..."

Kang Narjo loper koran itu meneruskan tugasnya mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Meski pembaca koran tinggal sedikit, tapi Narjo masih tetap setia dengan profesi yang sudah ditekuninya sejak 4 dasawarsa yang lalu.

"Jaga kesehatan ya, Kang," begitu pesan Pak Bei hampir setiap pagi pada sahabatnya.

#serialpakbei
#musimdoloptiba
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten








Kamis, 15 Desember 2022

PARTAI UMMAT

PARTAI UMMAT

"Pak Bei, bagaimana ini kok Partai Ummat gak diloloskan KPU? Ini pasti ada yang bermain," kata Narjo sambil melempar koran ke teras nDalem Pak Bei. "Lha kalau disuruh kembali ke PAN jelas gak mau saya?," lanjutnya.

"Memang ada yang nyuruh Kang Narjo kembali ke PAN?," tanya Pak Bei.

"Ya belum ada. Tapi kan jelas terbaca arahnya, Pak Bei."

"Terbaca bagaimana?"

"Kalau Partai Ummat lolos jadi peserta Pemilu, PAN bisa tergerus suaranya di Pemilu 2024. Mayoritas pemilih PAN akan hengkang ke Partai Ummat. Makanya perlu dilakukan berbagai cara agar Partai Ummat tidak lolos."

"Kok bisa begitu, Kang?"

"Jelas bisa. Cetho welo-welo. Para petinggi PAN takut kalau para pemilih dan simpatisannya selama ini akan ramai-ramai bedhol desa ke partainya Pak Amien Rais yang baru, Partai Umat."

"Kenapa takut?"

"Loh, mereka pasti sadar telah mengkhianati Pak Amien, sadar telah merampok PAN menjadi partai pendukung Pemerintah. Pak Bei lihat saja, tokoh-tokoh PAN sudah tidak punya mental oposisi, tidak kritis lagi pada kebijakan yang tidak pro-rakyat, tidak peka terhadap kemungkaran yang semakin marak. Pak Bei lihatlah juga kemana arah dukungan mereka untuk calon Presiden nanti. Cetho welo-welo. Makanya menjelang Pemilu 2024, mereka ketakutan sendiri. Takut akan kehilangan banyak suara, takut semakin banyak kehilangan kursi legislatif dan  hanya akan jadi partai gurem."

Wah gawat juga omongan Kang Narjo ini. Ternyata dia bukan sekedar loper koran, tapi juga bisa menyerap sari berita dari koran-koran yang diantarkannya setiap pagi.

"Waduh saya malah gak tahu  kalau sejauh itu, Kang. Kok sampai segitunya analisismu?"

"Makanya Pak Bei harus rajin-rajin baca koran. Biar titen. Biar bisa membaca tanda-tanda jaman, paham obah mosiking kahanan. Jangan berlangganan koran tapi gak pernah dibaca. Ingat, Pak Bei, bagaimanapun juga berita koran lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hoax."

"Iya ya, Kang. Terus bagaimana soal partai tadi?"

"Ya itu yang saya masih bingung mau ikut partai apa nanti."

"Gak usah bingung, Kang. Rasah dipikir, lha cuma soal partai saja kok repot."

"Pak Bei ini bagaimana, to. Ya memang kita ini cuma rakyat, tapi mbok ya agak cerdas sedikit biar tidak terus-menerus dibodohi orang-orang yang sok pintar dan punya modal. Rakyat ini jangan mau dijadikan bebek yang bisa digiring-giring ke mana saja, lalu telurnya mereka yang menikmati."

"Kalau soal partai, Kang, pilihanku sudah jelas kok."

"Partai apa, Pak Bei?"

"Partai Final Piala Dunia 2022?"

"Wooo....lha ini yang namanya jindul. Ya sudah, Pak Bei, aku mau neruskan tugas dulu. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

#serialpakbei
#wahyudinasution






Sabtu, 10 Desember 2022

NGUNDHUH MANTU

NGUNDHUH MANTU

"Baru kali ini ada orang ngundhuh mantu benar-benar ngrepoti negara," kata Narjo.

"Ngrepoti negara bagaimana?" tanya Pak Bei.

"Orang tua punya hajat nikahkan anaknya atau ngundhuh mantu itu kan biasa to, Pak Bei. Orang Jawa bilang, itu netepi darmaning asepuh. Melaksanakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya."

"Iya, terus apa masalahnya?"

"Wah Pak Bei ini bagaimana, to? Makanya dibaca koran ini biar tahu berita terkini. Jadi head-line lho, Pak Bei. Kalau cuma lihat di medsos pasti gak menarik.membacanya. Edyan tenan kok..."

"Siapa yang edan, Kang? Mbok jangan gitulah..."

"Presiden pilihan Pak Bei ini memang elok tenan. Joss. Seneng gawe giris, gawe pengeram-eram."

"Kenapa, Kang?"

"Baru kali ini lho ada presiden mantu anaknya pakai pengamanan puluhan ribu pasukan polisi dan tentara, ngerahkan panser dan peralatan perang, juga didukung drone untuk memantau pergerakan rakyat di kota Solo."

"Mbokya biar saja. Namanya juga presiden, pasti duitnya banyak. Mau melakukan apa saja juga bisa."

"Sugih tenan. Katanya tidak nerima sumbangan. Semua dibiayai sendiri. Tapi apa iya puluhan ribu pasukan itu beliau sendiri yang membiayai. Belum lagi sarana-prasarana pestanya."

"Ya mungkin saja to, Kang. Namanya saja wong sugih."

"Nalar saya gak nyandhak, Pak Bei."

"Kok gak nyandhak ?"

"Yang namanya presiden kan punya banyak menteri, gubernur, bupati, walikota, dirjen, dan lain-lain. Mosok mereka gak nyumbang sama sekali. Ya gak mungkinlah."

"Lah kan memang tidak menerima sumbangan?"

"Kalau sumbangan berupa amplopan duit seperti di masyarakat pada umumnya, mungkin memang tidak sama sekali."

"Terus..."

"Tapi apa gubernur atau bupati tidak rebutan nyediakan tenda, dekorasi, rias manten, catering, dan sebagainya? Apa iya Menteri Pertahanan dan Kapolri, misalnya, tidak perintah ke seluruh jajarannya untuk ngerahkan polisi dan tentara plus peralatan perang untuk pengamanan? Itu kan tanda loyalitas bawahan pada atasan to, Pak Bei. Kalau tidak bantu, itu namanya kebangetan. Mau dipecat?"

"Wah kalau sampai segitu mikirmu,  aku ora tekan, Kang. Ora mudheng. Ora nyandhak."

"Saya ya juga cuma entho-entho kok, Pak Bei. Dari baca koran terus mikir. Mungkin juga salah."

"Ya gak papa, Kang. Rakyat kan cuma bisa nonton, ndelok, kendel alok. Terserah rakyat mau bilang apa, the show must go on, acara jalan terus.

"Ya sudah, Pak Bei. Saya mau neruskan tugas dulu. Ngantar berita."

"Monggo, Kang. Hati-hati, ya. Gak usah ngebut.

"Siapp. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

Loper koran yang wajahnya selalu open dan plengah-plengeh itu meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei, melanjutkan rutinitas paginya. Orangnya sederhana, tapi soal update berita, dialah orang yang rajin dan setia....

#serialpakbei
#wahyudinasution







 




Rabu, 07 Desember 2022

COTHO

COTHO

"Wah benar-benar cotho ya rakyat ini, Pak Bei," kata Narjo usai melemparkan lipatan koran seperti biasanya.

"Cotho bagaimana, Kang?" tanya Pak Bei sambil melepas kacamata bacanya. 

Segera saja loper koran langganan Pak Bei itu mematikan motornya, melepas helm, dan membuka maskernya, lalu melepas uneg-uneg di hatinya.

"Ya gimana gak cotho, Pak Bei. Ini kan lagi musim Piala Dunia, tapi orang seperti saya ini tak bisa lagi menikmati siaran langsung di tivi. Cotho tenaan....," kata Narjo.

"Apa belum beli STB, Kang?"

"Ya pengin beli, tapi di mana-mana gak ada, semua toko kehabisan stok."

"Katanya ada gratisan dari Pemerintah?"

"Katanya begitu. Tapi mungkin cuma di kota saja, gak sampai ke desa."

"Ya sudah gak usah nonton tivi, gak usah nonton Piala Dunia. Kang Narjo kan bisa baca berita koran tiap pagi."

"Ya beda, Pak Bei. Kalau nonton siaran langsung kan emosi kita bisa ikut. Kalau jago kita menang, perasaan jadi puas, bahagia. Kalau kalah ya lemes, sedih. Lha kalau baca koran, kan kita cuma baca tulisan wartawan."

"Ya jangan bilang cuma to, Kang. Nyatanya tulisan para wartawan itu yang jadi sumber penghidupanmu sejak dulu, kan?"

Pak Bei ingat betul, Narjo sudah jadi loper koran sejak lulus sekolah SMEA, sekitar tahun 1983. Dulu dia keliling tiap pagi ke rumah-rumah pelanggannya pakai sepeda ontel, pit wedok tua yang suaranya glodhek-glodhek. Baru mulai tahun 90an Narjo bisa beli Super Cup bekas sehingga bisa menjangkau pelanggannya bukan hanya di seputar Kecamatan Jatinom, tapi juga Karanganom, Tulung, dan Polanharjo. Di tahun-tahun itu juga Narjo berani menikah dan punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Sebelum pandemi dua tahun lalu, anak-anak Narjo sudah mentas semua, alias ketiganya sudah berumah tangga. 

"Gusti Allah itu benar-benar adil kok, Pak Bei," kata Narjo suatu pagi.

"Lha piye, Kang?"

"Dulu waktu anak-anakku masih sekolah, masih butuh biaya banyak, pelangganku juga sangat banyak sehingga hasil kerjaku cukup untuk membiayai mereka. Dulu tiap hari aku berangkat pagi-pagi habis sholat shubuh dan baru pulang menjelang 'ashar."

"Sekarang gimana, Kang?"

"Sejak anak-anakku selesai sekolah dan berkeluarga, ternyata pelangganku juga jauh berkurang, Pak Bei. Pelangganku dulu sudah banyak yang beralih ke berita online, tidak lagi langganan koran. Jadi pelangganku sekarang tinggal sedikit. Sebelum dhuhur aku sudah sampai rumah."

"Gitu ya, Kang. 

"Memang umurku juga sudah tak lagi muda, Pak Bei. Tenaga sudah menurun. Makanya beban kerja dan jatah rejekiku juga sudah jauh berkurang. Disyukuri sajalah, Pak Bei. Santai. Gak usah ngoyo, gak usah memaksakan diri."

"Benar itu, Kang. Jaman memang sudah berubah. Kita syukuri saja."

"Tapi Pemerintah kita kok kebangetan ya, Pak Bei."

"Kebangetan gimana, Kang?"

"Pak Bei pasti ingat, dulu di tahun 70an, kalau kita mau nonton tivi, nonton ketoprak, nonton Piala Dunia, atau film cowboy Wild Wild West harus ke rumah Pak Lurah, nonton ramai-ramai, itu pun tivi hitam putih. Kalau accu-nya pas lagi di-stroom-ke, nonton tivi libur dulu 2-3 hari."

"Iya betul. Terus gimana?"

"Mulai awal tahun 80an, ketika listrik sudah masuk ke desa-desa, ekonomi rakyat juga sudah makin baik, banyak yang bisa beli televisi. Masih tivi hitam-putih."

"Terus"

"Mulai tahun 2000an, orang yang berduit sudah mulai beralih ke tivi berwarna. Tapi tidak ada paksaan lho, Pak Bei. Mau nonton tivi hitam-putih atau berwarna, rakyat bebas memilih sesuai kemampuannya."

"Iya ya, Kang. Dulu tivi berwarna juga cukup mahal harganya."

"Sekarang Pemerintah kok main paksa."

"Main paksa gimana?"

"Tivi analog dimatikan, semua rakyat mau tidak mau harus pindah ke tivi digital. Itu kan pemaksanaan namanya. Penindasan, Pak Bei. Perampasan hak-hak rakyat."

"Ya jangan terus negatif begitu berpikirmu, Kang."

"Terpaksa berpikir negatif, Pak Bei. Mbokyao rakyat ini diberi kebebasan memilih."

"Maksudmu?"

"Biarkan rakyat memilih mau tetap nonton tivi analog atau mau beralih ke tivi digital. Pemerintah jangan main paksalah."

"Kang, Pemerintah kan ingin memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Rakyat jangan nonton tivi yang sering semutan kepyur-kepyur lagi, tapi nontonlah tivi dengan gambar yang bermutu, berkualitas. Gitu lho, Kang."

"Bola-bali nek negara diurus orang bisnis, kapitalis, ada saja akal-akalannya. Rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini dijadikan target pasar untuk nglarisi dagangannya. Beda banget kalau negara diurus negarawan, Pak Bei."

"Jaman sekarang kok, Kang. Oang yang punya jiwa negarawan biasanya gak punya modal untuk ikut berlomba jadi pengurus. Rakyat juga lebih seneng milih orang yang punya duit, kan?"

"Ya itu masalahnya, Pak Bei. Rakyat ini tidak mau belajar dari setiap kejadian. Ora titen. Pelupa. Asal ada orang kelihatan punya duit lalu pasang poster di jalan-jalan dan datang bagi-bagi amplop, rakyat langsung kesengsem, klepek-klepek, manut, hilang akal, hilang kesadaran. Jadinya ya rusaklah negara ini."

"Sudah siang, Kang. Sana lanjutkan dulu kerjamu. Koran pagi harus diantar pagi-pagi, jangan siang-siang baru diantar."

"Njih, Pak Bei. Siap. Pamit dulu, ya. Wassalam..."

Narjo melanjutkan kerjanya, mengantar koran ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Entah apa yang akan dikerjakannya nanti bila semua pelanggannya sudah beralih ke berita online. Semoga masih banyak pelanggan yang seperti Pak Bei. Meski koran pagi tidak sempat dibacanya, tapi Pak Bei betul-betul gak tega mau berhenti berlangganan. Kasihan Narjo. Semoga sehat selalu ya, Kang Narjo....

#serialpakbei
#wahyudinasution