Sabtu, 10 Desember 2022

NGUNDHUH MANTU

NGUNDHUH MANTU

"Baru kali ini ada orang ngundhuh mantu benar-benar ngrepoti negara," kata Narjo.

"Ngrepoti negara bagaimana?" tanya Pak Bei.

"Orang tua punya hajat nikahkan anaknya atau ngundhuh mantu itu kan biasa to, Pak Bei. Orang Jawa bilang, itu netepi darmaning asepuh. Melaksanakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya."

"Iya, terus apa masalahnya?"

"Wah Pak Bei ini bagaimana, to? Makanya dibaca koran ini biar tahu berita terkini. Jadi head-line lho, Pak Bei. Kalau cuma lihat di medsos pasti gak menarik.membacanya. Edyan tenan kok..."

"Siapa yang edan, Kang? Mbok jangan gitulah..."

"Presiden pilihan Pak Bei ini memang elok tenan. Joss. Seneng gawe giris, gawe pengeram-eram."

"Kenapa, Kang?"

"Baru kali ini lho ada presiden mantu anaknya pakai pengamanan puluhan ribu pasukan polisi dan tentara, ngerahkan panser dan peralatan perang, juga didukung drone untuk memantau pergerakan rakyat di kota Solo."

"Mbokya biar saja. Namanya juga presiden, pasti duitnya banyak. Mau melakukan apa saja juga bisa."

"Sugih tenan. Katanya tidak nerima sumbangan. Semua dibiayai sendiri. Tapi apa iya puluhan ribu pasukan itu beliau sendiri yang membiayai. Belum lagi sarana-prasarana pestanya."

"Ya mungkin saja to, Kang. Namanya saja wong sugih."

"Nalar saya gak nyandhak, Pak Bei."

"Kok gak nyandhak ?"

"Yang namanya presiden kan punya banyak menteri, gubernur, bupati, walikota, dirjen, dan lain-lain. Mosok mereka gak nyumbang sama sekali. Ya gak mungkinlah."

"Lah kan memang tidak menerima sumbangan?"

"Kalau sumbangan berupa amplopan duit seperti di masyarakat pada umumnya, mungkin memang tidak sama sekali."

"Terus..."

"Tapi apa gubernur atau bupati tidak rebutan nyediakan tenda, dekorasi, rias manten, catering, dan sebagainya? Apa iya Menteri Pertahanan dan Kapolri, misalnya, tidak perintah ke seluruh jajarannya untuk ngerahkan polisi dan tentara plus peralatan perang untuk pengamanan? Itu kan tanda loyalitas bawahan pada atasan to, Pak Bei. Kalau tidak bantu, itu namanya kebangetan. Mau dipecat?"

"Wah kalau sampai segitu mikirmu,  aku ora tekan, Kang. Ora mudheng. Ora nyandhak."

"Saya ya juga cuma entho-entho kok, Pak Bei. Dari baca koran terus mikir. Mungkin juga salah."

"Ya gak papa, Kang. Rakyat kan cuma bisa nonton, ndelok, kendel alok. Terserah rakyat mau bilang apa, the show must go on, acara jalan terus.

"Ya sudah, Pak Bei. Saya mau neruskan tugas dulu. Ngantar berita."

"Monggo, Kang. Hati-hati, ya. Gak usah ngebut.

"Siapp. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

Loper koran yang wajahnya selalu open dan plengah-plengeh itu meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei, melanjutkan rutinitas paginya. Orangnya sederhana, tapi soal update berita, dialah orang yang rajin dan setia....

#serialpakbei
#wahyudinasution







 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar