"Wah benar-benar cotho ya rakyat ini, Pak Bei," kata Narjo usai melemparkan lipatan koran seperti biasanya.
"Cotho bagaimana, Kang?" tanya Pak Bei sambil melepas kacamata bacanya.
Segera saja loper koran langganan Pak Bei itu mematikan motornya, melepas helm, dan membuka maskernya, lalu melepas uneg-uneg di hatinya.
"Ya gimana gak cotho, Pak Bei. Ini kan lagi musim Piala Dunia, tapi orang seperti saya ini tak bisa lagi menikmati siaran langsung di tivi. Cotho tenaan....," kata Narjo.
"Apa belum beli STB, Kang?"
"Ya pengin beli, tapi di mana-mana gak ada, semua toko kehabisan stok."
"Katanya ada gratisan dari Pemerintah?"
"Katanya begitu. Tapi mungkin cuma di kota saja, gak sampai ke desa."
"Ya sudah gak usah nonton tivi, gak usah nonton Piala Dunia. Kang Narjo kan bisa baca berita koran tiap pagi."
"Ya beda, Pak Bei. Kalau nonton siaran langsung kan emosi kita bisa ikut. Kalau jago kita menang, perasaan jadi puas, bahagia. Kalau kalah ya lemes, sedih. Lha kalau baca koran, kan kita cuma baca tulisan wartawan."
"Ya jangan bilang cuma to, Kang. Nyatanya tulisan para wartawan itu yang jadi sumber penghidupanmu sejak dulu, kan?"
Pak Bei ingat betul, Narjo sudah jadi loper koran sejak lulus sekolah SMEA, sekitar tahun 1983. Dulu dia keliling tiap pagi ke rumah-rumah pelanggannya pakai sepeda ontel, pit wedok tua yang suaranya glodhek-glodhek. Baru mulai tahun 90an Narjo bisa beli Super Cup bekas sehingga bisa menjangkau pelanggannya bukan hanya di seputar Kecamatan Jatinom, tapi juga Karanganom, Tulung, dan Polanharjo. Di tahun-tahun itu juga Narjo berani menikah dan punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Sebelum pandemi dua tahun lalu, anak-anak Narjo sudah mentas semua, alias ketiganya sudah berumah tangga.
"Gusti Allah itu benar-benar adil kok, Pak Bei," kata Narjo suatu pagi.
"Lha piye, Kang?"
"Dulu waktu anak-anakku masih sekolah, masih butuh biaya banyak, pelangganku juga sangat banyak sehingga hasil kerjaku cukup untuk membiayai mereka. Dulu tiap hari aku berangkat pagi-pagi habis sholat shubuh dan baru pulang menjelang 'ashar."
"Sekarang gimana, Kang?"
"Sejak anak-anakku selesai sekolah dan berkeluarga, ternyata pelangganku juga jauh berkurang, Pak Bei. Pelangganku dulu sudah banyak yang beralih ke berita online, tidak lagi langganan koran. Jadi pelangganku sekarang tinggal sedikit. Sebelum dhuhur aku sudah sampai rumah."
"Gitu ya, Kang.
"Memang umurku juga sudah tak lagi muda, Pak Bei. Tenaga sudah menurun. Makanya beban kerja dan jatah rejekiku juga sudah jauh berkurang. Disyukuri sajalah, Pak Bei. Santai. Gak usah ngoyo, gak usah memaksakan diri."
"Benar itu, Kang. Jaman memang sudah berubah. Kita syukuri saja."
"Tapi Pemerintah kita kok kebangetan ya, Pak Bei."
"Kebangetan gimana, Kang?"
"Pak Bei pasti ingat, dulu di tahun 70an, kalau kita mau nonton tivi, nonton ketoprak, nonton Piala Dunia, atau film cowboy Wild Wild West harus ke rumah Pak Lurah, nonton ramai-ramai, itu pun tivi hitam putih. Kalau accu-nya pas lagi di-stroom-ke, nonton tivi libur dulu 2-3 hari."
"Iya betul. Terus gimana?"
"Mulai awal tahun 80an, ketika listrik sudah masuk ke desa-desa, ekonomi rakyat juga sudah makin baik, banyak yang bisa beli televisi. Masih tivi hitam-putih."
"Terus"
"Mulai tahun 2000an, orang yang berduit sudah mulai beralih ke tivi berwarna. Tapi tidak ada paksaan lho, Pak Bei. Mau nonton tivi hitam-putih atau berwarna, rakyat bebas memilih sesuai kemampuannya."
"Iya ya, Kang. Dulu tivi berwarna juga cukup mahal harganya."
"Sekarang Pemerintah kok main paksa."
"Main paksa gimana?"
"Tivi analog dimatikan, semua rakyat mau tidak mau harus pindah ke tivi digital. Itu kan pemaksanaan namanya. Penindasan, Pak Bei. Perampasan hak-hak rakyat."
"Ya jangan terus negatif begitu berpikirmu, Kang."
"Terpaksa berpikir negatif, Pak Bei. Mbokyao rakyat ini diberi kebebasan memilih."
"Maksudmu?"
"Biarkan rakyat memilih mau tetap nonton tivi analog atau mau beralih ke tivi digital. Pemerintah jangan main paksalah."
"Kang, Pemerintah kan ingin memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Rakyat jangan nonton tivi yang sering semutan kepyur-kepyur lagi, tapi nontonlah tivi dengan gambar yang bermutu, berkualitas. Gitu lho, Kang."
"Bola-bali nek negara diurus orang bisnis, kapitalis, ada saja akal-akalannya. Rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini dijadikan target pasar untuk nglarisi dagangannya. Beda banget kalau negara diurus negarawan, Pak Bei."
"Jaman sekarang kok, Kang. Oang yang punya jiwa negarawan biasanya gak punya modal untuk ikut berlomba jadi pengurus. Rakyat juga lebih seneng milih orang yang punya duit, kan?"
"Ya itu masalahnya, Pak Bei. Rakyat ini tidak mau belajar dari setiap kejadian. Ora titen. Pelupa. Asal ada orang kelihatan punya duit lalu pasang poster di jalan-jalan dan datang bagi-bagi amplop, rakyat langsung kesengsem, klepek-klepek, manut, hilang akal, hilang kesadaran. Jadinya ya rusaklah negara ini."
"Sudah siang, Kang. Sana lanjutkan dulu kerjamu. Koran pagi harus diantar pagi-pagi, jangan siang-siang baru diantar."
"Njih, Pak Bei. Siap. Pamit dulu, ya. Wassalam..."
Narjo melanjutkan kerjanya, mengantar koran ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Entah apa yang akan dikerjakannya nanti bila semua pelanggannya sudah beralih ke berita online. Semoga masih banyak pelanggan yang seperti Pak Bei. Meski koran pagi tidak sempat dibacanya, tapi Pak Bei betul-betul gak tega mau berhenti berlangganan. Kasihan Narjo. Semoga sehat selalu ya, Kang Narjo....
#serialpakbei
#wahyudinasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar