Rabu, 23 Oktober 2019

POLITIK UANG

POLITIK UANG

Lagi-lagi pagi aku dibuat kagum oleh Sasa, sahabatku yang jadi juru parkir Soto Kartongali Jolotundo. Dari mana dia tahu berbagai informasi seputaran Jatinom yang terkini dan seolah A-1? Sedemikian jangkep penguasannya atas berbagai kejadian terkini. Mungkinkah dia dapat info dari intel Polsek yang kebetulan suka mampir nyoto? Tidak mungkin. Seorang intel pasti pintar menjaga rahasia. Hanya atasannya yang boleh tahu semua info yang didapatkan dan tidak mungkin membuka infonya di warung soto atau angkringan. Atau, jangan-jangan Sasa punya prewangan dari bangsa jin yang secara khusus ditugasi mensuplay informasi? Kayaknya juga tidak mungkin. Memangnya Sasa sekelas sama Nabi Sulaiman yang punya asisten hebat bernama Jin Ifrid? Pasti tidak. Tapi entahah. Jalma tan kena kinira, begitu orang Jawa bilang. Tidak gampang menilai orang hanya dari penampilannya.

"Wah, Desa Sampeyan hebat, Om. Selamat, ya. Ikut bangga," kata Sasa menyambutku di parkiran.

"Hebat apanya?"

"Pilkades kemarin berlangsung bersih, paling bersih, dan sukses tanpa ekses."

"Sasa kok tahu?"

"Ya tahulah, Om. Kabar Pilkades se Jatinom aku tahu semua."

"Wah elok...."

"Umumnya Pilkades diwarnai maraknya Politik Uang, Om. Para timses calon Kepala Desa seperti berlomba membagi amplop. Kuat-kuatan membeli suara rakyat.  Bahkan biasanya dukun-dukun pun dilibatkan untuk memuluskan usahanya."

"Mosok to, Sa?"

"Bener, Om." Lalu Sasa nggacor cerita tentang beberapa kejadian Pilkades di desa-desa tetangga. Ada Desa yang pemenangnya bahkan sampai menghabiskan dana 1 M, ada yang habis 700 juta, 500 juta, dan sebagainya. Konon ada calon yang kalah dan stres karena sudah menghabiskan dana hingga 800 juta. Ada juga Desa yang sampai terjadi pertumpahan darah antar warganya dan hingga kini kasusnya masih ditangani kepolisian.

"Yang paling sulit itu memulihkan paseduluran antar-warga yang kadhung retak, Om. Orang-orang yang beda pilihan masih plirik-plirikan kalau ketemu. Tidak sedikit yang jadi jothakan, tidak bertegur-sapa, putus hubungan."

"Kasihan ya, Sa. Butuh waktu lama memulihkannya."

"Sebenarnya calon yang menang maupun kalah sama-sama mumet mencari cara mengembalikan modal. Tapi masih mending yang menang, masih bisa cari-cari seseran atau nyunat Dana Desa. Lha yang kalah, Om? Mesakke...."

Semangkok soto sudah habis kusantap dengan nikmat sambil mendengarkan update info dari Sasa. Dalam hati, aku sangat bersyukur berbagai kejadian itu tidak terjadi di Desaku.

"Kudengar Desa Sampeyan akan dijadikan percontohan Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu Klaten, Om. Hebat itu. Memang sangat layak."

"Sangat layak piye, Sa?"

"Om, selama ini rakyat dibodohi oleh para politisi, orang-orang yang berebut kekuasaan. Seolah-olah rakyat ini kere kabeh, tidak mau memilih kalau tidak disogok amplop nyeket ewu. Seolah rakyat tidak tahu mana orang baik mana orang jahat. Padahal sesungguhnya justru karena para politisi sendiri yang kurang percaya diri, punya kelemahan dalam bermasyarakat, tidak yakin dirinya akan dipilih rakyat, tidak berani bersaing secara sehat, lalu nekad mengumpulkan modal besar untuk nyogok rakyat agar dipilih. Kelakuan seperti ini yang bikin rusak, Om."

"Terus, Sa...."

"Ternyata itu semua tidak berlaku di Desa Sampeyan, Om. Kudengar para calon Kades kemarin tidak keluar uang sedikitpun selain sekadar biaya nyuguh tamu-tamu yang datang sejak seminggu sebelum dan sesudah pemilihan. Pengeluaran yang wajar sebagai tuan rumah."

"Ya memang, Sa. Bahkan pemenangnya sampai sekarang masih pekewuh karena belum ketemu cara berterima kasih pada timses dan para relawannya. Mau ngasih sekadar uang bensin saja ditolak lho, Sa. Timses dan masyarakat hanya minta Kades terpilih nanti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, adil, dan jujur."

"Ya itulah yang kumaksud layak dijadikan percontohan, Om. Rakyat harus baik dulu kalau ingin melahirkan pemimpin yang baik. Kalau semua masih suka aji mumpung, tidak jujur, tidak prasojo, tentu hanya akan melahirkan pempimpin yang suka maling, suka korupsi, menumpuk-numpuk harta untuk tujuh turunan."

Pagi mulai beranjak siang, saatnya aku pulang ngurusi pekerjaan. Pasti di rumah sudah terdengar karyawan hiruk-pikuk menggenjot mesin-mesin jahit.

"Tak bali sik yho, Sa."

"Njih, Om. Nderekke....."

#serialsasa




Kamis, 17 Oktober 2019

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Nanti siang bakda Jumat,  tanggal 18 Safar / 18 Oktober 2019, adalah puncak acara haul Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, ditandai dengan acara sebaran apem. Berton-ton kue apem disebarkan dari dua panggung/menara yang dibangun di lapangan Klampeyan (Plempeyan) di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom. Berjuta orang dari berbagai penjuru datang dengan suka-cita ke acara itu. Ada yang sekadar nonton dari kejauhan, banyak juga yang turun ke lapangan ikut rebutan, konon ada juga yang sengaja datang dari jauh untuk 'ngalap berkah' ikut berebut kue yang terbuat dari tepung beras itu lalu dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Konon banyak orang meyakini kue apem Yaqawiyyu bisa untuk jimat penglarisan, untuk menjaga sawah agak tidak diserang hama, atau bahkan untuk obat keluarganya agar sembuh dari sakit.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu," begitu kata Sasa mengutip satu pepatah. "Kita ini jangan mengambil hak Gusti Allah menilai niat seseorang," lanjut Sasa.

"Iya memang benar, Mas Sasa, tapi kita kan harus hati-hati supaya tidak terjebak syirik, dosa yang tidak terampuni," sanggah Amat.

"Loh, soal hati-hati dan mewaspadai hati kita sendiri memang harus, Dik. Kita harus selalu waspada jangan-jangan niat kita salah. Tapi jangan pernah menilai niat dan hati orang lain. Jadi biarlah acara tahunan Yaqawiyyu itu tetap berlangsung sebagai hiburan rakyat yang murah-meriah."

"Kalau saya melihat sebaran apem itu satu kegiatan yang mubadzir, Mas Sasa. Makanan segitu banyaknya kok dilempar-lemparkan. Apa gak ada cara yang lebih baik, yang lebih santun, yang lebih berbudaya?," kata si Hendrik.

"Bagus pertanyaanmu itu, Dik. Saya juga pernah berpikir alangkah bagusnya kalau masyarakat Jatinom sebagai tuan rumah berupaya menghormati tamu-tamunya yang ingin mendapatkan kue apem itu. Misalnya, setiap keluarga menyediakan kue apem dibungkus pakai dos berisi 3-5 buah, lalu dibagikan pada orang yang lewat di depan rumahnya."

"Ya itu maksud saya, Mas. Jadi orang gak usah rebutan, tapi bisa makan apem dengan nyaman di setiap rumah orang Jatinom," kata Hendrik.

"Ya tapi terus gak ada lagi acara Sebaran Apem, Om?," tanya Ifan.

"Diganti acara Pesta Apem, Mas. Malah bagus itu. Semua orang Jatinom bisa sedekah apem," sahut Sasa.

"Ada istilah selain pesta gak, Mas? Kesannya kok kurang sakral, ya."

"Tapi gak apa-apa itu, Om, rakyat kan sudah biasa dengan pesta-pesta. Ada pesta pernikahan, ada pesta ulang tahun anak, dan sebagainya," kata Hendrik.

"Iya betul, Dik. Rakyat juga sudah biasa ikut pesta demokrasi, kok. Tapi isinya ya cuma janji-janji politik dan sebaran amplop. Nasib rakyat selama lima tahun cuma dihargai seket-ewu. Para politisi seperti berlomba ngadakan sebaran amplop. Tragisnya, begitu usai pemilu, rakyat menangis karena harga-harga kebutuhan hidup naik semua, dan orang-orang yang dipilihnya ternyata ketangkap KPK karena korupsi. Rakyat kapusan terus," Sasa mulai berpikir politik.

"Jadi masih mending sebaran apem Yaqawiyyu ya, Mas Sasa?"

"Ya jelas, Dik. Sebaran apem mengandung maksud agar orang yang makan apem mendapat kekuatan menjalani hidup. Kalau sebaran amplop justru bikin rakyat semakin lemah, sementara sebagian lainnya semakin ngawu-awu berkuasa dan korupsi setiap saat."

Obrolan di warung Kang Torong pun bubar karena udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

#serialsasa

Kamis, 15 Agustus 2019

DI GONTOR SEMUA SAMA

DI GONTOR SEMUA SAMA

Untuk yang ke sekian kalinya, malam ini lagi-lagi kami harus rela tidur di hotel bintang sejuta alias nggelar tikar beratapkan langit di pelataran Pondok Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi. Malam ini kami datang pukul 20.00, 30-an gazebo yang berdiri di pelataran dan 30-an kamar Wisma Darussalam sudah terisi semua. Beberapa tenda tampak sudah berdiri di bawah-bawah pohon, menandakan para wali santri itu juga tidak kebagian gazebo atau kamar. Beruntung mereka sudah menyiapkan tenda dari rumah. Lha kami? Ndelalah tenda yang sudah kami beli di Mina tahun 2011 ketlingsut entah di mana kami menyimpannya.

Jumat, 26 Juli 2019

NASI GORENG

NASI GORENG

Sudah lama aku tidak ngajak dolan sahabatku Sasa. Dulu sering kuajak dia keluar malam meski sekadar cari wedangan di warung hik dan ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman sesama penggemar sego kucing. Beberapa bulan terakhir ini, pertemuan kami paling hanya di tempat kerja Sasa, warung Soto Kartongali, atau di rumahku bila kebetulan Sasa mampir setelah mijat pelanggan. Malam ini tetiba aku ingin ngajak Sasa menikmati kuliner malam di kota Klaten. Ada warung bakmi jowo favoritku yang pasti Sasa belum pernah merasakannya.

Sasa lagi ngesis di halaman rumahnya ketika aku datang, lalu tergopoh-gopoh mengajakku duduk di amben di teras.

"Ngunjuk teh ya, Om?, Sasa menawariku minum teh.

"Gak usah, Sa. Ayo kita keluar saja jalan-jalan."

"Siap, Om."

Rabu, 10 Juli 2019

MUKENA TRAVELING

MUKENA TRAVELING

Sering teman-temanku bertanya tentang Bunda Collection, usaha konveksi kami di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka antara lain: Sejak kapan kami punya usaha konveksi? Produksi apa saja? Ada berapa karyawan saat ini? Tokonya di mana? Dikirim ke mana saja? Dan sebagainya.

Baiklah, Nda, akan kuceritakan sepintas-kilas. Kami merintis usaha konveksi yang kemudian kami beri nama Bunda Collection ini sejak akhir 2004. Waktu itu kami baru pindahan dari Jogja, pulang kampung alias hijrah atau boyongan pindah rumah ke Jatinom, Klaten untuk nemani ibuku yang sedang sakit. Sambil ngancani ibuku, tentu kami pun harus krekel-krekel berusaha mencari kesibukan dan rejeki. Malumlah, semua pekerjaan di Jogja kami tinggalkan dan kami sudah mantap jiwa untuk memulai hidup dari nol di Klaten. Modal kami hanya sedikit kemampuan menjahit istriku, Erwina Ali, yang sempat ikut kursus dasar di BLK Kotagede.  Diawali dari istriku menjahit baju seragam sekolah anakku, lalu menjahit baju lebaran. Ternyata beberapa tetangga dan kerabat ikut menjahitkan baju lebaran. Nah, dalam proses inilah ada ide dan peluang usaha memproduksi jilbab, khususnya jilbab pesta, model jilbab yang dibutuhkan ibu-ibu bila ada kondangan dan acara-acara resmi. Makumlah, setiap habis lebaran memang musim kondangan, dan umumnya ibu-ibu suka tampil matching dan tampak cantik. Kebetulan ada teman yang punya toko busana dan komitmen akan membantu memasarkan jilbab buatan kami. Maka dari sinilah usaha konveksi kami bermula dan masih tanpa nama. Dengan sebuah mesin jahit, dengan modal pas-pasan, dan selebihnya hanya nekad karena hidup harus terus bergerak, kami pun membuat beberapa buah jilbab yang modelnya kami dapatkan secara ATM (amati, tiru, modifikasi) dari gambar di sebuah majalah wanita. Alhamdulillah, jilbab-jilbab kami laku keras di toko temanku.

Usaha konveksi ini betul-betul hal baru bagi kami waktu itu, Nda, bahkan bisa dikatakan ahistoris. Maklumlah, selama di Jogja kegiatanku lebih banyak di dunia kesenian dakwah, sejak di Sanggar Shalahuddin UGM hingga di komunitas Maiyah Cak Nun - Kiai Kanjeng. Ijazahku dan istriku juga sama-sama dari Sastra UGM, tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen bisnis apalagi desain dan jahit-menjahit. Tapi mungkin historisitas atau benang merahnya justru dengan masa awal kegiatanku di Sanggar Shalahuddin UGM yang getol mengkampanyekan pemakaian jilbab melalui pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab karya Cak Nun di Jogja dan beberapa kota lain yang sempat menggemparkan jagad perteateran Indonesia pada 1988-1990. Waktu itu masih sangat sedikit wanita memakai jilbab, dan para pemakai jilbab sering diintimidasi bahkan dipecat dari sekolah, kampus, dan tempat kerjanya. Diakui sejarah atau tidak, sejak pementasan Lautan Jilbab yang ditonton ribuan orang di setiap event itu, semakin banyak kaum muslimah berani terang-terangan mengganti penampilannya dengan berbusana muslimah dan berjilbab tanpa rasa takut. Jilbab seakan menjadi simbol keberanian dan pernyataan, "Aku ini seorang muslimah."

Nama Bunda Collection baru kami temukan menjelang pameran Otonomi Daerah di JEC Jogja pada Mei 2005 atas sponsor dari Dinperindakop Pemkab Klaten. Alhamdulillaah, pada pameran pertama itu produk kami laku keras, semua barang terjual habis. Maka kami pun semakin percaya diri dan tuman mengikuti pameran-pameran di berbagai kota.  Tanpa ragu-ragu, kami usung aneka jilbab cantik dengan bendera Bunda Collection ke berbagai event pameran di Semarang, Jakarta, Bandung, Solo, Batam, hingga ke Jordania dan kota-kota besar di Rusia. Di sinilah pengalamanku dulu sebagai Pimpro pentas-pentas Sanggar Shalahuddin dan kemudian sebagai manajer kegiatan Cak Nun-Kiai Kanjeng sangat terasa manfaatnya.

Lalu apa saja produk Bunda Collection? Pada lima tahun pertama, produk kami masih berupa aneka jilbab  dan bandana cantik. Memasuki tahun keenam, kami mulai membuat busana secara limited edition  alias tergantung pesanan atawa by order. Memasuki tahun ketujuh, kami mulai memproduksi aneka mukena. Dan memasuki tahun ke sepuluh, 2015, kami mulai konsentrasi memproduksi aneka mukena traveling, yaitu jenis mukena yang simpel dan cocok dibawa bepergian ke mana saja, baik ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, atau ke mana pun tujuan bepergian. Betapa wagunya seorang muslimah bepergian tanpa membawa peralatan sholat di tasnya, bukan? Apa tidak malu setiap kali mau sholat harus cari pinjaman mukena atau pakai mukena di lemari mesjid dan mushola pom bensin? Sudah tidak jamannya lagi, Sis. Makanya siapkan mukena traveling di tas Anda.

Ada berapa karyawan Bunda Collection saat ini?
Dulu, kami mengawali usaha ini hanya berdua. Istriku yang merancang produk, memilih kain, warna, dan menjahitnya, sedangkan aku sebatas nemani belanja, bantu motong kain, melipat/mengemas produk jadi dan memasarkannya. Di samping itu, aku kabagian tugas melayani ngobrol tamu-tamu serta lobi-lobi untuk membuka peluang pasar dan pengembangan usaha. Mulai bulan keempat, ketika kami sudah merasa keteteran, kami mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, sejak itu hampir setiap hari banyak gadis dan ibu-ibu muda datang melamar kerja. Karena kami memang berniat membuka lapangan kerja di desa, maka hampir setiap pelamar kami terima, bahkan yang belum punya ketrampilan apa pun. Yang sudah bisa menjahit kami beri tugas menjahit, sedangkan yang belum bisa apa-apa kami ajari memotong kain, packing, atau ketrampilan memberi aksen produk dengan handmade sulam pita dan payet.

Pada 2009 hingga awal 2011, karyawan kami ada 150 orang. Seiring perkembangan jaman, pada awal 2012 ketika  produk-produk impor dari China mulai masuk di pasaran secara masif ditambah lesunya daya beli masyarakat, kami pun harus merasionalisasi karyawan dari 150 orang menjadi 70 orang. Berat, tapi harus kami lakukan. Waktu pun terus berjalan dan kami harus terus produksi dengan manajemen yang lebih ketat. 

Tetapi apa boleh buat. Sejak 2012 itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menggaet banyak investor untuk merelokasi pabrik-pabrik TPT (Tekstil dan produk Tekstil) dari Jabodetabek dan Jabar ke Jateng khususnya di wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Konsekuensinya, Pemprov Jateng harus memfasilitasi rekrutmen ribuan tenaga kerja lulusan SMA/SMK se-Jateng. Imbas dari itu, UMKM/IMKM di Klaten mulai kesulitan mencari tenaga kerja, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menutup usahanya. Demikian juga Bunda Collection, hingga saat ini kami juga kesulitan mencari tenaga kerja baru, sementara beberapa naker lama secara alamiah harus resign setelah menikah karena harus mengurus bayinya. Alhamdulillah  saat ini karyawan kami masih ada 30 orang. Mereka sangat loyal dan produktif bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tokonya di mana? Produk Bundaco dikirim ke mana saja?
Begini, Nda, sejak awal kami memang sudah memilih dunia produksi, bukan trading. Makanya kami tidak harus punya toko sendiri. Cukuplah bagi kami menjual produk ke toko-toko di Jatinom, Klaten, Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Dulu ketika peradaban kita masih off-line, maka kami harus aktif ikut pameran atau menawarkan produk ke toko-toko busana. Sekarang jamannya sudah berubah, kita masuk ke peradaban digital dan on-line. Pola pemasaran kami pun harus berubah, tidak lagi mengandalkan toko-toko pelanggan, tapi bermitra dengan anak-anak muda yang menekuni marketing on-line. Mereka pandai menjual, tapi tidak pintar memproduksi karena membangun tim produksi sungguh tidak mudah. Makanya, sejak tiga tahun terakhir produk kami lebih banyak terjual melalui mitra-mitra kami para pemain on-line dan mereka bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. 

Anda pemain on-line dan berminat untuk bergabung memasarkan produk Bunda Collection sebagai reseller? Boleh. Boleh banget.

Selakan intip dulu IG bundaco.klaten atau langsung buka Web www.bundaco.com//reseller. Anda akan dipandu oleh admin reseller, dan bisa bertanya-tanya atau diskusi seputar fasilitas yang kami berikan untuk reseller beserta profitabilitas ya.

Selamat Bergabung. Semoga berlimpah keberkahan...aamiin.


#mukenatraveling
#produsenbusanamuslim

#produsenmukenatravelling

#jilbabcantik

#jilbabpesta

#jilbabsyar'i

Selasa, 02 Juli 2019

SAPI KURBAN

SAPI KURBAN

Seperti tahun-tahun yang lalu, seusai lebaran di antara kesibukan ngurusi sekolah anak-anak, aku menemani Ghofur keponakanku mengurus sapi-sapi di kandang ternaknya, peternakan sapi Al-Kautsar Klaten. Namanya juga menemani, sesungguhnya aku tidak pernah terlibat dalam hal perawatan sapi seperti meracik dan memberi pakan, memvaksin, memandikan, apalagi ngguyang atau memandikan dan nimpal lethong atau kotorannya sapi. Tidak sama sekali. Aku hanya nemani ngobrol sambil ngopi di gerobak yang terparkir di depan kandang di sore hari. Jangan bayangkan aroma bau lethong. sapi, tapi nikmati saja asyiknya suasana di antara suara ceriricit burung-burung sriti yang beterbangan di atas kandang, begitu pesan Ghofur.

Ghofur ini anak mbakyu sepupuku. Usianya hanya 2 tahun di bawahku, dan sejak masih anak-anak dulu, dia sudah sangat akrab denganku hingga seperti adikku sendiri.  Setamat kuliah ekonomi di Malang, dia memilih pulang menekuni dunia peternakan sapi yang sudah dirintis bapaknya. Mungkin karena ilmu manajemen yang diperolehnya dari kampus dia terapkan sungguh-sungguh, peternakan Al-Kautsar dapat berkembang pesat. Saat ini ada 3 kandang permanen kapasitas 200an ekor sapi dan siap melayani kebutuhan kurban.

Bila menjelang musim kurban tiba seperti saat ini, Ghofur luar biasa sibuknya. Setiap saat terutama di sore hari banyak tamu berdatangan dari berbagai desa dan kota. Ada yang masih sekadar survey atau melihat-lihat sapi, dan banyak juga yang langsung menawar harga. Bila sudah deal,  mereka membayar uang muka 1/7 dari harga. Sapi-sapi akan kami rawat dengan baik, dan pada hari H-1 kami antar ke alamat pemesan. Begitu aturan mainnya. Di sinilah peranku, membantu Ghofur menemani tamu-tamu yang pada umumnya panitia kurban atau takmir masjid mewakili jamaahnya.

Sore ini sungguh surprize. Ada serombongan tamu datang naik sepeda motor. Di antara enam orang yang datang itu ternyata ada sahabatku Sasa. Ya, Sasa, si juru parkir Soto Kartongali Jolotundo yang legendaris itu.

"Loh Om, kok di sini?," Sasa bertanya kepadaku sambil pringas-pringis menyodorkan tangan mengajak salaman.

"Lah...Sasa kok juga ke sini?," kubalas bertanya.

"Iya, Om. Mau pesen sapi kurban untuk jamaah masjid kami," jawab Sasa.

"Wah hebat. Jadi kamu dan teman-temanmu ini panitia kurban, to?"

"Iya, Om. Alhamdulillah calon peserta kurban di mesjid kami tahun ini lumayan banyak. Yang sudah mendaftar ada 30 orang. Mudah-mudahan masih nambah hungga 35 orang agar bisa genap 5 sapi," jawab Sasa.

"Monggo dilihat-lihat sapinya dulu, Bapak-Bapak," ajak Ghofur pada tamu-tamunya.

Mereka pun masuk ke kandang melihat sapi satu-persatu. Ghofur menerangkan bahwa semua sapinya sudah divaksin agar sehat dan tidak kena penyakit cacing hati, juga menjelaskan harganya dari yang terendah sampai yang tertinggi.

"Harga ini sudah termasuk bea perawatan, Pak, termasuk free bea pengiriman khusus untuk wilayah Klaten, Jogja, Solo," kata Ghofur meyakinkan tamunya.

Sasa sahabatku hanya ikut masuk sebentar lalu keluar dan kembali duduk denganku.

"Hebat kamu, Sa."

"Hebat pripun, Om?"

"Bisa jadi panitia kurban."

"Ya biasa saja, Om. Ini kan untuk kepentingan bersama, kepentingan jamaah. Kebetulan aku termasuk yang diamanahi, Om."

"Lha ya itu hebatnya. Kamu termasuk orang yang diamanahi. Berarti kamu dipandang amanah."

"Iya ya, Om? Padahal aku sama sekali tidak kampanye minta dipilih, apalagi pakai amplopan....hahahaa."

Dasar Sasa, omongannya suka nyindir-nyindir politisi. Ngomong apapun bisa terkoneksi dengan peristiwa politik. Wong edyan.

"Aneh ya, Om."

"Apa yang aneh, Sa?"

"Orang sekarang banyak yang tega mengorbankan rakyatnya."

"Maksudnya?"

"Orang berebut kuasa dengan tega mengorbankan 700an petugas KPPS."

"Wah ya jangan gitulah, Sa. Rausan petugas KPPS itu meninggal karena kecapekan sehingga penyakitnya kambuh dan tidak tertolong. Jadi bukan dikorbankan, Sa. Hati-hati kamu."

"Kalau rakyat seperti kita ini soal kurban kan karena dherek dhawuh Kanjeng Nabi, Om. Kita kurban kambing atau sapi dengan cara urunan dengan ikhlas mengharap ridlo Allah SWT. Lha kalau orang rebutan kekuasaan sampai tega mengorbankan paseduluran bahkan nyawa orang lain, itu ndherek dhawuh siapa ya, Om?"

"Iya ya, Sa. Mungkin mencontoh Qabil yang tega membunuh Habil. Atau jangan-jangan orang sekarang ini memang lebih banyak yang keturunan Qabil ya, Sa? Sedangkan keturunan Habil cuma sedikit dan kalah terus."

Teman-teman Sasa dan Ghofur keluar dari kandang, rupanya sudah cukup urusan mereka. Kulihat teman Sasa yang tertua, mungkin ketua panitia atau bendaharanya, menyerahkan uang tanda jadi kepada Ghofur.

Hebat, takmir masjid desa itu langsung memesan 5 ekor sapi.
Lantas kami pun bersalam-salaman sebagai tanda sudah akad.
Sasa dan rombongannya pun langsung pamit pulang. Aku dan Ghofur masih melanjutkan ngobrol di gerobak, menghabiskan kopi sambil menunggu saat azan maghrib berkumandang dari masjid sebelah.






Senin, 01 Juli 2019

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADIYAH ROJOLELE ORGANIK

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADYAH: ROJOLELE ORGANIK

Oleh: Among Kurnia Ebo

Seharian kemarin saya menemani teman-teman Lazizmu dan MPM PC Muhammadyah Babad Lamongan, Jatim, di bawah pimpinan mas Eko Hijrahyanto Erkasi dan Edy Syahputro, yang lagi studi banding model pemberdayaan agribisnis jamaah Muhammadyah khususnya yang berprofesi sebagai petani di desa Gempol, Karangaanom, Klaten. Selaku tuan rumah yang dikunjungi untuk studi banding ini adalah Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PD Muhammadyah Klaten.

Model pemberdayaan petani versi Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadyah adalah concern yang sudah lama dirintis semenjak jaman Pak Said Tuhuleley (alm). Bahkan concern Pak Said pada gerakan pemberdayakan masyarakat di tingkat terbawah khususnya para petani melalui MPM inilah yang telah mengantarkannya memperoleh anugerah Doktor Honoris Causa dari UMM Malang. Slogan "Selama Rakyat Masih Menderita Tidak Ada Kata Istirahat" yang beliau canangkan seakan telah menjadi ruh gerakan MPM PP Muhammadiyah hingga kini. Tujuan dari 'Jihad Kedaulatan Pangan' adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam hal ini, kesejahteraan petani sebagai produsen pangan dapat meningkat dengan menghasilkan produk yang berkualitas (halalan-thoyiban) dan diterima oleh pasar. Sejauh ini realitas kehidupan para petani selama ini masih sangat memprihatinkan. Mereka berada pada struktur sosial-ekonomi terbawah. Kondisi ini meniscayakan kehadiran para aktivis Muhammadiyah untuk terjun ke sektor pertanian dan memberikan pendampingan agar petani dapat berdaulat di negeri sendiri.

Salah satu pilot proyek yang sudah dipandang berhasil (sebagai percontohan) adalah gerakan Tani Bangkit di Gempol, Karanganom, Klaten. Gerakan yang diinisiasi oleh MEK PDM Klaten dan Lazismu PP ini jumbuh dengan visi MPM PP yang telah mendeklarasikan pembentukan JATAM (Jamaah Tani Muhammadyah) pada Maret 2018 guna masifikasi gerakan pemberdayaan petani. Para petani Gempol sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, atas inisiatif sendiri, telah membentuk kelompok Tani Organik dalam wadah Kelompok Tani yang dibentuk oleh Pemerintah Desa. Mereka fokus mengembangkan pertanian organik, dengan varietas padi Rojolele.

Rojolele adalah varietas padi unggulan dan khas Klaten yang konon dulunya adalah beras yang paling disukai raja-raja Mataram. Varietas ini sangat istimewa terutama dalam hal rasa yang pulen dan wangi. 

"Dulu usia tanamnya saja sampai 5 bulan lebih 20 hari. Oleh karena itu, varietas istimewa ini sudah lama langka di pasaran karena para petani enggan menanamnya," terang Pak Rahmadi pengurus Gapoktan. "Melihat potensi lokal ini, Pemkab Klaten bekerjasama dengan BATAN telah melakukan upaya pemuliaan Rojolele. Dengan sentuhan teknologi dari para ahli nuklir, usia tanam Rojolele dapat diperpendek menjadi 108 hari dengan tinggi tanaman yang normal, sama denganntanaman padi pada umumnya," lanjutnya.

Gerakan Tani Bangkit Muhammadiyah hadir di Gempol guna membantu pengembangan budidaya Rojolele Organik. Bila sebelumnya di Gempol baru ada lahan padi organik seluas 5 hektar, maka dengan program yang dibiayai oleh Lazismu PP ini akan terjadi penambahan  luas lahan 16 hektar. "Saat ini penambahan baru berjalan efektif 7 hektar," kata Pak Rahmadi.

"Full 100% organik, ya. Bukan hanya hasilnya. Tapi dari prosesnya hingga perlakuan akhirnya. Kita juga sudah mendapat sertifikasi dari Lesos (Lembaga Sertifikasi Organik). Prosesnya dulu sangat rumit. Monitoring dari Lesos juga rutin dilakukan. Tidak boleh ada SOP yang salah, meski hanya satu." jelas Wahyudi Nasution, Ketua MEK (Majelis Ekonomi Kewirausahaan) PDM Klaten yang juga anggota MPP (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadyah, yang memandu dan menjamu para tamu ini, baik saat rapat, makan siang, maupun di lahan dan gudang pengemasan.

Padi Rojolele yang dihasilkan para petani JATAM di Klaten dikelola dengan manajemen yang rapi dan terpadu sehingga standar kualitasnya dapat selalu dijaga. Pengemasannya pun sudah memakai plastik dan mesin vacum sehingga beras akan awet sampai dua tahun.

"Padi organik Rajalele ini kami jual dalam kemasan  kardus berisi 20 kg. Hargai mulai Rp 450.000 per kardus, dan ada rabat/potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sementara ini masih beredar di kalangan warga Muhammadyah. Kami berikan apresiasi yang tinggi kepada Universitas Muhammadyah Yogyakarta yang sejak 8 bulan lalu telah membeli 5 ton per bulan untuk dosen dan karyawan di UMY. Sinergi ini jelas sangat penting guna memberi semangat kepada para Petani JATAM Gempol. Pembeli yang lain masih skala kecil, baik lewat koperasi maupun personal," jelas Wahyudi, yang juga Direktur Utama pabrik konveksi jilbab dan mukena travelling  BUNDA Collection Klaten.

Pada pertemuan kemarin, terjadi tanya-jawab menarik antara tamu dari Babat dengan para Pengurus Gapoktan. Salah satunya adalah pertanyaan, "Bagaimana cara menanam padi organik di lahan tadah hujan seperti di Babat?" Pak Dadi, salah satu Pengurus Gapoktan, menjawab dengan yakin karena pernah mencobanya. Dia menanam padi di lahan tadah hujan dengan trik khusus, dan ternyata berhasil.

"Ternyata padi justru bagus dikembangkan di lahan yang tak terlalu melimpah airnya," kata Pak Dadi. 

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah," Dari mana kita harus memulai pertanian organik?"

Pak Satibi, pengurus senior Gapoktan pun menjawab, "Yang penting ada niat dulu dari beberapa orang yang siap memulai sebagai pelopor. Tidak harus banyak. Beberapa orang itu membentuk lembaga, ada oengurus dan ada pembagian kerja. Lalu mau mempelajari SOP Organik dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh."

"Model ini sudah mulai merambah beberapa daerah. Kalau yang melakukan studi banding dan magang di Gempol sudah ada ratusan orang. Tapi yang mempraktekkan langsung baru beberapa daerah," imbuh Pak Rahmadi.

Capek tapi seneng. Itu yang saya rasakan. Entahlah, kalau ada program-program Muhammadyah yang positif, produktif, dan bervisi pemberdayaan jamaah, saya berasa antusias, bersemangat sekali menjalaninya. Saya sendiri berharap keberadaan JATAM ini akan menjadi salah satu amal usaha Muhammadyah unggulan di masa depan, yang langsung menyentuh lapis kehidupan masyarakat terbawah.

"Kita ingin kesejahteraannya meningkat. Cara budidayanya juga terukur dan benar. Sehingga pasar akan dengan senang hati menerima dengan harga yang pantas. Selama ini petani cenderung asal dalam budidaya dan hasilnya pun bakbuk, impas. Ini yang ingin kita terobos. Dengan sinergi bersama Lazizmu dan pihak kampus, saya optimis program idealis ini akan berhasil," jelas Wahyudi saat menjamu tamunya di warung tengkleng Pak Kamto Jatinom yang legendaris itu.

Islam Agamaku
Muhammadyah Gerakanku
Aku Bangga Jadi Warga Muhammadyah