Minggu, 22 Januari 2023

MUKENA RAMADHAN

MUKENA RAMADHAN

Dua buah mobil berbranding Pondok Pesantren Modern GONTOR PUTRI 2 Mantingan, Ngawi, Jawa Timur perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Para Ustadz-Ustadzah Gontor Putri 2 dipimpin Ustadz Zaki ditemani Ustadz Fuad dari IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Cabang Solo itu akan melanjutkan silaturahmi ke pengusaha lainnya di sektor makanan. Tamu-tamu yang sopan. Mereka sengaja nemui Pak Bei-Bu Bei untuk minta ijin besok pertengahan Maret akan membawa santri-santri klas 6 Gontor Putri-2 berkunjung ke Bundaco dalam program Rihlah. 

Pak Bei paham, di Pondok Gontor memang ada program Rihlah bagi santri-santri kelas 6. Setelah mereka selesain ujian akhir, sebelum yudisium lalu melanjutkan program Pengabdian selama satu tahun, mereka diajak study tour guna mengenal dunia wirausaha di masyarakat. Mungkin ini salah satu cara Pondok Gontor menamamkan mental mandiri pada para santrinya. Sejak kelas 1, para santri sudah dididik untuk mandiri, bukan bermental 'anak mami'. Kelak mereka setelah lulus juga harus siap jadi pengusaha, bukan ikut antri daftar jadi pegawai atau karyawan. 

Bagi Bundaco, kunjungan Rihlah Pondok Gontor ini akan jadi yang kedua. Dulu sebelum pandemi covid-19, GP-5 Kediri juga pernah melakukan Rihlah. Sebanyak 3 bus santriwati berkunjung ke Bundaco, belajar tentang wirausaha beserta segala dinamikanya. Tahun sebelumnya, Ponpes Al-Huda Cepogo, Boyolali juga melakukan Wisata Industri ke Bundaco. Sebelumnya lagi, Kementerian Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan setiap tahun selama 3 tahun berturut-turut juga menitipkan pelaku-pelaku UKM Konveksi se-Kalsel untuk magang di Bundaco. Bagi Pak Bei-Bu Bei, itu semua disikapinya sebagai peluang untuk menebarkan virus wirausaha pada generasi muda dan kesempatan untukberbagi pengalaman berwirausaha.

Pak Bei dan Bu Bei masih asyik ngobrol tentang tamu-tamu dari Gontor tadi,  tetiba satu mobil Innova putih masuk ke halaman. Sepasang suami-istri turun dari mobil dan mengucap salam. Setelah menjawab salam, Pak Bei dan Bu Bei pun mempersilakan kedua tamunya itu duduk di kursi sedan lawasan, tempat Pak Bei biasa menerima tamu atau ngobrol malam-malam dengan teman-temannya sambil ngopi.

"Nuwun sewu, Bapak-Ibu ini dari mana, ya?," tanya Bu Bei membuka obrolan.

"Ooh njih, Bu, pekenalkan nama saya Budi dan ini istri saya Santi. Kami tinggal di Jogja, di kawasan Seturan," jawab Pak Budi. 

Melihat penampilannya, usia suami-istri ini masih cukup muda, agak jauh di bawah Pak Bei, kelihatan masih di kepala 4. Rumahnya di kawasan Seturan berarti ekonominya cukup mapan, begitu pikir Pak Bei. Menilik prejengan dan tutur bahasanya, patut diduga Pak Budi ini berprofesi dosen, entah di UGM, UNY, UIN, UII, UPN, YKPN, atau entah di mana. Sebagaimana teman-teman Pak Bei yang berprofesi dosen, pada usia itu rata-rata mereka sudah bergelar Doktor, bahkan ada yang Profesor. Dosen sekarang kelihatan keren-keren. Di samping gajinya besar, biasanya mereka juga masih nyambi jadi konsultan proyek-proyek Pemerintah atau Swasta.

"Oh ya, Pak Budi. Perkenalkan juga, ini Pak Bei suami saya, dan saya sendiri biasa dipanggil Bu Bei, tapi banyak juga yang suka manggil saya Bunda," Bu Bei ganti memperkenalkan diri.

"Apa yang bisa kami bantu, Mas Budi?," Pak Bei sengaja memanggilnya 'Mas' agar lebih akrab.

"Begini, Pak Bei. Kami mau cari mukena untuk kami bagikan menjelang Ramadhan," jawab Pak Budi.

"Wah mantap, Mas. Bagaimana ceritanya cari mukena kok bisa sampai ke sini? Di Jogja kan banyak toko mukena?," Pak Bei memancing.

"Begini, Pak Bei," Bu Santi menyahut, "Dua bulanan lagi kita kan memasuki bulan Ramadhan. Seperti umat Islam pada umumnya di setiap bulan suci, kami pun berupaya memperbanyak shadaqah dan amalan-amalan sunnah lainnya."

"Tahun-tahun lalu, disamping  mambantu pengadaan takjil di beberapa masjid,  kami juga membagikan sarung untuk jamaah bapak-bapak," kata Pak Budi menimpali.

"Wah bagus itu, Bu Santi" kata Bu Bei.

"Tapi tahun ini kami ingin beda," kata Bu Santi.

"Beda bagaimana, Mbak?," Bu Bei ganti menyapa dengan 'Mbak'.

"Sekarang giliran Ibu-Ibu. Kami ingin membagikan mukena untuk ibu-ibu dan remaja putri. Kalau bisa akhir Sya'ban sudah terlaksana," jawab Bu Santi.

"Wah alangkah senangnya jamaah masjid punya warga yang dermawan seperti Mas Budi dan Mbak Santi ini," kata Bu Bei.

"Alhamdulillah, Bu Bei. Prinsipnya kami ingin bergembira bersama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga jamaah masjid kami senang  bisa shalat tarawih dan shubuhan di mesjid selama sebulan penuh, memakai mukena baru," kata Pak Budi.

"Apalagi kalau mukenanya model baru dan warnanya bisa sama ya, Pah. Jadi seragam gitu loh," kata Bu Santi.

"Kemarin kami mencoba browsing mencari produsen mukena di sekitar Jogja-Solo, ternyata ketemunya BUNDACO, Produsen Mukena Travelling di Klaten. Cukup dekat. Makanya sore ini kami ke sini, Bu Bei. Pengin melihat langsung," kata Pak Budi.

"Kami juga sudah melihat foto-foto di IG bundaco.klaten. Masya Allah, cantik-cantik banget. Kami jadi penasaran, Bu," Bu Santi menambahi.

"Masya Allah, kami merasa tersanjung Mas Budi dan Mbak Santi mau keroyo-royo datang ke sini,  di rumah produksi Bundaco.  Nah biar afdhol, sebaiknya sekarang Mbak Santi diantar Bu Bei melihat-lihat koleksi produk di showroom. Mas Budi boleh juga kalau mau ikut, atau mau nunggu di sini saja sambil ngopi dengan saya," kata Pak Bei.

Ternyata Mas Budi memilih ikut melihat-lihat ke showroom. Pak Bei segera menuju dapur memasak air, membuat 2 gelas kopi dan segelas teh nasgithel. 

"Bagaimana, Mbak Santi, ada yang sesuai keinginan?," tanya Pak Bei setelah mereka kembali duduk di teras nDalem Pak Bei.

"Alhamdulillah ada, Pak Bei. Tadi kami langsung pesan 100 pcs ke Bu Bei," jawab Mbak Santi.

"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak Santi."

"Oya, Bu Bei, DP 50% saya transfer sekarang saja njih, pakai M-Banking, lanjutnya.

"Ooh njih monggo, Mbak. Nomor rekening ada di nota pesanan tadi."

"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Budi. Monggo, Mbak Santi, ngunjuk teh nasgithel ala ndeso dulu," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.

Sebentar lagi waktu maghrib. Mas Budi dan Mbak Santi pamitan. "Nanti berhenti sholat di Pom Bensin saja," jawab Mas Budi ketika ditawari Pak Bei nunggu maghrib dulu saja.

Hari yang luar biasa. Tamu-tamu agung berdatangan ke Bundaco, di sebuah dusun di jalan raya Klaten-Jatinom-Boyolali. Indahnya berwirausaha di desa.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mukenaramadhan
#indahnyawirausaha









Jumat, 13 Januari 2023

CURHAT MILLENIAL

CURHAT MILLENIAL

Seperti biasanya, setiap sore bila cuaca sedang tidak hujan, krucil-krucil anak-anak tetangga, putra-putri, bermain riang di halaman nDalem Pak Bei. Macam-macam permainannya, tampaknya mereka terpengaruh tontonan yang lagi hit di televisi. Sejak ada Piala Dunia beberapa hari lalu, mereka bermain bola plastik sambil tangannya memegang thek-thek. Thek-thek dimainkan ketika timnya berhasil menyarangkan goal ke gawang lawan. Pak Bei dan Bu Bei suka sekali melihat tingkah krucil-krucil yang lucu itu sambil menikmati kopi dan teh panas di teras. Mungkin sudah naluriah, orang yang semakin bertambah usia jadi suka menikmati kelucuan anak-anak kecil yang lagi bermain.

Sayang sekali suasana ceria anak-anak sore ini harus terhenti karena kedatangan rombongan tamu Pak Bei yang tetiba datang gemruduk.  Ada 4 sepeda motor parkir di halaman sehingga krucil-krucil terpaksa menyingkir ke halaman tetangga.

"Assalaamu'alaikum...," seorang tamu mengucap salam. Ternyata Narjo si-loper koran yang datang setiap pagi itu yang datang berombongan. Tumben dia berpakain lebih rapi.

"Wa'alaikumsalam.... Kang Narjo to ini? Ayo silakan duduk. Monggo-monggo," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya duduk. 

"Kok tumben, Pak Narjo? Ada apa ini kok grudukan sore-sore?, tanya Bu Bei.

"Ngantar teman-teman pemuda ini, Bu Bei. Mereka pengin kenalan dan ngobrol dengan Pak Bei," jawab Narjo.

"Ooh ya monggo, Pak Narjo. Mas-Mas mau minum apa ini? Kop, teh, wedang uwuh?," tanya Bu Bei.

"Apa saja, Bu Bei. Jangan repot-repotlah," kata Narjo.

Bu Bei langsung beranjak ke dapur. Tak berapa lama kemudian, 8 gelas kopi dan sepiring pisang kepok rebus sudah tersaji di meja, siap menemani obrolan Pak Bei dengan tamu-tamunya. 

"Apa yang bisa saya bantu, Kang?, tanya Pak Bei setelah Narjo memperkenalkan teman-temannya satu per satu.

"Ayo siapa yang mau matur dulu ke Pak Bei, mumpung ketemu?" tanya Narjo pada teman-temannya. "Kamu dulu, Ji. Ngomonglah," Narjo menyuruh Aji, pemuda yang tampak paling bersih kulitnya dan rapi dandanannya.

"Begini, Pak Bei. Tapi saya mohon maaf dulu," Aji mulai bicara.

"Lha belum apa-apa kok minta maaf to, Ji. Mbokya ngomong dulu," kata Narjo.

"Tadi setelah sholat ashar, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol di serambi masjid. Ndelalah tadi obrolan kami seputar politik. Ya maklum, Pak Bei, di tahun politik ini kita setiap hari dijejali berita dan obrolan politik di televisi dan di group-group WA. Biasalah, seputar capres, koalisi partai politik, partai baru, dan sebagainya. Yang bikin  miris, antar pendukung itu tampak saling menyerang, saling menguliti kekurangan lawan politik dan calon presidennya," Aji tampak menghela nafas sambil berpikir.

"Dan kami pun terbawa suasana itu, Pak Bei," Azis menimpali. "Kami jadi mikir juga, bagaimana sikap kami nanti pada Pemilu bulan Februari 2024? Kami mau ikut mendukung siapa?," lanjutnya.

"Yang pasti kami ingin ada perubahan, Pak Bei. Mosok negeri yang subur dan berlimpah kekayaan alam ini kehidupan rakyatnya justru semakin berat, semakin melarat. Ini jelas ada yang salah," kata Narwan.

"Benar, Pak Bei," Aji menyahut,  "Setiap bulan rakyat kita disogok dengan sembako PKH, BLT, dan Bansos agar diam dan tidak ribut, sementara kekayaan alam dirampok besar-besaran, harga-harga kebutuhan hidup semakin mahal, pajak PBB, tarif listrik, dan harga BBM dinaikkan terus. Kita saksikan para pejabat dan wakil rakyat justru ikut berpesta-pora menikmati hasil rampokan itu. Ini sangat menyakitkan, Pak Bei. Harus bagaimana kita ini? Diam saja atau perlu bersama-sama berjuang melakukan perbaikan?," sambungnya.

"Saya tadi tidak bisa menjawab, Pak Bei, makanya saya ajak pemuda-pemuda ini sowan ke sini," kata Narjo dengan gayanya yang plengah-plengeh. "Tolong Pak Bei bantu eguh-pertikel anak-anak ini. Bagaimana sebaiknya mereka harus bersikap?," sambung Narjo.

"Wah berat ini, Kang," kata Pak Bei.

"Ya memang berat. Makanya saya tidak bisa menjawab," kata Narjo.

"Saya tidak punya pengalaman jadi politisi, Kang."

"Tapi Pak Bei sudah menyaksikan kahanan politik sejak masa jaya-jayanya Orde Baru hingga gonta-ganti Presiden di era reformasi ini. Pasti sudah bisa niteni dan bisa ngajari anak-anak ini."

"Walah, Kang Narjo ini, lho. Tak kandhani yho, sesungguhnya anak-anak millenial ini lebih cerdas dari generasi kita, lebih kaya informasi, dan yang pasti mereka punya imajinasi sendiri tentang masa depannya."

"Tapi kami bingung juga memahami keadaan negara kita saat ini, Pak Bei," Narwan menyela, "Kami butuh tempat curhat. Tiap hari seakan kami digiring agar menjadi politisi. Padahal kalau mau jadi politisi kan harus kaya dulu. Harus punya modal besar dulu. Ya jelas, kami yang masih sekolah dan kuliah ini tidak mampu ikut ke sana," sambungnya.

"Begini saja, Dek," Pak Bei merespon Narwan, "Mbok kalian ini sekolah dan kuliah dulu saja yang bener. Jadilah generasi yang pintar agar tidak gampang dibodohi orang. Toh orang tua kalian masih mampu membiayai," lanjut Pak Bei.

"Ya tidak boleh begitu, Pak Bei," Azis menyahut, "Memang kami harus belajar sungguh-sungguh untuk masa depan kami. Tapi kami juga tidak mungkin diam saja setiap hari menyaksikan ketidakberesan pengelolaan negara yang ugal-ugalan ini," lanjutnya.

"Ugal-ugalan bagaimana maksudmu, Dek?" tanya Pak Bei.

"Pak Bei pasti juga tahulah bagaimana masa depan kami ini harus mewarisi hutang Pemerintah yang sangat besar, tidak kurang dari 7.000 Triliun, harus menerima kenyataan bahwa usaha-usaha strategis yang harusnya dikuasai negara sudah dijual ke korporasi asing, kontrak-kontrak jangka panjang sektor pertambangan oleh asing dan aseng, bahkan ada pulau-pulau yang mau dijual ke asing juga. Ini benar-benar edan kan, Pak Bei?" kata Aji dengan ekspresinya yang tampak geram.

"Adik-Adik, senang sekali saya mendengar obrolan kalian. Ini tema yang berat, sangat aktual,  dan sangat menarik. Tentu tema ini tidak akan habis kita obrolkan dalam waktu singkat. Mungkin perlu bermalam-malam untuk kita bisa memahaminya," kata Pak Bei.

"Benar, Pak Bei. Sayang sekali, sebentar lagi waktu maghrib akan tiba," jawab Narjo.

"Iya, Kang. Tanpa bermaksud mengusir, saya juga harus siap-siap ke mesjid. Tapi sekali lagi, saya sangat senang bisa ngobrol dengan adik-adik sore ini. Kapan-kapan kita lanjutkan, ya," Pak Bei mengakhiri obrolan. Narjo dan rombongan pun berpamitan.

#serialpakbei
#wahyudinasution














Senin, 02 Januari 2023

LOPER KORAN

LOPER KORAN

Edan tenan Kang Narjo. Omongannya mak-jleb di ulu hati. Sudah seminggu dia tak tampak batang hidungnya dan tugasnya ngantar koran sementara diganti si Azis anak bungsunya.

"Nengok  cucu di Jakarta, Pak Bei. Istri kakak melahirkan anak kedua bulan lalu," kata Azis ketika ditanya Pak Bei ke mana bapaknya. 

Pak Bei sedang merawat tanaman Bunga mawar marna-warni di halaman ketika Narjo mak-bedunduk datang dan melempar korankan ke teras. 

"Wah yang dari Jakarte. Mane nih oleh-olenye?," sapa Pak Bei pada Narjo dengan bercanda.

"Wah semakin kritis kok, Pak Bei," jawab Narjo.

"Looh...apanya yang kritis, Kang?"

"Pekerjaanku."

"Ada apa dengan pekerjaanmu?"

"Pak Bei kan tahu, aku sudah nekuni pekerjaan loper koran ini sejak baru lulus SMEA. Empat puluh tahun yang lalu."

"Iya aku tahu. Kenapa, Kang?"

"Sejak aku masih ngepit onthel, naik sepeda, sampai gonta-ganti motor dan punya 3 cucu saat ini, aku masih tetap setia mengantar berita ke para pelanggan setiap pagi."

"Iya, aku tahu Kang Narjo punya dedikasi tinggi sebagai loper koran."

"Tapi jaman sudah jauh berubah. Sekarang pelangganku tinggal sedikit, Pak Bei. Pembaca koran sudah beralih ke media online. Kemarin ada koran Nasional yang bahkan sudah memilih tutup, tidak terbit lagi. Mungkin juga karena pembacanya tinggal sedikit."

"Iya aku sudah baca berita itu, Kang."

"Loper koran tak lagi ditunggu-tunggu kedatangannya," kata Narjo dengan mata berkaca-kaca.

"Iya, Kang. Sabar, ya," Pak Bei mencoba menenangkan hati Narjo.

"Tapi orang sekarang juga aneh, Pak Bei."

"Aneh bagaimana?"

"Banyak orang justru memilih jadi loper koran."

"Maksudnya?"

"Padahal orang-orang cukup pintar, berpendidikan, punya banyak teman, banyak relasi, juga banyak mengikuti group WhatsApp, tapi ternyata....," Narjo tampak tidak tega meneruskan kalimatnya.

"Ternyata apa, Kang? Teruskan saja...."

"Ternyata sama saja dengan aku, hanya loper koran."

"Maksudnya?"

"Coba saja Pak Bei cermati. Banyak orang main gadget, bermedsos tiap saat, aktif di Facebook dan group-group WA, tapi ternyata hobynya cuma copy paste berita atau tulisan dan pendapat orang lain."

"Memangnya kenapa, Kang?"

"Lah itu kan sama saja dengan loper koran, Pak Bei. Mengantar tulisan atau pendapat orang ke teman-temannya. Iya, kan? "

"Iya juga ya, Kang. Memang begitu biasanya."

"Kenapa pada tidak belajar bikin tulisan sendiri saja, Pak Bei?"

"Wah ya gak segampang itu, Kang."

"Ya memang tidak gampang, Pak Bei. Tapi kan sekarang media informasi sudah ada di tangannya, di tangan setiap orang, bukan lagi milik pengusaha media cetak seperti dulu."

"Iya benar."

"Kalau dulu, tulisan wartawan atau para kolumnis koran dan majalah kan harus lolos seleksi dulu di dewan redaksi. Hanya tulisan yang bagus yang bisa dimuat.  Jaman medsos sekarang tidak ada dewan redaksi. Semua orang boleh menulis apa saja dan kapan saja. Bebas sebebas-bebasnya.."

"Iya benar."

"Kenapa kebebasan itu tidak dimanfaatkan untuk belajar menulis, Pak Bei? Syukur-syukur bisa bikin tulisan yang bagus, yang mengabarkan kebaikan, untuk kebaikan hidup bersama. Jangan justru bikin tulisan yang penuh sak-wasangka, caci-maki, shu'udhon, tentang aib dan keburukan seseorang atau golongan. Mbok ya belajar jadi penulis yang elegan, bukan jadi provokator yang suka adu-domba dan permusuhan. 
Ah sudahlah, Pak Bei. Aku pamit dulu ya...."

Narjo pun meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei melanjutkan tugasnya. Entah mimpi apa Pak Bei tadi malam kok pagi ini tetiba diceramahi Narjo si loper koran? Entah ketemu siapa saja selama seminggu di Jakarta, kok tetiba Narjo bisa ngomong setajam itu? Apa dia juga sudah main medsos, ya? Wis embuhlah.
Edan tenan Kang Narjo.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#loperkoran










Senin, 19 Desember 2022

MUSIM DOLOP TIBA

MUSIM DOLOP TIBA

"Musim dolop sudah mulai lagi ya, Pak Bei," kata Narjo sambil melemparkan lipatan koran.

"Apa, Kang?"

"Musim dolop sudah tiba." 

Dolop. Sudah lama Pak Bei tidak mendengar istilah itu. Dulu waktu masih usia SD, hampir setiap hari pasaran Minggu Legi, Pak Bei dan teman-teman sebaya biasa main ke Pasar Jatinom nonton keramaian di sana. Dimulai dari los pasar burung, pindah ke pasar kambing, pindah lagi ke pasar sapi, lalu ikut uyel-uyelan nonton pedagang jamu mendemonstrasikan kehebatan jamunya. 

Dari seringnya nonton atraksi bakul jamu, anak-anak pun jadi tahu bahwa sebenarnya pedagang jamu itu bukan sendirian, tapi ada tim kerja yang masing-masing anggotanya memainkan peran. Beberapa orang berperan sebagai pengunjung yang ikut berkerumun dan ikut menawar harga. Bukan mau benar-benar  membeli, tapi hanya akting sekedar untuk mempengaruhi psikologi penonton. Ada yang pura-pura sakit lempoh yang hanya dengan olesan obat dan satu sentuhan tangan pedagang, si sakit langsung pun sembuh, bisa berdiri dan berjalan. Anggota tim yang lain mencoba menawar harga, di susul anggota lainnya menawar dengan harga lebih tinggi. Mereka benar-benar kompak  mempengaruhi pengunjung agar mau menawar dan membeli obat atau barang yang ditawarkan si pedagang. Itulah fungsi dolob.  

"Apa sekarang masih ada dolop, Kang? Jamannya sudah beda, lho."

"Semakin banyak, Pak Bei. Ada yang profesional alias bayaran, dan ada yang hanya relawan."

"Maksudnya?"

"Kalau dulu di Pasar Legi Jatinom yang dijual kan obat atau jamu. Ada obat pegel linu, obat encok, obat kuat lelaki, dan sebagainya."

"Kalau sekarang?"

"Sekarang yang dijual janji-janji."

"Janji-janji apa?"

"Janji tidak akan impor beras, janji tidak akan nambah hutang negara, janji membuka jutaan lapangan kerja, janji dana abadi pesantren, janji akan memberi contoh hidup sederhana, janji tidak akan menaikkan tarif listrik, BBM, dan pajak, dan masih banyak janji lainnya yang manis-manis."

"Terus..."

"Tapi semuanya kan cuma mbelgedhes."

"Maksudnya?" 

"Ngapusi kabeh, omong kosong. Tapi rakyat gampang percaya, dan akhirnya ketipu lagi."

"Kenapa rakyat bisa ketipu terus ya, Kang?"

"Ya karena ulah para dolop, Pak Bei. Tiap hari rakyat dijejali informasi tentang kehebatan jamu atau jagonya, digiring agar ikut menjelekkan merk jamu yang lain. Lama-lama rakyat pun percaya. Rakyat terpedaya oleh trik para dolop bayaran, dan akhirnya kembali tertipu, hanya menjadi objek penderita."

"Mesakke ya, Kang."

"Tapi rakyat juga kebangetan kok, Pak Bei. Gampang lupa, tidak titen. Asal para dolop sudah bagi-bagi amplop, rakyat pun lupa semua penderitaannya."

"Begitu ya, Kang."

"Dan sekarang ini sudah mulai bermunculan lagi dolop-dolop, baik yang perorangan maupun yang terorganisir dan resmi."

"Contohnya, Kang?"

"Ada yang kelihatannya partai politik peserta pemilu, tapi sebenarnya cuma dolop. Ada yang kelihatannya lembaga survey bonafid, tapi sesungguhnya cuma dolop yang bertugas menggiring opini publik. Namanya juga orang cari makan, Pak Bei. Berbagai cara pun ditempuh."

"Wislah, Kang. Pagi-pagi ngomong politik, bisa hilang selera sarapan."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku mau lanjut kerja dulu.  Pamit, ya. Wassalam..."

Kang Narjo loper koran itu meneruskan tugasnya mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Meski pembaca koran tinggal sedikit, tapi Narjo masih tetap setia dengan profesi yang sudah ditekuninya sejak 4 dasawarsa yang lalu.

"Jaga kesehatan ya, Kang," begitu pesan Pak Bei hampir setiap pagi pada sahabatnya.

#serialpakbei
#musimdoloptiba
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten








Kamis, 15 Desember 2022

PARTAI UMMAT

PARTAI UMMAT

"Pak Bei, bagaimana ini kok Partai Ummat gak diloloskan KPU? Ini pasti ada yang bermain," kata Narjo sambil melempar koran ke teras nDalem Pak Bei. "Lha kalau disuruh kembali ke PAN jelas gak mau saya?," lanjutnya.

"Memang ada yang nyuruh Kang Narjo kembali ke PAN?," tanya Pak Bei.

"Ya belum ada. Tapi kan jelas terbaca arahnya, Pak Bei."

"Terbaca bagaimana?"

"Kalau Partai Ummat lolos jadi peserta Pemilu, PAN bisa tergerus suaranya di Pemilu 2024. Mayoritas pemilih PAN akan hengkang ke Partai Ummat. Makanya perlu dilakukan berbagai cara agar Partai Ummat tidak lolos."

"Kok bisa begitu, Kang?"

"Jelas bisa. Cetho welo-welo. Para petinggi PAN takut kalau para pemilih dan simpatisannya selama ini akan ramai-ramai bedhol desa ke partainya Pak Amien Rais yang baru, Partai Umat."

"Kenapa takut?"

"Loh, mereka pasti sadar telah mengkhianati Pak Amien, sadar telah merampok PAN menjadi partai pendukung Pemerintah. Pak Bei lihat saja, tokoh-tokoh PAN sudah tidak punya mental oposisi, tidak kritis lagi pada kebijakan yang tidak pro-rakyat, tidak peka terhadap kemungkaran yang semakin marak. Pak Bei lihatlah juga kemana arah dukungan mereka untuk calon Presiden nanti. Cetho welo-welo. Makanya menjelang Pemilu 2024, mereka ketakutan sendiri. Takut akan kehilangan banyak suara, takut semakin banyak kehilangan kursi legislatif dan  hanya akan jadi partai gurem."

Wah gawat juga omongan Kang Narjo ini. Ternyata dia bukan sekedar loper koran, tapi juga bisa menyerap sari berita dari koran-koran yang diantarkannya setiap pagi.

"Waduh saya malah gak tahu  kalau sejauh itu, Kang. Kok sampai segitunya analisismu?"

"Makanya Pak Bei harus rajin-rajin baca koran. Biar titen. Biar bisa membaca tanda-tanda jaman, paham obah mosiking kahanan. Jangan berlangganan koran tapi gak pernah dibaca. Ingat, Pak Bei, bagaimanapun juga berita koran lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hoax."

"Iya ya, Kang. Terus bagaimana soal partai tadi?"

"Ya itu yang saya masih bingung mau ikut partai apa nanti."

"Gak usah bingung, Kang. Rasah dipikir, lha cuma soal partai saja kok repot."

"Pak Bei ini bagaimana, to. Ya memang kita ini cuma rakyat, tapi mbok ya agak cerdas sedikit biar tidak terus-menerus dibodohi orang-orang yang sok pintar dan punya modal. Rakyat ini jangan mau dijadikan bebek yang bisa digiring-giring ke mana saja, lalu telurnya mereka yang menikmati."

"Kalau soal partai, Kang, pilihanku sudah jelas kok."

"Partai apa, Pak Bei?"

"Partai Final Piala Dunia 2022?"

"Wooo....lha ini yang namanya jindul. Ya sudah, Pak Bei, aku mau neruskan tugas dulu. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

#serialpakbei
#wahyudinasution






Sabtu, 10 Desember 2022

NGUNDHUH MANTU

NGUNDHUH MANTU

"Baru kali ini ada orang ngundhuh mantu benar-benar ngrepoti negara," kata Narjo.

"Ngrepoti negara bagaimana?" tanya Pak Bei.

"Orang tua punya hajat nikahkan anaknya atau ngundhuh mantu itu kan biasa to, Pak Bei. Orang Jawa bilang, itu netepi darmaning asepuh. Melaksanakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya."

"Iya, terus apa masalahnya?"

"Wah Pak Bei ini bagaimana, to? Makanya dibaca koran ini biar tahu berita terkini. Jadi head-line lho, Pak Bei. Kalau cuma lihat di medsos pasti gak menarik.membacanya. Edyan tenan kok..."

"Siapa yang edan, Kang? Mbok jangan gitulah..."

"Presiden pilihan Pak Bei ini memang elok tenan. Joss. Seneng gawe giris, gawe pengeram-eram."

"Kenapa, Kang?"

"Baru kali ini lho ada presiden mantu anaknya pakai pengamanan puluhan ribu pasukan polisi dan tentara, ngerahkan panser dan peralatan perang, juga didukung drone untuk memantau pergerakan rakyat di kota Solo."

"Mbokya biar saja. Namanya juga presiden, pasti duitnya banyak. Mau melakukan apa saja juga bisa."

"Sugih tenan. Katanya tidak nerima sumbangan. Semua dibiayai sendiri. Tapi apa iya puluhan ribu pasukan itu beliau sendiri yang membiayai. Belum lagi sarana-prasarana pestanya."

"Ya mungkin saja to, Kang. Namanya saja wong sugih."

"Nalar saya gak nyandhak, Pak Bei."

"Kok gak nyandhak ?"

"Yang namanya presiden kan punya banyak menteri, gubernur, bupati, walikota, dirjen, dan lain-lain. Mosok mereka gak nyumbang sama sekali. Ya gak mungkinlah."

"Lah kan memang tidak menerima sumbangan?"

"Kalau sumbangan berupa amplopan duit seperti di masyarakat pada umumnya, mungkin memang tidak sama sekali."

"Terus..."

"Tapi apa gubernur atau bupati tidak rebutan nyediakan tenda, dekorasi, rias manten, catering, dan sebagainya? Apa iya Menteri Pertahanan dan Kapolri, misalnya, tidak perintah ke seluruh jajarannya untuk ngerahkan polisi dan tentara plus peralatan perang untuk pengamanan? Itu kan tanda loyalitas bawahan pada atasan to, Pak Bei. Kalau tidak bantu, itu namanya kebangetan. Mau dipecat?"

"Wah kalau sampai segitu mikirmu,  aku ora tekan, Kang. Ora mudheng. Ora nyandhak."

"Saya ya juga cuma entho-entho kok, Pak Bei. Dari baca koran terus mikir. Mungkin juga salah."

"Ya gak papa, Kang. Rakyat kan cuma bisa nonton, ndelok, kendel alok. Terserah rakyat mau bilang apa, the show must go on, acara jalan terus.

"Ya sudah, Pak Bei. Saya mau neruskan tugas dulu. Ngantar berita."

"Monggo, Kang. Hati-hati, ya. Gak usah ngebut.

"Siapp. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

Loper koran yang wajahnya selalu open dan plengah-plengeh itu meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei, melanjutkan rutinitas paginya. Orangnya sederhana, tapi soal update berita, dialah orang yang rajin dan setia....

#serialpakbei
#wahyudinasution







 




Rabu, 07 Desember 2022

COTHO

COTHO

"Wah benar-benar cotho ya rakyat ini, Pak Bei," kata Narjo usai melemparkan lipatan koran seperti biasanya.

"Cotho bagaimana, Kang?" tanya Pak Bei sambil melepas kacamata bacanya. 

Segera saja loper koran langganan Pak Bei itu mematikan motornya, melepas helm, dan membuka maskernya, lalu melepas uneg-uneg di hatinya.

"Ya gimana gak cotho, Pak Bei. Ini kan lagi musim Piala Dunia, tapi orang seperti saya ini tak bisa lagi menikmati siaran langsung di tivi. Cotho tenaan....," kata Narjo.

"Apa belum beli STB, Kang?"

"Ya pengin beli, tapi di mana-mana gak ada, semua toko kehabisan stok."

"Katanya ada gratisan dari Pemerintah?"

"Katanya begitu. Tapi mungkin cuma di kota saja, gak sampai ke desa."

"Ya sudah gak usah nonton tivi, gak usah nonton Piala Dunia. Kang Narjo kan bisa baca berita koran tiap pagi."

"Ya beda, Pak Bei. Kalau nonton siaran langsung kan emosi kita bisa ikut. Kalau jago kita menang, perasaan jadi puas, bahagia. Kalau kalah ya lemes, sedih. Lha kalau baca koran, kan kita cuma baca tulisan wartawan."

"Ya jangan bilang cuma to, Kang. Nyatanya tulisan para wartawan itu yang jadi sumber penghidupanmu sejak dulu, kan?"

Pak Bei ingat betul, Narjo sudah jadi loper koran sejak lulus sekolah SMEA, sekitar tahun 1983. Dulu dia keliling tiap pagi ke rumah-rumah pelanggannya pakai sepeda ontel, pit wedok tua yang suaranya glodhek-glodhek. Baru mulai tahun 90an Narjo bisa beli Super Cup bekas sehingga bisa menjangkau pelanggannya bukan hanya di seputar Kecamatan Jatinom, tapi juga Karanganom, Tulung, dan Polanharjo. Di tahun-tahun itu juga Narjo berani menikah dan punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Sebelum pandemi dua tahun lalu, anak-anak Narjo sudah mentas semua, alias ketiganya sudah berumah tangga. 

"Gusti Allah itu benar-benar adil kok, Pak Bei," kata Narjo suatu pagi.

"Lha piye, Kang?"

"Dulu waktu anak-anakku masih sekolah, masih butuh biaya banyak, pelangganku juga sangat banyak sehingga hasil kerjaku cukup untuk membiayai mereka. Dulu tiap hari aku berangkat pagi-pagi habis sholat shubuh dan baru pulang menjelang 'ashar."

"Sekarang gimana, Kang?"

"Sejak anak-anakku selesai sekolah dan berkeluarga, ternyata pelangganku juga jauh berkurang, Pak Bei. Pelangganku dulu sudah banyak yang beralih ke berita online, tidak lagi langganan koran. Jadi pelangganku sekarang tinggal sedikit. Sebelum dhuhur aku sudah sampai rumah."

"Gitu ya, Kang. 

"Memang umurku juga sudah tak lagi muda, Pak Bei. Tenaga sudah menurun. Makanya beban kerja dan jatah rejekiku juga sudah jauh berkurang. Disyukuri sajalah, Pak Bei. Santai. Gak usah ngoyo, gak usah memaksakan diri."

"Benar itu, Kang. Jaman memang sudah berubah. Kita syukuri saja."

"Tapi Pemerintah kita kok kebangetan ya, Pak Bei."

"Kebangetan gimana, Kang?"

"Pak Bei pasti ingat, dulu di tahun 70an, kalau kita mau nonton tivi, nonton ketoprak, nonton Piala Dunia, atau film cowboy Wild Wild West harus ke rumah Pak Lurah, nonton ramai-ramai, itu pun tivi hitam putih. Kalau accu-nya pas lagi di-stroom-ke, nonton tivi libur dulu 2-3 hari."

"Iya betul. Terus gimana?"

"Mulai awal tahun 80an, ketika listrik sudah masuk ke desa-desa, ekonomi rakyat juga sudah makin baik, banyak yang bisa beli televisi. Masih tivi hitam-putih."

"Terus"

"Mulai tahun 2000an, orang yang berduit sudah mulai beralih ke tivi berwarna. Tapi tidak ada paksaan lho, Pak Bei. Mau nonton tivi hitam-putih atau berwarna, rakyat bebas memilih sesuai kemampuannya."

"Iya ya, Kang. Dulu tivi berwarna juga cukup mahal harganya."

"Sekarang Pemerintah kok main paksa."

"Main paksa gimana?"

"Tivi analog dimatikan, semua rakyat mau tidak mau harus pindah ke tivi digital. Itu kan pemaksanaan namanya. Penindasan, Pak Bei. Perampasan hak-hak rakyat."

"Ya jangan terus negatif begitu berpikirmu, Kang."

"Terpaksa berpikir negatif, Pak Bei. Mbokyao rakyat ini diberi kebebasan memilih."

"Maksudmu?"

"Biarkan rakyat memilih mau tetap nonton tivi analog atau mau beralih ke tivi digital. Pemerintah jangan main paksalah."

"Kang, Pemerintah kan ingin memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Rakyat jangan nonton tivi yang sering semutan kepyur-kepyur lagi, tapi nontonlah tivi dengan gambar yang bermutu, berkualitas. Gitu lho, Kang."

"Bola-bali nek negara diurus orang bisnis, kapitalis, ada saja akal-akalannya. Rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini dijadikan target pasar untuk nglarisi dagangannya. Beda banget kalau negara diurus negarawan, Pak Bei."

"Jaman sekarang kok, Kang. Oang yang punya jiwa negarawan biasanya gak punya modal untuk ikut berlomba jadi pengurus. Rakyat juga lebih seneng milih orang yang punya duit, kan?"

"Ya itu masalahnya, Pak Bei. Rakyat ini tidak mau belajar dari setiap kejadian. Ora titen. Pelupa. Asal ada orang kelihatan punya duit lalu pasang poster di jalan-jalan dan datang bagi-bagi amplop, rakyat langsung kesengsem, klepek-klepek, manut, hilang akal, hilang kesadaran. Jadinya ya rusaklah negara ini."

"Sudah siang, Kang. Sana lanjutkan dulu kerjamu. Koran pagi harus diantar pagi-pagi, jangan siang-siang baru diantar."

"Njih, Pak Bei. Siap. Pamit dulu, ya. Wassalam..."

Narjo melanjutkan kerjanya, mengantar koran ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Entah apa yang akan dikerjakannya nanti bila semua pelanggannya sudah beralih ke berita online. Semoga masih banyak pelanggan yang seperti Pak Bei. Meski koran pagi tidak sempat dibacanya, tapi Pak Bei betul-betul gak tega mau berhenti berlangganan. Kasihan Narjo. Semoga sehat selalu ya, Kang Narjo....

#serialpakbei
#wahyudinasution