Minggu, 01 Juni 2025

TARWIYAH

TARWIYAH

Suasana lobi hotel Safwat Al Shorouk Roudhoh Mekah malam ini tampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena ini jadwal kedatangan calon jamaah haji kloter terakhir dari Jawa Tengah, SOC-94 dari Kabupaten Kebumen. Mereka datang menggenapi isi hotel berkapasitas 6.000an jamaah haji ini. 

Pada beberapa malam sebelumnya, Pak Bei dan teman-teman masih bisa agak leluasa memilih tempat duduk untuk ngobrol, diskusi, dan berkoordinasi sesama Karom. Tapi malam ini, jangankan untuk duduk, untuk bisa sekedar jalan mau keluar-masuk hotel saja harus bersabar mencari celah. Ratusan jamaah yang baru datang dalam keadaan lelah tumplek blek memenuhi ruang lobi. Mereka antri mengambil kartu nusuk, sambil menunggu kedatangan kopernya masing-masing yang baru loading dari truk boks pengangkut dari bandara Jedah.

"Assalaamu'alaikum, Pak Karom," seseorang mengucapkan salam sambil menepuk pundak Pak Bei dari belakang. 

Pak Bei langsung menoleh ke belakang dan meresponnya, "Wa'alaikumsalam. Eeh Mas Parjo. Mau ke mana, Mas?"

"Biasa, Pak Bei. Cari angin di luar sambil sak udutan," jawab Mas Parjo. "Kalau Pak Bei longgar dan berkenan, kita ngobrol di luar yook," sambungnya.

"Oke siap, Mas Parjo," jawab Pak Bei.

Suasana di luar hotel ternyata tak kalah hiruk-pikuknya. Puluhan tenaga bongkar tampak sangat sibuk menurunkan koper-koper besar milik jamaah, lalu mendorongnya satu per satu ke ruang lobi. Di kiri kanan teras hotel, puluhan jamaah asal Indonesia tampak duduk-duduk sambil asyik ngobrol, dan tentu juga sambil klepas-klepus memikmati rokok kretek yang dibawanya dari rumah. Praktis tidak ada lagi tempat untuk Pak Bei dan Mas Parjo ikut duduk-duduk di sana.

"Ayo kita ke seberang saja, Pak Bei.  Ada bangku-bangku yang nyaman buat ngobrol santai di sana," Mas Parjo mengajak Pak Bei menyeberang jalan.

"Pak Bei, tadi kami ngobrol tentang Tarwiyah, dan saya diminta konfirmasi ke Pak Bei," Mas Parjo mengawali obrolan setelah menyulut kreteknya.

"Soal Tarwiyah?"

"Benar, Pak Bei. Dari berbagai informasi yang kami baca, Pemerintah kita maupun pihak Pemerintah Arab Saudi konon tidak memprogramkan Tarwiyah. Tapi kenapa kita mau melakukan Tarwiyah? Kenapa kita tidak ikut saja program resmi dari Pemerintah?"

"Terus apa lagi, Mas?"

"Sementara itu dulu, Pak Bei."

"Mas Parjo sejak beberapa bulan lalu sudah aktif ikut manasik, kan?"

"Lumayan, Pak Bei. Tapi ada satu-dua pertemuan yang saya tidak bisa hadir."

"Berarti ada materi yang Mas Parjo tidak sempat mengikuti, ya?"

"Benar, Pak Bei."

"Tapi sempat baca buku-buku yang kami bagikan, kan?"

"Ya cuma sebagian, Pak Bei, terutama yang hafalan doa-doa."

"Mestinya dibaca semua, Mas. Biar paham ilmunya." 

"Maklumlah, Pak Bei, kami ini tidak biasa membaca dan belajar sendiri. Sudah terbiasa mendengarkan ceramah, tausiyah, atau pengajian."

"Jadi gak paham kan kenapa kita ada Tarwiyah."

"Teman-teman yang rajin ikut manasik saja juga bingung kok, Pak Bei."

"Begini lho, Mas Parjo. Sebagai KBIHU, kami telah berusaha maksimal membantu jamaah agar dapat melakukan ibadah haji dengan baik melalui manasik yang kami selenggarakan selama hampir 6 bulan. Ini agar semua jamaah dapat melakukan ibadah secara mandiri."

"Iya, Pak Bei. Saya tahu itu. Pematerinya juga bagus-bagus, sangat menguasai ilmu manasik dan berpengalaman sebagai karom dan pembimbing."

"Semua kami ajarkan, bahkan dari yang paling elementer seperti cara berwudhu, tayamum, bacaan dan gerakan shalat, shalat di atas kendaraan, doa-doa harian, dan bacaan-bacaan manasik, hingga praktik simulasi haji dan umrah."

"Iya benar, Pak Bei."

"Termasuk soal Tarwiyah, itu juga sudah kami sampaikan.  Jamaah tentu sudah paham bila dari dulu pun Tarwiyah  tidak termasuk paket resmi dari Pemerintah kita dan Pemerintah Arab Saudi. Tapi mereka juga tidak melarang bila ada jamaah yang ingin melakukan Tarwiyah."

"Kenapa begitu, Pak Bei?"

"Karena Pemerintah juga tahu, bahwa Tarwiyah itu termasuk sunnah muakkadah, sangat dianjurkan, bahwa dulu Rasulullah SAW juga melakukan Tarwiyah."

"Kenapa tidak dijadikan saja satu paket resmi dengan Armuzna ya, Pak Bei?"

"Mungkin pertimbangannya lebih ke teknis saja, Mas Parjo. Jadi yang diformalkan hanya yang termasuk rukun dan wajib haji. Yang sunnah diserahkan kepada jamaah mau melakukannya atau tidak."

"Jadi besok kita akan tetap melakukan Tarwiyah, Pak Bei.?"

"Insya Allah, Mas Parjo. Itulah makanya kemarin jamaah sudah kita himbau untuk mengumpulkan uang Real ke Karomnya masing-masing untuk biaya Dam, Tarwiyah, dan lain-lain. Untuk Dam sudah kita bayarkan melalui mitra terpercaya di sini. Untuk Tarwiyah juga sudah kita bayarkan melalui Syarikah, mitra resmi Pemerintah Arab Saudi. Jadi Insya Allah semua akan berjalan dengan baik."

"Ini iformasi penting untuk saya sampaikan ke teman-teman agar tidak ragu lagi dan tidak salah paham."

"Tolong Mas Parjo juga bantu greteh mengingatkan jamaah agar menjaga kesehatan dan menyimpan tenaga untuk puncak haji yang tinggal tiga hari lagi."

"Pak Bei, apa saja agenda kita di puncak haji nanti? Lupa saya."

"Tanggal 7 Dzulhijjah sore atau malam, kita sudah memakai ihram, lalu berangkat ke Mina untuk Tarwiyah. Kita menginap di Mina hingga tanggal 9 pagi. Tanggal 9 pagi kita berangkat ke Arafah untuk Wukuf. Di Arafah, jamaah akan mengikuti Khotbah Wukuf, Shalat jamak-qashar dhuhur dan ashar serta maghrib dan isya'. Lalu, kita bergeser ke Muzdalifah untuk Mabid hingga shubuh. Paginya, kita kembali ke tenda Mina untuk bersiap-melakukan Jamarat, melempar Jumrah Aqabah. Setelah itu kita Tahalul Awal, memotong rambut dan berganti pakaian biasa."

"Sudah selesai ya, Pak Bei?"

"Ya belum, Mas. Kita masih akan tinggal di Mina hingga tanggal 13. Nafar Tsani. Setiap hari di tanggal 11, 12, dan 13 kita akan melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Setelah itu, kita kembali ke Mekah untuk Thawaf Ifadah dan Sa'i. Nah, selesai sudah seluruh rangkaian ibadah haji kita.

"Jadinya Tarwiyah kita nanti dari tanggal 7 sampai 9 ya, Pak Bei?"

"Sebenarnya dulu Rasulullah SAW melakukan Tarwiyah mulai dhuhur tanggal 8 hingga shubuh tanggal 9, Mas. Tapi mengingat teknis, Insya Allah kita akan berangkat tanggal 7 malam, Mas."

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas penjelasannya. Sudah plong saya."

Aktivitas di depan Hotel Raudhah 502 sudah agak sepi. Tampaknya jamaah sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Aktivitas bongkar koper pun sudah selesai. Pak Bei dan Mas Parjo mengakhiri obrolan dan kembali masuk ke kamarnya di lantai 10.

#serialpakbeinaikhaji
#wahyudinasution
























Jumat, 30 Mei 2025

PAK BEI NAIK HAJI

PAK BEI NAIK HAJI

Pak Bei sedang menikmati suasana 'pasar krempyeng' alias 'pasar tiban' di depan Hotel Shafwat Al-Sharouq kawasan Raudhah, Mekah. Pasar Krempyeng alias pasar tiban ini buka setiap pagi bakda shubuh hingga sekitar pukul 07.00 Waktu Saudi. Namanya pasar tiban, tentu hanya buka di musim-musim tertentu, seperti di musim haji tahun ini. Pembelinya pun hanya jamaah haji, bukan penduduk Arab pada umumnya. Dan, mayoritas pembelinya hanya jamaah haji Indonesia. Mereka, terutama ibu-ibu, seolah histeris melihat barang-barang bagus seperti abaya, kerudung, kopiah, aneka kacang Arab, dan buah-buahan. Konon harganya pun cukup murah. 

Di antara para penjual yang orang-orang Arab dan Afrika itu, ada beberapa penjual masakan Indonesia seperti pecel, gudhangan atawa urap, sayur lodeh, sayur asem, sate lontong, kue lupis, ketan, dan lain-lain. Mereka perempuan-perempuan Indonesia, para TKW yang sudah habis kontrak kerja dan izin tinggalnya di Arab Saudi, namun tidak bisa pulang karena tidak punya paspor dan visa. Demi bertahan hidup, mereka tinggal secara komunal di rumah kontrakan, lalu membuka usaha jualan makanan di musim haji.
Itulah makanya sering terlihat mereka berlarian menyelamatkan diri bila terdengar sirine mobil askar lewat. Secepat kilat mereka menghilang di gang-gang sempit menuju belakang hotel.

Para TKW ilegal itu jeli melihat peluang usaha. Mereka tahu semua jamaah haji perlu variasi makanan. Siapapun akan merasa bosan bila setiap hari makan makanan catering garingan yang disediakan pihak Syarikah. Jamaah haji butuh variasi makan yang seger-seger, berkuah, makanan khas Indonesia. 

HP di saku celana Pak Bei bergetar. Ada panggilan masuk. Segera dilihatnya nomor panggilan. Ternyata sama dengan 5 nomor yang misscall tadi pagi.

"Assalaamu'alaikum, Pak Bei, apa kabar?," suara dari seberang terdengar sok akrab.

"Wa'alaikumsalam. Ini siapa, ya?," tanya Pak Bei.

"Ini Narjo."

"Looh Kang Narjo?"

"Iya betul. Aku pinjam hp anakku ini."

"Apa kabar, Kang?"

"Baik, alhamdulillaah. Pak Bei bagaimana di sana?"

"Aku juga sehat, Kang."

"Ternyata Pak Bei tindak haji lagi, to? Saya baru tahu kemarin."

"Wah aku minta maaf gak pernah cerita ke Kang Narjo, juga gak sempat pamitan sebelum berangkat."

"Kalau tahu sebelumnya kan aku bisa titip doa."

"Titip sekarang juga boleh kok, Kang. Punya hajat apa untuk kubantu doa pas wukuf di Arafah?"

"Wah malu mau ngomong."

"Ngomong aja gak papa, Kang. Slow wae. Nanti kucatat biar gak lupa."

"Bukan hajat pribadi kok, Pak Bei."

"Lha terus? Pengin kudoakan apa?"

"Tolong Pak Bei ajak jamaah, minimal di rombongan Pak Bei, mendoakan negara kita ini."

"Mendoakan negara kita? Memang ada masalah apa di negara kita?"

"Remuk-remukan."

"Remuk-remukan bagaimana? Adem-ayem gitu kok, Kang."

"Tampaknya saja adem-ayem, Pak Bei. Tapi panggraitaku beda. Ini sebenarnya menyimpan bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak hingga hancur-hancuran."

"Wah panggraita Kang Narjo saja yang berlebihan. Gak perlu berpikir sejauh itu, Kang. Mbokya tetap husnudhon to."

"Ya justru karena aku husnudhon, maka aku minta tolong Pak Bei dan jamaah haji mendoakan agar bangsa dan negara ini tetap dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Jangan sampai Dia menghukum bangsa kita ini hanya karena kesalahan para petinggi, sementara rakyat tetap berupaya taat pada perintahNya dan patuh menjauhi laranganNya."

Kang Narjo memang kalau lagi ngomyang sulit dihentikan. Entah salah makan apa dia tadi malam. Kukira minta didoakan agar keluarganya selalu sehat dan dilancarkan rejeki. Atau permintaan lain yang terkait langsung dengan kondisinya sendiri. 

"Baiklah, Kang. Aku pamit dulu, ya, mau nemani jamaah ke masjid. Insya Allah permintaanmu akan kulaksanakan."

"Njih, Pak Bei. Sehat selalu, ya. Wassalam..."

Telepon ditutup. Pak Bei langsung bergabung dengan jamaah yang bersiap naik bus shalawat menuju terminal Shib Amir. Dari terminal bus ini, jamaah akan berjalan sekitar 1,5 km untuk sampai di area Masjidil-Haram mengikuti sholat Jumat.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#kbihuarafahpdmklaten

Kamis, 29 Mei 2025

TAMU ALLAH DAN SISTEM PELAYANAN BERBASIS SYARIKAH


Tamu Allah dan Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah: Jangan Hanya Pegang Buntut Gajah


Oleh: Wahyudi Nasution
Karom KBIHU Arafah PDM Klaten Kloter SOC-76

Ketika seseorang diundang menjadi tamu, apalagi oleh pemilik rumah yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih berpengalaman, maka ia sejatinya sedang berada dalam wilayah pelayanan yang tidak bisa serta-merta ia pahami. Ia harus bertanya, melihat, dan belajar terlebih dahulu sebelum menilai.

Hal inilah yang juga berlaku bagi jamaah haji di Tanah Suci. Sebagai tamu Allah, setiap jamaah sejatinya datang dalam posisi istimewa sekaligus sensitif. Mereka diposisikan sebagai orang yang dilayani — bukan oleh sembarang orang — tetapi oleh sistem yang sudah disiapkan negara penerima tamu, yakni Kerajaan Arab Saudi.

Sayangnya, sebagian jamaah belum benar-benar memahami bagaimana pola pelayanan itu bekerja. Akibatnya, banyak salah paham, keluhan, hingga tuduhan miring yang bersumber dari ketidaktahuan dan informasi tidak utuh. Maka dari itu, penting bagi jamaah — dan siapa pun yang terlibat dalam penyelenggaraan haji — untuk mengenali sistem pelayanan haji berbasis syarikah secara menyeluruh.


Adh-DhoifukalMayyit: Menjadi Tamu yang Tunduk dan Tawadhu'

Dalam Islam, ada sebuah filosofi yang kuat tentang tamu:

"Adh-dhoifukalmayyit" — tamu itu seperti mayit.

Ungkapan ini bukan dalam arti merendahkan, tapi menggambarkan posisi penuh tawadhu’ dan pasrah dari seorang tamu kepada tuan rumahnya. Tamu tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi di rumah orang lain. Apalagi ketika menjadi Tamu Allah di dua tanah haram, Makkah dan Madinah — tunduk dan pasrah adalah sikap terbaik yang bisa ditunjukkan.


Syarikah, Maktab, dan Kafilah: Sistem Tuan Rumah di Dua Tanah Suci

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi mengubah pola pelayanan haji menjadi lebih terstruktur dan profesional melalui sistem yang dikenal sebagai Pelayanan Berbasis Syarikah. Tujuannya adalah efisiensi, akuntabilitas, dan standarisasi layanan kepada jutaan jamaah dari seluruh dunia.

Agar jamaah tidak bingung, berikut tiga entitas penting dalam sistem ini:

1. Syarikah

Perusahaan resmi yang mendapat izin dari pemerintah Saudi untuk menyediakan layanan-layanan haji utama:

  • Makanan (katering)
  • Transportasi
  • Tenda dan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
  • Toilet dan sarana umum lainnya

2. Maktab

Adalah unit kerja atau kantor yang bernaung di bawah Syarikah. Maktab bertugas menangani jamaah dari negara tertentu secara administratif dan teknis, termasuk Indonesia.

3. Kafilah

Tim teknis di lapangan. Merekalah yang menangani makanan, pengaturan tenda, transportasi, dan keperluan harian jamaah secara langsung.

Sederhananya, Syarikah merancang sistem, Maktab mengatur wilayah kerja, dan Kafilah melaksanakan teknisnya di lapangan.

Dengan sistem ini, jamaah tidak lagi direpotkan oleh urusan logistik, rute perjalanan, atau keperluan domestik lainnya. Semua sudah diatur oleh tuan rumah.


Mengapa Banyak Keluhan di Media Sosial?

Berbagai keluhan yang muncul — makanan basi, AC mati, bus datang terlambat — adalah kasus-kasus parsial yang sebetulnya wajar dalam skala pelayanan jutaan orang dari berbagai negara. Tapi jika tidak dipahami dengan utuh, maka akan timbul generalisasi negatif yang tidak adil: seolah-olah sistem ini buruk seluruhnya.

Untuk menjelaskan hal ini, Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Muhammadiyah Klaten, menggunakan analogi bijak:

“Orang yang hanya memegang buntut gajah, akan bilang gajah itu seperti tali. Yang memegang telinga akan bilang seperti kipas. Yang pegang kaki bilang seperti tiang. Semua tidak salah, tapi semua tidak utuh. Maka jangan nilai sistem syarikah hanya dari satu sisi saja.”


Peran Petugas Haji Indonesia: Mitra Strategis, Bukan Tukang Komplain

Pemerintah Indonesia mengirim ribuan petugas untuk mendampingi jamaah selama haji. Mulai dari Ketua Kloter, pembimbing ibadah, tenaga medis, hingga petugas non-kloter yang tergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Mereka bukan pelayan utama, karena itu adalah peran Syarikah. Tapi mereka menjadi mitra strategis, penghubung, sekaligus pelindung psikologis dan spiritual bagi jamaah. Ketika terjadi masalah, mereka-lah yang membantu menjembatani antara jamaah dan tuan rumah.


Kesimpulan: Jangan Pegang Buntut Gajah, Lihat Keseluruhannya

Ibadah haji bukan sekadar ritual. Ini perjalanan spiritual sekaligus sosial. Jamaah perlu mempersiapkan kesabaran dan keikhlasan sebanyak mungkin. Sistem pelayanan haji bukan sistem sempurna, tapi dibangun untuk melayani jutaan tamu Allah dengan cara yang tertib, bermartabat, dan manusiawi.

Alih-alih menyalahkan sistem karena satu kekeliruan, mari belajar memahami, bersyukur, dan menjaga prasangka baik — bahwa tuan rumah sedang berusaha sebaik mungkin untuk memuliakan tamu-tamu Allah.




ADHDHOIFUKALMAYYIT

“Adh-Dhoifukalmayyit”: Tamu Itu Ibarat Mayit

Reportase Rapat Koordinasi Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah Klaten


Mekah, 29 Mei 2025 – Bertempat di lobi Hotel Shafwat Al-Shorouq (592) Raudhah, Mekah, telah berlangsung rapat koordinasi yang dipimpin oleh Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten. Rapat ini dihadiri oleh para Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah.

Tema yang dibahas dalam rakor kali ini adalah:
“Memahami Pola Pelayanan Jamaah Haji Berbasis Syarikah Secara Sederhana.”


Jamaah Perlu Memahami Pola Kerja Tuan Rumah

Dalam arahannya, Dr. Husen menekankan bahwa jamaah haji Indonesia adalah tamu Allah sekaligus tamu Kerajaan Arab Saudi. Karena itu, penting bagi jamaah untuk memahami pola pelayanan yang digunakan tuan rumah.

"Siapa pun tamunya, pasti akan bingung bila belum paham pola pelayanan dari tuan rumah. Jika bingung, bisa jadi muncul kekecewaan. Apalagi jika mendengar berita-berita kasuistik, lalu digeneralisasi seakan-akan semua pelayanan buruk," ujarnya.


Filosofi Adh-Dhoifukalmayyit: Tamu Ibarat Mayit

Dr. Husen mengingatkan kembali filosofi penting yang berlaku dalam bimbingan haji:

“Adh-dhoifukalmayyit – tamu itu ibarat mayit.”

Filosofi ini mengajarkan bahwa jamaah sebaiknya bersikap pasrah dan percaya pada para pelayan yang membimbing dan melayani mereka, seperti halnya mayit yang mengikuti kehendak orang yang memandikannya.


Analogi Gajah: Jangan Hanya Lihat Sebagian

Untuk menjelaskan pentingnya memahami sistem secara utuh, Dr. Husen menggunakan analogi gajah:

"Ada orang buta pegang gajah. Satu pegang buntut, bilang gajah seperti tali. Satu pegang telinga, bilang seperti kipas. Satu lagi pegang kaki, bilang seperti tiang. Semua benar, tapi itu hanya bagian, bukan keseluruhan."

"Demikian pula dengan sistem pelayanan haji berbasis Syarikah. Jangan hanya menilai dari satu kejadian atau satu berita. Harus dipotret secara utuh," tambahnya.


Mengenal Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah

Dalam sistem ini, Kerajaan Arab Saudi menyerahkan layanan teknis kepada perusahaan-perusahaan resmi yang disebut Syarikah. Sistem ini memiliki tiga entitas utama:

1. SYARIKAH

Adalah Perusahaan resmi yang memiliki izin dari Pemerintah Arab Saudi. Mereka menyediakan berbagai layanan teknis haji: katering, transportasi, tenda, toilet, pengelolaan logistik, dll.

2. MAKTAB

Adalah Kantor atau unit kerja di bawah naungan Syarikah. Maktab bertanggung jawab terhadap jamaah dari negara tertentu. Mereka berkoordinasi langsung dengan petugas kloter dan pemerintah Indonesia.

3. KAFILAH

Adalah Tim Teknis Lapangan yang bekerja langsung di lokasi. Mereka menangani kebutuhan harian jamaah seperti menyajikan makanan, mengatur bus, mengurus tenda dan toilet, serta mendampingi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Dengan sistem ini, jamaah tidak perlu lagi mengurus sendiri urusan tenda, logistik, rute perjalanan, atau fasilitas. Semua sudah disiapkan oleh tuan rumah.


Berita Kasuistik Bukan Cerminan Utuh

Rakor juga membahas fenomena di media sosial. Banyak jamaah atau netizen yang menyebarkan keluhan tanpa memahami konteks atau struktur sistem secara menyeluruh.

“Kalau ada toilet macet, makanan telat, atau bus terlambat, jangan langsung simpulkan sistemnya gagal. Itu kejadian kasuistik, bukan gambaran utuh,” ungkap salah satu ketua rombongan.


Peran Penting Petugas Haji Indonesia

Rapat menegaskan bahwa para petugas haji dari Indonesia tetap berperan penting, antara lain:

  • Ketua Kloter: Menjadi jembatan antara jamaah dan Maktab/Syarikah. Dia memastikan seluruh jamaahnya mendapatkan pelayanan dan haknya sebagai tamu.
  • Petugas Pembimbing Ibadah: Menenangkan jamaah dan membimbing ibadah.
  • Petugas Kesehatan: Menangani kesehatan jamaah di semua fase perjalanan.
  • PPIH Arab Saudi (Non-Kloter): Menangani kebutuhan darurat, advokasi, dan layanan luar kloter.  “Petugas kita adalah penyambung komunikasi dan penguat psikologis jamaah. Keberadaan mereka tetap krusial walau pelayanan teknis ditangani Syarikah,” jelas Dr. Husen.


Penutup: Tetap Sabar dan Fokus 

Rapat ditutup dengan ajakan agar seluruh ketua rombongan menjadi peneduh dan pelurus informasi di antara jamaah. Jangan ikut menyebarkan kabar negatif, tapi justru membantu jamaah memahami tujuan utama haji: beribadah dengan khusyuk, sabar, dan ridha.

“Kita di sini bukan sedang berwisata. Kita sedang melayani tamu-tamu Allah. Maka kita pun harus menjaga adab, kesabaran, dan keikhlasan,” pungkas Dr. Husen.


#wahyudinasution

Kamis, 15 Mei 2025

PAMITAN HAJI

PAMITAN HAJI

Namanya Rarmi. Orang-orang biasa memanggilnya Mbah Ratmi. Nama yang cukup pendek. Nama Ratmi biasanya ada 'Su' di depannya, jadi Suratmi. Tapi tidak, namanya memang hanya Ratmi. Umurnya mendekati 70 tahun. Rumahnya satu kampung dengan Pak Bei.  Mbah Ratmi dulu sempat bersuami, tapi tidak punya anak. Suaminya meninggal waktu Pak Bei masih tinggal di Jogja. Sejak itu, Mbah Ratmi hidup ditemani dua cucu keponakan yang dirawatnya sejak kecil. Konon, keponakan Mbah Ratmi meninggal ketika anak-anaknya masih kecil. Lalu suaminya kawin lagi dan tinggal dengan istri sambungnya. Lalu, anak-anaknya diasuh oleh Mbah Tarmi. Sekarang keduanya sudah gadis. Yang sulung sudah kuliah di UIN semester 4, sedang adiknya baru lulus MAN tahun ini.

Beberapa kali ketika Pak Bei sedang jalan pagi bersama Bu Bei, dilihatnya Mbah Ratmi sedang asyik kerja di sawah merawat tananam sayuran sawi, kangkung darat, atau bayam cabut. Tanaman itu diberinya pupuk, disiangi rumputnya, dan disemprot obat bila tampak ada hama. Bila tiba saatnya dipanen, para penebas pun datang membeli dan memanennya sesuai harga pasaran. Memang begitulah ekosistem pertanian di desa. Petani suntuk berbudidaya, proses pasca-panennya sudah ada penebas yang ngurusi.

Pernah suatu ketika Pak Bei mendekati dan mengajaknya ngobrol.

"Ya begini ini pekerjaan saya setiap pagi dan sore, Pak Bei. Bisanya ya cuma begini," kata Mbah Ratmi merendah sambil tangannya terus menyiangi rumput dengan cengkrong.

Lalu Mbah Ratmi cerita bahwa beberapa puluh tahun lalu sepeninggal suaminya, masih agak muda dan kuat tenaganya, pernah ikut jadi TKW di Arab Saudi. Beberapa tahun tinggal di sana sebagai pembantu rumah tangga. Ketika kontraknya habis, dia memilih pulang dan tidak melanjutnya kontraknya. Uang tabungannya dipakai untuk modal jualan daging ayam di pasar Totogan. 

"Lumayan dulu sudah punya beberapa pelanggan, Pak Bei. Tapi karena pasar dibangun oleh Pemerintah, saya jadi tidak punya tempat jualan lagi. Terus saya ikut ponakan kerja di Jakarta, ikut kerja di catering bantu jadi tukang masak."

"Kenapa gak dilanjut, Mbah? Kan enak kerja di Jakarta?"

"Sudah tua, Pak Bei, badan saya sudah tidak kuat mengikuti cara kerja usaha catering di Jakarta. Ya sudah, saya pilih jadi petani begini."

Betapa suprize kemarin bakda ashar, Mbah Ratmi datang ke nDalem Pak Bei. 

"Badhe matur sekedhik, Pak Bei," kata Mbah Ratmi setelah dipersilakan duduk. 

"Wonten dhawuh menapa, Mbah Ratmi?," tanya Pak Bei.

"Sepindah silaturahmi saha tuwe kasugengan lan kesarasan Pak Bei." 

"Ooh njih, Mbah, matur nuwun. Alhamdulillah kula sekeluarga pinaringan sehat."

"Yang kedua, saya mau minta tolong Pak Bei."

"Apa yang bisa saya bantu, Mbah Ratmi?"

"Begini, Pak Bei. Insya Allah saya akan berangkat haji besok Jumat minggu depan."

"Alhamdulillaah....Mbah Ratmi mau berangkat haji?"

"Iya, Pak Bei. Makanya saya sowan kesini mau minta tolong."

"Pripun, Mbah?"

 "Besok bakda sholat Jumat, tolong Pak Bei aturke ke jamaah bahwa saya minta pamit dan doa restu seluruh jamaah agar perjalanan haji saya lancar, aman, dan mendapat haji mabrur."

"Ooh njih, Mbah."

"Juga mohon maaf kepada seluruh jamaah kalau selama ini saya ada kesalahan baik yang saya sengaja maupun tidak."

"Masya Allah....njih, Mbah Ratmi. Insya Allah besok saya sampaikan ke jamaah Jumat."

"Sekalian saya titip diawat-awati rumah dan dua cucu saya, Pak Bei."

"Ooh njih, Mbah. Insya Allah semua masyarakat akan mendoakan Mbah Ratmi dan bantu mengawasi anak-anak."

"Matur nuwun sanget, Pak Bei."

Mbah Ratmi pun berpamitan, pulang jalan kaki ke rumahnya. Pak Bei mengantar Mbah Ratmi sampai ke pintu gerbang. Orang tua yang bersahaja. Ternyata diam-diam Mbah Ratmi sudah ikut antri 13 tahun untuk bisa haji ke Baitullah. Mbah Ratmi juga paham, bila mau bepergian jauh apalagi lama, sebaiknya berwasiat pada keluarga, kerabat, dan tetangga. 

Pamitan haji cara Mbah Ratmi ini cukup menarik. Mungkin karena keterbatasannya, dia tidak mengadakan acara pamitan haji di rumah, pakai masak-masak atau ngundang catering untuk menyuguh tamu. Tidak. Mbah Ratmi cukup hadir sholat Jumat di mesjid, lalu berpamitan kepada jamaah.
Selamat jalan, semoga Allah SWT meridhoi perjalanan haji Mbah Ratmi....aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Minggu, 11 Mei 2025

PEMAKZULAN

PEMAKZULAN

Sebenarnya Pak Bei senang-senang saja setiap kali Kang Narjo mampir minta kopi di sela-sela tugasnya mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggan. Pak Bei pun maklum, sahabatnya itu berangkat dari rumah sejak pagi dalam kondisi perut masih kosong, belum sempat ngopi apalagi sarapan. Dan, mampir di nDalem Pak Bei adalah solusi. Bukan hanya solusi bagi perutnya yang terasa anyep, dingin, tapi juga bisa ngobrol sambil mengkonfirmasi berita-berita aktual yang sering mengganggu pikirannya. 

Tapi ada kalanya Pak Bei kurang suka dengan topik obrolan Kang Narjo yang kadang terkesan sok tahu, agak keminter, seolah tahu semua isu aktual. Seperti pagi ini, tiba Kang Narjo ngangkat topik yang agak sensitif yang sebenarnya Pak Bei males melayani.

"Jenderal-Jenderal purnawiraan mulai bergerak, Pak Bei," Kang Narjo memulai obrolan setelah nyeruput kopi semendo yang disuguhkan Pak Bei.

"Rupanya mereka khawatir melihat kondisi negara saat ini sehingga merasa perlu cawe-cawe." Pak Bei masih diam saja, belum merespon.

"Beberapa tuntutan sudah mereka sampaikan ke Presiden dan MPR agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memperbaiki keadaan."

Pak Bei belum juga merespon. Tangannya membuka bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dan dimasukkannya ke pipa, disulut, dihisap, lalu bulll...
gumpalan asap putih tampak menghiasi udara pagi.

"Ada satu tuntutan yang cukup menarik, Pak Bei: pemakzulan Gibran sebagai Wakil Presiden."

"Ah gak gampang itu, Kang," Pak Bei terpaksa merespon.

"Sulit, maksudnya?"

"Iyalah. Jelas sulit."

"Ya pasti sulit. Bagaimana pun Gibran itu satu paket dengan Prabowo pada Pilpres kemarin. Mereka telah terpilih sebagai pasangan Presiden-Wakil Presiden secara sah menurut UU."

"Lha gene wis ngerti."

"Semua orang juga sudah tahu, Pak Bei."

"Lha terus apa masalahnya?"

"Kita ini bangsa yang besar, Pak Bei. Jumlah penduduk kita saat ini ada 285 juta orang. Kita punya ribuan Profesor dan Doktor, ada Jenderal aktif dan Purnawirawan, banyak Kyai dan Ustadz, juga banyak negarawan hebat, banyak juga politisi idealis."

"Memangnya kenapa?"

"Ya mosok Wapres-nya seperti itu."

"Seperti itu, bagaimana?"

"Blas gak perform. Malah kesannya agak lholak-lholok."

"Huss...jangan begitu, Kang. Gak baik."

"Tapi bener, kan?"

"Ngono yho ngono, ning ojo ngono, Kang."

"Aku tidak punya istilah yang lebih halus dari itu, Pak Bei. Tidak ada lagi sanepan yang lebih pas."

"Tapi mbokya jangan terus dibilang lholah-lholok gitu to, Kang. Mbokya agak menghormati sedikit kenapa sih?"

"Kupikir ide para Jenderal purnawirawan itu bagus juga. Sebagai rakyat, sebenarnya kita ini malu juga punya Wapres seperti itu. Kok kayak gak ada orang lain."

"Itu namanya orang bangun kesiangan, Kang. Kenapa baru sekarang mereka menyadari? Kenapa sewaktu proses pencalonan yang kontroversial, yang bermasalah secara etika dan hukum itu, mereka diam saja tidak bersuara? Nasi sudah menjadi bubur, Kang."

"Entahlah, Pak Bei."

"Dan asal tahu saja, pemakzulan Wapres itu secara konstitusional akan sulit, Kang. Mustahil bisa terjadi."

"Yess....setuju. Saya sangat setuju, Pak Bei. Dulu, waktu kita  menurunkan Pak Harto, secara konstitusional juga tidak mungkin bisa terjadi. Seluruh Anggota DPR-MPR, seluruh ABRI, seluruh Ormas, seluruh Konglomerat, ada di barisan pendukung Pak Harto. Iya, kan? Mustahil Pak Harto bisa dilengserkan. Tapi nyatanya kekuatan demonstrasi rakyat dan mahasiswa bisa memaksa Pak Harto meletakkan jabatan, kan? Itu tidak konstitusional, lho."

Edan. Kang Narjo seperti orang ngomyang, meracau di luas kesadarannya. Sok tahu, keminter. Tapi memang benar, sih. Presiden Soekarno dulu meletakkan jabatan juga tanpa melalui proses konstitusional. Demikian juga lengsernya Presiden Gus Dur digantikan Megawati. 

"Pak Bei, meski inkonstitusional, asal didukung penuh oleh rakyat, maka kun fayakun, jadilah....maka jadilah. Tidak ada yang mustiahil. Tidak ada yang bisa melawan kehendak rakyat," kata Kang Narjo sambil berdiri pamitan, lalu ngacir meninggalkan Pak Bei. 

Pak Bei seakan masih deleg-deleg, tak habis pikir dengan kalimat terakhir yang diucapkan sahabatnya sambil ngacir pergi. Kethus tenaan Kang Narjo. Edyan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#jamaahtanimuhammadiyah











"Baru tahu?"

"Gak perform gimana to, Kang? Dia kan sudah terpilih melalui Pelpres yang sah dan konstitusional. Apa yang salah?"

"






Selasa, 06 Mei 2025

KOPDES MERAH PUTIH

KOPDES MERAH PUTIH

Sore yang cerah. Pak Bei dan Bu Bei semula hanya ingin ngajak jalan-jalan si Eza, cucunya semata wayang yang baru genap usia dua tahun dua minggu lalu. Bukan jalan-jalan ke Mall seperti orang kota. Bukan. Hanya sekadar keluar memikmati suasana sore hari, lalu pulang sebelum azan maghrib. Dibayangkannya tingkah Eza yang lucu girap-girap gembira setiap kali ketemu konvoi truk pasir galian-C yang baru turun dari lereng Gunung Merapi. 

"Dada, Koo'...Dada, Koo'...," begitu ucapan Eza sambil melambai-lambaikan tangan. Maksudnya, "Dada, Truk...Dada, Truk..." Eza memang paling senang melihat truk, apalagi truk yang besar-besar.

Tapi mana bisa hanya ngajak Eza. Ayah dan mamanya, Mas Cahya dan Mbak Vika, tak mau ketinggalan. Onti Zika pun tak mau ditinggal sendirian di rumah. Maka jadilah sore itu pasukan lengkap keluarga Pak Bei jalan-jalan dengan innova tuanya di seputar kawasan Jatinom dan Ngawen.

"Bagaimana kalau kita bablas makan mie ayam?" tiba-tiba Bu Bei usul. Tawaran makan mie ayam di warung langganan dekat stasiun Klaten pun disambut gegap-gempita.

"Waoow...cocok," sahut Mas Cahya.

"Mauuu. Mauuu...," sahut Zika.

Kedua anak Pak Bei itu memang sejak kecil sukanya  makan mie ayam. Hingga dewasa pun kesukaan itu masih terjaga dengan baik. Hampir semua warung bakso dan mie ayam di Klaten pernah dicobanya. Studi banding, katanya.

Tiba di warung langganan tepat saat terdengar suara azan maghrib dari corong masjid-masjid sekitar. Sambil menunggu pesanan datang, Pak Bei dan Mas Cahya langsung menuju mushola di belakang. Antri wudhu. Ada dua orang sedang ambil wudhu di keran.

"Looh Pak Bei, ketemu di sini." 

"Looh Kang Narjo. Dari mana, Kang?" Ternyata yang wudhu tadi sahabatnya, si loper koran senior, dengan temannya.

"Dari besuk tetangga yang opname di RS Bagas Waras. Mampir ke sini pengin makan bakso."

Selesai sholat maghrib berjamaah, Mas Cahya giliran menjaga Eza. Mamanya Eza sholat bersama Oma dan Onti Zika. Pak Bei memikih duduk bergabung dengan Kang Narjo. Dua sahabat itu kalau ketemu pasti ada saja yang diobrolkan.

"Semua Kepala Desa lagi mumet ndase ini, Pak Bei," Kang Narjo membuka obrolannya.

"Kenapa, Kang?"

"Mereka harus mendirikan Koperasi Desa Merah Putih di Desanya masing-masing paling lambat tanggal 9 Mei."

"Loh pakai deadline?"

"Namanya juga program prioritas Pemerintah Pusat, kalau gak di-deadline pelaksanaan di lapangan pasti santai, sak tekane."

"Semua ngejar target ya, Kang. Kejar setoran."

"Kasihan melihat Kepala-Kepala Desa itu. Mereka tampak bingung harus memulai dari mana. Minggu lalu seluruh Kades se-Jawa Tengah dikumpulkan di Semarang untuk mengikuti Bimtek. Hari berikutnya dikumpulkan lagi di Kabupaten, diceramahi agar segera gumregah mendirikan Kopdes Merah Putih."

"Oh makanya satu-dua hari terakhir ini kudengar beberapa Desa menyelenggarakan Musdesus. Itu to masalahnya?"

"Karena itu harus menjadi program prioritas di luar rencana program kerja yang sudah dibuat, maka harus diputuskan melalui Musyawarah Desa Khusus, Pak Bei."

"Ya betul itu, Kang. Setahuku, program-program yang sudah mereka putuskan melalui Musdes RKPDes dan APBDes akhir tahun lalu saja belum terlaksana karena dananya belum cair, katanya."

"Dana Desa maksudnya?"

"Ya Dana Desa, Alokasi Dana Desa, Bantuan Provinsi, Bagi Hasil Pajak, dan sebagainya. Itu belum ada yang cair. Makanya program-program Desa belum tereksekusi."

"Jamannya efisiensi kok, Pak Bei. Semua program Kementerian konon juga mandek. Anggaran dialihkan ke sektor pangan, terutama Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih."

Seorang pelayan menyajikan dua mangkok bakso pesanan Kang Narjo dan temannya. Pesanan Pak Bei dan keluarganya belum datang.

"Sambil makan duluan, Kang. Silakan." 

"Lha Pak Bei?"

"Kami datang belakangan, harus antri."

Kan Narjo dan temannya mulai menyantap bakso. Pak Bei memandangi sahabatnya dengan rasa heran. Ternyata Kang Narjo mengikuti soal Kopdes Merah Putih, program prioritas Pemerintah Prabowo dengan anggaran yang sangat besar itu. 

"Menurutmu bagaimana program Kopdes Merah Putih itu, Kang?"

"Bagus."

"Bagusnya di mana?"

"Terlepas dari urusan politik, apakah pas Pilpres kemarin kita milih Pak Prabowo atau tidak, kita harus mengakui bahwa beliau tampak punya komitmen kuat membangun ekonomi rakyat dan swasembada pangan."

"Begitu ya, Kang?"

"Dulu Orde Baru sangat serius membangun sektor pangan melalui Repelita, Bimas, membangun KUD di setiap Kecamatan, bikin Klompencapir, dan sebagainya. Dan berhasil., lho."

"Iya, Kang. Tahun 1984-1985 kita surplus beras dan bisa ekspor, ya."

"Itu karena Pemerintah pada waktu itu serius, Pak Bei. Ekonomi petani digarap sungguh-sungguh. Diproteksi. Bukan dibiarkan digempur  beras impor seperti jaman repotnasi ini."

"Jaman Reformasi, maksudmu?"

"Dulu kita berharap reformasi akan mensejahterakan rakyat dan menghidupkan demokrasi, eh ternyata kita salah sangka. Yang terjadi justru repotnasi dan rusaknya demokrasi."

"Yah, pesanan sudah datang. Ayo makan dulu," terdengar Zika memanggil Pak Bei.

"Kapan-kapan kita lanjut omon-omon ya, Kang."

"Siap, Pak Bei. Monggo disekecakke," Kang Narjo mempersilakan Pak Bei bergabung ke meja keluarga.
"Kami pulang dulu, ya. Sudah kenyang," sambungnya sambil berdiri menuju kasir.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#jamaahtanimuhammadiyah