Selasa, 19 November 2019

OJO DUMEH

OJO DUMEH

Dasar Sasa, kalau lagi punya kegelisahan sering kurang empan papan. Seperti kemarin sore, kami kebetulan ketemu pas lagi takziyah meninggalnya kakak kelas kami jaman SMP dulu. Di antara ratusan pelayat, terdengar suara memanggilku dari arah teras rumah tetangga yang berduka cita. Ternyata sahabatku Sasa . Aku pun mendekat dan ikut duduk lesehan di sampingnya. Tanpa basa-basi, sahabatku ini langsung ngajukan pertanyaan yang sungguh membuatku jadi kikuk.

"Om, perintah bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Kanjeng Nabi itu kan memang hanya untuk orang beriman, ya?"

"Maksudmu?"

"Ya kalau orang tidak beriman kan gak wajib bershalawat."

"Ya memang," jawabku agak kurang antusias karena pekewuh dengan orang-orang sekitar.

"Gak papa tidak beriman, terserah saja. Tapi mbokya gak usah merendahka."

"Siapa yang merendahkan, Sa?"

"Ya adalah, Om. Tapi siapapun orangnya, kalau tidak beriman dan mencintai Kanjeng Nabi,  mbok sudah diam saja, gak usah ngomong yang bisa bikin orang tersinggung."

"Sik to, Sa, maksudmu ki piye, to?"

"Begini lho, Om. Ibarat istri. Istriku mungkin bagi Sampeyan babar blas tidak cantik dan tidak ada manfaatnya. Iya, kan? Tapi Sampeyan tetap harus menghormati istriku, tidak boleh ngelek-elek dan merendahkan. Kalau sampai Sampaian meremdahkan istriku, pasti aku akan marah. Bener gak, Om?"

"Ya jelas, Sa. Kita harus saling menghormati."

"Jaman sekarang memang harus hati-hati, Mas Sasa," Pak Modin yang duduk di sebelahku menyahut.  "Orang kalau asal ngomong bisa kena pasal ujaran kebencian, lho," lanjutnya.

"Apalagi terhadap Kanjeng Nabi, orang yang sangat dimuliakan oleh jutaan orang beriman," sahut Mas Temu. "Karena sudah menyangkut keyakinan dan keimanan, tentu banyak orang siap membela sampai mati."

"Makanya kalau memang tidak beriman, jangan asal ngomong ya, Mas Sasa. Atau mau kena pasal penistaan agama?" Pak Modin menyahut lagi.

"Simbah kita dulu berpesan ojo dumeh. Jangan mentang-mentang," kata Sasa. "Dulu kita ini lahir di mana dan jadi anaknya siapa, kita tidak bisa memilih. Tinggal menjalani," lanjut Sasa dengan tatapan serius seperti ustad sedang tausiyah. "Ada yang lahir dari keluarga pejabat yang terhormat dan kaya-raya, ada yang lahir di keluarga petani miskin, ada yang lahir dari keluarga pengusaha, keluarga kyai, keluarga tentara, dan sebagainya. Ada yang lahir di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan sebagainya. WeKita semua tinggal menjalani, tidak bisa memilih. Kita harus selalu bersyukur dan tidak boleh sombong. Juga tidak boleh minder dan rendah diri," lanjutnya.

"Betul itu, Ustad. Hehehe...," sahutku.

"Wah mbok jangan ngece to, Om. Aku tidak punya potongan ustad."

"Loh, potongan itu gak penting, Sa. Tapi tausiyahmu  tentang ojo dumeh tadi memang bener, kok. Bagus. Kayak ustad beneran. Dapat dari mana, Sa?

"Dari tivi, Om....hehehee."

"Suka nyimak pengajian di tivi, to?"

"Sasa ini rajin nonton tivi kok, Pak," kata Pak Modin.

"Apalagi kalau pas acara ILC, nontonnya sambil mentheleng tak berkedip," sahut Kang Sarno yang diam dari tadi.

"Ya maklumlah, Om, orang seperti aku ini mau belajar di mana lagi kalau bukan di tivi," Sasa minta permakluman.

Terdengar pembawa acara mulai memandu upacara pelepasan jenazah, membacakan urut-urutan acara, dari pembukaan, pembacaan ayat suci, sambutan-sambutan, hingga doa pemberangkatan jenazah menuju makam. Semua pelayat pun menghentikan obrolan untuk mengikuti rangkaian acara upacara. Obrolan kami pun terhenti. Sebenarnya aku masih penasaran dengan omongan Sasa tentang shalawat tadi. Apa maksudnya? Siapa orangnya yang berani merendahkan Kanjeng Nabi? Tapi ah sudahlah. Sasa memang terkadang sangat kritis bahkan terkesan over sensitif terhadap apapun yang didengar dan dilihatnya.







Senin, 28 Oktober 2019

RADIKALISME

RADIKALISME

Sedemikian populernya istilah 'radikalisme' akhir-akhir ini, sampai-sampai sahabatku Sasa, juru parkir Soto Kartongali itu, jadi ikut penasaran. Sedemikian penasarannya Sasa, bahkan undangan kerjaan sambilan sebagai tukang pijat panggilan pun terpaksa ditolaknya malam ini. Entah apa yang dipikirkannya hingga Sasa keroyo-royo datang ke rumahku sejak bakda maghrib tadi.

Sasa datang ndelalah pas di rumahku sedang ada beberapa pemuda kumpul sejak sore berdiskusi tentang program kerjasama dengan Bawaslu Klaten, kerjasama membuat Desa Jemawan sebagai percontohan Desa Anti Politik Uang. Kehadiran Sasa kali ini benar-benar nyolong fokus. Diskusi pun mendadak terhenti. Semua antusias mbagekke Sasa seakan menyambut kehadiran seorang artis atau tokoh politik. Anak-anak muda itu juga tidak sungkan-sungkan berebut foto-selfi, dan semua dilayani Sasa dengan gayanya yang cengar-cengir bahkan terkesan ndesit itu. Sementara kubiarkan Sasa ajur-ajer dengan para pemuda, aku ke dapur membuatkan kopi kesukaannya.

"Om, jan-jane radikalisme itu apa, to? Lha kok sejak pelantikan menteri  sampai hari ini beritanya soal itu terus," Sasa mulai ngudarasa setelah nyeruput kopi panas yang baru kusuguhkan. "Kok seperti tidak ada urusan lain yang lebih penting dilakukan para menteri, ya?," sambungnya.

"Ayo, siapa bisa menjawab? Ini Pak Sasa pengin tahu tentang radikalisme," tanyaku pada para pemuda.

"Namanya juga politik, Pak Sasa," Budi tampak berminat menjawab yang pertama.

"Maksudnya bagaimana, Dik?" tanya Sasa.

"Isu radikalisme itu dagangan politik. Perlu digoreng terus-menerus agar semua  orang percaya bahwa radikalisme itu sangat membahayakan negara sehingga harus diperangi dan dibasmi. Kalau tidak, bisa bubar negara kita gara-gara ulah kaum radikal."

"Wah, kok medeni ya, Dik," Sasa tampak belum paham.

"Mas Budi, Pak Sasa ini mungkin perlu dijelaskan dulu pengertian radikalisme. Jangan jauh-jauh dululah. Bener gak, Pak Sasa?" tanya Ikhsan.

"Njih leres, Mas," jawab Sasa.

"Bener, Dik Ihsan. Coba dipahami dulu arti kata radikal dengan contoh-contoh sederhana," kucoba mengarahkan pembicaraan.

"Radikal itu seperti cara Mas Sasa memandu parkir dengan total action dan sering menolak pemberian uang," kata Thoriq.

"Radikal itu seperti masyarakat Jemawan yang sepakat menolak politik uang dalam pelaksanaan Pilkades, padahal di Desa-Desa lain para calon Kades kuat-kuatan berlomba menyebar amplop serangan fajar," Budi menyahut.

"Radikal itu ketika orang nekad jadi politisi atau pejabat dengan menghabiskan modal sangat besar, padahal sesungguhnya mereka tidak punya kemampuan mengurusi nasib negara dan bangsa," kata yang lain.

"Radikal itu ketika  seorang politisi nekad menggadaikan SKnya ke Bank demi menjaga imej dan performance, lalu untuk mengangsur cicilannya mereka nyambi jadi makelar proyek," tambah yang lain.

"Radikal itu ketika seorang pemuda berani memutuskan menikahi seorang gadis, padahal banyak gadis yang menunggu-nunggu lamarannya," sahut yang lain.

"Radikal itu seperti Pak Sasa yang dulu kondang sebagai wong ndalan ora enak dipangan, tapi tiba-tiba memutuskan rajin ibadah, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian," sahut yang lain lagi.

Kulihat Sasa yang dari tadi bengong tampak senyum-senyum disebut namanya sebagai contoh. Tampak Sasa ingin merespon.

"Sik, Mas. Berarti yang dimaksud radikal itu sesuatu yang ora umum, yang tidak biasa dilakukan orang lain?" tanya Sasa kepadaku.

"Ya begitulah kira-kira, Sa. Lalu dianggap nyleneh dan bisa mengancam kepentingan umum," jawabku sekenanya.

"Tapi kenapa hanya orang Islam yang dianggap radikal, Om? Kok yang lainnya tidak?" tanya Sasa lagi. "Saya jadi takut, Om, jangan-jangan nanti aku juga dianggap radikal?"

"Memangnya Pak Sasa berbuat apa di parkiran?" tanya Teguh.

"Bukan di parkiran, Dik. Jelek-jelek begini aku dipercaya jamaah di mesjid kampungku jadi khotib setiap Jumat Pahing. Meski ilmuku masih sangat terbatas, tapi karena amanah jamaah, ya aku harus belajar setiap hari. Kulakan ilmu, Mas."

Azan isya' terdengar bersahutan dari corong-corong masjid sekitar. Kami pun mengakhiri obrolan dan bersama-sama menuju masjid.

#serialsasa


Rabu, 23 Oktober 2019

POLITIK UANG

POLITIK UANG

Lagi-lagi pagi aku dibuat kagum oleh Sasa, sahabatku yang jadi juru parkir Soto Kartongali Jolotundo. Dari mana dia tahu berbagai informasi seputaran Jatinom yang terkini dan seolah A-1? Sedemikian jangkep penguasannya atas berbagai kejadian terkini. Mungkinkah dia dapat info dari intel Polsek yang kebetulan suka mampir nyoto? Tidak mungkin. Seorang intel pasti pintar menjaga rahasia. Hanya atasannya yang boleh tahu semua info yang didapatkan dan tidak mungkin membuka infonya di warung soto atau angkringan. Atau, jangan-jangan Sasa punya prewangan dari bangsa jin yang secara khusus ditugasi mensuplay informasi? Kayaknya juga tidak mungkin. Memangnya Sasa sekelas sama Nabi Sulaiman yang punya asisten hebat bernama Jin Ifrid? Pasti tidak. Tapi entahah. Jalma tan kena kinira, begitu orang Jawa bilang. Tidak gampang menilai orang hanya dari penampilannya.

"Wah, Desa Sampeyan hebat, Om. Selamat, ya. Ikut bangga," kata Sasa menyambutku di parkiran.

"Hebat apanya?"

"Pilkades kemarin berlangsung bersih, paling bersih, dan sukses tanpa ekses."

"Sasa kok tahu?"

"Ya tahulah, Om. Kabar Pilkades se Jatinom aku tahu semua."

"Wah elok...."

"Umumnya Pilkades diwarnai maraknya Politik Uang, Om. Para timses calon Kepala Desa seperti berlomba membagi amplop. Kuat-kuatan membeli suara rakyat.  Bahkan biasanya dukun-dukun pun dilibatkan untuk memuluskan usahanya."

"Mosok to, Sa?"

"Bener, Om." Lalu Sasa nggacor cerita tentang beberapa kejadian Pilkades di desa-desa tetangga. Ada Desa yang pemenangnya bahkan sampai menghabiskan dana 1 M, ada yang habis 700 juta, 500 juta, dan sebagainya. Konon ada calon yang kalah dan stres karena sudah menghabiskan dana hingga 800 juta. Ada juga Desa yang sampai terjadi pertumpahan darah antar warganya dan hingga kini kasusnya masih ditangani kepolisian.

"Yang paling sulit itu memulihkan paseduluran antar-warga yang kadhung retak, Om. Orang-orang yang beda pilihan masih plirik-plirikan kalau ketemu. Tidak sedikit yang jadi jothakan, tidak bertegur-sapa, putus hubungan."

"Kasihan ya, Sa. Butuh waktu lama memulihkannya."

"Sebenarnya calon yang menang maupun kalah sama-sama mumet mencari cara mengembalikan modal. Tapi masih mending yang menang, masih bisa cari-cari seseran atau nyunat Dana Desa. Lha yang kalah, Om? Mesakke...."

Semangkok soto sudah habis kusantap dengan nikmat sambil mendengarkan update info dari Sasa. Dalam hati, aku sangat bersyukur berbagai kejadian itu tidak terjadi di Desaku.

"Kudengar Desa Sampeyan akan dijadikan percontohan Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu Klaten, Om. Hebat itu. Memang sangat layak."

"Sangat layak piye, Sa?"

"Om, selama ini rakyat dibodohi oleh para politisi, orang-orang yang berebut kekuasaan. Seolah-olah rakyat ini kere kabeh, tidak mau memilih kalau tidak disogok amplop nyeket ewu. Seolah rakyat tidak tahu mana orang baik mana orang jahat. Padahal sesungguhnya justru karena para politisi sendiri yang kurang percaya diri, punya kelemahan dalam bermasyarakat, tidak yakin dirinya akan dipilih rakyat, tidak berani bersaing secara sehat, lalu nekad mengumpulkan modal besar untuk nyogok rakyat agar dipilih. Kelakuan seperti ini yang bikin rusak, Om."

"Terus, Sa...."

"Ternyata itu semua tidak berlaku di Desa Sampeyan, Om. Kudengar para calon Kades kemarin tidak keluar uang sedikitpun selain sekadar biaya nyuguh tamu-tamu yang datang sejak seminggu sebelum dan sesudah pemilihan. Pengeluaran yang wajar sebagai tuan rumah."

"Ya memang, Sa. Bahkan pemenangnya sampai sekarang masih pekewuh karena belum ketemu cara berterima kasih pada timses dan para relawannya. Mau ngasih sekadar uang bensin saja ditolak lho, Sa. Timses dan masyarakat hanya minta Kades terpilih nanti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, adil, dan jujur."

"Ya itulah yang kumaksud layak dijadikan percontohan, Om. Rakyat harus baik dulu kalau ingin melahirkan pemimpin yang baik. Kalau semua masih suka aji mumpung, tidak jujur, tidak prasojo, tentu hanya akan melahirkan pempimpin yang suka maling, suka korupsi, menumpuk-numpuk harta untuk tujuh turunan."

Pagi mulai beranjak siang, saatnya aku pulang ngurusi pekerjaan. Pasti di rumah sudah terdengar karyawan hiruk-pikuk menggenjot mesin-mesin jahit.

"Tak bali sik yho, Sa."

"Njih, Om. Nderekke....."

#serialsasa




Kamis, 17 Oktober 2019

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Nanti siang bakda Jumat,  tanggal 18 Safar / 18 Oktober 2019, adalah puncak acara haul Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, ditandai dengan acara sebaran apem. Berton-ton kue apem disebarkan dari dua panggung/menara yang dibangun di lapangan Klampeyan (Plempeyan) di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom. Berjuta orang dari berbagai penjuru datang dengan suka-cita ke acara itu. Ada yang sekadar nonton dari kejauhan, banyak juga yang turun ke lapangan ikut rebutan, konon ada juga yang sengaja datang dari jauh untuk 'ngalap berkah' ikut berebut kue yang terbuat dari tepung beras itu lalu dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Konon banyak orang meyakini kue apem Yaqawiyyu bisa untuk jimat penglarisan, untuk menjaga sawah agak tidak diserang hama, atau bahkan untuk obat keluarganya agar sembuh dari sakit.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu," begitu kata Sasa mengutip satu pepatah. "Kita ini jangan mengambil hak Gusti Allah menilai niat seseorang," lanjut Sasa.

"Iya memang benar, Mas Sasa, tapi kita kan harus hati-hati supaya tidak terjebak syirik, dosa yang tidak terampuni," sanggah Amat.

"Loh, soal hati-hati dan mewaspadai hati kita sendiri memang harus, Dik. Kita harus selalu waspada jangan-jangan niat kita salah. Tapi jangan pernah menilai niat dan hati orang lain. Jadi biarlah acara tahunan Yaqawiyyu itu tetap berlangsung sebagai hiburan rakyat yang murah-meriah."

"Kalau saya melihat sebaran apem itu satu kegiatan yang mubadzir, Mas Sasa. Makanan segitu banyaknya kok dilempar-lemparkan. Apa gak ada cara yang lebih baik, yang lebih santun, yang lebih berbudaya?," kata si Hendrik.

"Bagus pertanyaanmu itu, Dik. Saya juga pernah berpikir alangkah bagusnya kalau masyarakat Jatinom sebagai tuan rumah berupaya menghormati tamu-tamunya yang ingin mendapatkan kue apem itu. Misalnya, setiap keluarga menyediakan kue apem dibungkus pakai dos berisi 3-5 buah, lalu dibagikan pada orang yang lewat di depan rumahnya."

"Ya itu maksud saya, Mas. Jadi orang gak usah rebutan, tapi bisa makan apem dengan nyaman di setiap rumah orang Jatinom," kata Hendrik.

"Ya tapi terus gak ada lagi acara Sebaran Apem, Om?," tanya Ifan.

"Diganti acara Pesta Apem, Mas. Malah bagus itu. Semua orang Jatinom bisa sedekah apem," sahut Sasa.

"Ada istilah selain pesta gak, Mas? Kesannya kok kurang sakral, ya."

"Tapi gak apa-apa itu, Om, rakyat kan sudah biasa dengan pesta-pesta. Ada pesta pernikahan, ada pesta ulang tahun anak, dan sebagainya," kata Hendrik.

"Iya betul, Dik. Rakyat juga sudah biasa ikut pesta demokrasi, kok. Tapi isinya ya cuma janji-janji politik dan sebaran amplop. Nasib rakyat selama lima tahun cuma dihargai seket-ewu. Para politisi seperti berlomba ngadakan sebaran amplop. Tragisnya, begitu usai pemilu, rakyat menangis karena harga-harga kebutuhan hidup naik semua, dan orang-orang yang dipilihnya ternyata ketangkap KPK karena korupsi. Rakyat kapusan terus," Sasa mulai berpikir politik.

"Jadi masih mending sebaran apem Yaqawiyyu ya, Mas Sasa?"

"Ya jelas, Dik. Sebaran apem mengandung maksud agar orang yang makan apem mendapat kekuatan menjalani hidup. Kalau sebaran amplop justru bikin rakyat semakin lemah, sementara sebagian lainnya semakin ngawu-awu berkuasa dan korupsi setiap saat."

Obrolan di warung Kang Torong pun bubar karena udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

#serialsasa

Kamis, 15 Agustus 2019

DI GONTOR SEMUA SAMA

DI GONTOR SEMUA SAMA

Untuk yang ke sekian kalinya, malam ini lagi-lagi kami harus rela tidur di hotel bintang sejuta alias nggelar tikar beratapkan langit di pelataran Pondok Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi. Malam ini kami datang pukul 20.00, 30-an gazebo yang berdiri di pelataran dan 30-an kamar Wisma Darussalam sudah terisi semua. Beberapa tenda tampak sudah berdiri di bawah-bawah pohon, menandakan para wali santri itu juga tidak kebagian gazebo atau kamar. Beruntung mereka sudah menyiapkan tenda dari rumah. Lha kami? Ndelalah tenda yang sudah kami beli di Mina tahun 2011 ketlingsut entah di mana kami menyimpannya.

Jumat, 26 Juli 2019

NASI GORENG

NASI GORENG

Sudah lama aku tidak ngajak dolan sahabatku Sasa. Dulu sering kuajak dia keluar malam meski sekadar cari wedangan di warung hik dan ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman sesama penggemar sego kucing. Beberapa bulan terakhir ini, pertemuan kami paling hanya di tempat kerja Sasa, warung Soto Kartongali, atau di rumahku bila kebetulan Sasa mampir setelah mijat pelanggan. Malam ini tetiba aku ingin ngajak Sasa menikmati kuliner malam di kota Klaten. Ada warung bakmi jowo favoritku yang pasti Sasa belum pernah merasakannya.

Sasa lagi ngesis di halaman rumahnya ketika aku datang, lalu tergopoh-gopoh mengajakku duduk di amben di teras.

"Ngunjuk teh ya, Om?, Sasa menawariku minum teh.

"Gak usah, Sa. Ayo kita keluar saja jalan-jalan."

"Siap, Om."

Rabu, 10 Juli 2019

MUKENA TRAVELING

MUKENA TRAVELING

Sering teman-temanku bertanya tentang Bunda Collection, usaha konveksi kami di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka antara lain: Sejak kapan kami punya usaha konveksi? Produksi apa saja? Ada berapa karyawan saat ini? Tokonya di mana? Dikirim ke mana saja? Dan sebagainya.

Baiklah, Nda, akan kuceritakan sepintas-kilas. Kami merintis usaha konveksi yang kemudian kami beri nama Bunda Collection ini sejak akhir 2004. Waktu itu kami baru pindahan dari Jogja, pulang kampung alias hijrah atau boyongan pindah rumah ke Jatinom, Klaten untuk nemani ibuku yang sedang sakit. Sambil ngancani ibuku, tentu kami pun harus krekel-krekel berusaha mencari kesibukan dan rejeki. Malumlah, semua pekerjaan di Jogja kami tinggalkan dan kami sudah mantap jiwa untuk memulai hidup dari nol di Klaten. Modal kami hanya sedikit kemampuan menjahit istriku, Erwina Ali, yang sempat ikut kursus dasar di BLK Kotagede.  Diawali dari istriku menjahit baju seragam sekolah anakku, lalu menjahit baju lebaran. Ternyata beberapa tetangga dan kerabat ikut menjahitkan baju lebaran. Nah, dalam proses inilah ada ide dan peluang usaha memproduksi jilbab, khususnya jilbab pesta, model jilbab yang dibutuhkan ibu-ibu bila ada kondangan dan acara-acara resmi. Makumlah, setiap habis lebaran memang musim kondangan, dan umumnya ibu-ibu suka tampil matching dan tampak cantik. Kebetulan ada teman yang punya toko busana dan komitmen akan membantu memasarkan jilbab buatan kami. Maka dari sinilah usaha konveksi kami bermula dan masih tanpa nama. Dengan sebuah mesin jahit, dengan modal pas-pasan, dan selebihnya hanya nekad karena hidup harus terus bergerak, kami pun membuat beberapa buah jilbab yang modelnya kami dapatkan secara ATM (amati, tiru, modifikasi) dari gambar di sebuah majalah wanita. Alhamdulillah, jilbab-jilbab kami laku keras di toko temanku.

Usaha konveksi ini betul-betul hal baru bagi kami waktu itu, Nda, bahkan bisa dikatakan ahistoris. Maklumlah, selama di Jogja kegiatanku lebih banyak di dunia kesenian dakwah, sejak di Sanggar Shalahuddin UGM hingga di komunitas Maiyah Cak Nun - Kiai Kanjeng. Ijazahku dan istriku juga sama-sama dari Sastra UGM, tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen bisnis apalagi desain dan jahit-menjahit. Tapi mungkin historisitas atau benang merahnya justru dengan masa awal kegiatanku di Sanggar Shalahuddin UGM yang getol mengkampanyekan pemakaian jilbab melalui pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab karya Cak Nun di Jogja dan beberapa kota lain yang sempat menggemparkan jagad perteateran Indonesia pada 1988-1990. Waktu itu masih sangat sedikit wanita memakai jilbab, dan para pemakai jilbab sering diintimidasi bahkan dipecat dari sekolah, kampus, dan tempat kerjanya. Diakui sejarah atau tidak, sejak pementasan Lautan Jilbab yang ditonton ribuan orang di setiap event itu, semakin banyak kaum muslimah berani terang-terangan mengganti penampilannya dengan berbusana muslimah dan berjilbab tanpa rasa takut. Jilbab seakan menjadi simbol keberanian dan pernyataan, "Aku ini seorang muslimah."

Nama Bunda Collection baru kami temukan menjelang pameran Otonomi Daerah di JEC Jogja pada Mei 2005 atas sponsor dari Dinperindakop Pemkab Klaten. Alhamdulillaah, pada pameran pertama itu produk kami laku keras, semua barang terjual habis. Maka kami pun semakin percaya diri dan tuman mengikuti pameran-pameran di berbagai kota.  Tanpa ragu-ragu, kami usung aneka jilbab cantik dengan bendera Bunda Collection ke berbagai event pameran di Semarang, Jakarta, Bandung, Solo, Batam, hingga ke Jordania dan kota-kota besar di Rusia. Di sinilah pengalamanku dulu sebagai Pimpro pentas-pentas Sanggar Shalahuddin dan kemudian sebagai manajer kegiatan Cak Nun-Kiai Kanjeng sangat terasa manfaatnya.

Lalu apa saja produk Bunda Collection? Pada lima tahun pertama, produk kami masih berupa aneka jilbab  dan bandana cantik. Memasuki tahun keenam, kami mulai membuat busana secara limited edition  alias tergantung pesanan atawa by order. Memasuki tahun ketujuh, kami mulai memproduksi aneka mukena. Dan memasuki tahun ke sepuluh, 2015, kami mulai konsentrasi memproduksi aneka mukena traveling, yaitu jenis mukena yang simpel dan cocok dibawa bepergian ke mana saja, baik ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, atau ke mana pun tujuan bepergian. Betapa wagunya seorang muslimah bepergian tanpa membawa peralatan sholat di tasnya, bukan? Apa tidak malu setiap kali mau sholat harus cari pinjaman mukena atau pakai mukena di lemari mesjid dan mushola pom bensin? Sudah tidak jamannya lagi, Sis. Makanya siapkan mukena traveling di tas Anda.

Ada berapa karyawan Bunda Collection saat ini?
Dulu, kami mengawali usaha ini hanya berdua. Istriku yang merancang produk, memilih kain, warna, dan menjahitnya, sedangkan aku sebatas nemani belanja, bantu motong kain, melipat/mengemas produk jadi dan memasarkannya. Di samping itu, aku kabagian tugas melayani ngobrol tamu-tamu serta lobi-lobi untuk membuka peluang pasar dan pengembangan usaha. Mulai bulan keempat, ketika kami sudah merasa keteteran, kami mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, sejak itu hampir setiap hari banyak gadis dan ibu-ibu muda datang melamar kerja. Karena kami memang berniat membuka lapangan kerja di desa, maka hampir setiap pelamar kami terima, bahkan yang belum punya ketrampilan apa pun. Yang sudah bisa menjahit kami beri tugas menjahit, sedangkan yang belum bisa apa-apa kami ajari memotong kain, packing, atau ketrampilan memberi aksen produk dengan handmade sulam pita dan payet.

Pada 2009 hingga awal 2011, karyawan kami ada 150 orang. Seiring perkembangan jaman, pada awal 2012 ketika  produk-produk impor dari China mulai masuk di pasaran secara masif ditambah lesunya daya beli masyarakat, kami pun harus merasionalisasi karyawan dari 150 orang menjadi 70 orang. Berat, tapi harus kami lakukan. Waktu pun terus berjalan dan kami harus terus produksi dengan manajemen yang lebih ketat. 

Tetapi apa boleh buat. Sejak 2012 itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menggaet banyak investor untuk merelokasi pabrik-pabrik TPT (Tekstil dan produk Tekstil) dari Jabodetabek dan Jabar ke Jateng khususnya di wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Konsekuensinya, Pemprov Jateng harus memfasilitasi rekrutmen ribuan tenaga kerja lulusan SMA/SMK se-Jateng. Imbas dari itu, UMKM/IMKM di Klaten mulai kesulitan mencari tenaga kerja, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menutup usahanya. Demikian juga Bunda Collection, hingga saat ini kami juga kesulitan mencari tenaga kerja baru, sementara beberapa naker lama secara alamiah harus resign setelah menikah karena harus mengurus bayinya. Alhamdulillah  saat ini karyawan kami masih ada 30 orang. Mereka sangat loyal dan produktif bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tokonya di mana? Produk Bundaco dikirim ke mana saja?
Begini, Nda, sejak awal kami memang sudah memilih dunia produksi, bukan trading. Makanya kami tidak harus punya toko sendiri. Cukuplah bagi kami menjual produk ke toko-toko di Jatinom, Klaten, Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Dulu ketika peradaban kita masih off-line, maka kami harus aktif ikut pameran atau menawarkan produk ke toko-toko busana. Sekarang jamannya sudah berubah, kita masuk ke peradaban digital dan on-line. Pola pemasaran kami pun harus berubah, tidak lagi mengandalkan toko-toko pelanggan, tapi bermitra dengan anak-anak muda yang menekuni marketing on-line. Mereka pandai menjual, tapi tidak pintar memproduksi karena membangun tim produksi sungguh tidak mudah. Makanya, sejak tiga tahun terakhir produk kami lebih banyak terjual melalui mitra-mitra kami para pemain on-line dan mereka bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. 

Anda pemain on-line dan berminat untuk bergabung memasarkan produk Bunda Collection sebagai reseller? Boleh. Boleh banget.

Selakan intip dulu IG bundaco.klaten atau langsung buka Web www.bundaco.com//reseller. Anda akan dipandu oleh admin reseller, dan bisa bertanya-tanya atau diskusi seputar fasilitas yang kami berikan untuk reseller beserta profitabilitas ya.

Selamat Bergabung. Semoga berlimpah keberkahan...aamiin.


#mukenatraveling
#produsenbusanamuslim

#produsenmukenatravelling

#jilbabcantik

#jilbabpesta

#jilbabsyar'i