KUNGKUM
“Jaman sekarang kok masih ada orang kumkum ya, Om,” Sasa tiba-tiba mendekatiku sambil bergaya ngemasi piring dan gelas kotor di meja.
“Kumkum piye, Sa?,” tanyaku sambil terus menyantap soto yang tinggal beberapa sendok lagi.
“Kungkum itu ya berendam, Om. Berendam di umbul, belik, atau di kedung dari tengah malam hingga menjelang shubuh, atau sekuatnya. Katanya supaya hajatnya terkabul.”
“Mosok to, Sa? Kamu lihat sendiri?”
Sasa pun bercerita bahwa tadi malam dia sengaja ke umbul di dekat rumahnya karena penasaran mendengar beberapa sepeda motor lewat sebelah rumahnya menuju umbul. Sasa khawatir, kebiasaan remaja-remaja nakal yang dulu diusirnya itu kini kambuh lagi, kembali berpesta wedang pekok alias ciu hingga teler di tempat tersembunyi dekat umbul. Sasa sudah bersiap mengusirnya lagi dengan gaman seadanya. Tapi ternyata bukan. Kali ini beda. Ada sekitar 5 orang pemuda usia 30-an tahun, tanpa suara percakapan sedikitpun, mereka langsung melepas baju dan celana panjangnya lalu masuk ke dalam kolam dan duduk bersila. Hanya leher dan kepalanya saja yang tampak di atas air. Sepi dan hening.
“Nglakoni, Om. Tirakat. Supaya hajatnya terkabul.”
“Kamu sempat tanya gak, apa hajat orang-orang itu?,” tanyaku sambil nyruput teh nasgithel.
“Jelas kutanyai to, Om. Katanya, besok pagi mereka akan mengikuti ujian calon Perangkat Desa. Mereka juga minta kubantu doa supaya hajatya terkabul.”
Aku jadi teringat, saat ini memang sedang ada rekrutmen besar-besaran calon Perangkat Desa se-Kabupaten Klaten. Ceritanya, ada banyak Desa yang mengalami kekosongan jabatan Sekdes, Kadus, Kaur, dan Kasi. Total ada sekitar 960an kursi kosong. Untuk mengisi kekosongan itu, maka dilakukanlah rekrutmen secara serentak, melibatkan tim penguji dari beberapa perguruan tinggi. Lowongan kerja ini rupanya sangat menarik bagi masyarakat, terbukti dari animo pendaftar yang di luar dugaan, sekitar 7.300-an orang.
“Tapi kok aneh ya, Om. Katanya sekarang ini orang-orang dari luar daerah seperti Jogja, Solo, Boyolali, dan Sukoharjo juga bisa ikut daftar Perangkat Desa di Klaten. Orang Desa lain juga bisa daftar menjadi Perangkat Desa sini. Orang bebas mendaftar untuk Desa mana saja.”
“Ya gak aneh. Aturannya memang membolehkan, kok. Ini jaman NOW, Sa. Beda jauh dengan jaman OLD. Ingat ya….”
“Oooh ya ya, aku jadi paham sekarang. Karena ini jaman NOW, maka ribuan Tenaga Kerja Asing pun boleh bekerja di sini, baik sebagai tenaga kasar maupun tenaga ahli. Bebas. Bahkan mungkin nanti bisa terjadi tenaga kerja asing daftar jadi Perangkat Desa, Bupati, Anggota Dewan, Menteri, bahkan Presiden. Wah kacau-kacau....”
“Nah….sudah paham kan, Sa?”
“Paham banget, Om. Katanya tenaga kerja kita sendiri memang suka malas-malasan kerjanya. Lambat dan bodoh. Wajar saja orang-orang asing yang bikin pabrik di sini boleh sekalian bawa ribuan tenaga kerjanya.”
“Wah kalau soal itu aku gak ikut-ikutan, Sa.”
“Maksudmu, Om?”
“Aku gak percaya kalau tenaga kerja kita lambat dan bodoh. Ora trimo aku, Sa.”
“Hahahaaa…..Om Om…jangankan tenaga kerja di pabrik-pabrik. Lha di Perguruan-perguruan Tinggi kita saja sekarang boleh merekrut dosen-dosen dari luar negeri sebagai dosen tetap, kok. Katanya biar Perguruan Tinggi bisa lebih berkualitas. Itu kata tivi lho, Om….khkhkh.”
“Jirut tenan Sasa ini,” kataku dalam hati. Dikira kampus-kampus kita tidak berkualitas. Ngece banget. Juru parkir kemaki. Rasanya aku lebih paham kalau soal perkampusan. Ada banyak temanku yang jadi dosen di almamaterku, hebat-hebat dan sangat kualified. Mereka pinter-pinter dan tekun sejak masih kuliah semester 1, dan lulus cepat dengan IPK tinggi. Tidak seperti aku yang baru bisa lulus setelah genap 18 semester, pun dengan IPK pas-pasan. Kali ini aku betul-betul tersinggung.
Ahh…tapi mana mungkin kuajak Sasa berdebat soal itu. Paling juga gak paham. Mending sing waras ngalah. Dan aku pun beranjak dari tempat duduk lalu membayar makananku ke Kang Panut si-boss Soto Kartongali. Sasa Sasa…. gemblung tenan Kowe, yho….