LAUTAN JILBAB
(1)
Puisi panjang "Lautan Jilbab" ditulis dan dibacakan pertama kali oleh Cak Nun pada Pentas Seni Ramadhan Di Kampus (RDK) Jamaah Shalahuddin UGM 1987 di hadapan ribuan jamaah Tarawih yang memadati kawasan Gelanggang Mahasiswa dan Boulevard Bulaksumur, Yogyakarta. Pembacaan puisi malam itu menjadi sangat dahsyat bukan hanya karena dibacakan sendiri oleh Cak Nun, tetapi terutama karena konteks sosial-politik saat itu, yakni tahun-tahun ketika pemerintah Orde Baru sedang sangat represif pada umat Islam dan tokoh-tokoh kritis di kampus-kampus. Stigma "subversif", "anti-Pancasila", dan "merongrong kewibawaan Pemerintah" menjadi momok yang sangat menakutkan.
Masih sangat sedikit perempuan memakai jilbab. Jangankan di kampus negeri seperti UGM. Sedangkan di kampus IAIN dan UII saja mahasiswinya rata2 masih memakai "sekedar awer2" selendang yang dikerudungkan di kepala menutupi sebagian rambutnya melengkapi baju kurung yang dikenakannya. Itupun hanya pas mereka pergi ke kampus saja. Begitu juga di Jamaah Shalahuddin UGM, Pelopor Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di Indonesia (bersama Jamaah Salman ITB), waktu itu baru ada beberapa mahasiswi yang berani memakai jilbab.
Tiba2 muncul fenomena baru. Pemakai jilbab dari hari ke hari semakin bertambah banyak, seiring dengan semakin maraknya kajian-kajian Keislaman di kampus-kampus. Bahkan, mulai ada juga beberapa pegawai dan karyawati kantor/perusahaan memakai jilbab. Ujung-ujungnya, setiap hari koran-koran memberitakan adanya mahasiswi atau siswi SMA diintimidasi lalu dikeluarkan dari kampus atau sekolahnya, pegawai/karyawati dikeluarkan dari tempat kerjanya.
Puisi "Lautan Jilbab" malam itu meneguhkan betapa tengah terjadi gerakan baru yang tak bisa dihentikan oleh siapapun, kesadaran spiritual yang tak bisa dibatasi oleh aturan-aturan semu, bangkitnya keyakinan yang tak takut diancam-ancam dengan moncong senapan. Jilbab adalah simbol kesadaran dan keyakinan, pernyataan sikap serta keberanian melawan ketidakadilan dan penindasan.
"Aku menyaksikan beribu-ribu jilbab, berjuta-juta jilbab.
Tidak!
Aku menyaksikan bermilyar-milyar jilbab," begitu kata-kata Cak Nun mensugesti para mahasiswi sehingga semakin banyak yang berani memakai jilbab.
Semoga Allah SWT mencatat puisi "Lautan Jilbab" itu sebagai salah satu amal jariyah Cak Nun. Aamiin.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar