SASIRANGAN
“Om, pripun
kabare? Sampeyan lagi di mana ini?,” itulah sms Sasa tadi pagi yang kubuka
sambil ngopi di kamar hotel.
Surprise banget pagi-pagi dapat sms dari Sasa, sahabatku
yang juru parkir idola banyak orang. Mungkin karena sudah semingguan ini aku
tidak mampir nyoto, sementara Sasa selalu punya unek-unek dan kegelisahan yang ingin
dicurhatkan setiap kali ketemu. Memang seminggu ini kegiatanku agak full, dari ngurusi usaha konveksi di
rumah, nengok anak di pondok Gontor Putri 5 di Kediri, kondangan manten ponakan
di Mojokerto, dan saat ini sedang berada di Banjarmasin bersama istriku. Kami
diundang oleh Dinas Prindustrian Kalsel untuk berbagi pengalaman dan melatih 20
IKM konveksi dalam program Bimtek Busana Muslim, 10-13 April 2018. Dinas
Perindustrian Kalsel ingin meningkatkan kapasitas usaha IKM bidang konveksi
agar kerajinan rakyat berupa kain Sasirangan dapat berkembang dengan aneka
produk turunan sehingga menjadi ikon Kalsel. Hebat, kan? Sejak dua tahun lalu
para IKM diajak ke Jawa, magang di Bunda Collection Klaten selama beberapa
hari. Dan tahun ini, kami yang diundang ke Banjarmasin dengan membawa
pernak-pernik peralatan pelatihan.
Belum sempat kubalas smsnya, tiba-tiba hpku berdering.
Sasa memanggil dan langsung kuangkat. Tapi dasar Sasa, ternyata dia cuma misscall. Mungkin maksudnya supaya
segera kubalas smsnya, atau memang kangen mendengar suaraku yang tak seberapa merdu,
tapi tidak punya pulsa. Karena husnudhon pada sahabat, maka kuputuskan menelpon
balik saja.
“Piye, Sa,
ada apa?,” tanyaku setelah salam dijawabnya dengan lengkap.
“Wah, Sampeyan ini ke mana saja kok lama gak nongol?
Ada yang penting ini, Om. Perlu konsultasi,” jawab Sasa.
“Ada apa? Soto Kartongali masih aman terkandali, kan?”
“Siap, Ndan. Aman terkendali...khkhkh,” jawab Sasa
sambil terkekeh.
“Apa yang darurat pagi ini?”
“Begini, Om. Tadi malam aku kedatangan tamu
teman-lama.”
“Alhamdulillah.... Banyak tamu banyak rejeki. Terus
bagaimana?”
“Ya gitulah, Om. Malu mau cerita.”
“Cerita saja, Sa. Slow
wae. Ada apa?”
“Begini, Om, aku diminta aktif lagi di partai, padahal
aku kan sudah kapok.”
Memang, sekitar setahun yang lalu Sasa pernah cerita bahwa dia sudah berhenti dari satgas parpol. Sudah capek ikut mogleng-mogleng dengan penampilan sangar hanya dan untuk mendukung orang-orang yang kemudian terbukti tidak amanah dan mengkhianati rakyat. Lebih baik kerja sungguh-sungguh sebagai juru parkir dan juru pijat. Meski hasilnya tidak seberapa, tapi cukup buat ngopeni anak-bojo. “Biar tidak katut dosanya para koruptor, Om,” kata Sasa waktu itu.
“Lha terus piye, Sa. Kamu diajak aktif jadi satgas
lagi?” tanyaku.
“Bukan, Om. Kali ini malah aku diminta daftar jadi
Caleg.”
“Waooww...joss itu, Sa. Mangkat!!! Aku percaya kamu nanti bisa jadi wakil rakyat yang
amanah dan artikulatif di lembaga
yang terhormat itu.”
“Wallaah, Om. Mangkat ke mana? Lha wong cuma mau diplekotho teman-temanku lagi kok. Belum juga
nggagas dari mana biayanya. Mosok harus menggadaikan rumah warisan yang
kutempati? Enggaklah, Om. Mending kerja gini saja, tidak punya musuh, bisa menolong
orang tiap hari, hidup jadi lebih tenteram.”
“Oke, Sa. Kalau memang sudah mantap dengan pilihanmu, sudah
, ya sudah jangan bingung. Anggap saja itu
godaan kecil yang gampang diatasi.”
“Iya, Om. Aku sudah nyaman dengan pilihanku ini. Matur
nuwun njih, Om. Aku mau kerja lagi.
Wassalaamu’alaikum wr.wb,” Sasa mengakhiri curhatnya.
Aku bergegas turun ke ruang makan untuk sarapan lalu
masuk ruangan pelatihan. Agenda peserta hari ini full praktek membuat desain
dan pola baju berbahan sasirangan. Semoga dilancarkan. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar