Senin, 02 April 2018

OJO DUMEH

*OJO DUMEH*

Entah kenapa, akhir-akhir ini Sasa sangat sensitif soal politik. Kadang terkesan sok kritis, kemaki, gemblung, dsb. Sebenarnya aku males melayaninya. Penginku dia cerita-cerita saja seputar pekerjaannya, misalnya tentang tamu-tamu warung Soto Kartongali yang datang dari berbagai kota dan beda-beda karakter. Atau tentang pasien pijatnya yang tuman dengan sentuhan tangan dan jemarinya yang kokoh. Tapi tidak. Omongan Sasa akhir-akhir ini lebih sering nyerempet tema politik, dari soal korupsi pejabat negara, soal kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada petani melalui beras impor dan Harga Eceran Tertinggi, soal rencana “penertiban” khotib Jumat, soal negara yang dikuasai kuam Sudra yang rakus dan koruptif, hingga soal cadar dan sebagainya. Apa boleh buat, tetap saja kulayani omongan Sasa sebisaku. Terlalu sulit membayangkan wajah Sasa yang selalu open-face itu tiba-tiba berubah murung mbesengut gara-gara omongannya kucuekin. “Jangan sekali-kali gawe gelo wong cilik. Wong cilik iku malati, Le,” begitu pesan ibuku dulu.

“Jadi orang itu mbok ojo dumeh yho, Om. Mentang-mentang kuasa, mentang-mentang bolone akeh, mentang-mentang duitnya banyak, mentang-mentang  anak Presiden....,” Sasa mulai ngomel sambil mendekati tempat dudukku, “Mbok kalau ngomong dipikir dulu, nganggo roso, pakai imajinasi, pilih kata-kata yang tepat, lalu disusun kalimat yang nyamleng supaya tidak nyinggung perasaan dan harga diri orang lain. Lha kok kesannya waton njeplak, waton nggambleh, bangga lagi. ”

“Sopo to, Sa?” tanyaku sambil menikmati teh nasgithel.

“Adalah, Om,” jawabnya.

“Sopo hayo...?”

“Walah Sampeyan kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan ada di tivi tiap hari, Om.”

“Dah lama aku gak nonton tivi kok, Sa. Males. Cuma sesekali nonton sepakbola, itupun cuma pas Real Madrid atau MU yang main. Jujur saja, Sa, jan-jane siapa yang bikin kamu pagi-pagi misuh-misuh ini?”

“Om, tadi malam ponakanku ke rumah. Pas kami lagi ngobrol, tiba-tiba dia nyetel video di hpnya. Ada seorang perempuan terkenal, tokoh politik yang tidak seberapa cantik, sedang baca puisi ciptaannya di panggung gemerlapan dan disaksikan banyak orang.”

“Wah bagus itu, Sa. Sudah lama tradisi berpuisi hilang di tengah perubahan jaman,” timpalku.

“Iyaak...bagus apanya, Om? Puisi sangat tendensius dan melecehkan agama Islam kok dibilang bagus. Aku tersinggung berat, Om.”

“Loh...sik, Sa. Melecehkan agama piye, to?” tanyaku penasaran.

“Om, sekalipun istri dan anak perempuanku tidak pakai cadar, tidak pakai busana muslimah yang rapat menutup aurat, tapi kami menghormati pilihan keyakinan tetangga dan teman kami yang memakai cadar. Sama dengan kita harus menghormati perempuan yang pakai baju atau kaos ketat, pakai ledging tipis, atau pakai rok mini. Iya, kan?”

“Lha hiyo, terus...”

“Jaman dulu memang semua perempuan pakai jarik batik, pakai stagen, bajunya model kuthu-baru hingga tampak belahan dadanya, rambutnya disanggul tinggi dan pakai oonde mentul-mentul. Iya to, Om?”

“Lha iya, terus...”

“Namanya juga perkembangan jaman. Orang Islam sekarang semakin sadar melaksanakan ajaran agama yang diyakini kebenarannya, termasuk dalam hal berpakaian. Pakaian perempuan kan harus menutupi aurat, Om. Eeh..lha kok dibilang tidak sesuai dengan budaya kita, Ibu Indonesia.”

“Terus...”

“Lebih parah lagi, Om, dia membandingkan suara azan dengan kidung, atau uro-uro jaman simbah kita dulu. Katanya lantunan kidung lebih merdu dari suara azan....khkhkh.”

“Weh...mosok to, Sa?”

“Sampeyan ini payah kok, Om. Gak ngikuti berita. Makanya sering-sering nonton tivi, baca koran, buka internet. Mosok kalah sama Sasa....khkhkh.”

“Yho, Sa. Nanti coba tak mbuka eternit....wkwkwk.”

“Bikin puisi kok ngawur gak dipikir dulu ya, Om. Tentu bukan karena bodoh, kan? Tapi sungguh memalukan, ngisin-isini. Aku khawatir orang akan melihat bapaknya dianggap tidak ngajari anaknya sopan-santun dan kearifan. Anake sopo to kuwi?”

“Wis wis, Sa. Rasah dowo-dowo omonganmu. Bisa bahaya...,” terpaksa kustop omongan Sasa yang akan mulai nggladrah.

“Ya sudah, Om. Saatnya kerja kerja kerja....khkhkh.”

Sasa meninggalkanku, kembali berjaga di pinggir jalan depan warung. Semangkok soto dan sepiring kecil cacahan kepala ayam telah tersaji di mejaku. Saatnya ritual pagi dimulai.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar