Kamis, 19 April 2018

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITAN

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

"Om, kenapa ya orang sekarang mudah tersinggung?" tanya Sasa sambil bergaya membantuku nyebrang jalan yang padat di depan warung soto Kartongali tadi pagi.

"Mudah tersinggung piye?"

"Mendengar istilah Hizbullah dan Hizbusysyaithan saja orang jadi gempar, tersinggung, lapor ke polisi. Apa gak pernah baca buku sejarah ya, Om?"

Aku paham ke mana arah bicara Sasa, tapi sengaja kubiarkan. Pikirku, dia juga butuh tempat menyalurkan kegelisahannya. Butuh ember penampung limbah.

"Maksudmu piye to, Sa? Orang-orang politik kan memang suka bikin ontran-ontran. Mbok rasah gumun."

"Jasmerah, Om. Ingat. Jangan melupakan sejarah..."

"Sejarah yang mana?"

"Lah...mosok lupa, Om? Sejak masa revolusi dan perang kemerdekaan dulu, ketika TNI kita masih ringkih dan belum kuat menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah kita, umat Islam membentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah. Ingat, kan?"

"Iya. Terus..."

"Dengan senjata seadanya, dengan wirid dan asma' dari para Kyai, dengan bekal logistik yang digalang oleh ibu-ibu desa, pasukan Hizbullah-Sabilillah dengan gagah berani terjun berperang membantu TNI mengusir penjajah, menghalau pasukan syaithan, Hizbusysyaithan, yang hendak kembali mencengkeram negeri ini."

"Terus apa hubungannya dengan orang sekarang yang gampang tersinggung?"

"Lha iya. Istilah itu kan sudah ada sejak dulu, diambil dari Al-Quran. Lha kok baru sekarang pada tersinggung, jadi over-sensitive...."

"Jamannya sudah beda, Sa."

"Beda apanya, Om?"

"Dulu kan jelas yang kita lawan Londo dan anthek-antheknya. Kita usir mereka karena kita ingin merdeka sebagai bangsa dan negara."

"Aah podho waelah, Om."

"Kok podho?"

"Sejak jaman Nabi Adam pun tantangan manusia masih sama, Om, melawan godaan setan. Atas ijin Allah SWT, iblis menggoda manusia, mengajak manusia nuruti hawa nafsunya. Qabil anak Adam tega membunuh adiknya, Habil, karena dia manut bujukan setan demi mendapatkan istri yang lebih cantik dan menguasai hartanya. Mungkin karena keturunan Qabil jadi lebih banyak, mayoritas dan dominan, maka Allah SWT perlu menurunkan para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi serta selamat di akhirat nanti."

"Wah lha kok dadi adoh temen omonganmu, Sa? Kadohan itu. Terlalu jauh...."

"Tidak, Om. Ini tantangan abadi manusia kok. Sejarah yang tetap kontekstual, tapi sering kita lupakan. Memang sih, masalahnya sekarang tidak ada lagi Nabi dan Rasul, yang ada tinggal para cerdik-pandai pengikut ajaran Nabi dan Rasul yang sadar kewajibannya mengingatkan sesama agar saling menyelamatkan, agar pandai bersykur, tidak membuat kerusakan, yang kuat tidak menindas yang lemah, yang sedang berkuasa tidak dholim pada rakyatnya, agar hidup ini dijalani dengan penuh kasih-sayang hingga selamat dunia-akhirat."

"Bagus itu, Sa. Tapi mbok pemahamannya jangan terus disederhanakan menjadi hanya urusan partai politik, lalu seakan-akan ada partai Allah versus partai setan? Gak enaklah, Sa. Mosok partaiku njur dikatutke partai setan?"

"Itulah repotnya, Om. Di tahun politik ini apapun jadi urusan politik, dibaca dengan kacamata politik. Konyolnya lagi, politik pun disederhanakan pengertiannya jadi partai politik, jadi urusan  orang-orang yang berebut kekuasaan."

"Wislah, Sa.  Ngomong soal politik jadi mual perutku. Pulang dulu ya....."

Kutinggalkan Sasa setelah kuselipkan uang dengan paksa ke kantongnya. Sasa pun pringas-pringis tidak bisa menolak. Dah Sasa......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar