Rabu, 16 Januari 2019

RETORIKA

RETORIKA

"Wah Sampeyan telat, Om. Baru saja bubar," kata Sasa menyambutku parkir di seberang jalan.

"Siapa, Sa?"

"Aku juga gak kenal, Om. Kudengar tadi obrolannya tentang pilpres, beras impor, penghasilan dokter, juga tentang usaha pande besi yang pada gulung tikar. Gayeng banget, Om. Kayak orang bertengkar."

"Berapa orang?," tanyaku sambil menyeberang jalan. Sasa mengikuti dan ikut duduk di 'amben' depan warung.

"Ada dua romobongan tadi, tapi datangnya gak bareng. Kayaknya memang beda."

"Beda piye?"

"Aku juga gak tahu bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kulihat ada salah satu dari rombongan kedua ngomongnya keras sampai gebrak meja dan menudingkan telunjuknya ke orang rombongan pertama."

"Weeh...terus, Sa?"

"Semua pengunjung tampak kaget."

"Ngomong opo dia?"

"Yamg keras tadi pas ngomong soal beras, Om. Beras di Klaten surplus, harganya juga stabil di pasaran. Tapi kok dibilang petani Klaten menjerit karena banjir beras impor. Itu ngawur dan sama dengan 'ngece' wong Klaten, katanya."

"Terus....?"

"Orang yang dari rombongan pertama cuma senyum-senyum, tenang, kalem. Kelihatannya lebih berisi, lebih pintar."

"Terus, Sa...?"

"Kalau gak pernah turun ke sawah dan belanja ke pasar 'mbok' gak usah 'nggambleh' soal beras, kata orang rombongan kedua."

"Terus, Sa...," kudengarkan Sasa bercerita sambil kunikmati soto yang sudah tersaji.

"Orang dari rombongan peetama menjawab bahwa kita ini mau milih presiden yang akan mimpin negara, bukan milih bupati atau gubernur. Negara ini ada sekian provinsi, sekian kabupaten, sekian ribu pulau, dan lebih dari dua ratus juta penduduk. Soal beras impor itu masalah negara, soal kemampuan pemerintah memimpin negara, soal kemauan pemerintah memihaki para petani agar lebih berdaya dan lebih produkti sehingga hasil panennya bisa mencukupi kebutuhan pangan berjuta-juta mulut, katanya."

"Belum jadi presiden saja kok sudah berani 'ngece' wong Klaten. 'Ora sudi aku milih',kata orang yang pertama tadi."

"Itu bukan ngece, Mas. Namanya juga orang pidato, mesti pakai retorika."

"Kalau itu retorika, kenapa tidak nyebut daerah lain seperti Boyolali, Wonogiri, atau Gunungkidul, misalnya? Kenapa, coba? Dasar memang suka ngece."

"Begini, Mas. Pertama, kalau yang nama  daerah-daerah itu yang disebut, berarti beliau tidak paham peta pangan nasional, tidak paham mana daerah penghasil beras, mana daerah penghasil jagung, dan mana penghasil ketela. Sejak jaman nenek-moyang, daerah lumbung beras Jawa Tengah itu ya Klaten, bukan Boyolali, bukan Wonogiri. Bahwa sekarang lahan pertanian kita semakin berkurang, itu soal lain. Banyak lahan sawah berubah jadi perumahan dan pabrik-pabrik relokasi dari Jawa Barat. Yang kedua, mestinya kita justru terima kasih karena daerah kita yang disebut, bukan Cianjur atau lainnya yang sama-sama penghasil beras. Klaten jadi kondhang, Mas...."

"Haeesss....dari dulu Klaten juga sudah kondhang,' kata orang rombongan kedua yang masih tampak gusar."

"Terus, Sa...?"

"Ada yang membuatku agak kaget, Om."

"Apa itu?"

"Katanya Capres kemarin juga bilang bahwa gaji dokter lebih rendah dari tukang parkir. Mak-jleb rasanya, Om. Dikira pendapatan tukang parkir besar. Jinguk to, Om? Untung orang rombongan pertama tadi bisa menjelaskan dengan 'wijang', dengan jelas, dan aku jadi paham."

"Bagaimana penjelasannya?"

"Katanya memang masih banyak dokter muda yang gajinya rendah, tidak sampai 3 juta per bulan. Padahal kerjanya berat, berada di lini terdepan pengobatan masyarakat."

"Terus...?"

"Aku juga kaget mendengarnya. Kalau gaji dokter cuma segitu, masih mending pendapatanku, Om. Kalau tidak harus kubagi dengan pemilik warung, jelas pemdapatku lebih besar dari dokter umum. Untunglah aku gak jadi dokter....hahahaa."

"Sa, katamu hidup ini cuma 'wang-sinawang'. Yang kita kira hebat, belum tentu hebat. Yang kita kira hidupnya bahagia dengan gaji besar, belum tentu juga," kataku sambil beranjak membayar makanan.

Kami pun berpisah di parkiran, dan sama-sama kembali dengan urusan masing-masing. Sasa mengurusi parkiran, aku kembali ngurusi karyawan di rumah. 'Wang-sinawang', Sa.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar