Rabu, 02 Januari 2019

MAMPIR NGOMBE

MAMPIR NGOMBE

Aku sebenarnya ingin cepat-cepat pulang usai sarapan soto Kartongali tadi pagi. Langit yang tampak  gelap serta angin dingin dan lembab menandakan hujan akan segera turun. Semua kendaraan roda dua pun tampak ngebut, ingin segera sampai ke tujuannya sebelum hujan turun.

Tapi lagi-lagi Sasa menahanku. Dia sengaja berdiri tepat di depan motorku sambil berkata, "Sebentar, Om. Kita ngobrol dulu."

"Keburu hujan, Sa. Aku gak bawa helm dan jas hujan."

"Sebentar saja," katanya sambil mendekatiku.

"Sasa ki jindul tenan," batinku.

"Om, memang yang terpenting dalam hidup ini kita selalu pasrah-sumarah pada Gusti Allah. Selalu 'dhedhepe' padaNya dan rajin sedekah pada sesama, semampu kita,"

"Weelhaaa....habis sarapan malah disuruh dengerin kultum," batinku sambil matikan mesin motor.

Lalu Sasa menyebut satu nama koleganya yang kelakuannya belum mau berubah, masih suka mabuk dan hura-hura seperti dulu. Isterinya jadi 'ngenes', menderita. Karena tidak kuat lagi menahan tekanan batin, istrinya bunuh diri minum racun serangga.

"Innaalillaahiwainnaailairooji'uun. Kasihan ya, Sa."

"Ya begitulah, Om. Wong cilik, serba pas-pasan. Imannya lemah, ilmunya pas-pasan, ekonomi keluarga jadi morat-marit. Tapi temanku tidak mau berubah."

"Apa gak pernah Sasa nasehati?"

"Walah Om, tidak kurang-kurang kucoba ngajak dia ganti dunia. Berkali-kali kuajak ikut pengajian, kuajak kumpul dengan orang-orang salih, tapi belum mau. Waktu aku mau ke Jakarta ikut reuni 212 juga kuajak, tapi gak mau juga. Maksudku, dengan ikut berkumpul bersama jutaan orang baik dan salih, mana tahu hatinya bisa tergetar, lalu insyaf dan berubah kelakuannya. Mumpung masih ada kesempatan to, Om?"

"Iya bener, Sa. Hidup ini hanya sebentar. Orang Jawa bilang 'mung mampir ngombe'."

"Lha itu masalahnya, Om. Banyak yang salah memahami ajaran simbah-simbah kita bahwa 'urip mung mampir ngombe'.'

"Salah mahami bagaimana?"

"Mumpung masih hidup, Om. Masih ada kesempatan 'ngombe', lalu banyak remaja desa yang tiap hari 'ngombe'  ciu dioplos dengan obat nyamuk.  Remaja kota beda lagi. Mereka minum miras dan pakai narkoba."

"Weeh....ngono yho, Sa."

"Beda lagi dengan para pejabat dan politisi, Om."

"Maksudmu?"

"Ya kalau pejabat dan politisi kan 'ngombe'nya beda, Om. Mereka berebut jabatan dengan 'nyogok' atasan,  membeli suara rakyat dengan amplop 'nyeket-ewu', lalu mencari-cari cara gumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara korupsi, bikin proyek-proyek dan memark-up anggaran, kongkalingkong dengan pengusaha, dan sebagainya. Bahkan bila ada kesempatan, ada juga yang rajin 'ngunjuk wedokan' lho, Om. Katanya biar awet muda.....wkkkkk."

"Wislah, Sa, aku mau pulang. Pagi-pagi kok 'ngrasani' orang."

"Bukan 'ngrasani', Om. Ini  refleksi awal tahun....kkkkk."

Kuhidupkan motor dan kutinggalkan Sasa yang masih 'pringas-pringis'. Sahabatku satu ini kadang memang terasa 'njelehi' omongannya. Tapi memang, kadang ada yang menarik dari cara dia melihat dan memahami hidup. Sudut pandangnya sering tak terduga.

Sayangnya hanya ada satu Sasa di negeri ini, hanya ada di warung soto Kartongali Jolotundo, Jatinom.

#serialsasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar