Minggu, 30 Desember 2018

BELAJAR NGAJI

BELAJAR NGAJI

Langit masih gelap. Hujan rintik-rintik menyertai angin kencang yang datang - pergi sejak kemarin sore.  Biasanya sore-sore begini bisa kunikmati 'candhik ayu' bersama segelas kopi di taman sambil menunggu waktu maghrib. Tapi sore ini tidak. Kuisi waktu sambil iseng main game di laptop.

"Assalaamu'alaikum...."

Terdengar ada tamu mengucap salam di pintu depan. Kujawab salamnya sambil beranjak membuka pintu. Ya Allah....ternyata Sasa. Ada apa surup-surup dan hujan angin begini dia datang?

"Pangapunten, Om. Saya mau minta kopi...hehehe," kata Sasa sambil meringis dan menaruh jas hujan di ayunan.

Aku langsung ke dapur membuatkan kopi kental untuk sahabat yang satu ini. Mungkin dia mampir pulang dari mijat pelanggannya. Atau bisa juga undangan pijatnya baru nanti bakda maghrib, tapi Sasa sengaja berangkat sore karena pengin mampir ngopi dulu di rumahku. Apapun alasannya, kedatangan sahabatku ini selalu kusambut dengan  hati dan tangan terbuka.

Karena udara memang dingin, kopi yang baru kusuguhkan pun langsung diseruputnya. Rokok yang kusodorkan juga langsung diterimanya tanpa basa-basi, diambilnya sebatang, disulut dihisapnya dengan mantap.

"Ada janjian mijat bakda maghrib ya, Sa?"

"Tidak, Om. Aku memang sengaja ke sini mau minta tolong."

"Ada apa?"

"Tolong ajari aku baca Al-Quran, Om."

"Loh kan sudah bisa?"

"Tahu sendirilah, Om. Bacaanku jelek, tidak fasih. Kata istriku, laguku juga jelek banget seperti orang uro-uro...."

"Sa, kalau soal lagu dan soal cengkok, itu sudah gawan bayi. Lahir dan hidup kita kan  memang di pedesaan Jawa. Tentu saja sulit di usia yang sudah tidak muda ini kalau harus belajar ngaji dengan cengkok Arab."

"Bukan soal lagu itu yang penting, Om. Intinya, aku ingin bisa ngaji yang fasih seperti Sampeyan. Tolong aku diajari."

"Mimpi apa kamu tadi malam kok tiba-tiba ingin belajar ngaji fasih? Mau ikut lomba murotal manula?"

"Mbok jangan ngece to, Om. Aku ini serius. Aku perlu berjaga-jaga kalau nanti nemui 'rejaning jaman' dan bisa ikut bursa sebagai Calon Bupati."

"Halah Sa....apa hubungannya ikut bursa Calon Bupati dengan ngaji fasih?"

"Om Om...Sampeyan ini ketinggalan berita. Akhir-akhir ini kan para politisi sedang ribut soal perlunya tes baca Al-Quran bagi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Lha kalau tes itu nanti betul-betul diadakan, syarat Calon Presiden dan Wakilnya harus bisa ngaji fasih, tentunya syarat itu nanti juga akan berlaku bagi Calon Gubernur, Calon Bupati, Calon Ketua RW/RT? Makanya aku perlu siap-siap dari sekarang biar nantinya tidak dipermalukan oleh lawan politik."

"Itu kan cuma trik kampanye  Timses Capres-Cawapres to, Sa? Jangan dianggap seriuslah."

"Weeh...mereka itu para politisi ulung lho, Om. Mereka pasti serius mempersiapkan calon pemimpin bangsa yang besar ini. Tentu tidak asal 'njeplak', Om."

"Benar, Sa, kita memang mau memilih calon pemimpin negara, negara yang besar dengan penduduk multi-etnis, multi-budaya, multi-agama. Kita bukan mau memilih calon yuri MTQ, calon Menteri Agama atau calon Kepala Sekolah dan Rektor Universitas Muhammadiyah, misalnya. Bukan, Sa. Jadi, menurutku omongan para politisi itu hanya 'guyon', sekedar untuk menteror mental lawan politik. Membaca politik mbok jangan terlalu serius, Sa."

"Lha iya ya, Om. Benar kata Sampeyan. Mosok calon Presiden harus dites ngaji? Kan yang penting dites kemampuan dan tanggungjawabnya memimpin negara, kecerdasannya mengatasi masalah bangsa-negara, keberaniannya menghalau setiap gangguan keamanan dan kemerdekaan bangsa. Jindul tenan, kok. Tiwas aku serius mau belajar ngaji fasih."

"Loh kalau soal Sasa ingin bisa ngaji fasih, aku siap membantu kapan saja. Ayo kapan mau kita mulai? Kita buat jadwal dulu, Sa."

Azan maghrib mulai terdengar dari masjid tetangga desa. Dengan gaya 'klecam-klecem', Sasa bilang mau mikir-mikir dulu dan belum bisa membuat jadwal sekarang. Katanya, kalau jadi belajar ngaji fasih bukan lagi untuk politik-politikan, tapi untuk jaga-jaga biar tidak grogi bila sewaktu-waktu diminta jadi imam sholat maghrib,  isya' dan shubuh.

Ah Sasa ini benar-benar tukang parkir gemblung.....









Tidak ada komentar:

Posting Komentar