UMUK
Siang yang terik. Azan dhuhur terdengar bersahutan dari speaker masjid di seantero kampung. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, berganti baju, memakai sarung dan kopiah, bersiap ke masjid untuk shalat berjamaah. Ketika kulangkahkan kaki keluar pintu, tiba-tiba terdengar salam dari suara yang sudah akrab di telingaku. Suara Sasa. Dia sudah duduk di kursi ruang tamu di teras rumahku.
"Lho Sa, sudah lama di sini?,"
"Baru saja kok, Om. Lima menit," jawab Sasa. Rupanya dia datang ketika aku sedang di belakang.
"Ayo ke mesjid dulu. Ngobrolnya nanti saja."
"Siap, Om," Sasa pun langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu.
"Bawa hp gak, Om?" tanya Sasa sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Ya enggaklah, Sa. Buat apa bawa hp ke mesjid?"
"Buat moto aku, Om...hehehe."
"Kita mau shalat, bukan mau foto-foto, Sa."
"Aku pengin punya foto pas lagi shalat bareng Njenengan, Om."
"Halah...buat apa? Mau buat nakut-nakuti malaikat Rakib-'Atid, po?"
"Bukan, Om. Sekedar untuk jaga-jaga."
"Jaga-jaga apa?" tanyaku.
Sasa pun bercerita masih banyak temannya belum percaya bahwa Sasa sekarang sudah beda dengan Sasa yang dulu. Dikiranya Sasa masih bisa diajak mendem dan ugal-ugalan bersama genk rewo-rewonya. Dikiranya Sasa masih cuek gak peduli pada tetangga dan kerabat. Dikiranya Sasa masih sering ndablek tidak peduli pada anak-istrinya. Dan sebagainya.
"Pengin kutunjukkan bukti bahwa Sasa yang sekarang sudah rajin sholat di.mesjid dan berteman dengan orang-orang shalih, Om."
Aku jadi teringat satu istilah dalam marketing: re-branding. Rupanya Sasa ingin mengubah citra dan imej yang sudah lama melekat pada dirinya sebagai 'wong ora enak dipangan". Dia ingin mengganti imej sebagai Sasa si juru parkir dan juru pijat yang shalih dan budiman.'
"Tapi shalat itu urusannya dengan Gusti Allah, Sa. Gak perlu dipamer-pamerkan, lho."
"Iya tahu. Tapi di jaman sekarang, kadang-kadang shalat juga perlu dipamerkan, Om."
"Apa perlunya?"
"Buat tauladan, Om. Inspirasi bagi teman-teman yang belum mau sholat. Dan yang lebih penting lagi, biar orang tidak terus-teeusan salah paham dan shu'udhon pada kita."
Meski sebenarnya aku kurang sreg dengan jawaban itu, tapi permintaan Sasa kali ini sulit kutolak. Kalau itu bisa membahagiakannya, biarlah kuturuti saja.
"Om, kalau Njenengan setuju, saya nanti yang jadi imam dan Njenengan jadi makmum, ya."
"Beres, Sa. Ini kan sholat dhuhur, gak perlu bacaan keras."
"Ya itu juga maksudku, Om. Kalau imam sholat maghrib-isya' jelas aku gak berani....kkkkk."
Sebelum muazin mengumandangkan iqamah, aku minta tolong istriku untuk pegang hpku dan nanti memfoto kami dulu dari berbagai sisi. Istriku pun setuju.
Iqamah pun berkumandang. Kami bergegas berjajar rapi membentuk saff. Sebagai tamu, Sasa kuberi kehormatan menjadi imam. Terdengar mantap Sasa mengimami sekitar 15 orang bapak-bapak dan ibu-ibu. Aku pun mencoba khusyuk, tapi benar-benar sulit karena terganggu suara jeprat-jepret kamera dan pikiran bahwa foto ini nanti mau dipakai Sasa untuk umuk.
Astaghfirullahal'dziim....
Sasa Sasa. Kali ini kamu benar-benar bikin aku amat sangat pekewuh sama Gusti Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar