Senin, 10 Desember 2018

NONTON FESYEN SHOW

NONTON FESYEN SHOW

Sasa belum pernah membayangkan bahwa suatu saat bisa menyaksikan pementasan gadis-gadis cantik berjalan lenggak-lenggok di atas panggung mengenakan baju bagus-bagus diiringi dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu. Puluhan juru potret dan tepuk tangan ratusan penonton serta penyerahan  untaian kembang (buket) kepada para desainer semakin mambuat Sasa berdecak kagum. Sepanjang acara cuma senyam-senyum, mungkin gumun melihat gadis-gadis cantik berpostur semampai itu. Maklum saja, selama ini dunia Sasa hanya sekitar area parkir warung soto Kartongali dan sore-malam harinya melayani panggilan pijat di desa-desa sekitar. Tadi ketika kujemput di rumahnya pun tidak kukasih tahu mau kemana, tahunya cuma kuajak jalan-jalan ke kota Klaten.

"Matur nuwun banget ya, Om," kata Sasa sambil mengikutiku berjalan keluar dari Joglo Monumen Juang 45 Klaten. Di tempat inilah IWAPI KLATEN menggelar rangkaian acara sehari IWAPI SHOW yang dipuncaki dengan Gelar Karya 15 Desainer Klaten 2018.

"Seneng to melu aku? Bisa lihat peragawati cantik-cantik....hehehe"

"Wah luar biasa, Om. Gak nyangka di Klaten ada acara sebagus ini. Seumur-umur belum pernah kulihat."

Aku paham maksud Sasa. Hidup di desa memang jarang ada tontonan. Paling nonton pergelaran wayang kulit di Umbul Gedaren tiap bulan Suro,  atau nonton tong setan di pasar malam Yaqawiyyu di Jatinom tiap bulan Sapar. Sesekali ada juga orang kaya punya hajatan dan nanggap Campursari dengan penyanyi-penyanyi yang kemayu dan --istilah Sasa-- 'cemiwel'. Tapi itu jarang banget.

"Kita duduk-duduk dulu di sini ya, Sa," kataku setelah melihat pintu keluar monumen masih penuh sesak orang mau pulang. Sasa mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari sakunya. Kami pun 'udut-udut' dulu sambil memperhatikan wajah orang-orang yang tampak puas usai nonton Fesyen Show yang belum pernah terjadi di kota Klaten.

"Klaten ternyata punya banyak desainer busana bagus-bagus ya, Om."

"Iya ya, Sa. Aku juga baru tahu malam ini. Koleksi karyanya juga variatif tentunya," kataku sambil menjelaskan ke Sasa sebagian desainer yang sudah kukenal. Mereka punya ciri khas masing-masing. Ada yang spesialis bahan tenun lurik, spesialis batik, spesialis baju pengantin, hingga spesialis busana muslim dan mukena travelling.

"Tapi kenapa ya, Om, sentra-sentra konveksi kita yang dulu merajai Pasar Klewer Solo bisa bubar? Padahal ada banyak desainer bagus, lho."

"Ya karena jamannya berkembang terus, Sa. Kalau pelaku usaha tidak mau mengikuti perkembangan, masih asyik dengan dirinya sendiri, bahkan tidak mau rukun dan justru bersaing secara tidak sehat dengan teman-temannya, tentu akan habis tergilas jaman."

"Nuwun sewu, Pak. Ini benar Pak Sasa dari Jolotundo?," tiba-tiba ada laki-laki seumuran kami minta ijin duduk di sebelah Sasa dan memperkenalkan diri namanya Pak Sarno.

"Iya benar. Monggo, Monggo...," jawab Sasa sambil bergesar duduknya.

"Mohon maaf, Pak Sasa, mumpung ketemu di sini, njih. Begini, dua minggu lagi saya mau mantu, menikahkan putri sulung kami. Semua persiapan sudah kami lakukan," lanjutnya.

"Ooh....Pak Sarno mau mantu,  to?" tanya Sasa.

"Iya, Pak Sasa. Benar. Urusan undangan sudah beres semua. Sewa gedung, rias manten, katering, dan hiburan campursari juga sudah kami booking. Tinggal satu lagi masalah yang belum  teratasi."

"Apa itu?"

"Ini kan sudah mulai musim penghujan. Kami jadi khawatir pas acara nanti sepi tidak ada tamu karena hujan turun seharian."

"Terus kersane Pak Sarno?" tanya Sasa.

"Saya minta tolong  Pak Sasa supaya pas hari acara kami nanti tidak turun hujan.'

Mendengar permintaan Pak Sarno itu, Sasa tampak mesam-mesem sambil senyum-senyum melirikku. Aku pun ngampet tertawa. "Modyar kowe, Sa. Dikira pawang hujan.....," batinku.

Tapi aku heran, ternyata Sasa tenang-tenang saja dan tetap cool menghadapi permintaan  yang menurutku lucu itu. Di jaman sekarang kok masih ada orang berpikir menolak hujan demi kelancaran acara hajatan. Padahal pas belum ada hujan kemarin, banyak ormas yang bikin program aksi sosial 'dropping air', mengirim air bersih ke desa-desa di lereng gunung Merapi yang kering dan tandus. Lha kok ini ada orang malah pengin nolak hujan, menolak rejeki yang ditunggu-tunggu banyak orang di daerah atas.

"Pak Sarno percaya sama saya?" tanya Sasa.

"Percaya, Pak Sasa."

"Mau ngikuti syaratnya?"

"Siap, Pak Sasa. Apa syaratnya?"

"Begini, mulai besok pagi sampai hari H nanti, sekitar jam 8, Pak Sarno sholat dhuha 4 rakaat. Sanggup apa tidak?"

"Njih, Pak Sasa. Siap...."

"Setelah itu berdoalah kepada Gusti Allah, mohon agar acara nanti dilancarkan."

"Terus, ada syarat yang lebih khusus gak, Pak Sasa?"

"Maksud Pan Sarno?"

"Misalnya harus nyembelih ayam jago hitam mulus, atau 'poso ngebleng' lima hari lalu mandi air kembang kamboja, kanthil, dan sebagainya?"

"Tidak usah, Pak Sarno. Tidak perlu pakai 'poso ngebleng'. Tidak perlu mandi air kembang  Tapi kalau nyembelih ayam jago, itu wajib sehari sebelumnya. Tidak harus yang hitam mulus lho, ya. Yang blorok atau putih pun boleh. Jangan lupa, ayam jago itu harus dimasak opor yang enak."

"Njih, Pak Sasa. Siap."

"Nah, besok pas hari H pagi sekitar jam 8, saya akan datang menemani Pak Sarno berdoa sambil sarapan opor ayam jago itu."

"Wah, injih, Pak Sasa. Siap. Matur nuwun sanget. Akan saya laksanakan semuanya," kata Pak Sarno sambil menjabat tangan Sasa erat-erat pamitan dan menyelipkan sebungkus rokok di saku Sasa.

"Edan Sasa ini. Pinter melihat peluang ekonomi," kataku dalam hati.

Area monumen sudah sepi, dan kami pun pulang. Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku sendiri jadi bertanya-tanya, jangan-jangan Sasa juga dikenal sebagai 'wong tua', semacam dukun, paranormal, dan pawang hujan. Ah Sasa ini cen jinguk tenan kok.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar