HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN
"Om, kenapa orang sekarang mudah tersinggung?" tanya Sasa sambil bergaya membantuku nyebrang jalan yang padat di depan warung soto Kartongali tadi pagi.
"Siapa, Sa? Mudah tersinggung bagaimana?," tanyaku sambil berjalan menuju amben depan warung. Tumben kali ini Sasa pun ikut duduk, bukan langsung kembali bekerja.
"Orang mendengar istilah Hizbullah dan Hizbusysyaithan saja kok jadi gempar, tersinggung, mau lapor ke polisi. Apa gak pernah baca buku sejarah ya, Om?"
Aku paham ke mana arah bicara Sasa. Ini agak sensiti, tapi sengaja kubiarkan dia menumpahkan kegelisahannya. Sasa butuh ember penampung limbah, pikirku.
"Sa, orang politik kan memang suka bikin sensasi, bila perlu bikin ontran-ontran biar terkenal sehingga meningkat elektabilitasnya. Rasah gumun, Sa. Rasah digagas."
"Jasmerah, Om. Jasmerah. Jangan melupakan sejarah..."
"Gayamu, Sa. Sejarah yang mana?" Kupancing Sasa supaya 'ndleming'. Seorang pelayan menyajikan semangkok soto dan segelas teh nasgithel, langsung kusantap.
"Lah...mosok lupa, Om? Sejak masa revolusi dan perang kemerdekaan dulu, ketika TNI masih ringkih dan belum kuat menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah kita, umat Islam membentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah. Ingat, kan?"
"Iya. Terus..."
"Dengan senjata seadanya, dengan wirid dan asma' dari para Kyai, dengan bekal logistik yang digalang oleh ibu-ibu desa, pasukan Hizbullah-Sabilillah dengan gagah berani terjun berperang membantu TNI mengusir penjajah yang hendak kembali mencengkeram negeri kita."
"Terus apa hubungannya dengan orang sekarang yang gampang tersinggung?"
"Lha iya. Istilah hizbullah itu kan sudah ada sejak dulu, diambil dari Al-Quran. Lawannya hizbusysyaithan, pasukan setan, rombongan penjajah. Lha kok baru sekarang pada tersinggung, Om?"
"Jamannya kan sudah beda, Sa."
"Beda apanya?"
"Loh, dulu kan jelas yang kita lawan Londo dan sekutunya. Kita usir mereka karena kita ingin merdeka sebagai bangsa dan negara. Sekarang kita sudah 73 tahun merdeka. Tidak ada lagi penjajah, tidak ada lagi pasukan setan."
"Podho wae, Om. Sama saja."
"Kok podho?"
"Om, sejak jaman Nabi Adam hingga kiamat nanti, tantangan manusia masih sama, yaitu melawan godaan setan. Iblis mbahnya para setan menggoda manusia, mengajak manusia nuruti hawa nafsunya. Qabil anak Adam dulu tega membunuh adiknya, si Habil, karena manut bujukan setan. Dia ingin mendapatkan istri yang lebih cantik dan menguasai harta sebanyak-banyaknya.
Nah, mungkin karena keturunan Qabil jauh lebih banyak, mayoritas dan dominan, maka Tuhan perlu menurunkan para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi, agar selamat di akhirat nanti."
Edan. Ketempelan jin dari mana orang ini sehingga punya referensi sejarah awal kejahatan manusia? Kok mendadak bisa sepinter itu analisisnya? Ah, pasti bukan dari nonton TV yang penuh iklan dan informasi hoax. Tapi mosok ada malaikat yang langsung menginstal ilmu itu ke memori otaknya? Edan tenan Sasa.
"Sa, lha kok dadi adoh temen omonganmu? Kadohan itu. Terlalu jauh...."
"Tidak, Om. Ini kan tantangan abadi manusia. Sejarah peradaban yang tetap kontekstual, namun sering kita lupakan."
Jinguk tenan Sasa. Dari mana dia dapat istilah itu?
"Wolak-waliking jaman, Om. Di tahun politik ini apapun bisa jadi urusan politik, semua dibaca dengan kacamata politik."
"Makanya hati-hati kalau ngomong, Sa. Harus 'empan papan', lihat-lihat dulu tempat, waktu, dan lawan bicara."
"Iya, Om. Jaman.sekarang memang serba repot. Orang ngomong baik dan bener pun bisa dijadikan musuh bersama.
"Maksudmu?"
"Jaman serba politik, Om. Dunia saat ini seakan hanya milik para pilitisi, milik orang-orang yang sedang berebut kekuasaan dan kekayaan. Yang bener disalah-salahkan, yang salah dibela mati-matian."
"Wislah, Sa. Pagi-pagi ngomong politik jadi mules perutku. Aku pulang dulu ya....."
Kutinggalkan Sasa setelah kuselipkan uang dengan paksa ke kantongnya. Kali ini Sasa hanya pringas-pringis tidak bisa menolak.
Dah Sasa......
#serialsasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar