Senin, 03 Desember 2018

LINGSEM

LINGSEM

Sebenarnya belum seberapa kangen makan soto Kartongali, dan ndelalah juga di rumah masih ada lodeh terong dan rempeyek teri sisa menu karyawan kemarin, menu favoritku. Tapi karena sejak tadi malam sudah kepikiran Sasa yang kemarin ikut Reuni 212 di Monas, maka pagi ini aku tetap ke Kartongali untuk mangayugabyo kepulangannya, dan tentu saja sekalian sarapan soto yang sedapnya selalu terngiang di lidah.

"Wah luar biasa, Om. Mrinding aku. Tak henti-hentinya air mataku menetes begitu melihat jutaan manusia mengalir bagai air bah dari berbagai arah dengan wajah dan senyum ramah menuju satu titik, Silang Monas," kata Sasa mengisahkan kesannya.

"Terharu ya, Sa?"

"Terharu sekaligus bangga, Om."

"Kok bangga?"

"Bersyukur, Om. Ing atase Sasa lho, cuma wong ndeso yang dulu sempat hidup tidak karuan, 'ora enak dipangan' kata orang-orang, tidak dihargai, lha kok diparingi hidayah dan bisa ambil bagian lagi dalam peristiwa besar umat Islam Indonesia."

Sambil menyantap soto, kudengarkan Sasa berapi-api menceritakan kesan perjalannya sejak keberangkatan bersama rombongan 12 bus dari Klaten, tentang shubuhan di Monas bersama jutaan jamaah dengan doa qunut panjang sekali, tentang banyaknya orang membagikan makanan-minuman aneka rupa buat sarapan jamaah, tentang para tokoh yang bergantian menyampaikan orasi, dan  tentang jamaah yang seusai acara seperti berlomba memunguti sampah di Monas dan sepanjang jalan yang dilalui.

"Subhanallah, Om, nyenengke tenan. Jutaan orang berkumpul dengan tertib, khusyuk, ramah, dan sopan untuk menyatukan tekad menjaga kedaulatan bangsa dan negara...."

"Dibanding yang dulu lebih banyak yang mana, Sa?"

"Ya jelas lebih banyak yang kemarin, Om. Dulu kan banyak yang gagal berangkat karena perusahaan-perusahaan bus  tidak berani ngangkut jamaah karena takut dicabut ijinnya. Yang kemarin beda, Om. Sepanjang jalan sejak berangkat hingga pulang kita aman lancar tanpa gangguan."

"Sa, pas acara kemarin itu,  dua Capres kita hadir semua gak?

"Lha itu, Om. Sayang sekali yang hadir cuma satu. Misal dua-duanya hadir pasti lebih gayeng."

"Apa karena yang satunya memang tidak diundang ya, Sa?"

"Aku juga tidak tahu persis, Om. Kemarin aku juga mbatin kenapa yang satu tidak hadir? Jadi kasihan aku."

"Lha kok kasihan?"

"Begini lho, Om. Ibarat di satu desa ada orang lagi punya hajatan, semacam walimah. Yang punya hajat pun  mengedarkan banyak undangan sehingga banyak orang hadir ikut bergembira dan mendoakan. Tapi ada satu yang tidak hadir di sana, yaitu tetangga terdekatnya yang kaya raya dan rumahnya magrong-magrong."

Aku belum menangkap ke mana arah omongan Sasa. Katanya  Reuni 212  sebagai media konsolidasi umat Islam untuk menjaga kedaulatan bangsa, kok ibaratnya walimahan?

"Ada dua kemungkinan, Om. Pertama, mungkin memang tidak diundang entah sebab apa sehingga beliau 'nglungani', sengaja pergi dari rumahnya. Kedua, mungkin sebenarnya juga diundang, tapi gengsi untuk hadir karena yang ngundang cuma wong cilik dan miskin. Beliau merasa tidak penting untuk hadir."

"Terus, Sa...."

"Masih ada kemungkinan ketiga, Om. Lingsem."

"Apa itu lingsem?"

"Mau hadir malu, gengsi. Makanya mending gak usah hadir demi 'njaga praja', menjaga harga diri dan kewibawaan."

"Wah pikiranmu kadohan, Sa. Kejauhan. Mosok lingsem..."

" Namanya juga penonton, Om. Bebas berpendapat, bebas berkomentar, seperti komentator sepakbola....hahaaa."

"Ya sudah, Sa. Yang penting kamu sudah selamat sampai di rumah, sehat, dan bisa kerja lagi."

"Iya, Om. Alhamdulillah. Pangestunipun...."

Sasa pun langsung kembali asyik mengatur parkir pengunjung warung yang mulai ramai. Gayanya yang ramah tapi tampak sangar, liak-liuk tubuh dan bengok-bengok suaranya yang kadang terdengar nganyelke, tangan kanan pegang bendera kecil dan tangan kiri nenteng kayu ganjal roda, dan sapaannya yang ramah pada semua tamu.
Ah Sasa, orang tidak akan nyangka bahwa di balik penampilan dan pekerjaan yang dipandang remeh itu, dia punya ghirah yang bagus untuk kabaikan bangsa dan negaranya.
Dan, aku jelas kalah dalam hal itu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar