SEDUMUK BATHUK SENYARI BUMI
Hujan baru saja reda ketika dua pemuda desaku datang ke rumah. Tumben. Setahuku mereka masih kuliah di Jogja dan hanya pulang pas Sabtu-Minggu atau libur kuliah.
"Ada apa, Le?," tanyaku setelah obrolan basa-basi sejenak tentang kuliah mereka dan suasana Jogja yang ngangeni meski sekarang jalanan macet di mana-mana. Tiga gelas kopi disajikan istriku.
"Begini, Pakdhe," kata salah satu pemuda itu, "kemarin kami baca di satu media online tentang pembangunan gapura batas Kecamatan Jatinom-Ngawen di depan Balai Desa kita. Itu ceritanya bagaimana to, Pakdhe? Katanya masyarakat sama sekali tidak diajak rembukan sebelumnya, tiba-tiba sudah ada tukang-tukang bekerja mengali fondasi persis di depan wajah desa kita?"
"Ooh soal itu. Masuk di berita online to, Le?"
"Iya, Pakdhe," kata pemuda satunya, "Kami berdua sengaja pulang untuk itu. Pas kami lewat sana tadi, tukang-tukang tampak sudah mulai ngecor."
"Itu tidak masuk akal, Pakdhe. Bagaimana mungkin Balai Desa kita separohnya ikut wilayah kecamatan tetangga? Kesannya nanti begitu, Pakdhe."
"Ada kesan kampung Sumberejo dicaplok Desa dan Kecamatan sebelah. Kok tidak ada yang protes? Kepala Desa kita ngapain aja, Pakdhe?"
Kaget juga aku diberondong pertanyaan-pertanyaan kritis dua pemuda itu, tapi tetap kucoba menutupi. Mungkin mereka pikir aku punya kekuatan menggagalkan proyek pemerintah. Padahal aku juga cuma rakyat biasa sama seperti mereka, bukan tokoh apalagi pejabat atau politisi yang punya power. Tapi sungguh aku bangga masih ada pemuda dan mahasiswa yang kritis, peduli, dan berani bertanya.
"Kemarin Pakdhe sudah tanya soal itu ke Kepala Desa, Le. Katanya itu proyek Kabupaten dan Desa tidak bisa menolak. Pakdhe ingatkan bahwa pembangunan gapura batas kecamatan yang salah letak itu pasti akan jadi masalah."
"Ya jelas, Pakdhe. Ada kesan sebagian teritorial kita dicaplok Desa tetangga, tetapi masyarakat dan Kepala Desa kita diam saja."
"Pakdhe pikir, kalau benar itu proyek Kabupaten, pasti karena ketidaktahuan Bupati, Camat, dan para pejabat terkait tentang batas teritori desa dan kecamatan. Memang harus ada yang memberitahu, Le."
"Betul, Pakdhe. Mestinya pemerintah jangan hanya asal bikin proyek dan ngejar fee tanpa mempertimbangkan perasaan rakyatnya."
"Padhe, perlukah kami galang teman-teman pemuda untuk bikin aksi protes agar pembangunan itu dihentikan?"
"Ya kalau kalian para pemuda melihat ada sesuatu yang bengkok lalu merasa perlu meluruskan, itu baik-baik saja menurutku. Memang begitu seharusnya pemuda."
Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor tua masuk halaman dan berhenti. Loh Sasa. Ada apa sore-sore begini sahabatku datang kemari? Kedua pemuda pun bergeser tempat duduk dan menyalami Sasa dengan sopan.
"Dari mana saja, Pak Sasa?" tanya salah satu pemuda.
"Dari rumah, Mas. Sengaja ke sini mau minta kopi," jawab Sasa sambil melirikku memberi kode.
"Kok kenal Pak Sasa, Le?"
"Pakdhe ini lho. Yang tidak kenal Pak Sasa si juru parkir teladan nasional dari Jolotundo ini berarti kurang piknik....hahahaa."
"Pasti gak pernah nyoto Kartongali.....," sahut Sasa.
"Piye, Sa, ada kabar apa ini?," tanyaku ke Sasa.
"Cuma mau ngasih tahu kok, Om, sakilan minta pamit."
"Pamit mau kemana?"
"Besok Minggu-Senin saya tidak kerja. Sabtu siang saya akan berangkat ke Jakarta ikut Reuni 212 di Monas."
"Waow....elok tenan Pak Sasa ini."
"Kami yang muda saja malah gak kepikir ikut aksi itu lho, Pak," kata pemuda satunya.
"Ini soal prinsip, Mas. Sedumuk bathuk senyari bumi," kata Sasa.
"Maksudnya apa itu, Pak Sasa?"
"Ini soal panggilan hati ikut menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara, Mas. Sejengkal tanahpun tak boleh lepas dari pangkuan negari ini. Kalian harus tahu, negara ini sedang dalam bahaya. Kekayaan alam kita satu-persatu sudah berpindah tangan ke para kumpeni. Berjuta-juta hektar tanah telah dikuasai hanya segelintir orang, dan sebentar lagi negara kita akan dikendalikan asing. Beratnya, Mas, mereka kongkalingkong dengan para pejabat dan politisi kita. Ini harus dihentikan, Mas. Ini soal harga diri bangsa."
"Wah menarik ini. Terus, Pak Sasa...."
"Kita seharusnya malu dengan Eyang Fatahillah, Mbah Sultan Agung, Mbah Diponegoro, Datuk Imam Bonjol, Ibu Kartini, Tjut Nya Dien, Mbah Cokroaminoto, Mbah Ahmad Dahlan, Eyang Soekarno, Datuk Hatta, Mister Yamin, Buya Natsir, Buya Hamka, dan sebagainya."
"Harus malu bagaimana, Pak Sasa. Jamannya kan sudah berbeda."
"Memang jaman sudah berbeda. Dunia terus berubah. Itu sudah sunatullah. Tapi yang namanya negara yang didirikan dengan susah payah dengan toh nyawa wutahing ludira, harus tetap kita pertahankan sebagai warisan berharga dari para pendahulu. Hanya orang gendheng yang mau percaya bahwa batas teritorial negara tidak penting dan membiarkan kekayaan negaranya dikuasai asing," pidato Bung Sasa panjang lebar dan berapi-api.
Kubiarkan Sasa memberi kuliah kewarganegaraan pada kedua pemuda yang tampak antusias itu. Memang sesekali pemuda dan mahasiwa perlu diajak kuliah lapangan seperti ini agar tidak hanya mendapatkan referensi dari dosen, buku-buku, dan media online yang kadang hanya Hoax.
"Berangkat ke Jakarta dengan siapa, Sa? Naik apa?", tanyaku ke Sasa.
"Banyak teman, Om. Belum tahu besok naik apa, yang penting Minggu pagi kami sudah sampai Monas," jawab Sasa.
Azan maghrib terdengar bersahutan. Dan kami pun bubar. Selamat berjuang, Sa. Semoga perjalanan jihadmu lancar dan aman. Biarlah kedua pemuda ini belajar dulu dari kasus yang kecil dan lokal, kasus pembangunan gapura di Desa kami.
#serialsasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar