SONTOLOYO
Sasa benar-benar tidak habis pikir kenapa di jalan raya yang cukup padat itu harus dipasang polisi tidur. Jalan provinsi penghubung antara Semarang - Jogja via Boyolali-Jatinom-Klaten itu sudah bagus, tapi kenapa malah dirusak? Siapa yang memasang? Apa maksudnya? Tidak adakah cara lain untuk mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati dan tidak ngebut?
"Kenapa tidak dipasang rambu-rambu lalu-lintas, misalnya, atau polisi Polsek diterjunkan menjaga tempat-tempat rawan lakalantas?," Sasa mulai ngomyang.
"Mungkin karena kekurangan personil, Sa."
"Mbokya meniru kota Solo, Om. Di Solo itu, hampir di setiap persilangan jalan ada supeltas alias "polantas swasta" alias polisi-cepek yang luwes dan cekatan mengatur lalu-lintas."
"Bener itu, Sa."
"Kenapa justru polisi tidur yang disuruh menjaga jalan? Owalah....wolak-waliking uteg...," Sasa tampak benar-benar tak habis pikir. "Jian sontoloyo tenan. Jinguk....."
"Jangan misuh, Sa."
"Terpaksa, Om. Bayangkan, kemarin malam gara-gara melewati rangkaian polisi tidur itu rantai motorku lepas. Padahal pas aku lagi mboncengkan mbokne bocah-bocah. Terpaksa kutuntun motorku sampai rumah. Sontoloyo tenan....."
"Sasa juga sih, mboncengke istri kok ngebut.. "
"Ngebut piye to, Om? Motor supercup tua ini mana bisa ngebut."
Isyriku datang menyajikan dua gelas kopi dan sepiring pisang godhok yang masih hangat. Memang, di taman alpukat yang teduh di samping rumah ini, kami biasa menikmati sore sambil menunggu datangnya maghrib.
"Monggo diunjuk, Mas Sasa. Mumpung masih panas," kata istriku.
"Injih, Bunda" Sasa pun langsung menyambar gelas kopi dan menyeruputnya lalu makan pisang kepok hangat.
"Mas Sasa tadi kudengar beberapa kali ngomong Sontoloyo. Artinya apa itu, Mas? Kemarin sempat heboh juga lho di medsos," tanya istriku. Maklum, istriku ini asli dari Palembang. Dia tidak kenal kosa kata sontoloyo.
"Nuwun sewu lho, Bunda. Ceritanya begini...," Sasa berhenti sejenak menyalakan rokok, "Suatu ketika di jaman dahulu kala, ada seorang penggembala bebek sedang menggiring pulang ratusan bebeknya dari sawah," lanjutnya.
"Wah asyik....Mas Sasa mulai mendongeng nih. Lanjut, Mas," kata istriku.
"Barisan ratusan bebek yang larinya ethek-ethek itu menyusuri pematang, lalu melewati pal (jalan di tengah sawah) yang kebetulan sedang ada gerobak penuh muatan gabah lewat dan jalan pelan-pelan."
"Terus, Mas....?", istriku tampak antusias.
"Kedua sapi penarik gerobak itu rupanya kaget melihat ratusan bebek yang tiba-tiba lewat di sampingnya. Sepontan sapi-sapi itu berhenti, tidak mau jalan, seperti ketakutan. Si sopir gerobak pun mencambuknya berkali-kali, tapi sapi-sapi tetap tidak mau jalan. Lalu si kusir gerobak teriak pada penggembala bebek, "Wooo dasar sontoloyo....."
"Penggembala bebek marah dong, Mas?," tanya istriku.
"Hahahaa....ya tidak to, Bunda. Sontoloyo kan memang sebutan bagi penggembala bebek. Malah si sontoloyo pun membalas teriak pada kusir gerobak, "Wooo....dasar bajingan...."
Aku pun terbahak-bahak melihat cara Sasa bercerita, sedangkan istriku hanya senyum-senyum, mungkin dia sedang berusaha mencerna cerita dan memahami istilah yang dianggapnya kasar itu. Kata "bajingan" itu asalnya memang sebutan bagi kusir gerobak. Maka, si penggembala bebek dan kusir gerobak itu tentu tidak tersinggung apalagi marah mendengar namanya disebut.
"Tapi mohon maaf lho, Bunda, aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya kok kata "sontoloyo' dan "bajingan" itu kemudian bisa jadi bahasa umpatan yang sangat kasar."
"Ternyata awalnya hanya cerita tentang wong cilik, orang-orang pinggiran, di jaman dahulu kala ya, Mas?"
"Betul, Bunda. Sampai sekarang pun kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh wong cilik. Para priyagung, priyayi, pejabat apalagi tinggi, pantang mengucapkannya karena bisa menurunkan wibawanya sendiri."
Azan maghrib mulai terdengar bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri obrolan dan bergegas ke masjid....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar