MINTA FATWA
"Om, saya mau minta fatwa," kata Sasa begitu segelas kopi kuletakkan di depannya. Sasa tiba-tiba datang sore tadi pas hujan mulai turun. Dan seperti biasa kulakukan pada semua tamu, sebelum ngobrol kubuatkan dulu kopi semendo "tjap iboe mertoea" yang nikmatnya tiada bandingannya.
"Kali ini saya bener-bener ngelu, Om. Mumet. Ewuh tenan."
"Ada apa to, Sa? Mbokya slow wae seperti biasanya."
"Mau slow bagaimana, Om? Situasi kayak gini kok slow."
"Apa masalahnya?"
"Bayangkan seandainya Sampeyan yang jadi saya, Om," kata Sasa sambil tangannya meraih gelas kopi lalu nyeruputnya. "Kira-kira apa yang akan Sampeyan lakukan kalau hampir setiap hari Caleg-Caleg atau timsesnya datang bergantian minta dukungan? Dari berbagai partai lho, Om."
"Wah, hebat itu, Sa."
"Hebat apanya? Memangnya Sasa ini apa? Cuma tukang parkir dan tukang pijat."
"Ya jangan merendah gitulah, Sa..."
"Lha saya kok dianggap punya pengaruh. Mau dijadikan vote-getter lagi. Cen dho gendheng kabeh...."
"Ya jangan begitu, Sa. Namanya Caleg memang harus enthengan silaturahmi dan minta dukungan. Siapa pun yang sekiranya punya pengaruh di masyarakat pasti disowani. Itu lumrah."
""Memangnya aku ini siapa to, Om?"
"Looh....Sasa kan juru parkir yang kondyang-kaloka di seantero perdikan Jolotundo....khkhkh."
"Jindul ik malah ngece."
"Tenanan ini, Sa. Bukan ngece."
Lalu Sasa menyebutkan sejumlah nama Caleg yang hanya kukenal beberapa. Dianalisisnya satu-persatu sesuai yang dia ketahui. Si ini dari partai ini begini begini begini. Si itu dari partai itu begitu begitu begitu. Kalau yang ini sejak dulu hobinya molimo. Yang itu pernah ndhemeni tetangga. Yang sana sebenarnya orang baik, tapi tidak enthengan dan agak pelit. Yang satunya lagi ustad, tapi Sasa justru kasihan dan eman-eman kalau dia masuk politik. Ada juga yang kondhang sebagai preman tapi ramah.. Dan sebagainya.
"Terus kamu mau mendukung yang mana, Sa? Pasti kembali ke habitatmu yang dulu, kan?"
"Jelas tidak, Om. Saya tidak ada urusan lagi dengan partai-partaian.'
"Ah tenane, Sa?"
"Tenin, Om. Jan-jane saya dulu cuma ikut-ikutan, kok. Tapi kemudian disuruh jadi satgas. Eeh...jebul cuma diapusi thok....wkkkkk."
"Jadi satgas kan keren, Sa. Kamu pasti kelihatan gagah dan sangar dengan seragam doreng."
"Walah, Om....itu masa lalu yang bikin malu. Nyesel tenan aku," kata Sasa sambil beringsut duduk mendekatiku. "Om, tolong aku dikasih fatwa. Aku harus bagaimana dan sebaiknya ngewangi yang mana?"
"Pilihlah yang menurutmu terbaik."
"Gak ada, Om."
"Yang terbaik di antara yang buruk-buruk."
"Gak ada tenan, Om."
"Atau mungkin begini saja, Sa. Coba tentukan dulu pilihan Capres-Cawapresmu. Ke depan kamu pengin dipimpin Presiden yang mana? Terserah mau yang 01 atau 02. Dari situ sudah kelihatan partai-partai pendukungnya. Pendukung 01 partai ini ini ini, pendukung 02 partai itu itu itu. Nah, pilihlah Caleg dari partai yang sesuai dengan pilihan Capresmu. Caleg-caleg yang pilihan Capresnya berbeda denganmu rasah digagas. Buang kalen wae. Gampang to, Sa?"
"Wah ini...masuk ini, Om. Aku jadi punya bayangan sekarang. Bener-bener gak rugi aku hujan-hujan ke sini minta fatwa...khkhkhkh. Matur nuwun ya, Om."
Hujan sudah reda. Sebentar lagi waktu azan maghrib. Sasa pamit pulang sambil senyam-senyum tampak lega hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar