Sabtu, 24 November 2018

AWAS ADA GENDRUWO

AWAS ADA GENDRUWO

"Untung kemarin Sampeyan gak ikut saran saya, Om," kata Sasa tiba-tiba duduk di sampingku.

Hari masih pagi, warung pun masih sepi. Piring-piring masih penuh berisi gorengan tempe, tahu, perkedel, dan pisang raja  terjajar rapi di meja. Segelas teh nasgithel yang diantar pelayan langsung kusruput sambil menunggu soto terhidang.

"Saran yang mana, Sa?"

"Supaya Sampeyan ikut nyaleg."

"Oh, soal politik, to? Aku gak bakat politik kok, Sa."

"Ini bukan soal bakat kok, Om. Hanya soal berani nekad atau tidak. Teteg atau tidak. Tegel atau tidak."

"Sudah jelas aku tidak punya itu semua."

"Ya malah untung, Om."

"Lah kok malah untung?"

"Om, ini sudah masuk musim kampanye.  Gendruwo-gendruwo mulai mubal, keluar semua dari persembunyiannya. Satu persatu mulai menampakkan wajah aslinya. Ngeri, Om."

"Iyaak ngomong opo to, Sa? Mbok jangan tahayul."

"Ini bukan tahayul, Om. Nyata. Kasat mata. Cetha wela-wela."

"Gendruwo kok kasat mata. Dagadu..."

"Poya hoho.....wkkkk"

Semangkok soto sudah tersaji dan langsung kuberi kecap, sambal, serta remetan karak seperti biasanya. Karena masih panas, kutunggu beberapa saat sambil ngobrol dengan sahabatku Sasa. Sebenarnya malas pagi-pagi ngobrol politik. Tapi demi menghormati sahabat, aku harus berusaha melayani obrolan Sasa sebaik-baiknya, apapun temanya. Dan lagi-lagi tema pagi ini soal politik. Jinguk tenan Sasa ini, batinku.

"Sa, gendruwo itu hantu sebangsa wedhon, glundhung pringis, wewe gombel, kuntilanak, blorong, banaspati dan sebagainya itu, kan?"

"Iya, Om."

"Gak usah ngeri, gak usah takut. Masih hafal ayat kursi, kan? Gendruwo dan sebangsanya itu takutnya sama ayat kursi."

"Hahahaa....Om Om, yang takut sama ayat kursi itu cuma gendruwo jaman dulu, jaman OLD. Gendruwo jaman NOW justru rebutan ayat kursi."

Kucoba mencerna omongan Sasa. Ini sanepan apa asal njeplak. Guru ngajiku sejak kecil mengajari menghafal ayat kursi yang salah satu kegunaannya untuk mengusir hantu. Menjelang tidur pun kita disuruh baca ayat kursi tiga kali agar terhindar dari mimpi buruk, gangguan setan dan gendruwo.

"Sa, tolong kalau ngomong yang jelas. Maksudmu bagaimana? Jangan main-main dengan ayat suci, lho."

"Om, Sampeyan tahu nggak, ada berapa ribu kursi parlemen di pusat, provinsi, dan kabupaten se Indonesia? Sampeyan tahu nggak, ada berapa puluh ribu caleg yang sekarang ini mulai berjuang keras berebut mendapatkan kursi itu? Ngeri tenan, Om."

"Itu kursi, bukan ayat kursi, Dul."

"Yang disebut kursi itu kalau sudah dipegang dan diduduki, Om. Kalau masih di angan-angan, masih menjadi rangsangan ambisi, belum nyata, itu ayat kursi namanya."

"Tapi ya jangan samakan mereka dengan gendruwo to, Sa. Kasihan. Mereka orang-orang baik yang siap mewakafkan ilmu dan tenaganya bagi kebaikan bangsa dan negara."

"Iya ya, Om. Mereka seperti Malaikat pengantar rejeki dan Dewi Sri pembawa kemakmuran."

"Lha kok sinis to, Sa?"

"Bukan sinis, Om. Kita ini sudah berkali-kali ikut pilkades, pemilu, pilkada, pilgub, dan pilpres. Pas musim kampanye, para calon berlomba tampil dengan janji-janji manis. Dan kita pun percaya, lalu memilihnya, tapi kemudian kecewa. Yang kita sangka malaikat jebul gendruwo. Yang kita sangka Dewi Sri jebul banaspati. Hasil kerja mereka justru membuat kehidupan tidak semakin baik. Mereka justru kongkalingkong dengan para kumpeni agar cepat balik modal dan aman posisi. Makanya kita gak jadi merdeka sebagai bangsa dan negara, Om."

Untung semangkok soto sudah tandas kumakan dan perutku sudah hangat. Mendengar omongan Sasa panjang-lebar tadi rasanya sungguh mak-jleb. Kok sampai segitunya Sasa nggagas negara ini. Cukup teliti juga dia mengamati perilaku para politisi. Ah Sasa, ngobrol denganmu bisa bikin hidup jadi pesimis.

Untung di luar tampak ada dua tiga mobil berhenti mau parkir. Dari plat nomornya tampak rombongan dari luar kota mau sarapan. Sasa pun bergegas memandu parkirnya, tanpa sempat ba-bi-bu pamitan denganku. Dasar wong edyaan.....




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar