AJINING DIRI SAKA LATHI
"Kahanane semakin ngemar-emari ya, Om," kata Sasa sambil ngelap meja depanku. Dia memang suka bantu pekerjaan di dalam warung bila para pelayan tampak keteteran melayani pembeli. Sangat cekatan dia nyingkirkan mangkok-mangkok dan gelas kosong, lalu ngelap meja hingga bersih dan nyaman bagi pengunjung warung.
"Kahanan yang mana, Sa?"
"Ya kahanan politik to, Om. Kalau kahanan warung ini Insya Allah tetap aman terkendali selama masih ada Sasa," jawab Sasa sambil mringis menampakkan gigi-giginya yang tidak seberapa putih.
"Ngemar-emari piye, Sa? Menurutku ya gitu-gitu aja. Biasalah politik..."
"Ya memang. Tapi ini sudah keterlaluan, Om."
"Kok keterlaluan?"
"Ya iyalah. Mosok tiap hari, pagi-siang-malam rakyat hanya disuguhi pertengkaran, saling caci, saling fitnah, saling ancam, saling lapor. Bahkan ada yang lebih parah lagi, Om. Mereka sudah tidak malu-malu lagi misuh, mengumpat lawan politiknya dengan kata-kata yang sangat kasar dan tidak pantas diucapkan seorang tokoh apalagi pejabat."
"Sa, wong Jowo itu hanya misuh kalau terpaksa, lho. Mungkin hatinya memang benar-benar kecewa."
"Ya itu kalau wong cilik seperti Sasa ini. Mau misuh tiap hari juga gak masalah karena nasibku memang teraniaya. Lha kalau pejabat seperti Bupati atau Menteri yho ora ilok, Om. Tidak pantas. Mestinya "ing ngarsa sung tulada", berada di depan dan sanggup menjadi teladan bagi rakyatnya. Kalau menjaga lisannya saja sudah tidak mampu, wis trocoh kabeh, bagaimana dia menjaga perilakunya? Wis mesti rusak-rusakan, Om."
"Iyyaak kamu ini koyo ngerti-ngertio wae, Sa-Sa. Mbok jangan shu'udhon. Belum tentu mereka seperti prasangka kita. Ada lho orang yang lisannya baik, sopan, lembah-manah, tapi jebul korupsi, jebul mengkhianati istri, jebul suka nelikung atasannya. Iya to, Sa?"
"Wis embuh lah, Om. Maksudku cuma sederhana, kok. Kalau orang pengin jadi politisi, pengin jadi pejabat, apalagi sudah jadi pejabat, mbok ya belajar ngomong yang baik, berperilaku yang baik, prasojo, jujur, gak usah neko-neko. Gak usah ngumbar janji. Gak usah mencaci lawan politiknya. Kalau tidak sanggup ngomong yang baik, lebih baik diam. Atau, sekalian turun saja menjadi rakyat seperti Sasa ini."
"Ngono yho, Sa? Baiklah, sesuk nek ketemu dho tak kandhanane....wkkkk."
Sasa meninggalkanku, berlari menuju jalan raya. Dia kembali ke tugas utamanya mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau masuk atau mau keluar dengan gayanya yang tampak sangar dan teriakan aba-abanya yang kadang terdengar menggelegar.
Dia hanya ingin memastikan semua pengunjung Soto Kartongali merasa aman dan nyaman, juga tidak mengganggu lalu-lintas jalan propinsi yang cukup padat.
Selamat bertugas, Sa.
Biarlah para politisi itu menampilkan dirinya apa adanya. Jangan diganggu, ya. Bisa bahaya.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar