Minggu, 11 November 2018

NDOBOS

NDOBOS

Siang yang terik. Jam 11-an siang, Sasa masih terus kerja mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau keluar ke jalan raya atau mau masuk ke parkiran. Kulitnya yang hitam tampak legam, rambutnya yang ikal tampak awut-awutan, baju dan bendera kecil di tangannya tampak lusuh. Penampilannya tampak sangar. Dia memberi aba-aba dengan suaranya yang keras, badan mbungkuk-bungkuk, sambil tangan kirinya memegang ganjal roda dan tangan kanannya megang bendera kecil merah-orange. Bila roda sudah benar-benar lurus pada posisinya, barulah sopir boleh mematikan mesin dan turun dari mobilnya.

"Mohon maaf lho, Pak. Ini supaya roda mobil Panjenengan tidak cepat rusak," begitu Sasa selalu  minta permakluman para sopir yang tampak kurang berkenan. "Monggo pinarak," Sasa pun mempersilakan masuk dengan jempol tangannya yang luwes.

Sambil memperhatikan aksi Sasa, aku teringat obrolan kami kemarin pagi ketika warung masih sepi. Dia mereview beberapa nama dan sifat teman sekolah kami dulu.

"Si-Anu dulu sukanya ndobos ya, Om. Pintar sekali bikin cerita, seakan nyata, padahal aslinya omong-kosong," kata Sasa menyebut satu nama. "Gak bisa dipercaya. Sukanya bikin janji, tapi mletho, tidak pernah nepati. Esuk dele sore tempe, pagi bilang begini sorenya bilang begitu. Tobat tenan," imbuhnya sambil tertawa.

"Sekarang dia di mana ya, Sa?" tanyaku.

"Di Jakarta, Om. Sukses dia. Sudah jadi bos."

"Jadi pejabat atau punya perusahaan?"

"Gak tahu persisnya, Om. Pernah sekali mampir ke sini, mobilnya bagus, pengawalnya dua orang."

"Wah hebat ya, Sa? Punya pengawal..."

"Jalma tan kena kinira, Om. Dulu suka ndobos, sekarang justru sukses. Mungkin justru karena pinter ndobos itu ya, Om? Banyak orang gampang terbuai omongannya."

"Ya jangan begitulah, Sa. Suka ndobos kan dulu."

"Loh, sudah sifatnya kok, Om. Memang wolak-waliking jaman. Jaman sekarang ini, orang yang pinter ndobos, suka bohong, pinter apus-apus justru beruntung. Orang yang lugu kayak saya ini, ya tetap saja begini."

"Walah Sa, hidup kan cuma wang-sinawang. Belum tentu teman kita itu lebih bahagia daripada kamu, lho."

"Ya memang, Om. Tapi kalau setiap hari istri ngomel karena duit hasil kerjaku semakin tidak cukup untuk belanja keperluan harian, jadinya terasa banget, Om. Berat jadi rakyat. Enak yang pinter ndobos, pinter ason-asonan. Duitnya bisa berlimpah-ruah."

"Wislah, Sa. Sing sabar, yho. Ingat katamu dulu, kudu nrimo ing pandum.”

"Njih, Om. Siap. Harus sabar. Nrimo ing pandum Tapi kenapa ya, Om, orang sekarang lebih gampang percaya pada orang yang banyak omong dan banyak janji?"

“Maksudmu?”

“Tapi nuwun sewu lho, Om, ini agak politik.”

“Gak papa, Sa. Tenang saja. Kita kan sama-sama rakyat, bukan orang politik, bukan pejabat, juga bukan intel. Jadi bebas ngomong. Slow wae, Sa.”

“Begini lho, Om, sudah kutiteni dari dulu dan sudah kucermati dengan seksama, para politisi dan Pemerintah kita terlalu banyak janji.”

“Lah kok bisa?”

“Coba Sampeyan ingat-ingat apa saja janji Pemerintah ketika kampanye dulu. Masih ingat, gak?”

“Wah, apa saja ya, Sa? Sudah lupa aku.”

“Lha inilah masalah utama bangsa kita, pelupa semua. Ibarat penyakit, sudah tahap kronis.”

Weh ngece....”

“Bukan ngece, Om. Nyatanya memang begitu, kok. Rakyat gampang terbuai dengan janji-janji politisi, alias seneng dikadhali.”

“Coba sebutkan satu atau dua saja janji politisi yang tidak ditepati, Sa.”

“Aku masih salah satu janjinya di bidang perdagangan, mau menurunkan harga sembako. Mana buktinya, coba? Mbel thut, Om.”

“Terus apa lagi?”

“Janjinya di bidang pertanian lebih parah, Om.”

“Apa saja janjinya?”

“Sampeyan kan aktif nemani petani, Om? Kusebutkan tiga saja yang Sampeyan pasti paham.”

“Apa saja, Sa?”

“Penguatan Bulog, mensejahterakan petani, dan mengelola persediaan pupuk agar harganya tetap murah. Nyatanya bagaimana, Om? Bulog semakin kuat atau semakin rusak digerogoti tikus-tikus? Petani semakin makmur sejahtera atau semakin miskin karena kalah bersaing dengan produk impor? Pupuk semakin mudah dan murah atau semakin langka dan mahal? Mikir, Om....”

Jinguk tenan, Sasa. Ternyata daya ingatnya luar biasa. Itu memang problem sektor pertanian yang hingga kini belum teratasi. Petani semakin miskin. Harga pupuk dan obat semakin mahal, tapi harga jual hasil panen tetap rendah di pasaran. Lahan pertanian semakin sempit karena banyak yang berubah menjadi perumahan, pabrik-pabrik, dan jalan tol. Bulog juga tidak kunjung berdaya sebagai penjaga pangan Nasional karena belum bersih dari wabah tikus. Walaah...ternyata itu semua termasuk yang dijanjikan waktu kampanye, to?

Sasa..Sasa....sayangnya kamu cuma tukang parkir. Omonganmu tidak punya pengaruh, tidak didengar orang, padahal daya ingatmu sungguh tidak kalah dari para sarjana, cendikiawan, aktivis, dan juru dakwah. 

Ah Sasa....maqom-mu memang harus nrimo ing pandum.....








Tidak ada komentar:

Posting Komentar