KARDUS
"Kalau mau lebih murah, mbokya pakai 'kroso' atau 'besek' saja ya, Om? Kenapa harus pakai kardus?"
Itu pertanyaan Sasa tadi malam usai kami menyimak obrolan di TV tentang pilihan KPU menggunakan kotak suara berbahan kardus.
"Maksudmu, Sa?"
"Katanya Pemilu dan Pilpres ini pesta demokrasi. Negara punya hajat, mengajak rakyat bergembira-ria memilih wakil rakyat dan presiden yang akan memimpin negara, yang akan mengurusi semua kepentingan rakyat."
"Terus...."
"Mestinya Pemerintah ngajak rakyat gugur-gunung rewangan, gotong royong, kerja bakti melaksanakan Pemilu dan Pilpres agar murah biayanya."
"Caranya, Sa'
"Sampeyan tentu masih ingat, Om. Dulu hingga tahun 1970an, kita biasa ikut orang tua dan rewang di rumah tetangga atau kerabat yang punya hajat. Ibu-ibu dan para pemudi memasak aneka masakan di dapur. Kaum laki-laki menata meja-kursi tamu, tarub atau menghias ruangan dan dekorasi panggung, membuat kembar-mayang jari janur, membangun kerun atau gapura dari bambu dihiasi dedaunan dan tandan pisang raja. Sebagian bapak-bapak ada yang sibuk menganyam daun kelapa menjadi 'kroso' yang akan dipakai sebagai wadah aneka makanan 'angsul-angsul' bagi para tamu. Ingat, kan?"
"Iya ingatlah, Sa. Itu kan masa kecil kita."
"Tahun 1980an hingga 1990an, bungkus angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'kroso', tetapi diganti dengan 'besek', kotak terbuat dari anyaman bambu buatan para perajin bambu dan bisa dibeli di pasar-pasar."
"Iya bener. Isinya macam-macam. Ada nasi, sayuran, lauk-pauk, dan panganan."
"Nah, sejak awal tahun 2000an, budaya hajatan berbeda jauh. Angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'besek' , tetapi diganti dengan kardus dan isinya hanya satu macam kue. Kardus buatan pabrik lebih murah dan tampilannya keren."
"Iya bener, Sa. Malah oang-orang kaya jaman sekarang tidak lagi melibatkan banyak orang untuk rewangan. Cukup panggil wadding-organizer yang profesional, beres semua."
"Lha iya, Om. Mbok sudah, kalau memang mau irit, Pemilu nanti kembali ke jaman dulu saja, pakai "kroso" atau "besek" untuk bungkus kertas suara....kkkkk."
"Iyaak...mbok jangan ngoyo-woro to, Sa. Kertas suara kok dibungkus 'kroso'. Apa kata dunia?"
"Pengiritan, Om. Pengiritan...."
"Ya gak bisa begitu, Sa. KPU kan harus bisa menjamin penyelenggaraan Pemilu nanti berlangsung aman, jujur, dan adil bagi semua pihak. Jangan disamakan dengan urusan orang punya hajatan."
"Podho waelah, Om. Sama saja."
"Lha kok sama?"
"Walaah Sampeyan ini, lho. Ini kan sama-sama urusan perut. Urusan makan."
"Urusan negara kok urusan makan. Jangan sinislah, Sa...."
"Bukan sinis, Om. Ini kasunyatan."
"Kasunyatan piye?"
"Om, namanya juga pesta. Pestanya orang-orang yang berebut kekuasaan, yang ingin menguasai negara dengan segala kekayaannya. Ujung-ujungnya ya hanya nafsu memenuhi isi perut dan naluri syahwatnya sendiri."
Waktu menunjukkan tepat pukul 23.00 WIB, saatnya kami kembali nyetel TV nonton duel seru Liga Inggris. Ngobrol politik dengan Sasa cuma bikin kepala ngelu, pusing. Mending nonton bola....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar