TEMPE SEMANGIT
'Jindul' tenan Sasa. Ada saja omongannya yang membuat telinga terngiang. Topiknya sering di luar dugaan. Sudut pandangnya unik khas 'wong ndalan'. Diksi Jawanya agak langka dan jarang terdengar. Seperti tadi pagi, Sasa mak-bedunduk sudah duduk di sampingku dan langsung nerocos tentang isu hangat di jagat pertempean.
"Om, ini benar-benar sudah wolak-waliking jaman. Tempe semangit kok harganya bisa jauh lebih mahal dari tempe segar," kata Sasa.
Kupikir tadi pagi Sasa nemani Kang Panut belanja kebutuhan warung di Pasar Gabus, Jatinom. Makanya kubiarkan saja dia neruskan cerita sambil kunikmati soto panas dengan lauk tempe goreng yang masih hangat.
"Tempe bungkus daun pisang harganya Rp 2.500 dapat 11 biji. Setelah digarit-garit, dibumbui, dan digoreng bisa kita jual Rp 500 per biji. Jelas enak dan gurih. Kalau tempe bungkus plastik harganya Rp 2.000, bisa diiris-iris jadi 8 biji."
Kubiarkan Sasa melanjutkan cerita, tidak kurespon apalagi kubantah. Aku tahu dia memang sering ke pasar sehingga infonya soal harga-harga bahan makanan cukup valid.
"Lha kok bisa ada tempe yang sudah tidak segar, sudah semangit, dihargai Rp 80 juta per biji."
"Berapa, Sa?," aku agak kaget.
"Delapan puluh juta rupiah, Om. Katanya ada juga yang 30 juta dan 25 juta."
Aku masih belum paham maksud Sasa. Kupikir dia benar ngomong soal tempe. Di hari pertama usianya, tempe masih segar, enak digoreng atau dibacem, bisa buat lauk atau camilan. Di hari kedua, tempe sudah besem-besem alias semangit, warnanya kuning, dan tidak enak dimakan. Di hari ketiga dan seterusnya, tempe sudah busuk alias tempe bosok, warnanya coklat tua. Tempe bosok sangat enak bila dimasak lethok atau tumpang, atau bisa juga dikeringkan dulu lalu dikukus dan diuleg bersama cabe, bawang, dan garam jadi sambel tempe bosok. Masakan berbahan tempe bosok ini cukup manjur untuk mendongkrak selera makan dan mengobati perut kembung atau seneb.
"Yang harganya puluhan juta tadi tempe apa, Sa?"
"Tempe semangit, Om," jawab Sasa sambil cengengesan. "Tapi yang bikin mahal bungkus dan penjualnya, Om," lanjutnya.
"Maksudmu?"
"Meski sama-sama tempe, Om, tapi kalau tempenya artis harganya bisa mahal banget....kkkkk."
Bajigur....aku baru ngeh, ternyata maksud Sasa dari tadi ngomong soal fenomena artis yang merangkap jadi pelacur dan digrebek polisi belum lama ini. Soal bisnis pelacuran online para artis dengan omset milyaran yang konsumennya para pengusaha, pejabat, dan politisi. Kupikir soal harga dan usia tempe di Pasar Gabus. Terkecoh aku.
Melihatku sudah ngeh dengan maksud omongannya, Sasa pun meninggalkanku dengan gaya kemenangannya...terkekeh-kekeh puas. Sasa kembali ke parkiran. Jinguk tenan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar