MAIN SABUN
Hujan sesiangan belum juga reda. Sebenarnya aku mau
tidur barang sebentar usai sholat ashar tadi. Maklumlah, sejak perjalanan
pulang dari Solo, mata ini sudah tinggal 5 watt, ngantuk luar biasa, mungkin
ketularan teman seperjalanan, istriku, yang tidur dengan nyenyaknya di kursi
samping. Maksud hati mau tidur pun lagi-lagi gagal karena kehadiran Sasa. Dia
datang naik motor butut, pakai jas hujan, celana panjangnya digulung sampai
hampir lutut.
"Pangapunten,
Om, mau nunut ngopi," begitu bahasa Sasa dengan ekspresi wajah tanpa
salah. Aku tahu, dia ke sini bukan hanya ingin ngopi, tapi pasti ada yang mau
diobrolkan, entah apa. Tapi apapun temanya, aku tetap melayaninya dengan
hidmat. Namanya juga sahabat.
Ternyata kali ini Sasa mengawali obrolan dengan cerita
tentang mundurnya Ketua Umum PSSI, tema yang menurutnya sedang hangat si dunia
persepakbolaan Nasional. Tema itu sejauh ini jadi kurang menarik karena selalu
tertutupi berita-berita politik. Aku pun hanya kadang baca judul berita saja, termasuk
judul tentang manufer politisi yang berambisi menjadi Ketum PSSI. Memang, di Tahun
Politik seperti saat ini semua hal termasuk sepakbola tidak lepas dari urusan
politik.
Sasa bercerita lumayan runtut, dari soal budaya suap
di kalangan pemain, para wasit, pengurus klub, dan elit persepakbolaan Nasional.
Konon, Ketum PSSI merasa gagal melakukan perbaikan sehingga memilih mundur dari
posisinya.
"Ternyata selama ini klub-klub sepakbola, para
pemain, dan wasit sudah dikuasi para penjudi, Om. Tidak ada lagi sportivitas.
Main sabun."
"Main sabun, Sa? Maksudnya?"
"Para pemain hanya pura-pura bermain, Om. Mereka tidak
sungguh-sungguh bermain karena sudah disuap oleh para botoh. Mereka disuruh
ngalah."
"Ah mosok begitu, Sa?"
"Wah Njenengan ini kurang tanggap informasi kok,
Om. Itu kan berita hangat dua bulan terakhir ini. Bukan hoax. Para pelaku pengaturan
skor pertandingan sudah ditangkap polisi dan sedang dilakukan penyidikan.
Banyak yang terlibat dan mungkin masih akan bertambah. Ini mafia, Om."
"Jadi di dunia sepakbola juga ada suap ya,
Sa?"
"Iya, Om. Itu yang disebut main sabun."
"Kukira yang dimaksud main sabun itu seperti masa
kecil kita dulu, Sa. Dulu kita suka bermain di Umbul Susuhan, balapan renang, kuat-kuatan
menyelam, atau main sisa-sisa sabun dibikin umpluk
lalu ditiup pakai lingkaran kawat jadi gelembung-gelembung udara."
"Bukan, Om. Beda. Juga beda dengan laki-laki
bujangan yang suka berlama-lama main sabun di kamar mandi, lho....kkkkk. Tapi ini
soal suap di dunia olah raga."
"Kok Eman-eman
ya, Sa."
"Ya memang eman-eman.
Tapi ini ya cuma akibat kok, Om.”
“Akibat apa?”
“ Akibat dari maraknya
korupsi di kalangan para pejabat."
"Apa hubungannya?"
"Ya kalau para pejabat, para politisi, dan para
penegak hukum dari pusat hingga daerah tidak korupsi, pasti suap-menyuap
di dunia sepakbola juga tidak akan terjadi. Maling kabeh kok, Om. Jadinya para
pengurus klub sepakbola, wasit, dan para pemain juga ikut-ikutan pengin cepat
kaya. Para pemain dikasih uang supaya ngalah. Wasitnya dikasih uang supaya
mengatur permainan agar pemenangnya sesuai dengan maunya para botoh. Jadi pemenang
sesungguhnya pertandingan sepakbola adalah para botoh alias penjudi itu, Om."
"Parah ya, Sa. Penonton cuma diapusi."
"Parah banget, Om. Aku jadi semakin pesimis."
"Pesimis piye?
Mbok biasa wae, Sa."
"Menurut panggraitaku,
Om, budaya korupsi dan suap di semua lini akan semakin menjadi-jadi."
"Loh, kok bisa? Apa tandanya?"
"Lha kemarin Pak Presiden sudah mborong sabun
sampai senilai 2 Milyar."
"Hubungannya apa?"
"Sabun itu perlambang,
Om.”
“Iyaak....perlambang apa?”
“Ya perlambang bersih-bersih atau cuci
tangan to, Om.”
“Maksudmu?”
“Terus terang ya, Om,
aku khawatir jangan-jangan sabun sebanyak itu akan dibagikan kepada para
pejabat, politisi, dan penegak hukum supaya rajin-rajin cuci tangan. Dengan
begitu, mereka akan kelihatan bersih. Jadinya orang korupsi akan semakin susah
dilacak, apalagi ditangkap, karena semua tampak bersih."
"Wah ngarang. Mbok
jangan begitu cara melihatnya."
"Lha piye,
Om?"
"Coba berpikir positif, Sa.”
“Bagaimana, Om?”
“Misalnya, Pak
Presiden mau repot-repot datang meninjau usaha rakyatnya yang memproduksi sabun
cair, itu bagus sekali, Sa. Itu namanya turba,
turun ke bawah. Kalau Khalifah Umar bin Khathab dulu melakukan turba ke
rakyatnya yang miskin dengan memanggul gandum. Jamannya sudah beda, maka
caranya juga berbeda, Sa. Beliau tidak memberi ikan, tapi memberi pancing. Beliau nglarisi
usaha rakyat dengan memborong atau memesan produknya dalam jumlah banyak. Sebagai
sesama pelaku usaha kecil, aku salut dan terharu, Sa. Sasa juga harus ingat
bahwa beliau dulu juga pelaku usaha kecil, lho. Makanya beliau punya empati, tahu
susahnya jadi pelaku UMKM, lalu tergerak untuk nglarisi. Ngono lho, Sa."
"Tapi kok belinya sebanyak itu, Om?"
"Lha beliau punya uang, kok. Ya alhamdulillah to,
Sa...."
"Wah enak ya jadi Presiden? Bisa sugih tenan. Makanya banyak orang pengin
bisa dekat dengan Presiden. Tahu gitu aku masuk politik ya, Om, biar bisa kecipratan."
"Wis gak
usah mimpi, Sa. Ayo kita ke masjid dulu...."
Kami pun mengakhiri
obrolan dan menuju masjid. Azan sudah dari tadi, sebentar lagi akan
iqamah. Sing sabar yho, Sa.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar