Kamis, 24 Januari 2019

MAIN SABUN

MAIN SABUN

Hujan sesiangan belum juga reda. Sebenarnya aku mau tidur barang sebentar usai sholat ashar tadi. Maklumlah, sejak perjalanan pulang dari Solo, mata ini sudah tinggal 5 watt, ngantuk luar biasa, mungkin ketularan teman seperjalanan, istriku, yang tidur dengan nyenyaknya di kursi samping. Maksud hati mau tidur pun lagi-lagi gagal karena kehadiran Sasa. Dia datang naik motor butut, pakai jas hujan, celana panjangnya digulung sampai hampir lutut.

"Pangapunten, Om, mau nunut ngopi," begitu bahasa Sasa dengan ekspresi wajah tanpa salah. Aku tahu, dia ke sini bukan hanya ingin ngopi, tapi pasti ada yang mau diobrolkan, entah apa.  Tapi apapun temanya, aku tetap melayaninya dengan hidmat. Namanya juga sahabat.

Ternyata kali ini Sasa mengawali obrolan dengan cerita tentang mundurnya Ketua Umum PSSI, tema yang menurutnya sedang hangat si dunia persepakbolaan Nasional. Tema itu sejauh ini jadi kurang menarik karena selalu tertutupi berita-berita politik. Aku pun hanya kadang baca judul berita saja, termasuk judul tentang manufer politisi yang berambisi menjadi Ketum PSSI. Memang, di Tahun Politik seperti saat ini semua hal termasuk sepakbola tidak lepas dari urusan politik.

Sasa bercerita lumayan runtut, dari soal budaya suap di kalangan pemain, para wasit, pengurus klub, dan elit persepakbolaan Nasional. Konon, Ketum PSSI merasa gagal melakukan perbaikan sehingga memilih mundur dari posisinya.

"Ternyata selama ini klub-klub sepakbola, para pemain, dan wasit sudah dikuasi para penjudi, Om. Tidak ada lagi sportivitas. Main sabun."

"Main sabun, Sa? Maksudnya?"

"Para pemain hanya pura-pura bermain, Om. Mereka tidak sungguh-sungguh bermain karena sudah disuap oleh para botoh. Mereka disuruh ngalah."

"Ah mosok begitu, Sa?"

"Wah Njenengan ini kurang tanggap informasi kok, Om. Itu kan berita hangat dua bulan terakhir ini. Bukan hoax. Para pelaku pengaturan skor pertandingan sudah ditangkap polisi dan sedang dilakukan penyidikan. Banyak yang terlibat dan mungkin masih akan bertambah. Ini mafia, Om."

"Jadi di dunia sepakbola juga ada suap ya, Sa?"
"Iya, Om. Itu yang disebut main sabun."

"Kukira yang dimaksud main sabun itu seperti masa kecil kita dulu, Sa. Dulu kita suka bermain di Umbul Susuhan, balapan renang, kuat-kuatan menyelam, atau main sisa-sisa sabun dibikin umpluk lalu ditiup pakai lingkaran kawat jadi gelembung-gelembung udara."

"Bukan, Om. Beda. Juga beda dengan laki-laki bujangan yang suka berlama-lama main sabun di kamar mandi, lho....kkkkk. Tapi ini soal suap di dunia olah raga."

"Kok Eman-eman ya, Sa."

"Ya memang eman-eman. Tapi ini ya cuma akibat kok, Om.”

“Akibat apa?”

“ Akibat dari maraknya korupsi di kalangan para pejabat."

"Apa hubungannya?"

"Ya kalau para pejabat, para politisi, dan para penegak hukum  dari pusat hingga daerah tidak korupsi, pasti suap-menyuap di dunia sepakbola juga tidak akan terjadi. Maling kabeh kok, Om. Jadinya para pengurus klub sepakbola, wasit, dan para pemain juga ikut-ikutan pengin cepat kaya. Para pemain dikasih uang supaya ngalah. Wasitnya dikasih uang supaya mengatur permainan agar pemenangnya sesuai dengan maunya para botoh. Jadi pemenang sesungguhnya pertandingan sepakbola adalah para botoh alias penjudi itu, Om."

"Parah ya, Sa. Penonton cuma diapusi."

"Parah banget, Om. Aku jadi semakin pesimis."

"Pesimis piye? Mbok biasa wae, Sa."

"Menurut panggraitaku, Om, budaya korupsi dan suap di semua lini akan semakin menjadi-jadi."

"Loh, kok bisa? Apa tandanya?"

"Lha kemarin Pak Presiden sudah mborong sabun sampai senilai 2 Milyar."

"Hubungannya apa?"
"Sabun itu perlambang, Om.”

“Iyaak....perlambang apa?”

“Ya perlambang bersih-bersih atau cuci tangan to, Om.”

“Maksudmu?”

“Terus terang ya, Om, aku khawatir jangan-jangan sabun sebanyak itu akan dibagikan kepada para pejabat, politisi, dan penegak hukum supaya rajin-rajin cuci tangan. Dengan begitu, mereka akan kelihatan bersih. Jadinya orang korupsi akan semakin susah dilacak, apalagi ditangkap, karena semua tampak bersih."

"Wah ngarang. Mbok jangan begitu cara melihatnya."

"Lha piye, Om?"

"Coba berpikir positif, Sa.”

“Bagaimana, Om?”

“Misalnya, Pak Presiden mau repot-repot datang meninjau usaha rakyatnya yang memproduksi sabun cair, itu bagus sekali, Sa. Itu namanya turba, turun ke bawah. Kalau Khalifah Umar bin Khathab dulu melakukan turba ke rakyatnya yang miskin dengan memanggul gandum. Jamannya sudah beda, maka caranya juga berbeda, Sa. Beliau tidak memberi ikan, tapi memberi pancing.  Beliau nglarisi usaha rakyat dengan memborong atau memesan produknya dalam jumlah banyak. Sebagai sesama pelaku usaha kecil, aku salut dan terharu, Sa. Sasa juga harus ingat bahwa beliau dulu juga pelaku usaha kecil, lho. Makanya beliau punya empati, tahu susahnya jadi pelaku UMKM, lalu tergerak untuk nglarisi. Ngono lho, Sa."

"Tapi kok belinya sebanyak itu, Om?"

"Lha beliau punya uang, kok. Ya alhamdulillah to, Sa...."

"Wah enak ya jadi Presiden? Bisa sugih tenan. Makanya banyak orang pengin bisa dekat dengan Presiden. Tahu gitu aku masuk politik ya, Om, biar bisa kecipratan."

"Wis gak usah mimpi, Sa. Ayo kita ke masjid dulu...."

Kami pun mengakhiri obrolan dan menuju masjid. Azan sudah dari tadi, sebentar lagi akan iqamah. Sing sabar yho, Sa.....
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar