Minggu, 03 Februari 2019

JALAN TOL

JALAN TOL

Aku sebenarnya sudah pengin tidur sejak bakda isya' tadi. Badan terasa capek, mata pun ngantuk sekali. Tumben hari Minggu kali ini banyak tamu di rumah kami. Kebetulan memang kebetulan cuaca cerah seharian, tidak hujan. Ada tamu yang berombongan, ada beberapa yang hanya berdua dengan suaminya, ada juga beberapa yang  datang sendirian. Seperti bisanya, ibu-ibu itu mau beli jilbab, mukena travelling, atau busana rancangan istriku, tapi juga ada yang sekadar pengin lihat-lihat produk di showroom kami. Begitulah, karena hari Minggu semua karyawan libur, maka aku dan istriku sendiri yang harus melayani tamu.

Maksud hati mau tidur awal pun gagal total. Sahabatku Sasa datang, katanya mampir dari mijat pelanggan. Melihat kedatangan Pakdhe Sasa, begitu anakku Cahya biasa memanggil sahabat ayahnya, dia pun langsung ke dapur membuat dua gelas kopi kental.

"Ini lho yang namanya anak muda tanggap ing sasmita. Tahu selera Pakdhenya. Makasih ya, Le," kata Sasa memuji anakku yang menyuguhkan kopi.

"Njih, Pakdhe.   Monggo diunjuk,"   jawab Cahya.

"Duduk sini sebentar, Le, Pakdhe mau tanya."

"Tanya apa, Pakdhe?"

"Begini. Kamu kan mahasiswa?"

"Injih, Pakdhe. Pangestunipun."

"Menurutmu, jalan tol Jogja-Solo itu penting apa tidak, Le?"

"Maksud Pakdhe?" Cahya tampak kaget mendapat pertanyaan itu, tapi sengaja kubiarkan saja. Aku sudah hafal dengan kebiasaan Sasa yang suka usil dengan pertanyaan-pertanyaan kritis pada anak muda. Katanya untuk melatih anak-anak muda biar punya kepekaan terhadap lingkungannya, supaya tidak cuek dan asyik dengan urusannya sendiri. Sebenarnya Sasa tidak mesti butuh jawaban, tapi hanya memancing respon, lalu dia sendiri yang akan menjelaskan masalah yang sedang dipikirankannya. 

"Kemarin kan sudah ada berita resmi bahwa jalan tol Jogja-Solo akan segera dibangun, Le. Gambarnya juga sudah ada. Sudah pasti ada 38 Desa yang akan dilewati, dan 300 hektar sawah akan dibebaskan. Bagaimana menurutmu, Le?"

"Wah, bagaimana ya, Pakdhe? Susah menjelaskannya."

"Lha kok susah? Mahasiswa kok...."

"Itu sudah jadi keputusan politik Pemerintah kok, Pakdhe. Rakyat harus menerima, tidak bisa menolak, kecuali dia berani menerima resiko dituduh anti-Pemerintah."

"Ngono yho, Le? Terus soal ratusan lahan sawah yang harus dibebaskan, apa rakyat harus manut juga, Le?"

"Itulah susahnya, Pakdhe."

"Susah bagaimana?"

"Sejak dulu Klaten ini kan dikenal sebagai lumbung pangan karena tanahnya yang subur dan banyak sumber air. Tapi seiring perkembangan jaman, lahan persawahan sudah banyak berkurang karena dibangun perumahan dan pabrik-pabrik. Anak-anak muda seusia saya juga sudah tidak kenal bertani."

"Ya bener itu, Le. Anak jaman sekarang maunya hidup enak, tidak kenal menamam, memupuk, memanen. Tahunya tinggal makan."

"Pakdhe, mestinya jalan tol bisa dibangun di atas jalan negara Jogja-Solo, lho. Tidak perlu mengganggu tanah milik rakyat."

"Jalannya susun gitu, Le?"

"Lha iya, Pakdhe. Itu kan biasa. Insinyur kita juga pinter-pinter, kok. Tapi mereka kan tergantung bosnya. Tapi biasanya bos gak mau repot. Namanya pengusaha, yang penting untungnya banyak, Pakdhe. Kalau bikin jalan susun biayanya bisa lebih mahal."

"Njur pilih ngurug sawah ya, Le?"

"Ya iya, Pakdhe."

"Jinguk tenan ya, Om. Sawah 300 hektar mau diurug jadi jalan tol. Kita akan kehilangan 1.000 ton beras per musim panen. Terus kita mau disuruh beli beras impor. Edyan tenan."

"Le, Pakdhemu Sasa ini dulu biasa nebas padi di sawah-sawah. Jadi sambil merem saja bisa mengkalkulasi hasil panenan dan harga jualnya,"  kucoba memahamkan  anakku.

"Le, nanti kalau kita lewat jalan tol harus bayar, ya?"

"Ya bayar to, Pakdhe, masak gratisan. Dan yang boleh lewat hanya mobil lho, Pakdhe."

 "Jadi nanti aku ini gak boleh lewat ya, Le?"

"Ya boleh saja, kalau Pakdhe naik mobil dan mau bayar."

"Le, kita ini sebaiknya ikut senang atau susah, ya?"

"Mending ikut senang saja, Pakdhe. Bersyukur daerah kita kelihatan maju ada jalan tol."

"Iyak, ikut senang piye to, Cah Bagus? Lha wong jelas tidak bisa ikut menikmati kok, hanya bisa ndomblong menyaksikan kendaraan yang lewat dan tidak akan pernah mampir nyoto. Kubayangkan jalan provinsi kita nanti pasti jadi sepi. Warung-warung juga jadi sepi. Tidak ada lagi mobil-mobil luar kota mampir di Soto Kartongali."

"Ya begitulah, Pakdhe. Memang susah kalau nggagas jalan tol."

"Jadi rasah digagas wae yho, Le."

Waktu semakin larut. Aku yang lebih banyak diam selama ngobrol tadi jadi terasa makin berat di mata. Untunglah Sasa cukup tanggap melihatku beberapa kali nguap sehingga segera pamitan. Entah apa lagi yang dipikirkannya sambil pulang. Mudah-mudahan obrolan dengan anakku tadi bisa mengurangi kegelisahannya.

#serialsasa2019




Tidak ada komentar:

Posting Komentar