JALAN TOL
Aku sebenarnya sudah pengin tidur sejak bakda isya'
tadi. Badan terasa capek, mata pun ngantuk sekali. Tumben hari Minggu kali ini
banyak tamu di rumah kami. Kebetulan memang kebetulan cuaca cerah seharian,
tidak hujan. Ada tamu yang berombongan, ada beberapa yang hanya berdua dengan
suaminya, ada juga beberapa yang datang sendirian. Seperti bisanya,
ibu-ibu itu mau beli jilbab, mukena travelling, atau busana rancangan istriku,
tapi juga ada yang sekadar pengin lihat-lihat produk di showroom kami.
Begitulah, karena hari Minggu semua karyawan libur, maka aku dan istriku
sendiri yang harus melayani tamu.
Maksud hati mau tidur awal pun gagal total. Sahabatku
Sasa datang, katanya mampir dari mijat pelanggan. Melihat kedatangan Pakdhe
Sasa, begitu anakku Cahya biasa memanggil sahabat ayahnya, dia pun langsung ke
dapur membuat dua gelas kopi kental.
"Ini lho yang namanya anak muda tanggap ing sasmita. Tahu
selera Pakdhenya. Makasih ya, Le," kata Sasa memuji anakku yang
menyuguhkan kopi.
"Njih, Pakdhe. Monggo diunjuk,"
jawab Cahya.
"Duduk sini sebentar, Le, Pakdhe mau tanya."
"Tanya apa, Pakdhe?"
"Begini. Kamu kan mahasiswa?"
"Injih, Pakdhe. Pangestunipun."
"Menurutmu, jalan tol Jogja-Solo itu penting apa
tidak, Le?"
"Maksud Pakdhe?" Cahya tampak kaget mendapat
pertanyaan itu, tapi sengaja kubiarkan saja. Aku sudah hafal dengan kebiasaan
Sasa yang suka usil dengan pertanyaan-pertanyaan kritis pada anak muda. Katanya
untuk melatih anak-anak muda biar punya kepekaan terhadap lingkungannya, supaya
tidak cuek dan asyik dengan urusannya sendiri. Sebenarnya Sasa tidak mesti
butuh jawaban, tapi hanya memancing respon, lalu dia sendiri yang akan
menjelaskan masalah yang sedang dipikirankannya.
"Kemarin kan sudah ada berita resmi bahwa jalan
tol Jogja-Solo akan segera dibangun, Le. Gambarnya juga sudah ada. Sudah pasti
ada 38 Desa yang akan dilewati, dan 300 hektar sawah akan dibebaskan. Bagaimana
menurutmu, Le?"
"Wah, bagaimana ya, Pakdhe? Susah menjelaskannya."
"Lha kok susah? Mahasiswa kok...."
"Itu sudah jadi keputusan politik Pemerintah kok,
Pakdhe. Rakyat harus menerima, tidak bisa menolak, kecuali dia berani menerima
resiko dituduh anti-Pemerintah."
"Ngono yho, Le? Terus soal
ratusan lahan sawah yang harus dibebaskan, apa rakyat harus manut juga, Le?"
"Itulah susahnya, Pakdhe."
"Susah bagaimana?"
"Sejak dulu Klaten ini kan dikenal sebagai lumbung
pangan karena tanahnya yang subur dan banyak sumber air. Tapi seiring
perkembangan jaman, lahan persawahan sudah banyak berkurang karena dibangun
perumahan dan pabrik-pabrik. Anak-anak muda seusia saya juga sudah tidak kenal
bertani."
"Ya bener itu, Le. Anak jaman sekarang maunya
hidup enak, tidak kenal menamam, memupuk, memanen. Tahunya tinggal makan."
"Pakdhe, mestinya jalan tol bisa dibangun di atas
jalan negara Jogja-Solo, lho. Tidak perlu mengganggu tanah milik rakyat."
"Jalannya susun gitu, Le?"
"Lha iya, Pakdhe. Itu kan biasa. Insinyur kita
juga pinter-pinter, kok. Tapi mereka kan tergantung bosnya. Tapi biasanya bos
gak mau repot. Namanya pengusaha, yang penting untungnya banyak, Pakdhe. Kalau
bikin jalan susun biayanya bisa lebih mahal."
"Njur pilih ngurug sawah ya,
Le?"
"Ya iya, Pakdhe."
"Jinguk tenan ya, Om.
Sawah 300 hektar mau diurug jadi jalan tol. Kita akan kehilangan 1.000 ton
beras per musim panen. Terus kita mau disuruh beli beras impor. Edyan
tenan."
"Le, Pakdhemu Sasa ini dulu biasa nebas padi
di sawah-sawah. Jadi sambil merem saja bisa mengkalkulasi hasil panenan dan
harga jualnya," kucoba memahamkan anakku.
"Le, nanti kalau kita lewat jalan tol harus
bayar, ya?"
"Ya bayar to, Pakdhe, masak gratisan. Dan yang
boleh lewat hanya mobil lho, Pakdhe."
"Jadi nanti aku ini gak boleh lewat ya,
Le?"
"Ya boleh saja, kalau Pakdhe naik mobil dan mau
bayar."
"Le, kita ini sebaiknya ikut senang atau susah,
ya?"
"Mending ikut senang saja, Pakdhe. Bersyukur
daerah kita kelihatan maju ada jalan tol."
"Iyak, ikut senang piye to, Cah Bagus? Lha wong jelas tidak
bisa ikut menikmati kok, hanya bisa ndomblong menyaksikan
kendaraan yang lewat dan tidak akan pernah mampir nyoto. Kubayangkan jalan
provinsi kita nanti pasti jadi sepi. Warung-warung juga jadi sepi. Tidak ada
lagi mobil-mobil luar kota mampir di Soto Kartongali."
"Ya begitulah, Pakdhe. Memang susah kalau nggagas jalan
tol."
"Jadi rasah digagas wae yho, Le."
Waktu semakin larut.
Aku yang lebih banyak diam selama ngobrol tadi jadi terasa makin berat di mata.
Untunglah Sasa cukup tanggap melihatku beberapa kali nguap sehingga segera
pamitan. Entah apa lagi yang dipikirkannya sambil pulang. Mudah-mudahan obrolan
dengan anakku tadi bisa mengurangi kegelisahannya.
#serialsasa2019
#serialsasa2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar