BERAS BUSUK
Sasa tergopoh-gopoh berlari menyambutku di parkiran
seberang jalan. Karena aku sudah hafal selera parkirnya, maka begitu yakin
posisi parkirku sudah tepat, mesin langsung kumatikan sebelum Sasa
memberi aba-aba. Lalu Sasa mendekatiku.
"Sugeng enjang, Om. Pripun kabaripun?," standar
sapaan Sasa pada pelanggan dengan wajahnya yang open face sambil
tangannya membukakan pintu.
"Alhamdulillah apik, Sa. Waras," jawabku. Sasa pun memanduku
menyebrang jalan yang cukup padat.
Sebagai sesama wong ndeso apalagi
sudah kenal baik, sebenarnya risih juga dilayani seperti itu. Kesannya agak
berlebihan. Tapi ya bagaimana lagi, itu sudah menjadi gaya dan standar
pelayanan Sasa. Dia akan cepat-cepat minta maaf kalau tidak sempat melakukannya
karena kebetulan sedang memandu kendaraan lain, misalnya. Entah siapa yang
mengajarinya, dia selalu berusaha memberikan service exelent bagi
semua pelanggan, baik yang bermobil maupun yang bersepeda motor. Anehnya lagi,
dia kadang menolak dikasih ongkos parkir, bukan hanya dari orang yang sudah
dikenalnya, tapi juga terutama dari orang tua atau ibu-ibu bersepeda motor
dengan anak-anaknya.
Ternyata kali Sasa bukan
hanya memanduku nyebrang jalan, tapi juga memilihkanku tempat duduk yang nyaman
di ruang belakang yang tidak terlalu ramai, bahkan ikut juga duduk di
sampingku. "Pasti mau ngajak ngobrol orang ini," pikirku. Dan
ternyata memang benar.
"Sungguh terlalu ya,
Om. Beras ribuan ton muspra, mubadzir, busuk semua di gudang," Sasa
mulai membuka obrolan.
"Di mana, Sa?"
"Di gudang Bulog, Om?
"Lah kok bisa? Sasa tahu
dari mana?"
"Dari tivi, Om. Konon
ada sekitar 6.000 ton beras busuk mau dilelang."
"Walaah....eman-eman ya. Barang busuk apa laku dijual?" Kupancing Sasa melanjutkan
cerita sambil kunikmati soto dan teh yang sudah tersaji.
"Ya laku tapi murah, Om. Paling cuma buat makanan
ayam. Ini memang sudah kebangetan, Om. Kasihan para petani."
"Siapa yang kebangetan, Sa?"
"Ya pengelola gudang dan atasannya, Om, yang
berwenang mengambil kebijakan soal beras."
"Kok bisa?"
"Ya jelas. Mereka sebenarnya sudah tahu kondisi
beras di semua gudang penyimpanan. Kapan beras masuk gudang, sudah berapa lama
tersimpan, dan kapan harus dikeluarkan atau dijual ke pasar, mereka pasti tahu,
Om."
"Jangan-jangan gak ada catatan, Sa?"
"Tidak mungkin, Om. Pasti tercatat semua. Setiap ada beras datang pasti dicatat oleh
carik gudang."
Aku jadi teringat Sasa memang pernah cerita punya
pengalaman membantu pamannya yang tebasan padi. Tiap hari Sasa
ke sawah-sawah menaksir panenan lalu menawar harga ke pemilik sawah. Bila harga
sudah deal, pamannya membayar DP. Besok pagi-pagi, Sasa
mengerahkan puluhan tenaga untuk memanen dan mengerek. Gabah yang disebut Gabah Kering Panen (GKP) itu kemudian ditimbang
dan dijemur di halaman rumah. Di musim kemarau, proses penjemuran cukup 1-2
hari dan siap digiling. Tapi bila musim penghujan, proses penjemuran bisa berhari-hari.
Gabah yang sudah selesai dijemur disebut Gabah Kering Giling (GKG), ditimbang
lagi, lalu dibawanya ke tempat penggilingan untuk diselep hingga
Pecah Kulit (PK). Beras PK itu kemudian dijualnya ke gudang Bulog.
"Kok bisa sampai busuk ribuan ton ya, Sa?"
"Jelas ada yang salah, Om."
"Salahnya di mana?"
"Tikus-tikus."
"Maksudmu?"
"Dari dulu memang banyak tikus di gudang."
"Kalau cuma tikus kan gampang diatasi, Sa? Bisa
dibasmi dengan obat tikus, misalnya?"
"Iyak Sampeyan ini kok lugu, lucu
tur guoblok.....hahahaa..."
"Wooo...ngece..."
"Om, tikus yang ini
beda. Tidak mempan dengan obat tikus. Diobati dengan KPK saja mereka gak takut
kok."
"Maksudmu, banyak yang bermain di perberasan ini?,"
aku baru ngeh maksud Sasa.
"Ya jelas, Om. Ribuan atau bahkan jutaan karung beras
dibiarkan menumpuk dan ngendon di gudang, tapi dibilang stok
beras menipis. Maka impor beras pun dilakukan oleh para broker untuk memenuhi
kebutuhan pasar. Begitulah kira-kira yang terjadi selama bertahun-tahun. Beras
petani kita Cuma menumpuk dan membusuk di gudang, yang beredar di pasaran beras
impor. Makanya petani kita tetap miskin dan mbrebes mili menangis tiap
hari, sementara petani luar negeri
jadi makmur sentosa.”
“Jadi siapa yang
untung, Sa?
“Para broker, Om.
Mereka untung besar. Sebagian kecil dipyur-pyurke ke
tikus-tikus di gudang, sebagiannya dibagi-bagi ke orang yang layak mendapatkan
bagian, dan sisanya yang lebih besar dinikmatinya sendiri sebagai pedagang."
"Mosok sampai segitunya? Sasa jangan ngarang lho.
Jangan negative-thinking. Hati-hati, Sa. Bisa bahaya."
"Ya kalau Sampeyan tidak
percaya silahkan dibuktikan saja. Silahkan cari informasi selengkap-lengkapnya,
lalu bikin kesimpulan sebaik-baiknya. Paling hasilnya juga sama saja dengan
ceritaku tadi."
Sasa langsung berlari menuju parkiran karena terlihat ada 2-3 mobil mau
merapat. Dengan gayanya yang cekatan, dipandunya setiap kendaraan yang mau
parkir. Aku pun segera menuju kasir, membayar, dan langsung pulang tanpa sempat basa-basi pamitan
dengan Sasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar