Senin, 11 Februari 2019

BERAS BUSUK

BERAS BUSUK

Sasa tergopoh-gopoh berlari menyambutku di parkiran seberang jalan. Karena aku sudah hafal selera parkirnya, maka begitu yakin posisi  parkirku sudah tepat, mesin langsung kumatikan sebelum Sasa memberi aba-aba. Lalu Sasa mendekatiku.

"Sugeng enjang, Om. Pripun kabaripun?," standar sapaan Sasa pada pelanggan dengan wajahnya yang open face sambil tangannya membukakan pintu.

"Alhamdulillah apik, Sa. Waras," jawabku. Sasa pun memanduku menyebrang jalan yang cukup padat.

Sebagai sesama wong ndeso apalagi sudah kenal baik, sebenarnya risih juga dilayani seperti itu. Kesannya agak berlebihan. Tapi ya bagaimana lagi, itu sudah menjadi gaya dan standar pelayanan Sasa. Dia akan cepat-cepat minta maaf kalau tidak sempat melakukannya karena kebetulan sedang memandu kendaraan lain, misalnya. Entah siapa yang mengajarinya, dia selalu berusaha memberikan service exelent bagi semua pelanggan, baik yang bermobil maupun yang bersepeda motor. Anehnya lagi, dia kadang menolak dikasih ongkos parkir, bukan hanya dari orang yang sudah dikenalnya, tapi juga terutama dari orang tua atau ibu-ibu bersepeda motor dengan anak-anaknya.

Ternyata kali Sasa bukan hanya memanduku nyebrang jalan, tapi juga memilihkanku tempat duduk yang nyaman di ruang belakang yang tidak terlalu ramai, bahkan ikut juga duduk di sampingku. "Pasti mau ngajak ngobrol orang ini," pikirku. Dan ternyata memang benar.

"Sungguh terlalu ya, Om. Beras ribuan ton muspra, mubadzir, busuk semua di gudang," Sasa mulai membuka obrolan.

"Di mana, Sa?"

"Di gudang Bulog, Om?

"Lah kok bisa? Sasa tahu dari mana?"

"Dari tivi, Om. Konon ada sekitar 6.000 ton beras busuk mau dilelang."

"Walaah....eman-eman yaBarang busuk apa laku dijual?" Kupancing Sasa melanjutkan cerita sambil kunikmati soto dan teh yang sudah tersaji.
"Ya laku tapi murah, Om. Paling cuma buat makanan ayam. Ini memang sudah kebangetan, Om. Kasihan para petani."

"Siapa yang kebangetan, Sa?"

"Ya pengelola gudang dan atasannya, Om, yang berwenang mengambil kebijakan soal beras."

"Kok bisa?"

"Ya jelas. Mereka sebenarnya sudah tahu kondisi beras di semua gudang penyimpanan. Kapan beras masuk gudang, sudah berapa lama tersimpan, dan kapan harus dikeluarkan atau dijual ke pasar, mereka pasti tahu, Om."

"Jangan-jangan gak ada catatan, Sa?"

"Tidak mungkin, Om. Pasti tercatat semua.  Setiap ada beras datang pasti dicatat oleh carik gudang."

Aku jadi teringat Sasa memang pernah cerita punya pengalaman membantu pamannya yang tebasan padi. Tiap hari Sasa ke sawah-sawah menaksir panenan lalu menawar harga ke pemilik sawah. Bila harga sudah deal, pamannya membayar DP. Besok pagi-pagi, Sasa mengerahkan puluhan tenaga untuk memanen dan mengerek. Gabah yang disebut Gabah Kering Panen (GKP) itu kemudian ditimbang dan dijemur di halaman rumah. Di musim kemarau, proses penjemuran cukup 1-2 hari dan siap digiling. Tapi bila musim penghujan, proses penjemuran bisa berhari-hari. Gabah yang sudah selesai dijemur disebut Gabah Kering Giling (GKG), ditimbang lagi, lalu dibawanya ke tempat penggilingan untuk diselep hingga Pecah Kulit (PK). Beras PK itu kemudian dijualnya ke gudang Bulog.

"Kok bisa sampai busuk ribuan ton ya, Sa?"

"Jelas ada yang salah, Om."

"Salahnya di mana?"

"Tikus-tikus."

"Maksudmu?"

"Dari dulu memang banyak tikus di gudang."
"Kalau cuma tikus kan gampang diatasi, Sa? Bisa dibasmi dengan obat tikus, misalnya?"

"Iyak Sampeyan ini kok lugulucu tur guoblok.....hahahaa..."

"Wooo...ngece..."

"Om, tikus yang ini beda. Tidak mempan dengan obat tikus. Diobati dengan KPK saja mereka gak takut kok."

"Maksudmu, banyak yang bermain di perberasan ini?," aku baru ngeh maksud Sasa.

"Ya jelas, Om. Ribuan atau bahkan jutaan karung beras dibiarkan menumpuk dan ngendon di gudang, tapi dibilang stok beras menipis. Maka impor beras pun dilakukan oleh para broker untuk memenuhi kebutuhan pasar. Begitulah kira-kira yang terjadi selama bertahun-tahun. Beras petani kita Cuma menumpuk dan membusuk di gudang, yang beredar di pasaran beras impor. Makanya petani kita tetap miskin dan mbrebes mili menangis tiap hari,  sementara  petani luar negeri jadi makmur sentosa.”

“Jadi siapa yang untung, Sa?

“Para broker, Om. Mereka untung besar. Sebagian kecil dipyur-pyurke ke tikus-tikus di gudang, sebagiannya dibagi-bagi ke orang yang layak mendapatkan bagian, dan sisanya yang lebih besar dinikmatinya sendiri sebagai pedagang."

"Mosok sampai segitunya? Sasa jangan ngarang lho. Jangan negative-thinking. Hati-hati, Sa. Bisa bahaya."

"Ya kalau Sampeyan tidak percaya silahkan dibuktikan saja. Silahkan cari informasi selengkap-lengkapnya, lalu bikin kesimpulan sebaik-baiknya. Paling hasilnya juga sama saja dengan ceritaku tadi."

Sasa langsung berlari menuju parkiran karena terlihat ada 2-3 mobil mau merapat. Dengan gayanya yang cekatan, dipandunya setiap kendaraan yang mau parkir. Aku pun segera menuju kasir, membayar, dan langsung pulang tanpa sempat basa-basi pamitan dengan Sasa.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar