RESI DORNA
Obrolan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa lalu,
tahun 1970an, masa-masa ketika aku masih SD. Waktu itu, seperti umumya
anak-anak, setiap pertengahan bulan Sura kami nonton wayang kulit di Umbul
Gedaren, Jatinom, satu tradisi tahunan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat
atas melimpahnya sumber air dan sumber penghidupan. Memang, Umbul Gedaren bukan
hanya menjadi sumber irigasi sehingga sawah-sawah menjadi subur sepanjang
tahun, tapi sekaligus juga menjadi pusat
kebudayaan. Di umbul yang airnya bening segar itu orang Gedaren dan sekitarnya biasa
mandi, berenang, dan ciblon. Ibu-ibu
dan remaja putri mencuci pakaian serta tikar dan selimut sambil ngobrol tentang
berbagai hal atau bahkan ngrasani
tetangganya. Sejak pagi hingga senja hari tak pernah sepi. Dulu sepulang
sekolah, anak-anak usia SD biasa beramai-ramai mandi telanjang, belajar
berenang, atau kuat-kuatan menyelam. Bapak-bapak sepulang dari sawah terus leyeh-leyeh
istirahat di bawah pohon asam dan beringin yang rimbun, menunggu kering
keringatnya dulu baru kemudian mandi. Bila sore hari, seorang tukang potong rambut pithingan ngetem di bawah pohon beringin dan
orang-orang pun antri menggunakan jasanya dengan upah Rp 10.
Entah sejak kapan tradisi wayangan di Umbul Gedaren yang
digelar sejak pagi hingga shubuh dini hari itu dimulai. Dari tahun ke tahun dalangnya
sama dan turun-temurun, dari Mbah Ki Kesdik hingga digantikan oleh anaknya, Ki
Kasim, atau bahkan mungkin sekarang sudah ganti cucunya seperti Ki Jawahir.
Lakonnya juga sama, yakni Bharatayuda, biasa kami ucapkan Brontoyuda. Sebagai
anak-anak, tentu kami dulu tak begitu mamahami lakon Brontoyuda itu. Kami hanya
senang ketika menyaksikan peperangan antara Pandawa Lima yang sakti mandraguna
melawan Kurawa yang angkara murka, atau guyonan para Punakwan seperti Semar,
Gareng, Petruk, Bangong, Cangik, dan Limbuk. Perang antara Buto Cakil melawan
Seta di sore hari yang sangat seru juga menjadi favorit kami. Selebihnya, kami suka
menikmati jajanan seperti arum manis, glali, dan sate
setan, yakni sate dari kulit sapi jualan Mbah Soma. Kadang kami juga ikut
berdesakan untuk melihat orang-otang main judi othok dan lotre di halaman rumah penduduk.
"Kahanan sekarang ini jadi
persis menjelang perang Brontoyuda. Om," kata Sasa sambil
menikmati kretek di tangannya.
"Kahanan yang mana? Adhem-ayem begini, kok."
"Adhem-ayem bagaimana to, Om? Sudah ngemar-mari begini,
kok."
Sasa tidak mau menjelaskan lebih detil soal kahanan yang ngemar-mari. Dia
hanya membahas khawatirannya melihat para pendita, ulama, dan kaum cerdik-pandai
seakan sudah ikut bersiap angkat senjata. Mereka setiap hari berdebat soal
remeh-temeh tapi seakan-akan soal prinsip. Mereka memamerkan ilmunya
masing-masing, persis Resi Dorna yang suka memamerkan kesaktiannya. Rakyat pun
jadi terbelah antar yang ikut Resi Dorna dan yang menolaknya. Setiap hari berdebat
dan bertengkar, saling menebar fitnah
dan kabar Hoax.
"Persis watak Resi Dorna, Om."
"Persis piye, Sa? Yang mana?"
"Resi Dorna itu sesungguhnya seorang Pendita atau
cendikiawan yang adiluhung, sakti
mandraguna, dan disegani di seluruh negeri Astinapura. Semua ksatria pun pernah
berguru kepadanya, termasuk jagoan Pandawa seperti Werkudara dan Jannaka."
"Terus...."
"Tapi ternyata Resi Dorna masih kadonyan, Om, masih punya pamrih
duniawi. Dia punya milik, punya keinginan ikut jadi penguasa agar dirinya
dan bala Kurawa bisa kaya-raya seperti Prabu Duryudana.”
“Terus, Sa,” kubiarkan
Sasa meneruskan ceritanya sambil kuingat-ingat sejumlah nama tokoh pewayangan
serta karakternya.
“Dibantu Patih
Sengkuni yang pakarnya fitnah dan adu-domba, Resi Dorna berhasil menciptakan
permusuhan antara bala Kurawa dan Pandawa.”
“Sik, Sa, sebentar. Masalah utamanya apa to, kok Kurawa jadi
bermusuhan dengan Pandawa? Mereka itu kan masih sedulur. Aku benar-bear sudah lupa, Sa.”
“Masalah warisan, Om.
Rebutan lahan.”
“Piye kuwi?”
“Orang-orang Kurawa
tidak rela keluarga Pandu Dewanata mendapatkan bagian tanah dan wilayah yang
sama luasnya. Tidak adil, katanya.”
“Terus...”
“ Nah, di situlah Resi Dorna dan Patih Sengkuni bermain
di air keruh. Mereka memainkan siasat liciknya agar bisa mendapatkan posisi bagus
di jajaran Kurawa. Katanya, Pandawa harus dimusnahkan.”
“Caranya?”
“Resi Dorna berusaha
dengan berbagai cara agar bisa meminjam senjata utama Pandawa, yakni Jamus
Kalimasada, dan memboyong guru spriritualnya, Ki Semar Bodronoyo. Menurutnya, bila
Jamus Kalimasada dan gurunya itu berhasil direbut, maka Pandawa pun akan lemah,
gampang dikalahkan dan dimusnahkan dari muka bumi.”
“Wah...terus, Sa?”
“Maka Resi Dorna pun mendatangi
Pandawa dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan tutur-bahasa yang memelas
dan berbunga-bunga, katanya negeri Astinapura sedang dilanda wabah dan bala-bencana.
Untuk menghentikannya, dia mau meminjam
Jamus Kalimasada dan memboyong Ki Semar
Bodronoyo barang sebentar saja. Saking percayanya para gurunya itu, para
Pandawa pun hampir saja menyerahkan Jamus Kalimasada. Demikian juga Ki Semar
Bodronoyo, dia hampir menuruti keinginan Resi Dorna koleganya itu untuk ikut ke
Astinapura.”
“Terus, Sa?”
“Untung ada anak-anak
Ki Semar yang waskito. Para Punakawan
itu meski hanya rakyat biasa dan selalu diremehkan orang, tapi mereka punya
kepekaan tinggi. Mereka melihat niat busuk Resi Dorna dan Patih Sengkuni.
Gareng, Petruk, dan Bagong marah besar hingga Resi Dorna dan Sengkuni pun lari
tunggang-langgang. ”
“Oooh iya ya....dari kejadian
itu Ki Dorna sakit hati lalu memprovokasi bala Kurawa untuk menyerang Pandawa,
ya. Begitu ya, Sa?”
“Betul, Om. Agak
mirip-mirip dengan situasi sekatang, kan?”
Aku tidak berani merespon
pertanyaan Sasa. Maklum, ini jaman wingit.
Salah omong sedikit saja bisa jadi bencana, kriwikan
dadi grojogan. Aku tidak mau terjebak menilai mana yang Kurawa dan mana
yang Pandawa, apalagi menilai siapa yang mirip-mirip Resni Dorna dan Sengkuni
serta mana yang mirip-mirip Ki Semar Bodronoyo dan Punakawan. Tapi aku suka
kedatangan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa-masa indah dulu ketika belum
ada listrik, ketika televisi masih hitam putih pun masih langka, ketika nonton wayang
menjadi hiburan utama anak-anak desa. Terima kasih ya, Sa. Kapan-kapan dilanjut
ngobrol cerita pewayangan......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar