Senin, 25 Februari 2019

RESI DORNA

RESI DORNA

Obrolan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa lalu, tahun 1970an, masa-masa ketika aku masih SD. Waktu itu, seperti umumya anak-anak, setiap pertengahan bulan Sura kami nonton wayang kulit di Umbul Gedaren, Jatinom, satu tradisi tahunan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas melimpahnya sumber air dan sumber penghidupan. Memang, Umbul Gedaren bukan hanya menjadi sumber irigasi sehingga sawah-sawah menjadi subur sepanjang tahun, tapi sekaligus  juga menjadi pusat kebudayaan. Di umbul yang airnya bening segar itu orang Gedaren dan sekitarnya biasa mandi, berenang, dan ciblon. Ibu-ibu dan remaja putri mencuci pakaian serta tikar dan selimut sambil ngobrol tentang berbagai hal atau bahkan ngrasani tetangganya. Sejak pagi hingga senja hari tak pernah sepi. Dulu sepulang sekolah, anak-anak usia SD biasa beramai-ramai mandi telanjang, belajar berenang, atau kuat-kuatan menyelam. Bapak-bapak sepulang dari sawah terus  leyeh-leyeh istirahat di bawah pohon asam dan beringin yang rimbun, menunggu kering keringatnya dulu baru kemudian mandi. Bila sore hari, seorang tukang  potong rambut pithingan  ngetem di bawah pohon beringin dan orang-orang pun antri menggunakan jasanya dengan upah Rp 10.

Entah sejak kapan tradisi wayangan di Umbul Gedaren yang digelar sejak pagi hingga shubuh dini hari itu dimulai. Dari tahun ke tahun dalangnya sama dan turun-temurun, dari Mbah Ki Kesdik hingga digantikan oleh anaknya, Ki Kasim, atau bahkan mungkin sekarang sudah ganti cucunya seperti Ki Jawahir. Lakonnya juga sama, yakni Bharatayuda, biasa kami ucapkan Brontoyuda. Sebagai anak-anak, tentu kami dulu tak begitu mamahami lakon Brontoyuda itu. Kami hanya senang ketika menyaksikan peperangan antara Pandawa Lima yang sakti mandraguna melawan Kurawa yang angkara murka, atau guyonan para Punakwan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bangong, Cangik, dan Limbuk. Perang antara Buto Cakil melawan Seta di sore hari yang sangat seru juga menjadi favorit kami. Selebihnya, kami suka menikmati jajanan seperti arum manis,  glali, dan sate setan, yakni sate dari kulit sapi jualan Mbah Soma. Kadang kami juga ikut berdesakan untuk melihat orang-otang main judi othok dan lotre di halaman rumah penduduk.

"Kahanan sekarang ini jadi persis menjelang perang Brontoyuda. Om," kata Sasa sambil menikmati kretek di tangannya.

"Kahanan yang mana? Adhem-ayem begini, kok."

"Adhem-ayem bagaimana to, Om? Sudah ngemar-mari begini, kok."

Sasa tidak mau menjelaskan lebih detil soal kahanan yang ngemar-mari. Dia hanya membahas khawatirannya melihat para pendita, ulama, dan kaum cerdik-pandai seakan sudah ikut bersiap angkat senjata. Mereka setiap hari berdebat soal remeh-temeh tapi seakan-akan soal prinsip. Mereka memamerkan ilmunya masing-masing, persis Resi Dorna yang suka memamerkan kesaktiannya. Rakyat pun jadi terbelah antar yang ikut Resi Dorna dan yang menolaknya. Setiap hari berdebat dan bertengkar,  saling menebar fitnah dan kabar Hoax.

"Persis watak Resi Dorna, Om."

"Persis piye, Sa? Yang mana?"

"Resi Dorna itu sesungguhnya seorang Pendita atau cendikiawan  yang adiluhung, sakti mandraguna, dan disegani di seluruh negeri Astinapura. Semua ksatria pun pernah berguru kepadanya, termasuk jagoan Pandawa seperti  Werkudara dan Jannaka."

"Terus...."

"Tapi ternyata Resi Dorna masih kadonyan, Om, masih punya pamrih duniawi. Dia punya milik, punya keinginan ikut jadi penguasa agar dirinya dan bala Kurawa bisa kaya-raya seperti Prabu Duryudana.”

“Terus, Sa,” kubiarkan Sasa meneruskan ceritanya sambil kuingat-ingat sejumlah nama tokoh pewayangan serta karakternya.

“Dibantu Patih Sengkuni yang pakarnya fitnah dan adu-domba, Resi Dorna berhasil menciptakan permusuhan antara bala Kurawa dan Pandawa.”

Sik, Sa, sebentar. Masalah utamanya apa to, kok Kurawa jadi bermusuhan dengan Pandawa? Mereka itu kan masih sedulur. Aku benar-bear sudah lupa, Sa.”

“Masalah warisan, Om. Rebutan lahan.”

Piye kuwi?”

“Orang-orang Kurawa tidak rela keluarga Pandu Dewanata mendapatkan bagian tanah dan wilayah yang sama luasnya. Tidak adil, katanya.”

Terus...”

Nah, di situlah Resi Dorna dan Patih Sengkuni bermain di air keruh. Mereka memainkan siasat liciknya agar bisa mendapatkan posisi bagus di jajaran Kurawa. Katanya, Pandawa harus dimusnahkan.”

“Caranya?”

“Resi Dorna berusaha dengan berbagai cara agar bisa meminjam senjata utama Pandawa, yakni Jamus Kalimasada, dan memboyong guru spriritualnya, Ki Semar Bodronoyo. Menurutnya, bila Jamus Kalimasada dan gurunya itu berhasil direbut, maka Pandawa pun akan lemah, gampang dikalahkan dan dimusnahkan dari muka bumi.”

“Wah...terus, Sa?”

“Maka Resi Dorna pun mendatangi Pandawa dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan tutur-bahasa yang memelas dan berbunga-bunga, katanya negeri Astinapura sedang dilanda wabah dan bala-bencana. Untuk menghentikannya, dia  mau meminjam Jamus Kalimasada  dan memboyong Ki Semar Bodronoyo barang sebentar saja. Saking percayanya para gurunya itu, para Pandawa pun hampir saja menyerahkan Jamus Kalimasada. Demikian juga Ki Semar Bodronoyo, dia hampir menuruti keinginan Resi Dorna koleganya itu untuk ikut ke Astinapura.”

“Terus, Sa?”

“Untung ada anak-anak Ki Semar yang waskito. Para Punakawan itu meski hanya rakyat biasa dan selalu diremehkan orang, tapi mereka punya kepekaan tinggi. Mereka melihat niat busuk Resi Dorna dan Patih Sengkuni. Gareng, Petruk, dan Bagong marah besar hingga Resi Dorna dan Sengkuni pun lari tunggang-langgang. ”

“Oooh iya ya....dari kejadian itu Ki Dorna sakit hati lalu memprovokasi bala Kurawa untuk menyerang Pandawa, ya. Begitu ya, Sa?”

“Betul, Om. Agak mirip-mirip dengan situasi sekatang, kan?”

Aku tidak berani merespon pertanyaan Sasa. Maklum, ini jaman wingit. Salah omong sedikit saja bisa jadi bencana, kriwikan dadi grojogan. Aku tidak mau terjebak menilai mana yang Kurawa dan mana yang Pandawa, apalagi menilai siapa yang mirip-mirip Resni Dorna dan Sengkuni serta mana yang mirip-mirip Ki Semar Bodronoyo dan Punakawan. Tapi aku suka kedatangan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa-masa indah dulu ketika belum ada listrik, ketika televisi masih hitam putih pun masih langka, ketika nonton wayang menjadi hiburan utama anak-anak desa. Terima kasih ya, Sa. Kapan-kapan dilanjut ngobrol cerita pewayangan......









Tidak ada komentar:

Posting Komentar