JAMAN KOPLAK
Selama jadi tukang parkir, baru kali ini Sasa merasa jadi seperti orang pekok, orang bodoh yang serba salah. Sudah berhari-hari dia mengalami kejadian yang sulit dimengerti. Seperti biasa setiap ada kendaraan yang mau masuk atau keluar parkiran, dengan sigap Sasa selalu memandu dan memberi aba-aba demi mejamin keselamatan pengendaranya. Bukan hanya pengendaranya, bahkan keawetan roda dan ban pun masuk dalam perhatiannya. Sopir mobil belum boleh mematikan mesin sebelum roda sudah benar-benar dalam posisi lurus. Sopir dan penumpang belum boleh membuka pintu sebelum keadaan lalu-lintas benar-benar memungkinkan.
Begitulah, Sasa selalu memberi aba-aba dengan totalitas bahasa tubuhnya hingga meliuk-liuk dan membungkuk-bungkuk, dengan teriakan suara keras 'kiri-kanan-lurus-terus', dengan tangannya menuding-nuding mengarahkan sopir ke mana harus memutar setir. Tak pernah ketinggalan pula, sempritan, bendera kecil merah-orange yang sudah kusam serta balok kayu pengganjal ban sebagai property yang melengkapi tugasnya.
"Kahanan kok jadi terasa wingit begini ya, Om," Sasa mengawali.curhatnya.
"Wingit piye?"
"Akhir-akhir ini aku sering dipririki dan diploroki tamu warung, Om."
"Kenapa?"
"Semula aku juga gak paham hingga akhirnya kuberanikan diri tanya ke salah satu orang, apa ada yang salah dengan pelayananku."
"Terus...."
"Jawabnya di luar dugaan."
"Apa jawabnya?"
"Ternyata hanya soal sepele, Om. Hanya soal jari. Jildul tenan kok...."
"Maksudnya?"
"Lha kan aku biasa memberi aba-aba sopir pakai nuding-nudingkan jari telunjuk. Kadang jempol kulipat, kadang juga tidak, dan itu tanpa kusadari."
"Terus..."
"Ternyata jadi masalah, Om. Katanya kalau nuding memberi aba-aba ya harus pakai telunjuk saja, jempol harus ditekuk."
"Terus, Sa?"
"Semula aku juga gak mudheng apa maksudnya. Ternyata oh ternyata...."
"Ternyata apa?"
"Katanya aku harus jelas nuding pakai telunjuk saja atau pakai telunjuk dan jempol. Katanya itu soal keberpihakan. Harus jelas berpihak pada 01 atau 02."
"Soal Pilpres? Walaah Sa....lha kok mesakke temen nasibmu. Jari telunjuk tukang parkir saja ternyata bisa jadi masalah."
"Sudah nasibku kok, Om. Cen wis koplak kabeh. Coba kalau kita pas sholat, apa iya ketika duduk tahiyat kita harus mikir dulu mau nuding pakai telunjuk thok atau telunjuk dan jempol? Biar jelas keberpihakan kita? Kan enggak ya, Om?"
"Iya ya, Sa."
"Rasanya aku jadi seperti orang pekok, Om. Belum kutemukan cara lain memberi aba-aba."
"Slow wae, Sa. Gak usah ikut-ikutan pekok. Kita ini harus tetap kerja seperti biasa. Sasa tetap memberi aba-aba seperti biasanya. Terserah orang mau bilang apa. Rasah digagas," kucoba menenangkan hatinya.
Memang repot. Masyarakat saat ini seakan sudah wajib menegaskan pilihan di antara dua pilihan yang hanya untuk urusan Pilpres. Seakan urusan hidup hanya soal Pilpres dan tidak boleh ada urusan lainnya. Seakan tidak ada lagi urusan ibadah, tidak ada lgi urusan bekerja mencari nafkah halalan-thayiban untuk keluarga, tidak ada lagi urusan membantu tetangga dan kerabat yang punya hajat, tidak ada lagi urusan membesuk orang sakit atau melayat kerabat yang kesripahan, tidak ada lagi tawa dan dendang menghibur teman, tidak ada lagi urusan memberi senyum pada setiap orang.
Inilah jaman koplak, dan Sasa telah menjadi korbannya....
#serialsasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar