Selasa, 05 Februari 2019

TOL LAUT

TOL LAUT

Sasa memang jinguk tenan. Sengaja kali ini aku nyoto Kertongali yang edisi sore biar gak ketemu, lha kok konganan juga. Ketika aku sedang asyik menikmati soto sambil lesehan  membelakangi pintu masuk, makjegagik dia memukul pundakku sambil pringas-pringis. Katanya kebetulan melihat ada mobilku parkir di depan warung. Dan sesuatu yang kukhawatirkan pun terjadi. Sasa bertanya tentang hal yang sungguh tidak kusukai, pertanyaan sensitif yang aku harus hati-hati menjawabnya. Salah sedikit saja bisa jadi masalah, paling tidak akan dibully oleh teman-teman medsos-ku. Ngeri...

Tapi mau bagaimana lagi, namanya dengan sahabat. Aku harus melayaninya dengan baik, tidak boleh mengecewakan sedikitpun, apalagi melukai hatinya. Itu jangan sampai terjadi. Tapi repotnya, aku harus bisa menjawab setiap pertanyaannya dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti, bahasa Sasa, bahasa orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena kahanan. Tapi juga jangan salah, justru sebenarnya aku lebih banyak belajar pada Sasa yang logika dan lontarannya sering di luar dugaan, yang kadang lebih kritis dari pertanyaan ktivis mahasiswa.

"Om, aku masih penasaran soal tol itu," Sasa mengawali terornya.

"Penasaran bagaimana?"

"Tapi ini bukan soal Jalan Tol Jogja-Solo yang kita bicarakan kemarin, lho."

"Lha terus, tol yang mana?"

"Soal Tol Laut, Om."

"Modyaar....," batinku, "Ini tema yang bukan saja aku tidak cukup memahaminya, tapi juga bisa sangat sensitif bila dibicarakan saat ini."

"Kok sudah lama tidak terdengar kabarnya, Om? Sudah sampai di mana tol laut itu?"

"Ya mungkin karena wartawan tidak tertarik meliputnya, Sa. Jadi gak ada yang bikin berita," jawabku datar menyembunyikan kegugupan.

""Tapi itu kan soal besar dan penting, Om."

"Maksudmu?"
"Lha itu kan soal janji kampanye yang harus ditunaikan. Soal jutaan rakyat sudah kadhung percaya dan semua menunggu-nunggu kabarnya. Jan-jane sudah dikerjakan apa belum, to?"

"Wah ya gak tahu, Sa. Mestinya ya sudah, cuma kita saja yang gak dengar kabarnya," aku berusaha tidak terpancing menjelaskannya.

"Lha kok yang diberitakan tiap hari malah proyek jalan tol Jakarta-Surabaya ya, Om? Padahal seingatku itu tidak termasuk janji kampanye, lho."

"Iyak...gayamu, Sa. Paling ingatanmu yang sudah agak soak karena kakehan mangan brutu, jadi pelupa....hahahaa...."

"Jangan ngece, Om. Ingatanku ini masih joss, lho. Aku masih ingat semua janji kampanye orang-orang yang kupilih dalam Pemilu, Pilpres, Pilgub, dan Pilkada."

"Ah tenane, Sa?"

"Bener, Om. Apalagi janji yang baru diucapkan empat tahun  lalu seperti Tol Laut itu,  rasanya baru kemarin sore. Orang seperti Sampeyan ini mungkin malah sudah lupa karena terlalu banyak pikiran, tidak titen, lalen, atau pura-pura lupa karena punya kepentingan."

"Lha kok?

"Lha iya. Orang seperti Sampeyan ini paling yang dipikir cuma bagaimana caranya bisa dapat proyek dan ikut pesta-pora kembul-bujana. Kalau misalnya jadi pegawai, pasti juga manut-manut saja sama atasan. Disuruh bialng A ya bilang A, disuruh bilang B ya bilang B. Karena punya kepentingan, Om. Makanya hal-hal penting yang seharusnya diingat baik-baik pun dilupakan. Iya to, Om?"

Jindul Sasa ini. Untung aku tadi cuma sendirian gak ngajak anakku. Kalau ada anakku, pasti Sasa sudah ditonyo ndhase karena berani ngece ayahnya. Memang terasa makjleb omongannya tadi. Seolah-olah aku ini orang oportunis, orang yang suka bermanis-manis dan ndlosor-ndlosor pada atasan atau pejabat demi mendapatkan proyek. Tidak, Sa. Kali ini Sasa salah sangka. Banyak orang yang masih waras, yang masih punya idealisme, yang tidak gampang goyah pendiriannya karena diiming-imingi sepotong roti atau segepok uang. Masih banyak orang yang jernih hati dan pikirannya, yang tidak buram panglihatannya karena rupiah atau dolar. Ah, nggagas Sasa bisa bikin bludreg. Biarkan saja dia tetap begitu, tetap galau dan gelisah melihat perubahan jaman yang makin susah dipahaminya.
"Aku pulang dulu ya, Sa. Wislah...gak usah nggagas soal Tol Laut. Kan gak ada juga hubungannya denganmu. Atau Sasa mau ganti profesi jadi tukang parkir kapal di PelabuhanTanjung Emas atau Tanjung Perak? Tidak, kan?”

“Ya tidak, Om.”

“Makanya, Sa. Gak usah neka-neka. Katanya harus setia dengan pekerjaan?”

“Iya, Om.”

“Kukasih tahu ya, Sa, markir kapal itu susah banget. Lebih gampang ngatur parkir mobil dan motor di warung Soto Kartongali. Tenan, Sa..."

"Oh injih, Om. Siaapp....."





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar