TOL LAUT
Sasa memang jinguk tenan. Sengaja
kali ini aku nyoto Kertongali yang edisi sore biar gak ketemu, lha kok konganan
juga. Ketika aku sedang asyik menikmati soto sambil lesehan membelakangi
pintu masuk, makjegagik dia memukul pundakku sambil pringas-pringis.
Katanya kebetulan melihat ada mobilku parkir di depan warung. Dan sesuatu yang
kukhawatirkan pun terjadi. Sasa bertanya tentang hal yang sungguh tidak
kusukai, pertanyaan sensitif yang aku harus hati-hati menjawabnya. Salah
sedikit saja bisa jadi masalah, paling tidak akan dibully oleh teman-teman
medsos-ku. Ngeri...
Tapi mau bagaimana lagi, namanya dengan sahabat. Aku
harus melayaninya dengan baik, tidak boleh mengecewakan sedikitpun, apalagi
melukai hatinya. Itu jangan sampai terjadi. Tapi repotnya, aku harus bisa
menjawab setiap pertanyaannya dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti,
bahasa Sasa, bahasa orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena kahanan. Tapi juga jangan salah, justru
sebenarnya aku lebih banyak belajar pada Sasa yang logika dan lontarannya
sering di luar dugaan, yang kadang lebih kritis dari pertanyaan ktivis
mahasiswa.
"Om, aku masih penasaran soal tol itu," Sasa
mengawali terornya.
"Penasaran bagaimana?"
"Tapi ini bukan soal Jalan Tol Jogja-Solo yang
kita bicarakan kemarin, lho."
"Lha terus, tol yang mana?"
"Soal Tol Laut, Om."
"Modyaar....," batinku, "Ini tema yang
bukan saja aku tidak cukup memahaminya, tapi juga bisa sangat sensitif bila dibicarakan
saat ini."
"Kok sudah lama tidak terdengar kabarnya, Om?
Sudah sampai di mana tol laut itu?"
"Ya mungkin karena wartawan tidak tertarik
meliputnya, Sa. Jadi gak ada yang bikin berita," jawabku datar menyembunyikan
kegugupan.
""Tapi itu kan soal besar dan penting,
Om."
"Maksudmu?"
"Lha itu kan soal janji kampanye yang harus
ditunaikan. Soal jutaan rakyat sudah kadhung percaya dan semua
menunggu-nunggu kabarnya. Jan-jane sudah dikerjakan apa belum,
to?"
"Wah ya gak tahu, Sa. Mestinya ya sudah, cuma
kita saja yang gak dengar kabarnya," aku berusaha tidak terpancing
menjelaskannya.
"Lha kok yang diberitakan tiap hari malah proyek
jalan tol Jakarta-Surabaya ya, Om? Padahal seingatku itu tidak termasuk janji
kampanye, lho."
"Iyak...gayamu, Sa. Paling ingatanmu yang sudah
agak soak karena kakehan mangan brutu, jadi pelupa....hahahaa...."
"Jangan ngece, Om. Ingatanku ini
masih joss, lho. Aku masih ingat semua janji kampanye orang-orang yang kupilih
dalam Pemilu, Pilpres, Pilgub, dan Pilkada."
"Ah tenane, Sa?"
"Bener,
Om. Apalagi janji yang baru diucapkan empat tahun lalu seperti Tol Laut
itu, rasanya baru kemarin sore. Orang seperti Sampeyan ini mungkin malah
sudah lupa karena terlalu banyak pikiran,
tidak titen, lalen, atau pura-pura lupa karena punya
kepentingan."
"Lha kok?
"Lha iya. Orang seperti Sampeyan ini paling yang
dipikir cuma bagaimana caranya bisa dapat proyek dan ikut pesta-pora kembul-bujana.
Kalau misalnya jadi pegawai, pasti juga manut-manut saja sama atasan. Disuruh
bialng A ya bilang A, disuruh bilang B ya bilang B. Karena punya kepentingan, Om.
Makanya hal-hal penting yang seharusnya diingat baik-baik pun dilupakan. Iya
to, Om?"
Jindul Sasa ini. Untung
aku tadi cuma sendirian gak ngajak anakku. Kalau ada anakku, pasti Sasa sudah ditonyo
ndhase karena berani ngece ayahnya. Memang
terasa makjleb omongannya tadi. Seolah-olah aku ini orang
oportunis, orang yang suka bermanis-manis dan ndlosor-ndlosor pada
atasan atau pejabat demi mendapatkan proyek. Tidak, Sa. Kali ini Sasa salah
sangka. Banyak orang yang masih waras, yang masih punya idealisme,
yang tidak gampang goyah pendiriannya karena diiming-imingi sepotong
roti atau segepok uang. Masih banyak orang yang jernih hati dan pikirannya,
yang tidak buram panglihatannya karena rupiah atau dolar. Ah, nggagas Sasa bisa bikin bludreg. Biarkan saja dia tetap begitu, tetap galau dan gelisah
melihat perubahan jaman yang makin susah dipahaminya.
"Aku pulang dulu ya, Sa. Wislah...gak
usah nggagas soal Tol
Laut. Kan gak ada juga hubungannya denganmu. Atau Sasa mau ganti profesi jadi
tukang parkir kapal di PelabuhanTanjung Emas atau Tanjung Perak? Tidak, kan?”
“Ya tidak, Om.”
“Makanya, Sa. Gak usah
neka-neka. Katanya harus setia dengan
pekerjaan?”
“Iya, Om.”
“Kukasih tahu ya, Sa, markir
kapal itu susah banget. Lebih gampang ngatur parkir mobil dan motor di warung Soto
Kartongali. Tenan, Sa..."
"Oh injih,
Om. Siaapp....."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar