Jumat, 22 Februari 2019

AMPLOP

AMPLOP

Hujan masih cukup deras ketika aku sampai di rumah tadi sore. Perjalanan Jogja-Klaten kali ini terasa melelahkan. Jalanan padat merayap, ditambah air meluap di beberapa titik menyebabkan banyak kendaraan macet. Pada kondisi seperti ini hanya satu keinginanku: segera sampai di rumah dan langsung ngglethak tidur barang sebentar.

Tapi keinginanku untuk istirahat ternyata harus batal demi hukum. Kulihat Sasa sahabatku sudah duduk tercogok di kursi depan bersama gelas kopi yang tinggal ampasnya. Rupanya sudah lama dia di sana. Katanya karena hujan deras, dia jadi kepater harus nunggu reda meski aku gak ada.

Setelah menyapa istriku dan order kopi, aku pun kembali ke depan nemani Sasa. Rasa kantuk dan capek pun kutahan serapi-rapinya.

"Piye kabamu, Sa?"

"Ya begini ini, Om. Sehat, alhamdulillah."

"Keluarga juga sehat semua?"

"Pangestunipun, Om. Semua sehat."

"Monggo ngopi lagi, Mas Sasa.. Nemani ayah " kata istriku sambil menaruh nampan dengan dua gelas kopi di atasnya.

"Waduh aku jadi ngrepoti ya, Mbak," jawab Sasa terkesan basa-basi.

"Ya enggaklah, Mas. Cuma kopi kok. Monggo diunjuk mumpung masih panas." Istriku kembali masuk rumah. Kami pun langsung menuangkan kopi ke lepek masing-masing, menunggu beberapa saat, lalu meminumnya dengan sepenuh kenikmatan.

"Wah edan tenan kok, Om," kata Sasa sambil meletakkan lepeknya. "Pemilu kali ini tampaknya masih sama dengan yang dulu. Hasilnya nanti juga tidak akan lebih baik."

"Kok bisa punya kesimpulan begitu?"

Sasa pun bercerita bahwa kemarin didatangi temannya yang Timses caleg dan minta supaya Sasa bersedia jadi Korlap di desanya. Tugas Korlap mendata calon pemilih yang sudah positif mau memilih nama caleg itu. Data berisi nama dan fotocopy KTP harus diserahkan ke Timses paling lambat akhir bulan ini. Selanjutnya, Timses akan memverifikasi data untuk memastikan kejujuran Korlap. Bila data sudah dianggap valid, maka selanjutnya Sasa harus mengamankan potensi suara itu dan mengawal mereka ke TPS di hari-H Pemilu nanti. Sebelum hari-H, setiap calon pemilih akan diberi amlop berisi uang lima puluh ribuan.

"Duit untuk operasional Korlap lumayan lho, Om."

"Sasa nerima lamaran itu?"

"Ya enggaklah, Om. Gak mau aku. Sudah kapok."

"Kalau Sasa gak mau, mereka pasti akan mencari orang lain yang mau, lho."

"Ya gak apa-apa, Om. Tapi aku gak ikut-iku. Ora melu-melu wong pekok."

"Pekok piye to, Sa?"

"Kalau orang dibohongi terus, kapusan terus, tapi tidak kapok-kapok juga, itu namanya apa kalau bukan pekok?"

"Sa, rakyat kan perlu melihat bahwa caleg yang akan dipilihnya nanti memang sungguh-sungguh ingin menjadi wakilnya? Maka caleg pun berupaya menunjukkan kesungguhannya dengan cara nyediakan amplop sebanyak-banyaknya, paling tidak sejumlah calon pemilih yang sudah didata oleh Timses dan Korlapnya."

"Om Om....Sampeyan ini pripun, to? Cara itu kan sudah terjadi setiap Pemilu. Hasilnya bagaimana? Mereka gak mau mikir urusan dan nasib rakyat. Maunya cuma kembul-bujana, pesta setiap hari, kongkalingkong dengan Pemerintah yang mestinya diawasi caranya mengelola negara. Tapi tidak, kan? Kalau pun melihat ada penyimpangan, mereka malah minta bagian dan siap mengamankan proyek. Iya kan, Om?"

"Mbok jangan pesimis begitu, Sa?"

"Ini bukan pesimis, Om. Ini fakta."

"Kok fakta?"

"Lha nyatanya setiap hari ada saja pejabat dan wakil rakyat ditangkap KPK. Iya, to?"

"Ya makanya Pemilu nanti menjadi momentum rakyat memperbaiki keadaan. Optimis, Sa."

"Penginku juga optimis, Om. Sayangnya aku ini bukan tokoh, bukan siapa-siapa."

"Maksudmu?"

"Kalau aku ini tokoh masyarakat, Om, caleg-caleg itu akan kuundang kumpul bersama masyarakat. Para caleg kita persilakan menyampaikan gagasan dan rencana yang akan dilakukannya bila sudah duduk di kursi dewan."

"Wah apik gagasanmu, Sa. Terus?

"Mereka harus kita tanyai sikapnya terhadap hal-hal yang terkait nasib rakyat dan masa depan bangsa."

"Contohnya, Sa?"

"Misalnya tentang rencana jalan tol Jogja-Solo, Om. Akan kita lihat apakah mereka akan manthuk-manthuk setuju saja bila pembangunan tol nanti menggusur 300 hektar lahan sawah subur di Kab. Klaten? Atau mereka punya keberanian untuk meninjau ulang dan punya solusi yang lebih baik?"

"Terus, Sa?"

"Lha wong sudah jelas tol nanti hanya akan merugikan ekonomi warga Klaten. Kita akan kehilangan 300 hektar sawah, kita akan kerepotan karena wilayah jadi terbelah ada etan dalan - kulon dalan, juga tidak ada lagi mobil luar kota mampir jajan atau belanja ke warung dan toko warga kita. Toko dan warung-warung warga jadi sepi, lalu gulung tikar. Mestinya para caleg dari sekarang sudah paham soal itu. Kalau cuma mau mbebek ya gak usah jadi caleg saja."

"Terus, Sa?"

"Di forum itu para caleg akan kita taker wareg, Om, kita pastikan mana yang benar-benar layak jadi wakil rakyat dan mana yang tidak layak. Yang memang layak akan kita bantu mencari suara agar bisa benar-benar terpilih dan dilantik. Dengan begitu, mereka tidak perlu nyiapkan amplop-amplop sogokan dengan cara hutang atau menggadaikan tanah warisan, Om."

"Berat, Sa. Berat pikiranmu. Tangeh lamun."

"Memang berat, Om. Makanya  aku jadi pesimis dengan hasil pemilu nanti. Lha wong rakyatnya juga pekok, mau disogok amplop nyeket-ewu untuk lima tahun nasibnya."

Hujan sudah reda. Candhik ayu mulai menghiasi langit senja. Sasa pun pamitan sebelum adzan maghrib mulai terdengar.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar