Kamis, 14 Februari 2019

AVTUR

AVTUR

"Om, bensin untuk pesawat itu namanya apa?," begitu pertanyaan Sasa mengawali obrolan siang ini selepas Jumatan. Aku tidak kaget, cuma heran, ada urusan apa Sasa dengan bahan bakar pesawat? Mungkin tadi nyimak berita pagi di tivi.

"Apa namanya ya, Sa? Lupa aku," jawabku menggoda, "Jarang naik pesawat."

"Ur ur gitu kok, Om. Fatkur, bukan. Maskur, bukan. Kapur, juga bukan. Apa, ya?"

"Ooh...mungkin avtur, Sa"

"Ya betul, Om. Avtur."

"Memang ada cerita apa soal avtur?

"Tadi pagi ada rombongan naik mobil plat-B, katanya dari Jakarta mau ke Cawas, mampir sarapan soto dulu. Kayaknya orang-orang politik, Om."

"Terus?"

"Kutanya kok gak naik pesawat saja biar lebih cepat dan nyaman, tidak capek? Katanya tiket pesawat sekarang mahal, Om. Tarif bagasi juga mahal banget."

"Kabarnya memang begitu, Sa. Terus, Sa?"

"Katanya tiket pesawat jadi mahal gara-gara harga avturnya mahal, Om. Tapi kalau dugaanku, paling-paling  karena ada permainan dari pelaku bisnis minyak."

"Maksudmu piye kuwi?"

"Piye ya, Om? Aku ini ya cuma niteni kok."

"Niteni piye!"

"Sekedar menghafal hubungan kejadian satu dengan kejadian lainnya."

"Contone piye, Sa?"

"Begini, Om, Sampeyan tentu masih ingat beberap rahun lalu rakyat dipaksa oleh Pemerintah supaya memasak pakai gas elpiji? Tidak ada lagi minyak tanah di pasaran. Katanya itu untuk mengurangi anggaran subsidi. Semua orang memasak harus pakai elpiji. Kayu bakar pun akhirnya juga ditinggalkan. Dan sekarang semua orang pakai elpiji, Om."
"Ya masih ingat. Kan belum lama. Dan itu bagus, Sa. Dapur kita jadi lebih bersih, tidak ada lagi langes dan abu kayu bakar. Tidak ada lagi bokong kwali atau kendhil yang ireng-njanges."

"Memang iya, Om. Tapi bukan itu maksudku."

"Maksudmu piye?"

"Dulu katanya minyak tanah akan diproses menjadi avtur agar harga jualnya tinggi sehingga Pertamina dapat berjaya di pasar global. Rakyat pun senang dikasih kompor dan tabung gas melon gratis."

"Lha iya. Terus...."

"Kira2 siapa yang diuntungkan, Om?"

"Siapa, Sa?"

"Ya jelas yang punya pabrik tabung to, Om. Dalam tempo singkat produknya dibeli Pertamina, kok. Iya, to? Entah siapa yang punya pabrik tabung, tapi pintar betul dia bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."

"Namanya orang bisnis memang harus pandai menciptakan peluang kok, Sa."

"Iya ya, Om. Tapi hebatnya dia bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah itu lho. Edan tenan kok. Gumun aku."

"Yho rasah gumun. Terus apa hubungannya dengan niteni tadi?"

"Om, selama ini penjualan avtur di semua bandara hanya ditangani Pertamina, kan?"

"Iya benar. Itu memang salah satu tugas Pertamina sebagai perusahaan milik negara."

"Setelah kejadian tiket pesawat mahal ini akan ada pemain baru, pihak swasta, yang  menangani penjualan avtur. Lihat saja, Om."

"Wah.. ngono yho, Sa? Tapi mungkin juga itu,"

"Lihat saja, Om, nanti akan ada kebijakan baru dan perubahan peratusan soal distribusi avtur dulu, sambil si-pemain baru menyiapkan diri. Pemain baru itulah yang akan mendapatkan keuntungan besar dan jangka panjang. Tapi sekali lagi, saya ini cuma niteni dan othak-athik gathuk lho."
Edan.... Ilmu titen Sasa memang nggegirisi. Harus kuakui, pikiran dan imajinasiku selama ini belum sejauh itu, gak sampai ke sana. Untung punya sahabat Sasa, wong gemblung dari Jolotundo. Aku bisa banyak belajar darinya. Kubayangkan seandainya Sasa dulu terjun ke dunia bisnis, mungkin bisa sekelas almarhum Bob Sadino yang nyentrik, cerdas, bersahaja, dan sukses.

#serialsasa







Tidak ada komentar:

Posting Komentar