AVTUR
"Om, bensin untuk pesawat
itu namanya apa?," begitu pertanyaan Sasa mengawali obrolan siang ini
selepas Jumatan. Aku tidak kaget, cuma heran, ada urusan apa Sasa dengan bahan
bakar pesawat? Mungkin tadi nyimak berita pagi di tivi.
"Apa namanya ya, Sa? Lupa
aku," jawabku menggoda, "Jarang naik pesawat."
"Ur ur gitu kok, Om. Fatkur,
bukan. Maskur, bukan. Kapur, juga bukan. Apa, ya?"
"Ooh...mungkin avtur,
Sa"
"Ya betul, Om.
Avtur."
"Memang ada cerita apa
soal avtur?
"Tadi pagi ada rombongan
naik mobil plat-B, katanya dari Jakarta mau ke Cawas, mampir sarapan soto dulu.
Kayaknya orang-orang politik, Om."
"Terus?"
"Kutanya kok gak naik
pesawat saja biar lebih cepat dan nyaman, tidak capek? Katanya tiket pesawat
sekarang mahal, Om. Tarif bagasi juga mahal banget."
"Kabarnya memang begitu,
Sa. Terus, Sa?"
"Katanya tiket pesawat
jadi mahal gara-gara harga avturnya mahal, Om. Tapi kalau dugaanku, paling-paling
karena ada permainan dari pelaku bisnis minyak."
"Maksudmu piye kuwi?"
"Piye ya, Om?
Aku ini ya cuma niteni kok."
"Niteni piye!"
"Sekedar menghafal
hubungan kejadian satu dengan kejadian lainnya."
"Contone piye, Sa?"
"Begini, Om, Sampeyan
tentu masih ingat beberap rahun lalu rakyat dipaksa oleh Pemerintah supaya
memasak pakai gas elpiji? Tidak ada lagi minyak tanah di pasaran. Katanya itu untuk
mengurangi anggaran subsidi. Semua orang memasak harus pakai elpiji. Kayu bakar
pun akhirnya juga ditinggalkan. Dan sekarang semua orang pakai elpiji, Om."
"Ya masih ingat. Kan belum
lama. Dan itu bagus, Sa. Dapur kita jadi lebih bersih, tidak ada lagi langes dan
abu kayu bakar. Tidak ada lagi bokong kwali atau kendhil yang ireng-njanges."
"Memang iya, Om. Tapi
bukan itu maksudku."
"Maksudmu piye?"
"Dulu katanya minyak tanah
akan diproses menjadi avtur agar harga jualnya tinggi sehingga Pertamina dapat berjaya
di pasar global. Rakyat pun senang dikasih kompor dan tabung gas melon
gratis."
"Lha iya. Terus...."
"Kira2 siapa yang
diuntungkan, Om?"
"Siapa, Sa?"
"Ya jelas yang punya
pabrik tabung to, Om. Dalam tempo singkat produknya dibeli Pertamina, kok. Iya,
to? Entah siapa yang punya pabrik tabung, tapi pintar betul dia bisa
mempengaruhi kebijakan Pemerintah."
"Namanya orang bisnis
memang harus pandai menciptakan peluang kok, Sa."
"Iya ya, Om. Tapi hebatnya
dia bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah itu lho. Edan tenan
kok. Gumun aku."
"Yho rasah gumun. Terus apa hubungannya dengan niteni tadi?"
"Om, selama ini penjualan
avtur di semua bandara hanya ditangani Pertamina, kan?"
"Iya benar. Itu memang salah
satu tugas Pertamina sebagai perusahaan milik negara."
"Setelah kejadian tiket
pesawat mahal ini akan ada pemain baru, pihak swasta, yang menangani
penjualan avtur. Lihat saja, Om."
"Wah.. ngono yho, Sa?
Tapi mungkin juga itu,"
"Lihat saja, Om, nanti
akan ada kebijakan baru dan perubahan peratusan soal distribusi avtur dulu,
sambil si-pemain baru menyiapkan diri. Pemain baru itulah yang akan mendapatkan
keuntungan besar dan jangka panjang. Tapi sekali lagi, saya ini cuma niteni dan othak-athik gathuk lho."
Edan.... Ilmu titen Sasa
memang nggegirisi. Harus kuakui, pikiran dan imajinasiku
selama ini belum sejauh itu, gak sampai ke sana. Untung punya sahabat
Sasa, wong gemblung dari Jolotundo. Aku bisa banyak
belajar darinya. Kubayangkan seandainya Sasa dulu terjun ke dunia bisnis,
mungkin bisa sekelas almarhum Bob Sadino yang nyentrik, cerdas, bersahaja, dan
sukses.
#serialsasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar