Sabtu, 30 Maret 2019

MUSIM KOCLOK

MUSIM KOCLOK

"Musim Koclok sudah mulai lagi ya, Om," kata Sasa sambil membersihkan meja di depanku. Mangkok dan gelas-gelas kotor dibawanya ke dapur, lalu meja dilap pakai serbet hingga bersih. Itu akting Sasa bila ingin ngajak ngobrol atau curhat tentang apa saja yang sedang digelisahkannya.

"Yang koclok siapa, Sa?"

"Banyak, Om. Politisi dan pejabat, lalu semua rakyat kecuali yang masih waras jadi ikut koclok kabeh."

"Kok sinis to, Sa?"

"Bukan sinis, Om. Ini fakta."

"Fakta apa fiktif?"

"Ah mosok Sampeyan gak merasa terganggu tiap hari melihat wewe gombel di sepanjang jalan?"

"Memangnya sekarang masih ada wewe gombel?"

Aku belum paham ke mana arah bicara Sasa. Seingatku, wewe gombel adalah nama satu jenis hantu yang tinggal di dahan pohon-pohon besar. Hantu itu sukanya menculik anak-anak yang tidak mau ke mesjid atau masuk rumah di waktu surup/maghrib. Ciri pohon yang ada wewe gombel-nya itu bila ada gombal atau pakaian bekas tercantel di dahan. Konon itulah pakaian wewe gombel.

"Wewe gombel jaman sekarang cantik-cantik dan cakep-cakep ya, Om."

"Maksudmu?"

"Kalau dulu tinggalnya di dahan-dahan pohon besar, sekarang berani nempel di batang pepohonan, 1-2 meter di atas tanah."

"Sa, mbok kalau ngomong yang jelas, to."

"Ada banyak cara orang menjajakan diri, Om. Ada yang dengan cara sering tampil di tivi atau koran, tapi itu mahal biayanya. Kalau pas musim koclok seperti sekarang ini, orang cari cara yang lebih murah. Mereka cukup memajang foto-fotonya di pinggir jalan memakai tiang dari bambu, tapi banyak juga  yang memakunya di batang-batang pohon."

"Walaah... jebul maksudmu dari tadi ngomongkan poster caleg dan capres, to? Jindul ik...."

"Lha iya, Om. Lha wong mau minta dipilih jadi wakil rakyat dan jadi penguasa kok malah merusak dan mengotori lingkungan. Awur-awuran. Pohon-pohon mahoni ditanam biar jalan jadi teduh kok dianiaya, dipakoni. Koclok tenan."

"Iya ya, Sa."

"Rakyat yang mau milih juga banyak yang ikut jadi koclok."

"Ikut koclok bagaimana?"

Sasa pun menceritakan kejadian sepanjang hari tadi. Ratusan anak muda berkaos pasangan capres atau parpol naik motor blong-blongan, saringan knalpotnya dibuka bahkan ada yang diganti kaleng biskuit bekas sehingga suaranya sangat memekakkan telinga. Mereka wira-wiri sejak pagi hingga petang, tampak sengaja minta perhatian. Naifnya lagi, telinganya sendiri ditutup dengan kapas supaya tidak bising. "Koclok kabeh," kata Sasa tampak kesal. Lanjutnya, "Kampanye kok nggilani. Apa gak punya cara yang lebih simpatik ya, Om?"

"Halaah.... Sasa dulu juga seperti itu, to?"

"Hahahaa....itu dulu, Om. Sekarang sudah tobat. Wis kapok."

"Lha terus bagaimana, Sa? Mereka tahunya kampanye ya seperti itu, persis seperti yang sejak dulu dilakukan orang setiap musim kampanye."

"Jadi musim koclok. Tidak cerdas. Padahal mereka cuma dikasih uang bensin oleh para caleg, Om. Ada juga yang dikasih minum ciu sebelum berangkat."

"Ah mosok to, Sa?"

"Dibilangi kok gak percaya. Supaya mereka lebih berani, lebih cong, dan tidak cepat capek, Om."

"Calegnya ikut ngawal gak ya, Sa?"

"Ya tidak, Om. Beda maqom. Biasanya caleg naik mobil langsung ke lokasi acara untuk gabung sesama caleg dan ketemu tokoh atau jurkam Nasional yang datang."

"Ngono yho, Sa?"

"Sebenarnya kasihan caleg-caleg itu, Om."

"Kok kasihan?"

"Baiya kampanyenya mahal. Berbulan-bulan mereka gerilya dari kampung ke kampung dan desa ke desa, menemui masyarakat, tentu saja tidak dengan tangan kosong."

"Maksudnya?"
"Biasanya caleg yang membiayai makan-minum dan membagikan amplop nyeket ewu untuk semua nyang datang Om. Belum lagi di rumahnya harus nyiapkan makanan, minuman, dan rokok untuk para kader yang bergantian datang setiap saat, selama berbulan-bulan."

"Wah begitu ya, Sa? Mesakke, yho...."

"Yang lebih berat lagi, Om, caleg-caleg itu masih harus nyiapkan amplop lagi sejumlah calon pemilihnya di hari-H nanti. Kalau mau cari suara 5 ribu, misalnya, amplop yang disipkan bisa sampai 10 ribu."

"Berapa isinya, Sa?"

"Ada yang 20 ribu dan ada yang 50 ribu, Om?"

"Wah berat. Berat. Ternyata untuk jadi caleg harus nyiapkan uang ratusan juta, bahkan milyaran ya, Sa."

"Makanya kemarin ada koruptor ditangkap KPK barang buktinya 400 ribu amplop berisi uang 20 ribu dan 50 ribu to, Om."

"Yang katanya mau buat serangan fajar itu ya, Sa?. Koclok tenaan...."

Ngobrol dengan Sasa membuatku masih pesimis dengan hasil Pemilu kali ini. Tampaknya masih akan seperti yang sudah-sudah, masih akan melahirkan pemain-pemain politik dan pejabat yang korup di Pusat hingga Daerah. Mayoritas rakyat pun tampak belum kapok juga, masih bisa dibeli suaranya dengan harga yang sangat murah. Bertahun-tahun kesulitan hidup mendadak lupa melihat amplop di depan mata dan janji-janji yang mungkin juga tidak akan bisa ditepatiAstaghfirullaahal'adziim....










Jumat, 29 Maret 2019

PROFIL SINGKAT

PROFIL SINGKAT

Nama: Wahyudi Nasution
Alamat: Kwaon RT 08 RW 04, Jemawan, Jatinom, Klaten
WA/Tlp.: 087839454741
Email: wahyunast96@gmail.com
FB: wahyudi nasution
Twitter: wahyudi nasution
Blog: saskita.com

MOTTO: Sekali berarti sesudah itu mati

PENDIDIKAN Terakhir:
Fakultas Ilmu Budaya UGM,1985

KEGIATAN:
A. SENI-BUDAYA
1. Anggota Marching Band UGM, 1986-1987
2. Aktif di Kelompok Gojek (teater) FIB UGM, 1996-1997
3. Ketua Pesantren Seni Mahasiswa se-Indonesia pada RDK Jamaah Shalahuddin UGM, 1997
4Mendirikan & Memimpin Sanggar Shalahuddin UGM (pentas-pentas teater dan musik-puisi di berbagai kota,1988-1994)
5. Kontributor Pertemuan Nasional Sastra dan Seni Mahasiswa Muhammadiyah (PENSI) ke-1 di IKIP Muhammadiyah (UAD) Yogyakarta, 1994
6. Manajer HAMAS (manajemen kegiatan/acara/pentas Cak Nun-Kiai Kanjeng, 2000-2003)

B. SOSIAL-EKONOMI
1. Pendampingan Kelompok Dakwah Pedesaan se-DIY (adopsi pola Grameen Bank), 1993-1994
2. Mendirikan BMT Abhiseka/Lohjinawi Yogykarta, 1994
3. Mendirikan BMT Yaqawiyyu Jatinom, 1996
4. Ketua Majelis Ekonomi & Kewirausahaan (MEK) PC Muhammadiyah Jatinom, 2006-2011
5. Ketua Majelis Ekonomi & Pemberdayaan Masyarakat  (MEPM) PC Muhammadiyah Jatinom, 2011-2016
6. Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, 2010-2015
7. Ketua MEK PDM Klaten, 2016-2021
8. Pengurus MPM PP Muhammadiyah, 2015-2020
9. Koordinator Gerakan Tani Bangkit (sinergi program Lazismu PP, MPM PP, MEK PDM Klaten) di Karanganom, Klaten, 2018-2020
10. Mendirikan Sekolah Bisnis Muhammadiyah (SBM) Klaten, 2017

C. POLITIK
1. Deklarator DPW PAN DIY, 1998
2. Ketua Majelis Kesenian dan Kebudayaan DPW PAN DIY, 1998-2000
3. Ketua DPC PAN Jatinom, Klaten, 2004-2006

D. PEKERJAAN
1. Sekretaris Eksekutif KDP Yogyakarta, 1993-1994
2. Direktur BMT Abhiseka/Lohjinawi Yogykarta, 1994-1998
3. Pengawas BMT Yaqawiyyu Jatinom, 2006-2016
4. Owner Bunda Collection Klaten, 2005 - .....

Rabu, 27 Maret 2019

KARTU GAPLE

KARTU GAPLE

Sore ini aku benar-benar pekewuh. Sangat pekewuh. Bagaimana tidak? Anak lanangku dan tiga teman kuliahnya yang lagi main ke rumah masih asyik main gaple ketika sahabatku Sasa datang. Buat refreshing, kata anakku.

Aku tahu sebenarnya mereka setelah renang di Umbul Jolotundo tadi pagi, siangnya mau ke Umbul Ponggok untuk mencoba snorkeling, tapi batal kerena gerimis. Memang sejak pagi cuaca sudah kremun-kremun, mendung seakan mau hujan tapi cuma sesekali turun gerimis tipis-tipis. Mereka pun memilih bikin acara di rumah, main gaple, satu budaya yang termasuk tabu di desaku. Maklumlah, bagi masyarakat kami yang tergolong sregep ngaji, main gaple dan semua permainan kartu apapun namanya hanya buang-buang waktu, tidak ada manfaat, bahkan bisa mengarah ke judi. Itu budaya yang mudharat. Makanya aku pun anyel melihat anakku dan teman-temannya main gaple sambil ketawa-ketiwi ece-ecanan seharian. Tapi mau melarang juga gak enak sama tamu.

"Gak apa-apa, Om. Biarkan saja. Main kartu itu model sekolah calon pemimpin dan politisi, lho," kata Sasa mencoba menghiburku.

"Halaah...calon pemimpin dan politisi kok main kartu."

"Loh, Sampeyan ini bagaimana? Mbok coba diperhatikan baik-baik, Om. Lihatlah, mereka belajar mengatur taktik dan strategi untuk mengalahkan lawannya, sambil tertawa-tawa. Mereka berjuang agar bisa menang tanpa ngasorake."

"Mahasiswa mestinya banyak-banyak baca buku, Sa, biar tambah pintar dan luas wawasannya. Bukan main kartu gaple."

"Lha kalau soal baca buku, mereka pasti sudah biasa to, Om. Tapi kalau main gaple pasti jarang. Mbok biarkan saja."

"Ya mudah-mudahan tidak jadi kebiasaan, Sa. Aku cuma khawatir mereka nanti jadi tuman main kartu."

"Hahahaa.....iya benar juga itu, Om. Memang bisa bahaya."

"Bahaya piye?"

"Kalau biasa main kartu, bisa-bisa mereka akan ketento, sedikit-sedikit kartu, lalu semua urusan hidup diganti kartu."

Aku jadi teringat ada bemacam-macam jenis kartu. Ada Kartu Tanpa Penduduk, Kartu Tanda Mahasiswa, Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu SIM, dan Kartu Tani, Kartu BPJS, dan Kartu E-Tol. Kalau jaman sekolah di SD dulu ada Kartu Pethuk  untuk membayar SPP tiap bulan. Ide penggunaan kartu-kartu itu pasti bukan karena biasa dolanan atau judi pakai kartu gaple, remi, atau ceki. Tentu saja tidak ada hubungannya.

"Sekarang memang lagi musim permainan kartu ya, Om."

"Maksudmu?"

"Sekarang apa-apa pakai kartu. Serba kartu. Aku di rumah juga nyimpan Kartu Indonesia Sehat. Katanya untuk anak sekolah juga ada Kartu Indonesia Pintar."

"Iya benar, Sa. Itu cara Pemerintah membantu rakyat yang tergolong miskin."

"Itu lho yang membuat rasa ini tidak enak."

"Yang mana?"

" Om, apa enaknya hidup dimiskin-miskinkan orang? Itu kan sama saja martabat kita direndahkan.”

"Lha terus piye, Sa?"

" Ini cuma menurutku lho, Om, mohon maaf kalau salah. Mestinya Pemerintah gak usah repot-repot bikin kartu untuk memiskinkan orang. Seharusnya Pemerintah berjuang keras agar harga-harga kebutuhan hidup rakyat bisa murah dan terjangkau, biaya berobat dan sekolah juga rendah. Jadi gak usah obral kartu miskin. Lha kok malah kabarnya masih mau bikin Kartu Pengangguran juga. Buat apa to, Om? Memangnya orang-orang yang nganggur mau digaji? Lha kok penuk...."

"Ah Sasa jangan salah paham, to. Jangan waton sulaya. Bukan kartu pengangguran, tapi Kartu pra-Kerja. Beda, Sa. Itu juga khusus untuk anak-anak yang  baru lulus sekolah atau kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Dan hanya berlaku sementara."

"Lha katanya nanti juga akan ada Kartu Parkir, Om? Tukang parkir seperti aku ini gak akan  dipakai lagi, semua akan diganti kartu dan mesin parkir? Lha terus mau disuruh kerja apa, coba?"

"Kartu Parkir itu kan hanya untuk parkir di gedung-gedung dan di kota-kota, Sa. Gak mungkin diterapkan di Soto Kartongali. Tenang saja, Sa. Aman....."

"Ini pasti gara-gara orang ketento main kartu ya, Om. Bikin keputusan politik pun yang terpikir kartu. Semua jadi serba kartu. Jamane jaman tukang gaple. Orang jadi ketento main kartu, main judi. Negara edyaan...."

Anakku dan teman-temannya tampak sudah mengakhiri permainannya. Sebentar lagi akan masuk waktu maghrib. Mereka bergiliran mau mandi. Sasa pun tampak sadar waktu juga, lalu pamitan mau pulang. Untung hujan gak jadi turun. Sing sabar yho, Sa.....


Jumat, 15 Maret 2019

TIKUS-TIKUS

TIKUS-TIKUS

Ngobrol dengan Sasa jadi mengasyikkan karena sering muncul kata atau istilah lama yang sudah lama tidak terdengar.  Kadang juga terlontar kata-kata yang tergolong kasar, bahkan umpatan atau pisuhan yang diperhalus seperti jindul/bajindul dan jirut/bajirut. Dia memang berusaha menahan diri untuk tidak lagi misuh-misuh seperti dulu, meski dalam kondisi kepepet.
"Wis tuwo kok, Om. Wis wayahe ngomong alusan," begitu Sasa pernah bilang.

Dari ngobrol dengan Sasa aku juga teringat lagi nama aneka jajanan seperti sega megana, cothot, plengeh, gathot dan minuman cao warna merah di warung belakang sekolah kami dulu. Aku juga jadi ingat ada budaya nyadran dengan aneka makanan pada acara kenduri di bangsal depan makam, budaya kumkum di umbul atau kedung oleh sebagian orang yang ingin menggapai harapan, juga tentang lakon dan nama-nama tokoh wayang kulit yang digelar sehari-semalam suntuk di Umbul Gedaren tiap bulan Sura, dan sebagainya.

Kali ini Sasa mengingatkanku tentang gropyokan tikus, satu peristiwa ketika masyarakat desa gugur-gunung beramai-ramai memburu tikus di sawah dengan peralatan seadanya dan hanya didukung bebarapa buah alat yang bentuknya seperti senapan untuk mengasapi lubang-lubang tikus dengan belerang. Tikus-tikus tidak tahan bau belerang, lalu keluar dari lubang-lubang persembunyiannya. Itulah saat-saat menggembirakan, tikus diburu dan pukuli hingga mati. Anak-anak pun bersorak-sorai menyaksikannya. Bangkai-bangkai tikus kemudian direnteng dengan tali debog. Katika istirahat minum di pematang, anak-anak suka memperdebatkan regu mana yang rentengan bathang tikusnya paling banyak. Seru, dan khas perdebatan anak-anak desa.

Hama tikus memang nggegirisi. Berpatok-patok atau bahkan berhektar-hektar padi yang sudah menguning dan sebentar lagi siap dipanen bisa habis ludes hanya dalam satu-dua malam. Hama tikus bisa memupus harapan keluarga petani untuk dapat membeli sepeda dan baju baru, atau untuk melunasi tunggakan SPP anak-anaknya. Bahkan, rencana mantu atau hajatan lainnya pun bisa gagal total dan berubah jadi tangisan gara-gara tikus. Begitulah, maka masyarakat desa dengan entheng bisa dikerahkan untuk bergotong-royong membantu petani, melakukan aksi solidaritas gropyokan tikus.

"Om, mbokya coba diadakan gropyokan tikus, ya," Sasa mengawali obrolannya.

"Memangnya ada wabah tikus, Sa? Di mana?"

"Ada, Om. Banyak. Di mana-mana. Merata di seluruh penjuru negeri."

"Maksudmu di sawah-sawah?"

"Ya di sawah-sawah, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di kantor-kantor....."

"Sik to, Sa...maksudmu ki piye kuwi?"Aku belum ngeh ke mana arah omongan Sasa. Mungkin memang sedang terjadi wabah tikus di sawah-sawah, entah di desa mana, tapi aku belum dengar kabarnya. Mungkin juga sudah ada yang mengabarkannya di medsos, tapi aku belum baca karena ketutup berita politik dan kampanye Pemilu/Pilpres yang sangat masif, berbulan-bulan, hingga semakin silang-sengkarut dan sering tidak masuk akal.

"Baru satu-dua tikus ketangkap saja kok sudah gempar. Mbok diadakan gropyokan sampai habis semua tikus."

"Jaman sekarang tangeh lamun, Sa. Mustahil. Masyarakat tidak mau lagi diajak turun ke sawah hanya untuk memburu tikus seperti dulu."

"Iyalah, Om. Aku juga paham. Mana basa tikus diajak nangkap tikus. Sesama tikus ya harus saling melindungi, kan?"

"Sa, mbok nek ngomong yang jelas. Jan-jane maksudmu apa, to?"

Dengan gayanya yang nganyelke, Sasa pun menjelaskan maksudnya. Ternyata dia sangat prihatin dengan banyaknya kasus korupsi di semua lini kehidupan. Dia menyayangkan orang gampang terpesona dengan berita penangkapan koruptor kelas teri oleh KPK. Padahal menurutnya, koruptor teri itu hanya seperti maling sandal atau kotak infaq di masjid, atau tukang ngutil di Pasar Legi dan Pasar Klewer. Tapi ternyata tikus semakin hari justru semakin banyak dan mewabah sehingga perlu dilakukan gropyokan ramai-ramai agar tidak semakin berkembang-biak dan tidak menular. "Kalau koruptor kecil-kecil sudah habis, Om, koruptor-koruptor kelas kakap pasti bisa kita rencak ramai-ramai," kata Sasa dengan mantap.

"Tapi apa bisa, Sa? Orang sekarang bahkan cenderung bersiap-siap ikut jadi tikus, kok."

"Ya justru itu masalahnya, Om. Tikus kecil semakin banyak. Tikus wero juga bertambah banyak. Mereka menebarkan racun pes yang bisa menular dan mematikan. Musang, luwak, dan garangan juga semakin banyak, nekad, dan terang-terangan melakukan penggarongan."

"Lha iya ya, Sa. Njur arep piye jal....?"

"Harus ada imunisasi anti pes dan tikus, Om."

"Carane?"

"Ya jangan memelihara tikus atau wero, musang, luwak, dan garangan."

"Sulit, Sa."

"Ya memang sulit. Tidak gampang membedakan orang yang sudah bermental tikus dan yang belum. Kelihatannya berbaju bersih dan rapi, dilihat nasab, pendidikan, dan kedudukannya juga bagus, ke mana-mana pakai peci atau kopiah seperti kyai, pinter ngaji, juga sudah Haji dan umroh berkali-kali, tapi jebul bermental tikus. Dengan percaya diri, mereka pasang baliho dengan foto dirinya di pinggir-pinggir jalan agar orang terpesona dan mau memeliharanya."

"Wah mbok jangan verbal begitu to, Sa."

"Loh....itu hanya contoh yang kelas teri lho, Om. Tikus kecil. Masih banyak yang kelas kakap, yang kelas musang dan garangan."

Kalau Sasa sudah mulai verbal begini, aku jadi malas melayani.  Harus segera kucari alasan yang tepat untuk mengakhiri obrolan tanpa menyinggung perasaannya. Beruntung HPku berbunyi, ada pesan WA masuk. Segera kubuka HP dan kubaca pesan masuk.

"Wah sori banget, Sa. Ini aku disuruh pulang. Sudah ditunggu tamu di rumah."

"Ya, Om. Gak apa-apa. Monggo. Hati-hati di jalan."

Aku pun meluncur pulang setelah membayar Soto  Kartongali edisi sore yang nikmatnya tak kalah dari yang edisi pagi. Tumben juga kali ini ada Sasa. Biasanya sore hingga malam begini dia melayani panggilan sebagai juru pijat.




Sabtu, 09 Maret 2019

PENGANGGURAN MILENIAL

PENGANGGURAN MILENIAL
Lagi-lagi Sasa membuatku mumet-mumet geli. Baru saja kutuntaskan semangkok soto Kartongali, lalu kusruput teh nasgithel dan kusulut rokok sebatang, makbedunduk Sasa nongol dan duduk di depanku sambil pringas-pringis menampakkan gigi-ginya yang tak seberapa putih.
"Sudah sarapannya, Om?," tanyanya basa-basi.
"Alhamdulillah, Sa, wis kemepyar..."
"Om, tadi malam ada ponakanku datang ke rumah. Dia kelas 3 SMK, katanya sebentar lagi ujian. Dia minta doa-pangestu supaya lancar dan bisa lulus."
"Apik, Sa. Itu namanya ponakan yang beradab, punya tata-krama.    Mau ujian menyempatkan sowan ke Pakdhenya minta doa.   Semoga cepat dapat pekerjaan, ya."
"Lha itu masalahnya, Om."
"Apa?"
"Kata ponakanku, anak sekarang setelah lulus sekolah tidak perlu repot-repot cari pekerjaan."
"Lah, kok bisa?"
"Katanya Pemerintah sudah nyiapkan gaji untuk pengangguran."
"Weeh....tenane?"
"Begitu kata ponakanku, Om."
"Itu kira-kira bener nggak to, Sa?"
"Ya mudah-mudahan bener, Om. Negara kita kan memang kaya. Generasi anak-kita dan juga orang seperti saya ini tidak perlu lagi berpanas-panas dan berhujan-hujan ngatur parkir."
"Maksudmu?"
"Lha kalau orang nganggur saja digaji negara, buat apa saya kerja keras jadi tukang parkir begini? Mending nganggur, bisa nyantai di rumah dan momong cucu, tapi setiap bulan dapat gaji."
"Menurutku itu tangeh lamun alias mustahal, Sa. Utang kita sudah banyak sekali, kok."
"Optimis saja, Om."
"Walah.... jangan-jangan ponakanmu itu hanya janji kemakan janji kampanye, Sa? Kamu masih percaya pada janji kampanye?"
"Jan-jane ya tidak percaya, Om. Tapi ini kan hal baik dan pasti asyik kalau sungguh-sungguh terjadi."
"Lha kok asyik?"
"Begini lho, Om. Negara kita ini sesungguhnya kaya-raya. Tapi masalahnya kekayaan kita hanya dimiliki dan dinikmati oleh beberapa gelintir orang."
"Terus...."
"Sampeyan pasti tahu ada banyak pejabat dari Pusat sampai Daerah yang korupsi, kan?"
"Lha iya, Sa. Sudah banyak yang kecokok KPK.
"Dan yang belum kecokok pasti lebih banyak lagi, Om. Coba kira-kira ada berapa trilyun uang yang sudah digarong para bandit?""
"Wah ya gak tahu berapa total uangnya, Sa. Pasti banyak sekali."
"Ya betul, Om. Pasti banyak sekali. Sekarang, seandainya uang trilyunan itu disita oleh negara lalu dipakai untuk mensejahterakan seluruh rakyat, kira-kira bisa gak, Om?"
"Ya seharusnya bisa, tapi pasti sulit sekali, Sa."
"Alangkah hebatnya kalau ada pemimpin negara ini yang berani melakukan itu ya, Om. Lalu semua pengangguran, orang miskin, dan anak-anak terlantar dijamin hidupnya oleh negara."
"Benar juga itu, Sa. Optimisme yang bagus."
"Belum lagi kalau berjuta-juta hektar tanah dan hutan yang dikuasai perorangan maupun perusahaan juga bisa diambil alih oleh negara, lalu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, pasti top tenan negara kita. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja seperti dicita-citakan oleh para pendiri republik ini akan terwujud."
"Itu memang cita-cita mulia dan tertulis pada sila kelima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih hafal Pancasila, kan?"
"Ya jelas masih to, Om."
"Tapi untuk mewujudkan keadilannsosial itu sungguh tidak mudah. Lha sila pertama sampai keempat saja masih sulit diwujudkan kok, Sa."
"Iya ya, Om. Kulihat orang sekarang banyak yang tidak benar-benar percaya pada Tuhan."
"Maksudmu?"
"Orang tidak lagi saling menghormati, Om. Yang sedang berkuasa semena-mena pada orang lain, apalagi lawan politiknya. Sebaliknya, yang tidak berkuasa selalu melihat kekurangan yang pihak sedang berkuasa. Jadi sama-sama tidak adil dan beradab, Om."
"Wah apik iki, Sa. Terus...."
"Akibatnya, setiap hari orang sibuk bermusuhan satu sama lain. Seperti tidak ada keinginan untuk bersatu sebagai sesama bangsa Indonesia."
"Ngono yho, Sa."
"Sebentar lagi kita mau Pemilu dan Pilpres, Om."
"Iya, Sa."
"Lihatlah yang akan terjadi, sila keempat sulit terwujud, Om."
"Kok bisa? Pemilu kan akan memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di kursi parlemen, Sa?"
"Lha iya, Om. Tapi kalau prosesnya saja tidak dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan, tapi dipimpin amplop nyeket ewu, pasti hasilnya pun tidak hikmah dan tidak bijaksana."
Edan Sasa. Kali ini aku dikasih wejangan soal Pancasila, mengingatkanku jaman ikut Penataran P4 100 jam waktu jadi mahasiswa baru UGM dulu.
Jildul tenan. Kok masih ada orang kayak gini. Sayangnya Sasa cuma jadi tukang parkir.....
 

Sabtu, 02 Maret 2019

KAFIR

KAFIR

Bakda maghrib, hujan masih cukup lebat. Terdengar suara ketukan di pintu depan, rupanya ada tamu, entah siapa.  Ndreres Quran pun harus kuakhiri meski baru dapat dua rukuk.

"Assalaamu'alaikum.....," terdengar suara salam begitu kubuka pintu. Ternyata Sasa sudah duduk manis di kursi depan.

"Teruskan saja dulu ngajinya, Om. Saya tak nyadhong ganjaran ikut nyimak di sini," kata Sasa

"Sudah selesai kok, Sa, besok lagi," jawabku sambil ikut duduk. "Dari mana hujan-hujan begini?"

"Dari rumah, Om. Memang sengaja ke sini habis maghrib biar bisa ketemu Sampeyan.

"Ngopi, Sa?"

"Siap, Om. Dingin-dingin begini memang enaknya ngopi."

Kebetulan ini hari Sabtu, Cahya anakku lanang pulang dari Jogja sore tadi. Ketika kupanggil untuk menyalami Pakdhe Sasa,  dia pun paham apa yang harus dilakukannya: membuatkan unjukan kopi kental manis. Tak berapa lama, dua gelas kopi pun sudah tersaji di hadapan kami.

"Monggo diunjuk, Pakdhe."

"Yho, Cah Bagus. Sini, duduk sini dulu ikut ngobrol sama Pakdhe."

Cahya pun ikut duduk. Kami menikmati suasana yang terasa tintrim karena hujan lebat sejak sore sambil ngopi. Aku paham, pasti Sasa pengin ngobrol seputar kegelisahannya, tapi sengaja aku diam menunggu dia membuka obrolan. Cahya pun hanya diam sambil membuka-buka HPnya.

"Om, aku tadi jadi imam sholat maghrib di mushola kampungku."

"Ya kan sudah biasa to, Sa?"

"Memang sudah biasa, Om. Tapi tadi setelah sholat aku diingatkan jamaah, anak-anak muda."

"Diingatkan apa?"

"Begini lho, Om, memang ilmu agamaku ini kan sangat pas-pasan. Hafalan surat dan ayat Al-Quran juga cuma sedikit."

"Terus..."

"Tadi kubaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas."

"Ya terus kenapa, Sa?"

"Kata jamaahku, besok-besok jangan lagi baca surat Al-Kafirun, katanya bisa bahaya."

"Kok bahaya? Apanya?"

"Katanya sekarang kita tidak boleh lagi menyebut 'kafir' pada orang-orang non-muslim. Katanya, baca surat Al-Kafirun itu pun sekarang kita harus hati-hati, Om."

"Pakdhe, itu pasti gara-gara orang hanya baca koran, berita tivi, atau postingan di medsos tentang hasil keputusan alim-ulama di Munas NU kemarin. Mereka belum membaca sendiri keputusan itu," Cahya ikut menanggapi. "Kalau pun sudah membaca, mungkin pikirannya sudah terlanjur tercemari bacaan di medsos. Maklumlah, Pakdhe, ini tahun politik. Jadi serba repot. Semua hal bisa jadi isu dan bola liar di masyarakat," lanjut Cahya yang kembali asyik dengan HPnya. Anak jaman sekarang, tampaknya cuek dan asyik dengan dirinya sendiri, tapi ternyata bisa juga merespon pembicaran orang.

"Jan-jane pripun to, Om? Apa memang seperti itu?"

"Yang mana?"

"Apa benar ada larangan menyebut 'kafir' bagi orang non-muslim?"

"Sa, itu pertanyaan sulit bagiku."

"Lha kok sulit, Om?"

"Ya sulit, Sa."

"Maksudnya?"

"Begini lho, Sa, setiap keluarga tentu punya masalah dan kebiasaan yang sudah dipahami bersama. Setiap keluarga tentu juga punya aturan yang harus ditaati seluruh anggota keluarganya. Aturan di keluargamu tentu berbeda dengan aturan di keluargaku. Caramu memimpin keluarga tentu juga beda dengan caraku mimpin keluargaku. Iya, to?"

"Ya iyalah, Om. Benar sekali."

"Nah, tentu tidak elok kalau aku mengomentari urusan keluargamu, mengkritik caramu memimpin anak-bojo, apalagi mengejek keadaan rumah-tanggamu. Demikian juga Sasa, tidak elok melakukan itu ke keluargaku. Iya, kan?"

"Terus hubungannya dengan pertanyaanku tadi apa, Om?"

"Begini lho, Pakdhe," Cahya menyahut," Ayah ini kan bukan warga NU. Sebagai aktivis Muhammadiyah, tentu tidak elok kalau ayah ikut-ikutan mengomentari urusan yang Pakdhe tanyakan tadi. Iya to, Yah?"

"Oh begitu, ya. Tapi keputusan itu kan sudah menyebar dan didengar oleh seluruh masyarakat, Le? Berarti sudah bukan hanya untuk warga NU, tapi untuk semua masyarakat dan bangsa Indonesia? Njur piye jal.....?"

Cahya cuma senyum-senyum tidak menjawab. Mungkin takut salah, atau memang sengaja diam biar ayahnya saja yang menjawabnya.

"Ngene lho, Sa. Kita  husnudhon saja bahwa keputusan para alim-ulama itu tentu sudah dengan kajian mendalam dari berbagai disiplin ilmu. Kita ambil sisi baiknya saja, bahwa kita jangan gampang mengkafirkan orang atau menyebut orang non-muslim sebagai 'kafir'. Tentu Sasa masih ingat ajaran orang tua, ngono ono yho ngono ning ojo ngono. Meski bagi kita mereka itu kafir, tapi gak usah bilang-bilang. Jarno wae. Ini demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Sa."

"Wah kalau itu maksudnya saya jelas mathuk, Om. Tapi apa ada to orang Islam memanggil orang non-muslim ,'Hai, Kafir....', misalnya? Kan gak ada. Yho to, Le?"

"Kalau di sini memang gak ada, Pakdhe. Entah kalau di tempat lain."

"Jadi gak masalah kalau kita baca surah Al-Kafirun ya, Le?"

"Ya gak masalah, Pakdhe. Seluruh ayat Allah di Al-Quran kan harus dan perlu kita baca sebagai pegangan hidup."

Azan isya' terdengar bersahutan di seantero kampung. Hujan telah reda. Kami pun mengakhiri obrolan dan menuju masjid.