Rabu, 25 Maret 2020

GEGER CORONA

GEGER CORONA

Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa seluruh penduduk bumi akan mengalami Perang Dunia sedahsyat ini. Perang dahsyat yang bukan lagi antar negara atau pakta pertahanan yang memperebutkan teritorial, cadangan minyak dan gas bumi, atau balas dendam karena terjadi pembunuhan seorang diplomat, misalnya. Bukan. Sama sekali bukan.

Pada perang kali ini, seluruh penduduk bumi menghadapi tentara langit tak kasat mata yang menyerang dari berbagai penjuru, membunuh siapa saja yang dijumpainya, tanpa ampun dan tanpa pandang bulu. Tentara langit itu bernama Virus Corona namanya, atau disebut Covid-19, konon berasal dari provinsi Wugan, China. Ribuan nyawa sudah melayang di berbagai negara, dan ratusan ribu penduduk bumi telah terpapar virus ini. Setiap saat, media tivi dan media sosial tak henti memberitakan --dan viral-- tentang jatuhnya korban di berbagai kota.

Musuh bersama kali ini tidak bisa dihadapi dengan mengandalkan tentara dan polisi dengan senjata lengkap dan canggih sekalipun. Pesawat tempur super canggih dilengkapi rudal berkepala  uklir seperti SU-35 yang hingga kini Pemerintah kita masih gojak-gajek mau kita beli atau tidak pun tidak akan ada artinya. Rudal Patriot, Tank Leopard, apalagi panser Anoa buatan PT Pindad dan berbagai senjata tentengan seperti AK47 dan M16 pun pasti mejen semua, alias tak mampu berbuat apa pun menghadapi Covid-19.

Guna menghindari semakin banyak jatuh korban, Pemerintah Pusat hingga Provinsi, Kabupaten/Kota dan Desa telah menyampaikan instruksi bagi warganya. Juga berbagai lembaga keagamaan seperti MUI dan PP Muhammadiyah, telah mengeluarkan maklumat agar ditaati seluruh masyarakat. Instruksi dan maklumat itu berisi anjuran dan larangan, seperti menjaga kebersihan, menghindari bepergian dan kerumunan warga (social distance), dan sebagainya. Seluruh kegiatan di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan kantor-kantor telah diliburkan. Karpet-karpet masjid dan mushola telah digulung. Di beberapa daerah, ibadah Sholat Jumat dan sholat rawatib berjamaah ditiadakan. Peribadatan di gereja-gereja, klenteng, pura, dan vihara juga dihentikan untuk jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Rencana orang menggelar hajatan seperti resepsi pernikahan terpaksa harus dibatalkan. Bila ada yang nekad, polisi tidak segan-segan akan  membubarkannya.

Pada pertempuran kali ini, yang paling berat dan beresiko tinggi adalah para petugas medis seperti dokter dan perawat. Mereka harus berada di garda terdepan meski tak jarang mereka kesulitan perlengkapan penunjang seperti pakaian Alat Pelindung Diri (APD), masker, sarung tangan, dan sepatu yang aman. Demikian juga para relawan dan sopir ambulan yang setiap saat harus mengevakuasi korban, atau para penggali kubur yang harus mengubur jenazah korban Covid-19. Sungguh mereka sangat rentan tertular virus mematikan ini.

"Kang, kita harus ikut berbuat," begitu suara Makruf rekan Pak Bei yang tinggal di Jogja dan aktivis pemberdayaan masyarakat via telepon kemarin pagi. "Ini semua Rumah Sakit mengalami krisis APD, Kang. Mereka mau beli, tapi di mana-mana tidak ada barang. Ketersediaan barang tak sebanding dengan kebutuhan yang sangat tinggi dan mendesak ini," begitu Makruf melanjutkan.

"Apa yang bisa kita perbuat, Nda?, tanya Pak Bei.

"Begini. Sampeyan kan punya usaha konveksi. Ada banyak penjahit. Tolong Sampeyan bikin APD. Ini kebutuhan mendesak, Kang. Kalau Sampeyan siap, nanti saya hubungkan dengan berbagai pihak dan Rumah Sakit."

Mendengar suara Makruf itu, Pak Bei sangat tertohok. Makruf yang juga dosen UMY itu masih punya kepekaan tinggi terhadap situasi sulit yang sedang terjadi. Seharusnya Pak Bei sudah dari kemarin melihat hal itu, tapi tidak. Pak Bei tidak punya imajinasi ke sana, dan masih suntuk dengan pekerjaannya sendiri yang kebetulan lagi prepegan, lagi banyak order menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

"Terus piye, Nda? Apa yang bisa kulakukan?," tanya Pak Bei.

"Pak Bei siapkan beberapa penjahit, ayo kita produksi APD."

"Waah....semua karyawanku sudah full ngerjakan order menjelang Ramadhan, Nda. Modalku juga sudah terserap ke sana."

"Sampeyan pasti bisa cari solusi, Kang. Kan banyak penjahit di luar yang bisa diajak. Soal modal kita pikir belakangan. Dah gitu, ya, kutunggu APD karya Pak Bei," Makruf mengakhiri pembicaraan.

Kebetulan kemarin Pak Bei dan Bu Bei ada agenda kulakan ke Solo, sekalian cari bahan untuk membuat APD sesuai saran Makruf. Alhamdulillah dapat juga bahan yang dicari. Hari ini, sejak pagi seorang karyawannya yang cukup mahir, Iftina namanya, ditugasi membuat sampel baju APD. Alhamdulillah sore ini satu sampel baju APD sudah siap dilounching. Yang berminat PO untuk melindungi para petugas di Rumah Sakit, silakan hubungi Pak Bei di WA 087839454741.

Semoga Allah SWT melindungi seluruh bangsa Indonesia dari wabah Corona ini. Aamiin.

#serialpakbeibubei



Jumat, 20 Maret 2020

PAGEBLUK

PAGEBLUK

Sabtu pagi. Tidak biasanya Bu Bei mengadakan briefing karyawan. Sejak awal membuka usaha konveksi 16 tahun yang lalu, briefing selalu diadakan setiap Senin pagi untuk mengavaluasi pekerjaan seminggu lalu dan mengarahkan pekerjaan seminggu ke depan, sekaligus membina mental spiritual karyawan. Bila diperlukan, sesekali Pak Bei bergabung dan ikut bicara.

"Teman-temanku, sahabat-sahabatku, adik-adikku,"  Bu Bei mengawali breifing dengan sapaannya yang khas, "Pagi ini saya merasa perlu mengumpulkan kalian sehubungan dengan semakin hebohnya wabah corona yang sedang melanda dunia dan negeri kita," lanjutnya. Semua karyawan tampak antusias mendengarkan. Satu dua karyawan yang datang terlambat langsung ikut bergabung duduk melingkar.

"Tentu kalian sudah mendengar dari tivi dan medsos, betapa dahsyatnya dampak wabah pendemik ini. Di negeri kita saja sudah 300an korban meninggal serta ribuan orang dalam pantauan. Korban mungkin akan terus berjatuhan bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan rakyat. Sayang sekali yang kita saksikan dan baca tiap hari justru para pejabat dan tokoh politik yang seolah saling menyalahkan, saling mencaci, saling curiga, lalu dihubung-hubungkan dengan Pilpres 2024 yang masih jauh."

Pak Bei yang dari tadi hanya nguping, menyimak diam-diam sambil menikmati kopi di meja makan, tampak tergerak ikut bergabung di arena briefing. Sambil mmbawa dingklik, tempat duduk pendek, Pak Bei masuk dan langsung duduk di samping Bu Bei.

"Sahabatku semua, alhamdulillah kali ini Pak Bei mau bergabung dengan kita, tentu ada yang ingin beliau sampaikan. Mari kita dengarkan baik-baik. Silakan, Pak Bei," kata Bu Bei.

"Anak-anakku," kata Pak Bei setelah mengucapkan salam, "Dunia kita saat ini sedang mengalami pagebluk berupa wabah virus corona yang juga disebut covid-19. Sejarah telah mencatat dunia ini pernah beberapa kali mengalami pagabluk. Sejak jaman sebelum Masehi, manusia telah mengalami bermacam-macam pagebluk. Ada wabah malaria, lepra, pes, black dead, virus flu babi, flu burung, SARS, dan sebagainya. Jutaan nyawa melayang karena pagebluk. Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami serangan dahsyat virus corona yang berasal dari Wuhan China." Pak Bei menghela nafasnya. Semua karyawan yang semula menyimak sambil memandang Pak Bei pun menundukkan wajahnya. Entah apa yang dibayangkannya.

"Tapi kita tidak usah takut, Anak-anakku," Pak Bei melanjutkan wejangannya. "Kita harus yakin bahwa kematian itu soal batas usia. Kematian pasti akan datang kapan saja, di mana saja, dan entah sebab apa. Hanya Allah SWT yang tahu."

Suasana hening. Semua wajah menunduk. Pak Bei kembali meneruskan wejangan, "Lalu bagaimana cara kita menyikapi pagebluk ini, Anak-anakku? Pertama, jangan takut dan jangan panik. Kedua, ikuti himbauan, arahan, dan larangan yang disampaikan Pemerintah. Jangan sok pintar sendiri dan jangan sok berani alias kemendel. Jaga kebersihan. Jangan bepergian  bila tidak penting. Hindari kerumunan. Rajin cuci tangan."

"Pangapunten, Pak Bei," tampak karyawan yang biasa dipanggil Mbak Atun angkat bicara, "Pemerintah kan menghimbau supaya anak-anak sekolah belajar di rumah, alias libur sekolah. Rakyat juga disuruh kerja di rumah, Pak Bei. Lah kalau kami harus kerja di rumah, bagaimana caranya? Ini kan sama dengan kita libur gak kerja. Lalu kita mau makan apa, Pak Bei? Apa Pemerintah mau menanggung biaya hidup kami?"

"Iya betul. Iya betul. Iya betul itu," tampak beberapa karyawan lain menyetujui pertanyaan Mbak Atun.

"Begini, Anak-anakku. Memang betul Pemerintah menyampaikan himbauan itu. Kantor-kantor Pemerintah pun langsung mentaatinya. Semua pegawai bekerja dari rumah. Mungkin juga pabrik-pabrik besar dengan karyawan ribuan akan segera ikut meliburkan karyawan, tentu dengan konsekuensi karyawan tetap digaji, meski hanya gaji pokok saja. Itu wajar, karena pabrik-pabrik besar selama ini sudah mendapatkan fasilitas khusus dari Pemerintah, sejak membangun pabrik, perijinan, rekrutmen tenaga kerja, pajak, dan sebagainya."

"Kalau kita bagaimana, Pak Bei?," Mbak Atun bertanya lagi.

"Kita ini usaha kecil, modal kecil, usaha rumahan, UMKM, yang alhamdulillah tidak pernah ngrepoti Pemerintah, tapi justru membantu Pemerintah membuat lapangan kerja di desa. Karyawan kita juga cuma sedikit, tidak sebanyak di pabrik-pabrik yang ribuan karyawan berkumpul sehingga dikhawatirkan akan mudah menularkan virus. Jadi, Insya Allah kita tidak akan libur. Kita tetap bekerja seperti biasa."

"Maaf, Pak Bei," tampak Bu Bei menyela, "Tadi sudah saya sampaikan supaya untuk sementara ini semua karyawan menghindari salam-salaman apalagi cipika-cipiki. Hindari juga saling bersentuhan, apalagi duduk suk-sukan. Dan jangan lupa sering cuci tangan pakai cairan yang sudah kita siapkan."

"Baiklah, Anak-anakku. Demikian wejanganku pagi ini. Ingat, kita ikuti himbauan Pemerintah dan orang-orang pandai, berikhtiar maksimal demi menjaga kesehatan, dan selebihnya kita bertawakkal pada Allah SWT. Selamat bekerja, Anak-anakku."

Lingkaran beiefing pun bubar. Tak berapa lama kemudian suara dinamo mesin-mesin jahit mulai terdengar. Semua karyawan khusyuk bekerja, mengerjakan tugasnya masing-masing sesuai arahan tertulis yang dibuat Bu Bei sejak  tadi malam.

Senin, 16 Maret 2020

KDRT

KDRT

Pak Bei masih terbengong-bengong mendengar cerita dari salah satu karyawannya. Betul-betul tidak habis pikir bagaimana lelakon seperti itu bisa terjadi di jaman ini. Lidah Pak Bei seakan kaku, kelu, tak mampu berkata-kata untuk sekadar merespon. Kopi panas yang sudah dituangkannya di lepek dari tadi pun lupa tak kunjung diminumnya. Bu Bei yang duduk di dekat Sri Rejeki karyawannya itu pun tampak sembab matanya, berkaca-kaca. Bu Bei tampak sangat terharu. Sesekali disapunya air mata yang menetes di pipi dengan tisu di tangan kirinya.

Sri Rejeki termasuk karyawan senior pada konveksi Bu Bei. Tidak kurang dari 11 tahun dia bekerja sebagai operator mesin jahit, sejak kedua anaknya masih usia SD dan sekarang sudah besar-besar. Seperti karyawan senior lainnya, si Sri sudah sangat mbateh di nDalem Pak Bei, sudah seperti keluarga, sehingga tidak sungkan-sungkan minta curhat dan eguh-pertikel pada juragannya seusai jam kerja. Seperti sore itu, Sri Rejeki minta curhat tentang lakon adik perempuannya yang tinggal di Jakarta.

Diceritakannya, adiknya itu bernama Surani, biasa dipanggil Rani. Sejak lulus D3 keperawatan 10 tahun yang lalu, Rani diterima bekerja pada sebuah klinik kesehatan di Jakarta. Dua tahun bekerja, dia pun menikah dengan jejaka asal Lampung yang bekerja pada sebuah bank swasta di Jakarta. Saat ini, mereka telah dikarunia 3 anak yang lucu-lucu. Ekonomi rumah tangga adiknya juga tampak bagus, terbukti mereka sudah punya rumah sendiri dan sebuah mobil yang dipakai mudik lebaran tahun lalu.

Sungguh miris dan di luar dugaan. Tiga malam yang lalu, Rani kirim WA, curhat tentang peristiwa yang baru saja dialaminya pada mbakyunya. Dia kirim foto wajahnya yang berdarah-darah, bibirnya sobek, dan pelupuk matanya tampak biru.

"Ya Allah....kamu kenapa, Nduk?," tanya si Sri merespon foto adiknya.

"Memang sudah nasibku kok, Yu," jawab Rani disertai ikon menangis.

"Habis jatuh? Kecelakaan?"

"Enggak kok, Yu."

"Lha kenapa? Ya Allaah.....pasti sakit itu."

"Aku malu mau cerita, Yu."

"Nduk, aku ini mbakyumu, pengganti almarhumah Simbok. Kalau kamu sakit, aku juga merasa sakit. Kalau kamu sedih, aku juga jadi sedih. Ceritakan apa masalahmu, Nduk, mungkin aku bisa membantu," si Sri berusaha membujuk adiknya supaya mau cerita.

"Yu, aku mau cerita, tapi tolong disimpan rapat-rapat, jangan diceritakan pada siapapun, ya."

"Iya, Nduk. Percayalah pada mbakyumu ini."

"Yu, dulu aku tidak pernah mengira bahwa suamiku akan berubah seperti ini."

"Berubah piye, Nduk?"

"Sejak lima tahun yang lalu, dia sering menganiaya aku seperti ini, Yu," jawab Rani disertai 5 ikon menangis.

"Loh....jadi wajahmu jadi seperti itu karena dipukuli suamimu?"

"Iya, Yu. Selama ini aku tidak berani cerita pada siapapun."

"Masya Allah...kejam sekali. Kira-kira kenapa dia bisa berubah jadi kejam begitu, Nduk?"

"Dulu awalnya dia pulang kerja jam 1 malam, Yu. Dari sore HPnya gak bisa kuhubungi, padahal anakku yang kecil badannya lagi anget. Waktu kutanya dari mana saja kok baru pulang, dia langsung marah-marah sambil menampar wajahku beberapa kali, Yu."

"Terus, Nduk?"

"Dia tidak mau cerita kemana saja. Malah diulang lagi beberapa malam sesudahnya. Pulang malam, marah-marah, dan memukuli aku. Dan itu sering terjadi hingga saat ini."

"Owalah, Nduk, lelakon seperti itu selama ini cuma kamu simpan sendiri? Mertuamu tahu gak?"

"Ya gak tahu, Yu. Jangan sampai mereka tahu. Kasihan sudah sepuh. Dan lagi suamiku kan anak tunggal, menjadi kebanggaan bapak-ibunya. Kalau mereka tahu pasti kecewa."

"Tapi kelakuan suamimu harus dihentikan, Nduk. Pilihannya, kamu cerita ke mertuamu atau lapor ke polisi."

"Tidak mungkin itu, Yu."

"Kok tidak mungkin?"

"Kalau aku cerita ke bapak-ibu, jelas aku gak tega karena bisa merusak kebahagiaan mereka. Dan kalau suamiku tahu, pasti akan semakin marah padaku, bahkan bisa-bisa aku dicerai, Yu. Kalau aku lapor polisi, jelas kasihan suamiku karena dia bisa ditahan karena melanggar hukum. Mesakke anak-anakku, Yu."

"Lha terus piye, Nduk? Mau diam saja dengan keadaanmu ini?"

"Biarlah kujalani lelakonku ini, Yu. Sudah nasibku."

Pak Bei menghembuskan asap kreteknya kuat-kuat untuk melepaskan gejolak batin yang menggumpal di dadanya.

"Njur aku kudu piye, Sri? Adikmu yang jelas teraniaya lahir-batinnya saja tidak ingin berubah. Dia tampak sangat mencintai suaminya, sangat ngeman anak-anaknya."

"Lha injih, Pak Bei. Saya juga bingung harus bagaimana melihat penderitaan adik saya itu."

"Sabar ya, Mbak Sri. Doakan saja mudah-mudahan Gusti Allah melembutkan hati adik iparmu."

"Injih, Bu Bei. Aamiin..."

"Kalau adikmu disuruh ngamalkan wirid untuk melembutkan hati suaminya, kira-kira mau gak, Sri?"

"Saya yakin mau, Pak Bei. Mungkin hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukannya."

"Ya sudah pulanglah dulu. Sebentar lagi maghrib, anak-anakmu pasti sudah menunggu. Nanti malam kukirimi wirid via WA, teruskan ke adikmu supaya diamalkan."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget. Saya nyuwun  pamit dulu."

Si Sri pun pulang. Pak Bei dan Bu Bei beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap ke masjid untuk mengikuti sholat jamaah.

#serialpakbeibubei




Kamis, 12 Maret 2020

ANGSUL-ANGSUL

ANGSUL-ANGSUL

Menjelang jam 8 pagi. Pak Bei masih asyik menyapu halaman sambil sesekali badannya membungkuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di musim hujan. Beberapa ekor ayam milik tetangga tampak asyik notholi laron-laron yang sudah kehilangan sayap dan bertebaran di tanah. Burung puter dan perkutut kesayangan Pak Bei tak hentinya manggung di sangkarnya seakan sedang bersaing menunjukkan eksistensi di depan majikannya. Burung kenari, love bird, dan trotokan pun tak  mau ketinggalan saling memamerkan gaya ocehannya.

Satu dua karyawan Bundaco mulai berdatangan, memarkir sepeda motornya, menyalami Pak Bei dengan takzim, lalu duduk-duduk dan ngobrol sambil menunggu pintu workshop dibuka oleh teman yang sedang piket. Pak Bei sering memanfaatkan suasana pagi seperti ini untuk diam-diam nguping pembicaraan karyawan yang kadang terdengar seru diselingi tawa-ria . Mereka gupyuh saling menceritakan kejadian di rumah atau desanya, tentang anak-anaknya yang suka jajan bakso ojek, tentang tilikan tetangga yang sakit dan diopname di Rumah Sakit, tentang pengajian dan arisan ibu-ibu di desanya, atau tentang hajatan tetangga yang tak jarang menjadi kembang lambe alias rerasanan masyarakat desa hanya karena angsul-angsul yang kurang patut.

Pak Bei jadi penasaran dengan rasanan seputar angsul-angsul itu, satu bentuk budaya hajatan yang --tampaknya-- hanya ada di Jawa, khususnya di pedesaan. Orang punya hajat, entah itu syukuran kelahiran bayi seperti sepasaran dan selapanan,  selamatan kematian seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun atau medhak pisan, medhak pindho, dan nyewu alias seribu hari, apalagi hajatan yang lebih besar seperti sunatan atau pernikahan anak, pasti melibatkan kerabat dekat dan tetangga untuk rewangan beberapa hari menyiapkan tempat acara dan aneka makanan untuk suguhan tamu-tamu. Kerabat dan tetangga dekat bukan hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran atau eguh-pertikel, tetapi juga sumbangan dalam bentuk sembako dan uang alias amplopan untuk membantu kelancaran acara. Khusus acara mantu alias walimahan atau pesta pernikahan, shahibul-hajat pasti menyebarkan undangan untuk teman-teman, kerabat jauh, dan handai tolan untuk hadir. Penerima undangan pun hadir dan dengan senang hati sebagai tamu terhormat yang datang dengan pakaian dan dandanan istimewa. Biasanya mereka memberi amplop sumbangan atau kado berupa barang sebagai tanda turut berdoa dan bergembira. Di pedesaan Jawa, sebagai tanda terima kasihnya, biasanya shahibul-hajat menyiapkan angsul-angsul yang dibagikan kepada semua tamunya.

Dulu, angsul-angsul itu berupa satu paket makanan berisi nasi, sambe goreng, kering tempe atau mihun, sepotong ayam goreng dan sebutir telur godhok, kue-kue seperti wajik, jenang lot, carang gesing, dan sebagainya yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa alias kroso. Bagi para tamu, angsul-angsul itu sedemikian berartinya sebagai oleh-oleh untuk anak-anaknya di rumah. Isi angsul-angsul yang komplit dan enak seakan mampu menghapus segala kekurangan shahibul-hajat dalam menerima tamunya. Sebaliknya, bila angsul-angsul agak kurang bermutu, maka bisa dipastikan hajatan sebesar apapun hanya akan menjadi kembang lambe tamu-tamunya.

Tapi itu dulu. Budaya hajatan jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tamu yang mendapatkan angsul-angsul hanya yang datang menyumbang ke rumah di hari sebelumnya, bukan yang datang di acara resepsi. Itu pun hanya berupa sekotak roti bakery yang tidak istimewa kualitas dan rasanya. Tamu yang datang di acara resepsi paling banter hanya mendapatkan suvenir berupa gunting kuku, atau pisau kethul, sisir, kipas, dsb yang terukir nama sepasang mempelai.

"Wah jan ora memper tenan kok, Yu. Blas tidak bermutu. Berani mantu nyebar undangan 3.000 orang, lha kok gak kuat ngasih angsul-angsul yang agak patut untuk tamunya," kata Marmi.

"Ya mungkin dia gak mau rugi kok, Mi. Pedagang kan pasti punya perhitungan yang cermat untuk semua pengeluaran dan pemasukannya," Sanah mencoba memahamkan Marmi.

"Lha kalau niatnya cari untung mbok gak usah punya gawe. Mending duitnya dikasihkan anaknya biar dipakai untuk modal usaha," sanggah Marmi.

"Yah itu kan kalau orang bodoh seperti kita, Mi," Tutik yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut ngomong juga. "Kalau orang pinter, semuanya sudah dihitung dengan cermat. Jangan sampai rugi. Syukur kalau bisa untung sebanyak-banyaknya. Makanya nyebar undangan yang banyak sekalian, tidak tanggung-taggung," lanjutnya Tutik.

Pintu workshop sudah terbuka, bel tanda karyawan harus mulai kerja pun sudah dibunyikan.  Semua karyawan yang dari tadi duduk-duduk dan ngobrol pun langsung mak gruduk masuk menuju tempat kerjanya masing-masing. Pak Bei yang dari tadi nyabuti rumput sambil senyam-senyum menguping pembicaraan karyawan pun melangkahkan kakinya, ganti kesibukan ngurusi burung-burung peliharaannya.

#serialpakbeibubei

Minggu, 08 Maret 2020

KRISMON LAGI

KRISMON LAGI

Betapa enak hidup seperti Pak Bei. Tinggal di desa yang ayem-tentrem di kawasan lereng gunung Merapi, di sekitarnya sawah terbentang dengan aneka tanaman padi, sayur, palawija, dan jeruk. Selokan irigasi yang lewat pinggir pekarangan rumah itu tanpa henti mengalirkan air jernih menuju persawahan. Sebenarnya tidak terlalu jauh juga rumah Pak Bei dari keramaian jalan raya. Dari jalan provinsi yang menghubungkan kota Klaten menuju Boyolali-Semarang cukup masuk 200 meter. Cukup dekat, tetapi suasana desa ini benar-benar hening sepi tanpa hiruk-pikuk deru mesin kendaraan dan bau asap knalpot. Hanya di saat-saat masuk waktu sholat, terdengar lantunan azan dari corong-corong masjid sekitar,  atau suara pesawat terbang dari dan menuju bandara Adisucipto, Yogyakarta. Selebihnya, hanya suara hembusan angin dan nyanyian burung-burung di kurungan yang tergantung di serambi rumah Pak Bei. Bila malam hari tiba, terdengar suara belalang dan jangkrik di pepohonan sekitar rumah, atau suara kucing berteriak-teriak hendak kawin, tanda mereka sedang birahi.

Sebagai orang desa, kegiatan Pak Bei setiap pagi selepas shubuh diawali dengan nderes Al-Quran. Setengah jam kemudian, Pak Bei mulai buka-buka hp di meja makan, baca-baca FB, Twitter, dan pesan WA group yang biasa masuk tanpa permisi memberondong tausiyah, gugah-gugah tahajud, atau obrolan dan caci-maki politik serta berita-berita yang tidak jarang hanya Hoax. Kadang Pak Bei tampak senyum-senyum atau mengernyitkan wajah, kadang juga ikut nulis komentar, sekadar sebagai tanda menghargai pertemanan di medsos. Bu Bei yang usreg di dapur menyiapkan menu sarapan pun tak lupa  membuatkan segelas kopi kesukaan Pak Bei, kopi semendo dari Palembang Tak lama kemudian, asap putih tampak mulai mengepul di ruang makan, tanda Pak Bei sudah menyulut kretek kegemarannya.

Beberapa saat kemudian, Pak Bei mulai menggerak-gerakkan badannya di halaman, olah raga senam kecil-kecilan sekadar menghangatkan badan, dilanjut menyapu sampah dedaunan yang berserak sisa hujan angin tadi malam. Bila halaman sudah bersih, Pak Bei mulai ngopeni beberapa burung kesayangannya: membersihkan kurungan, mengisi makanan, dan mengganti air minum. Bila matahari sudah naik sepenggalah, burung-burung itu dijemur setelah dimandikan terlebih dulu. Kenari, Love Bird, dan Trotokan disemprot air hingga thili-thili basah kuyup, dan khusus perkutut bangkok dimandikannya dengan cara dipegang dan dielus-elus lembut dangan jari-jarinya yang basah.

Begitulah rutinitas Pak Bei di pagi hari sebelum karyawan usaha konveksinya berdatangan dan menyalaminya satu-persatu. Sebelum karyawan mulai kerja jam 08.00, biasanya ada seorang staf admin, Mbak Lia namanya, bengok-bengok membacakan arahan, tugas dan target pekerjaan hari ini yang sudah ditulis Bu Bei tadi malam. Khusus di Senin pagi sebelum mulai kerja, semua karyawan berkumpul melingkar mengikuti briefing dari Bu Bei. Seperti dosen sedang mangajar mahasiswanya, briefing Bu Bei bukan hanya soal pekerjaan, tapi meluas ke soal-soal hidup bermasyarakat, membina rumah tangga, mendidik anak, ngopeni orang tua atau mertua, diselingi guyonan-guyonan khas keputrian. Maklumlah, ke-30 karyawan Bu Bei semua perempuan. Beberapa masih gadis, tapi lebih banyak yang sudah berkeluarga dan sudah bekerja pada Bu Bei sejak 15an tahun lalu.

Di antara 30 karyawan itu, ada seorang karyawan yang bertugas sebagai kitchen staf alias juru masak yang menyiapkan makan siang karyawan. Muryani namanya, biasa dipanggil Mbak Mur. Di samping tugas utama sebagai juru masak, Mbak Mur merangkap sebagai asisten Bu Bei untuk tugas-tugas domestik seperti mencuci dan nyetrika pakaian, juga membersihkan rumah yang cukup luas itu. Etos kerja Mbak Mur sangat profesional. Tidak banyak cakap, tapi apapun menu masakannya dijamin lezat rasanya. Sesuai dengan tugasnya sebagai asisten urusan domestik, dia juga sangat menguasai seluk-beluk nDalem Pak Bei. Semua sudut rumah beserta isinya dikuasainya dengan baik. Tidak jarang Pak Bei dan Bu Bei harus tanya ke Mbak Mur bila mencari sesuatu.

Betapa heran Pak Bei pagi tadi tanpa sengaja mendengar obrolan Mbak Mur dengan Yu Marni penjual sayur keliling langganannya. Mereka seperti ngomel-ngomel, entah apa yang diomelkan. Rasa penasaran menggiring Pak Bei mendekatinya.

"Ada apa kok tampak serius obrolannya, Yu?" tanya Pak Bei.

"Ini lho, Pak, harga-harga sekarang naik semua. Cabe rawit satu ons saja kok 15 ribu. Brambang bawang naik semua. Sawi 10 unting 5 ribu. Tempe, tahu, dan ikan asin juga ikut naik," jawab Mbak Mur dengan nada kesal.

"Sekarang pasar Gabus juga sepi lho, Pak. Tidak seperti biasanya. Entah ini pertanda apa," kata Yu Marni yang setiap pagi kulakan di pasar Gabus.

"Ini kok seperti jaman mau krismon dulu ya, Pak?," Mbak Mur mencoba memancing jawaban Pak Bei yang cuma senyum-senyum dari tadi.

"Yang salah kita juga kok, Mur," kata Yu Marni.

"Salah piye, Yu?

"Salah milih presiden. Iya to, Pak Bei?"

Pak Bei agak kaget ditanya Yu Marni. "Lha kok tekan salah milih presiden to, Yu. Piye maksudmu?," Pak Bei minta penjelasan.

"Lha kalau situasai jadi seperti ini, Pak. Harga-harga semua naik, jadi larang sandhang-pangan, biaya sekolah mahal, orang sakit jadi semakin sulit urusan ke dokter, siapa lagi penyebabnya kalau bukan presiden yang tidak jegos bekerja. Iya to, Pak?," jawab Yu Marni.

"Iya ya, Yu. Salahe rakyat juga, waktu pemilu mau disogok duit nyeket ewu. Dho kapok saiki," tambah Mbak Mur.

Pak Bei cuma senyum-senyum mendengar jawaban Yu Marni dan Mbak Mur yang di luar dugaan. Rupanya sedang benar-benar terjadi situasi yang diomongkan pada pengamat ekonomi dan politik, situasi krusial yang konon bisa menyebabkan jatuhnya presiden dari singgasananya.

"Wallaahua'lambishawab....," gumam Pak Bei meninggalkan ibu-ibu yang masih bertransaksi di bawah pohon alpukat.

#serialpakbeibubei