GEGER CORONA
Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa seluruh penduduk bumi akan mengalami Perang Dunia sedahsyat ini. Perang dahsyat yang bukan lagi antar negara atau pakta pertahanan yang memperebutkan teritorial, cadangan minyak dan gas bumi, atau balas dendam karena terjadi pembunuhan seorang diplomat, misalnya. Bukan. Sama sekali bukan.
Pada perang kali ini, seluruh penduduk bumi menghadapi tentara langit tak kasat mata yang menyerang dari berbagai penjuru, membunuh siapa saja yang dijumpainya, tanpa ampun dan tanpa pandang bulu. Tentara langit itu bernama Virus Corona namanya, atau disebut Covid-19, konon berasal dari provinsi Wugan, China. Ribuan nyawa sudah melayang di berbagai negara, dan ratusan ribu penduduk bumi telah terpapar virus ini. Setiap saat, media tivi dan media sosial tak henti memberitakan --dan viral-- tentang jatuhnya korban di berbagai kota.
Musuh bersama kali ini tidak bisa dihadapi dengan mengandalkan tentara dan polisi dengan senjata lengkap dan canggih sekalipun. Pesawat tempur super canggih dilengkapi rudal berkepala uklir seperti SU-35 yang hingga kini Pemerintah kita masih gojak-gajek mau kita beli atau tidak pun tidak akan ada artinya. Rudal Patriot, Tank Leopard, apalagi panser Anoa buatan PT Pindad dan berbagai senjata tentengan seperti AK47 dan M16 pun pasti mejen semua, alias tak mampu berbuat apa pun menghadapi Covid-19.
Guna menghindari semakin banyak jatuh korban, Pemerintah Pusat hingga Provinsi, Kabupaten/Kota dan Desa telah menyampaikan instruksi bagi warganya. Juga berbagai lembaga keagamaan seperti MUI dan PP Muhammadiyah, telah mengeluarkan maklumat agar ditaati seluruh masyarakat. Instruksi dan maklumat itu berisi anjuran dan larangan, seperti menjaga kebersihan, menghindari bepergian dan kerumunan warga (social distance), dan sebagainya. Seluruh kegiatan di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan kantor-kantor telah diliburkan. Karpet-karpet masjid dan mushola telah digulung. Di beberapa daerah, ibadah Sholat Jumat dan sholat rawatib berjamaah ditiadakan. Peribadatan di gereja-gereja, klenteng, pura, dan vihara juga dihentikan untuk jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Rencana orang menggelar hajatan seperti resepsi pernikahan terpaksa harus dibatalkan. Bila ada yang nekad, polisi tidak segan-segan akan membubarkannya.
Pada pertempuran kali ini, yang paling berat dan beresiko tinggi adalah para petugas medis seperti dokter dan perawat. Mereka harus berada di garda terdepan meski tak jarang mereka kesulitan perlengkapan penunjang seperti pakaian Alat Pelindung Diri (APD), masker, sarung tangan, dan sepatu yang aman. Demikian juga para relawan dan sopir ambulan yang setiap saat harus mengevakuasi korban, atau para penggali kubur yang harus mengubur jenazah korban Covid-19. Sungguh mereka sangat rentan tertular virus mematikan ini.
"Kang, kita harus ikut berbuat," begitu suara Makruf rekan Pak Bei yang tinggal di Jogja dan aktivis pemberdayaan masyarakat via telepon kemarin pagi. "Ini semua Rumah Sakit mengalami krisis APD, Kang. Mereka mau beli, tapi di mana-mana tidak ada barang. Ketersediaan barang tak sebanding dengan kebutuhan yang sangat tinggi dan mendesak ini," begitu Makruf melanjutkan.
"Apa yang bisa kita perbuat, Nda?, tanya Pak Bei.
"Begini. Sampeyan kan punya usaha konveksi. Ada banyak penjahit. Tolong Sampeyan bikin APD. Ini kebutuhan mendesak, Kang. Kalau Sampeyan siap, nanti saya hubungkan dengan berbagai pihak dan Rumah Sakit."
Mendengar suara Makruf itu, Pak Bei sangat tertohok. Makruf yang juga dosen UMY itu masih punya kepekaan tinggi terhadap situasi sulit yang sedang terjadi. Seharusnya Pak Bei sudah dari kemarin melihat hal itu, tapi tidak. Pak Bei tidak punya imajinasi ke sana, dan masih suntuk dengan pekerjaannya sendiri yang kebetulan lagi prepegan, lagi banyak order menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
"Terus piye, Nda? Apa yang bisa kulakukan?," tanya Pak Bei.
"Pak Bei siapkan beberapa penjahit, ayo kita produksi APD."
"Waah....semua karyawanku sudah full ngerjakan order menjelang Ramadhan, Nda. Modalku juga sudah terserap ke sana."
"Sampeyan pasti bisa cari solusi, Kang. Kan banyak penjahit di luar yang bisa diajak. Soal modal kita pikir belakangan. Dah gitu, ya, kutunggu APD karya Pak Bei," Makruf mengakhiri pembicaraan.
Kebetulan kemarin Pak Bei dan Bu Bei ada agenda kulakan ke Solo, sekalian cari bahan untuk membuat APD sesuai saran Makruf. Alhamdulillah dapat juga bahan yang dicari. Hari ini, sejak pagi seorang karyawannya yang cukup mahir, Iftina namanya, ditugasi membuat sampel baju APD. Alhamdulillah sore ini satu sampel baju APD sudah siap dilounching. Yang berminat PO untuk melindungi para petugas di Rumah Sakit, silakan hubungi Pak Bei di WA 087839454741.
Semoga Allah SWT melindungi seluruh bangsa Indonesia dari wabah Corona ini. Aamiin.
#serialpakbeibubei