PAGEBLUK
Sabtu pagi. Tidak biasanya Bu Bei mengadakan briefing karyawan. Sejak awal membuka usaha konveksi 16 tahun yang lalu, briefing selalu diadakan setiap Senin pagi untuk mengavaluasi pekerjaan seminggu lalu dan mengarahkan pekerjaan seminggu ke depan, sekaligus membina mental spiritual karyawan. Bila diperlukan, sesekali Pak Bei bergabung dan ikut bicara.
"Teman-temanku, sahabat-sahabatku, adik-adikku," Bu Bei mengawali breifing dengan sapaannya yang khas, "Pagi ini saya merasa perlu mengumpulkan kalian sehubungan dengan semakin hebohnya wabah corona yang sedang melanda dunia dan negeri kita," lanjutnya. Semua karyawan tampak antusias mendengarkan. Satu dua karyawan yang datang terlambat langsung ikut bergabung duduk melingkar.
"Tentu kalian sudah mendengar dari tivi dan medsos, betapa dahsyatnya dampak wabah pendemik ini. Di negeri kita saja sudah 300an korban meninggal serta ribuan orang dalam pantauan. Korban mungkin akan terus berjatuhan bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan rakyat. Sayang sekali yang kita saksikan dan baca tiap hari justru para pejabat dan tokoh politik yang seolah saling menyalahkan, saling mencaci, saling curiga, lalu dihubung-hubungkan dengan Pilpres 2024 yang masih jauh."
Pak Bei yang dari tadi hanya nguping, menyimak diam-diam sambil menikmati kopi di meja makan, tampak tergerak ikut bergabung di arena briefing. Sambil mmbawa dingklik, tempat duduk pendek, Pak Bei masuk dan langsung duduk di samping Bu Bei.
"Sahabatku semua, alhamdulillah kali ini Pak Bei mau bergabung dengan kita, tentu ada yang ingin beliau sampaikan. Mari kita dengarkan baik-baik. Silakan, Pak Bei," kata Bu Bei.
"Anak-anakku," kata Pak Bei setelah mengucapkan salam, "Dunia kita saat ini sedang mengalami pagebluk berupa wabah virus corona yang juga disebut covid-19. Sejarah telah mencatat dunia ini pernah beberapa kali mengalami pagabluk. Sejak jaman sebelum Masehi, manusia telah mengalami bermacam-macam pagebluk. Ada wabah malaria, lepra, pes, black dead, virus flu babi, flu burung, SARS, dan sebagainya. Jutaan nyawa melayang karena pagebluk. Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami serangan dahsyat virus corona yang berasal dari Wuhan China." Pak Bei menghela nafasnya. Semua karyawan yang semula menyimak sambil memandang Pak Bei pun menundukkan wajahnya. Entah apa yang dibayangkannya.
"Tapi kita tidak usah takut, Anak-anakku," Pak Bei melanjutkan wejangannya. "Kita harus yakin bahwa kematian itu soal batas usia. Kematian pasti akan datang kapan saja, di mana saja, dan entah sebab apa. Hanya Allah SWT yang tahu."
Suasana hening. Semua wajah menunduk. Pak Bei kembali meneruskan wejangan, "Lalu bagaimana cara kita menyikapi pagebluk ini, Anak-anakku? Pertama, jangan takut dan jangan panik. Kedua, ikuti himbauan, arahan, dan larangan yang disampaikan Pemerintah. Jangan sok pintar sendiri dan jangan sok berani alias kemendel. Jaga kebersihan. Jangan bepergian bila tidak penting. Hindari kerumunan. Rajin cuci tangan."
"Pangapunten, Pak Bei," tampak karyawan yang biasa dipanggil Mbak Atun angkat bicara, "Pemerintah kan menghimbau supaya anak-anak sekolah belajar di rumah, alias libur sekolah. Rakyat juga disuruh kerja di rumah, Pak Bei. Lah kalau kami harus kerja di rumah, bagaimana caranya? Ini kan sama dengan kita libur gak kerja. Lalu kita mau makan apa, Pak Bei? Apa Pemerintah mau menanggung biaya hidup kami?"
"Iya betul. Iya betul. Iya betul itu," tampak beberapa karyawan lain menyetujui pertanyaan Mbak Atun.
"Begini, Anak-anakku. Memang betul Pemerintah menyampaikan himbauan itu. Kantor-kantor Pemerintah pun langsung mentaatinya. Semua pegawai bekerja dari rumah. Mungkin juga pabrik-pabrik besar dengan karyawan ribuan akan segera ikut meliburkan karyawan, tentu dengan konsekuensi karyawan tetap digaji, meski hanya gaji pokok saja. Itu wajar, karena pabrik-pabrik besar selama ini sudah mendapatkan fasilitas khusus dari Pemerintah, sejak membangun pabrik, perijinan, rekrutmen tenaga kerja, pajak, dan sebagainya."
"Kalau kita bagaimana, Pak Bei?," Mbak Atun bertanya lagi.
"Kita ini usaha kecil, modal kecil, usaha rumahan, UMKM, yang alhamdulillah tidak pernah ngrepoti Pemerintah, tapi justru membantu Pemerintah membuat lapangan kerja di desa. Karyawan kita juga cuma sedikit, tidak sebanyak di pabrik-pabrik yang ribuan karyawan berkumpul sehingga dikhawatirkan akan mudah menularkan virus. Jadi, Insya Allah kita tidak akan libur. Kita tetap bekerja seperti biasa."
"Maaf, Pak Bei," tampak Bu Bei menyela, "Tadi sudah saya sampaikan supaya untuk sementara ini semua karyawan menghindari salam-salaman apalagi cipika-cipiki. Hindari juga saling bersentuhan, apalagi duduk suk-sukan. Dan jangan lupa sering cuci tangan pakai cairan yang sudah kita siapkan."
"Baiklah, Anak-anakku. Demikian wejanganku pagi ini. Ingat, kita ikuti himbauan Pemerintah dan orang-orang pandai, berikhtiar maksimal demi menjaga kesehatan, dan selebihnya kita bertawakkal pada Allah SWT. Selamat bekerja, Anak-anakku."
Lingkaran beiefing pun bubar. Tak berapa lama kemudian suara dinamo mesin-mesin jahit mulai terdengar. Semua karyawan khusyuk bekerja, mengerjakan tugasnya masing-masing sesuai arahan tertulis yang dibuat Bu Bei sejak tadi malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar