Senin, 16 Maret 2020

KDRT

KDRT

Pak Bei masih terbengong-bengong mendengar cerita dari salah satu karyawannya. Betul-betul tidak habis pikir bagaimana lelakon seperti itu bisa terjadi di jaman ini. Lidah Pak Bei seakan kaku, kelu, tak mampu berkata-kata untuk sekadar merespon. Kopi panas yang sudah dituangkannya di lepek dari tadi pun lupa tak kunjung diminumnya. Bu Bei yang duduk di dekat Sri Rejeki karyawannya itu pun tampak sembab matanya, berkaca-kaca. Bu Bei tampak sangat terharu. Sesekali disapunya air mata yang menetes di pipi dengan tisu di tangan kirinya.

Sri Rejeki termasuk karyawan senior pada konveksi Bu Bei. Tidak kurang dari 11 tahun dia bekerja sebagai operator mesin jahit, sejak kedua anaknya masih usia SD dan sekarang sudah besar-besar. Seperti karyawan senior lainnya, si Sri sudah sangat mbateh di nDalem Pak Bei, sudah seperti keluarga, sehingga tidak sungkan-sungkan minta curhat dan eguh-pertikel pada juragannya seusai jam kerja. Seperti sore itu, Sri Rejeki minta curhat tentang lakon adik perempuannya yang tinggal di Jakarta.

Diceritakannya, adiknya itu bernama Surani, biasa dipanggil Rani. Sejak lulus D3 keperawatan 10 tahun yang lalu, Rani diterima bekerja pada sebuah klinik kesehatan di Jakarta. Dua tahun bekerja, dia pun menikah dengan jejaka asal Lampung yang bekerja pada sebuah bank swasta di Jakarta. Saat ini, mereka telah dikarunia 3 anak yang lucu-lucu. Ekonomi rumah tangga adiknya juga tampak bagus, terbukti mereka sudah punya rumah sendiri dan sebuah mobil yang dipakai mudik lebaran tahun lalu.

Sungguh miris dan di luar dugaan. Tiga malam yang lalu, Rani kirim WA, curhat tentang peristiwa yang baru saja dialaminya pada mbakyunya. Dia kirim foto wajahnya yang berdarah-darah, bibirnya sobek, dan pelupuk matanya tampak biru.

"Ya Allah....kamu kenapa, Nduk?," tanya si Sri merespon foto adiknya.

"Memang sudah nasibku kok, Yu," jawab Rani disertai ikon menangis.

"Habis jatuh? Kecelakaan?"

"Enggak kok, Yu."

"Lha kenapa? Ya Allaah.....pasti sakit itu."

"Aku malu mau cerita, Yu."

"Nduk, aku ini mbakyumu, pengganti almarhumah Simbok. Kalau kamu sakit, aku juga merasa sakit. Kalau kamu sedih, aku juga jadi sedih. Ceritakan apa masalahmu, Nduk, mungkin aku bisa membantu," si Sri berusaha membujuk adiknya supaya mau cerita.

"Yu, aku mau cerita, tapi tolong disimpan rapat-rapat, jangan diceritakan pada siapapun, ya."

"Iya, Nduk. Percayalah pada mbakyumu ini."

"Yu, dulu aku tidak pernah mengira bahwa suamiku akan berubah seperti ini."

"Berubah piye, Nduk?"

"Sejak lima tahun yang lalu, dia sering menganiaya aku seperti ini, Yu," jawab Rani disertai 5 ikon menangis.

"Loh....jadi wajahmu jadi seperti itu karena dipukuli suamimu?"

"Iya, Yu. Selama ini aku tidak berani cerita pada siapapun."

"Masya Allah...kejam sekali. Kira-kira kenapa dia bisa berubah jadi kejam begitu, Nduk?"

"Dulu awalnya dia pulang kerja jam 1 malam, Yu. Dari sore HPnya gak bisa kuhubungi, padahal anakku yang kecil badannya lagi anget. Waktu kutanya dari mana saja kok baru pulang, dia langsung marah-marah sambil menampar wajahku beberapa kali, Yu."

"Terus, Nduk?"

"Dia tidak mau cerita kemana saja. Malah diulang lagi beberapa malam sesudahnya. Pulang malam, marah-marah, dan memukuli aku. Dan itu sering terjadi hingga saat ini."

"Owalah, Nduk, lelakon seperti itu selama ini cuma kamu simpan sendiri? Mertuamu tahu gak?"

"Ya gak tahu, Yu. Jangan sampai mereka tahu. Kasihan sudah sepuh. Dan lagi suamiku kan anak tunggal, menjadi kebanggaan bapak-ibunya. Kalau mereka tahu pasti kecewa."

"Tapi kelakuan suamimu harus dihentikan, Nduk. Pilihannya, kamu cerita ke mertuamu atau lapor ke polisi."

"Tidak mungkin itu, Yu."

"Kok tidak mungkin?"

"Kalau aku cerita ke bapak-ibu, jelas aku gak tega karena bisa merusak kebahagiaan mereka. Dan kalau suamiku tahu, pasti akan semakin marah padaku, bahkan bisa-bisa aku dicerai, Yu. Kalau aku lapor polisi, jelas kasihan suamiku karena dia bisa ditahan karena melanggar hukum. Mesakke anak-anakku, Yu."

"Lha terus piye, Nduk? Mau diam saja dengan keadaanmu ini?"

"Biarlah kujalani lelakonku ini, Yu. Sudah nasibku."

Pak Bei menghembuskan asap kreteknya kuat-kuat untuk melepaskan gejolak batin yang menggumpal di dadanya.

"Njur aku kudu piye, Sri? Adikmu yang jelas teraniaya lahir-batinnya saja tidak ingin berubah. Dia tampak sangat mencintai suaminya, sangat ngeman anak-anaknya."

"Lha injih, Pak Bei. Saya juga bingung harus bagaimana melihat penderitaan adik saya itu."

"Sabar ya, Mbak Sri. Doakan saja mudah-mudahan Gusti Allah melembutkan hati adik iparmu."

"Injih, Bu Bei. Aamiin..."

"Kalau adikmu disuruh ngamalkan wirid untuk melembutkan hati suaminya, kira-kira mau gak, Sri?"

"Saya yakin mau, Pak Bei. Mungkin hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukannya."

"Ya sudah pulanglah dulu. Sebentar lagi maghrib, anak-anakmu pasti sudah menunggu. Nanti malam kukirimi wirid via WA, teruskan ke adikmu supaya diamalkan."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget. Saya nyuwun  pamit dulu."

Si Sri pun pulang. Pak Bei dan Bu Bei beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap ke masjid untuk mengikuti sholat jamaah.

#serialpakbeibubei




Tidak ada komentar:

Posting Komentar