Minggu, 08 Maret 2020

KRISMON LAGI

KRISMON LAGI

Betapa enak hidup seperti Pak Bei. Tinggal di desa yang ayem-tentrem di kawasan lereng gunung Merapi, di sekitarnya sawah terbentang dengan aneka tanaman padi, sayur, palawija, dan jeruk. Selokan irigasi yang lewat pinggir pekarangan rumah itu tanpa henti mengalirkan air jernih menuju persawahan. Sebenarnya tidak terlalu jauh juga rumah Pak Bei dari keramaian jalan raya. Dari jalan provinsi yang menghubungkan kota Klaten menuju Boyolali-Semarang cukup masuk 200 meter. Cukup dekat, tetapi suasana desa ini benar-benar hening sepi tanpa hiruk-pikuk deru mesin kendaraan dan bau asap knalpot. Hanya di saat-saat masuk waktu sholat, terdengar lantunan azan dari corong-corong masjid sekitar,  atau suara pesawat terbang dari dan menuju bandara Adisucipto, Yogyakarta. Selebihnya, hanya suara hembusan angin dan nyanyian burung-burung di kurungan yang tergantung di serambi rumah Pak Bei. Bila malam hari tiba, terdengar suara belalang dan jangkrik di pepohonan sekitar rumah, atau suara kucing berteriak-teriak hendak kawin, tanda mereka sedang birahi.

Sebagai orang desa, kegiatan Pak Bei setiap pagi selepas shubuh diawali dengan nderes Al-Quran. Setengah jam kemudian, Pak Bei mulai buka-buka hp di meja makan, baca-baca FB, Twitter, dan pesan WA group yang biasa masuk tanpa permisi memberondong tausiyah, gugah-gugah tahajud, atau obrolan dan caci-maki politik serta berita-berita yang tidak jarang hanya Hoax. Kadang Pak Bei tampak senyum-senyum atau mengernyitkan wajah, kadang juga ikut nulis komentar, sekadar sebagai tanda menghargai pertemanan di medsos. Bu Bei yang usreg di dapur menyiapkan menu sarapan pun tak lupa  membuatkan segelas kopi kesukaan Pak Bei, kopi semendo dari Palembang Tak lama kemudian, asap putih tampak mulai mengepul di ruang makan, tanda Pak Bei sudah menyulut kretek kegemarannya.

Beberapa saat kemudian, Pak Bei mulai menggerak-gerakkan badannya di halaman, olah raga senam kecil-kecilan sekadar menghangatkan badan, dilanjut menyapu sampah dedaunan yang berserak sisa hujan angin tadi malam. Bila halaman sudah bersih, Pak Bei mulai ngopeni beberapa burung kesayangannya: membersihkan kurungan, mengisi makanan, dan mengganti air minum. Bila matahari sudah naik sepenggalah, burung-burung itu dijemur setelah dimandikan terlebih dulu. Kenari, Love Bird, dan Trotokan disemprot air hingga thili-thili basah kuyup, dan khusus perkutut bangkok dimandikannya dengan cara dipegang dan dielus-elus lembut dangan jari-jarinya yang basah.

Begitulah rutinitas Pak Bei di pagi hari sebelum karyawan usaha konveksinya berdatangan dan menyalaminya satu-persatu. Sebelum karyawan mulai kerja jam 08.00, biasanya ada seorang staf admin, Mbak Lia namanya, bengok-bengok membacakan arahan, tugas dan target pekerjaan hari ini yang sudah ditulis Bu Bei tadi malam. Khusus di Senin pagi sebelum mulai kerja, semua karyawan berkumpul melingkar mengikuti briefing dari Bu Bei. Seperti dosen sedang mangajar mahasiswanya, briefing Bu Bei bukan hanya soal pekerjaan, tapi meluas ke soal-soal hidup bermasyarakat, membina rumah tangga, mendidik anak, ngopeni orang tua atau mertua, diselingi guyonan-guyonan khas keputrian. Maklumlah, ke-30 karyawan Bu Bei semua perempuan. Beberapa masih gadis, tapi lebih banyak yang sudah berkeluarga dan sudah bekerja pada Bu Bei sejak 15an tahun lalu.

Di antara 30 karyawan itu, ada seorang karyawan yang bertugas sebagai kitchen staf alias juru masak yang menyiapkan makan siang karyawan. Muryani namanya, biasa dipanggil Mbak Mur. Di samping tugas utama sebagai juru masak, Mbak Mur merangkap sebagai asisten Bu Bei untuk tugas-tugas domestik seperti mencuci dan nyetrika pakaian, juga membersihkan rumah yang cukup luas itu. Etos kerja Mbak Mur sangat profesional. Tidak banyak cakap, tapi apapun menu masakannya dijamin lezat rasanya. Sesuai dengan tugasnya sebagai asisten urusan domestik, dia juga sangat menguasai seluk-beluk nDalem Pak Bei. Semua sudut rumah beserta isinya dikuasainya dengan baik. Tidak jarang Pak Bei dan Bu Bei harus tanya ke Mbak Mur bila mencari sesuatu.

Betapa heran Pak Bei pagi tadi tanpa sengaja mendengar obrolan Mbak Mur dengan Yu Marni penjual sayur keliling langganannya. Mereka seperti ngomel-ngomel, entah apa yang diomelkan. Rasa penasaran menggiring Pak Bei mendekatinya.

"Ada apa kok tampak serius obrolannya, Yu?" tanya Pak Bei.

"Ini lho, Pak, harga-harga sekarang naik semua. Cabe rawit satu ons saja kok 15 ribu. Brambang bawang naik semua. Sawi 10 unting 5 ribu. Tempe, tahu, dan ikan asin juga ikut naik," jawab Mbak Mur dengan nada kesal.

"Sekarang pasar Gabus juga sepi lho, Pak. Tidak seperti biasanya. Entah ini pertanda apa," kata Yu Marni yang setiap pagi kulakan di pasar Gabus.

"Ini kok seperti jaman mau krismon dulu ya, Pak?," Mbak Mur mencoba memancing jawaban Pak Bei yang cuma senyum-senyum dari tadi.

"Yang salah kita juga kok, Mur," kata Yu Marni.

"Salah piye, Yu?

"Salah milih presiden. Iya to, Pak Bei?"

Pak Bei agak kaget ditanya Yu Marni. "Lha kok tekan salah milih presiden to, Yu. Piye maksudmu?," Pak Bei minta penjelasan.

"Lha kalau situasai jadi seperti ini, Pak. Harga-harga semua naik, jadi larang sandhang-pangan, biaya sekolah mahal, orang sakit jadi semakin sulit urusan ke dokter, siapa lagi penyebabnya kalau bukan presiden yang tidak jegos bekerja. Iya to, Pak?," jawab Yu Marni.

"Iya ya, Yu. Salahe rakyat juga, waktu pemilu mau disogok duit nyeket ewu. Dho kapok saiki," tambah Mbak Mur.

Pak Bei cuma senyum-senyum mendengar jawaban Yu Marni dan Mbak Mur yang di luar dugaan. Rupanya sedang benar-benar terjadi situasi yang diomongkan pada pengamat ekonomi dan politik, situasi krusial yang konon bisa menyebabkan jatuhnya presiden dari singgasananya.

"Wallaahua'lambishawab....," gumam Pak Bei meninggalkan ibu-ibu yang masih bertransaksi di bawah pohon alpukat.

#serialpakbeibubei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar