Kamis, 12 Maret 2020

ANGSUL-ANGSUL

ANGSUL-ANGSUL

Menjelang jam 8 pagi. Pak Bei masih asyik menyapu halaman sambil sesekali badannya membungkuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di musim hujan. Beberapa ekor ayam milik tetangga tampak asyik notholi laron-laron yang sudah kehilangan sayap dan bertebaran di tanah. Burung puter dan perkutut kesayangan Pak Bei tak hentinya manggung di sangkarnya seakan sedang bersaing menunjukkan eksistensi di depan majikannya. Burung kenari, love bird, dan trotokan pun tak  mau ketinggalan saling memamerkan gaya ocehannya.

Satu dua karyawan Bundaco mulai berdatangan, memarkir sepeda motornya, menyalami Pak Bei dengan takzim, lalu duduk-duduk dan ngobrol sambil menunggu pintu workshop dibuka oleh teman yang sedang piket. Pak Bei sering memanfaatkan suasana pagi seperti ini untuk diam-diam nguping pembicaraan karyawan yang kadang terdengar seru diselingi tawa-ria . Mereka gupyuh saling menceritakan kejadian di rumah atau desanya, tentang anak-anaknya yang suka jajan bakso ojek, tentang tilikan tetangga yang sakit dan diopname di Rumah Sakit, tentang pengajian dan arisan ibu-ibu di desanya, atau tentang hajatan tetangga yang tak jarang menjadi kembang lambe alias rerasanan masyarakat desa hanya karena angsul-angsul yang kurang patut.

Pak Bei jadi penasaran dengan rasanan seputar angsul-angsul itu, satu bentuk budaya hajatan yang --tampaknya-- hanya ada di Jawa, khususnya di pedesaan. Orang punya hajat, entah itu syukuran kelahiran bayi seperti sepasaran dan selapanan,  selamatan kematian seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun atau medhak pisan, medhak pindho, dan nyewu alias seribu hari, apalagi hajatan yang lebih besar seperti sunatan atau pernikahan anak, pasti melibatkan kerabat dekat dan tetangga untuk rewangan beberapa hari menyiapkan tempat acara dan aneka makanan untuk suguhan tamu-tamu. Kerabat dan tetangga dekat bukan hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran atau eguh-pertikel, tetapi juga sumbangan dalam bentuk sembako dan uang alias amplopan untuk membantu kelancaran acara. Khusus acara mantu alias walimahan atau pesta pernikahan, shahibul-hajat pasti menyebarkan undangan untuk teman-teman, kerabat jauh, dan handai tolan untuk hadir. Penerima undangan pun hadir dan dengan senang hati sebagai tamu terhormat yang datang dengan pakaian dan dandanan istimewa. Biasanya mereka memberi amplop sumbangan atau kado berupa barang sebagai tanda turut berdoa dan bergembira. Di pedesaan Jawa, sebagai tanda terima kasihnya, biasanya shahibul-hajat menyiapkan angsul-angsul yang dibagikan kepada semua tamunya.

Dulu, angsul-angsul itu berupa satu paket makanan berisi nasi, sambe goreng, kering tempe atau mihun, sepotong ayam goreng dan sebutir telur godhok, kue-kue seperti wajik, jenang lot, carang gesing, dan sebagainya yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa alias kroso. Bagi para tamu, angsul-angsul itu sedemikian berartinya sebagai oleh-oleh untuk anak-anaknya di rumah. Isi angsul-angsul yang komplit dan enak seakan mampu menghapus segala kekurangan shahibul-hajat dalam menerima tamunya. Sebaliknya, bila angsul-angsul agak kurang bermutu, maka bisa dipastikan hajatan sebesar apapun hanya akan menjadi kembang lambe tamu-tamunya.

Tapi itu dulu. Budaya hajatan jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tamu yang mendapatkan angsul-angsul hanya yang datang menyumbang ke rumah di hari sebelumnya, bukan yang datang di acara resepsi. Itu pun hanya berupa sekotak roti bakery yang tidak istimewa kualitas dan rasanya. Tamu yang datang di acara resepsi paling banter hanya mendapatkan suvenir berupa gunting kuku, atau pisau kethul, sisir, kipas, dsb yang terukir nama sepasang mempelai.

"Wah jan ora memper tenan kok, Yu. Blas tidak bermutu. Berani mantu nyebar undangan 3.000 orang, lha kok gak kuat ngasih angsul-angsul yang agak patut untuk tamunya," kata Marmi.

"Ya mungkin dia gak mau rugi kok, Mi. Pedagang kan pasti punya perhitungan yang cermat untuk semua pengeluaran dan pemasukannya," Sanah mencoba memahamkan Marmi.

"Lha kalau niatnya cari untung mbok gak usah punya gawe. Mending duitnya dikasihkan anaknya biar dipakai untuk modal usaha," sanggah Marmi.

"Yah itu kan kalau orang bodoh seperti kita, Mi," Tutik yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut ngomong juga. "Kalau orang pinter, semuanya sudah dihitung dengan cermat. Jangan sampai rugi. Syukur kalau bisa untung sebanyak-banyaknya. Makanya nyebar undangan yang banyak sekalian, tidak tanggung-taggung," lanjutnya Tutik.

Pintu workshop sudah terbuka, bel tanda karyawan harus mulai kerja pun sudah dibunyikan.  Semua karyawan yang dari tadi duduk-duduk dan ngobrol pun langsung mak gruduk masuk menuju tempat kerjanya masing-masing. Pak Bei yang dari tadi nyabuti rumput sambil senyam-senyum menguping pembicaraan karyawan pun melangkahkan kakinya, ganti kesibukan ngurusi burung-burung peliharaannya.

#serialpakbeibubei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar