Rabu, 01 Desember 2021

REUNI

REUNI

Hari masih pagi. Pak Bei baru saja mengakhiri nderes beberapa halaman Al-Quran --kebiasaannya setiap bakda shubuh-- lalu menyalakan kompor memasak air untuk bikin kopi. Burung-burung perkutut dan derkuku peliharaan yang tergantung di teras depan sudah manggung bernyanyi bersahutan dari tadi. Terdengar juga beberapa kendaraan lewat di jalan depan rumah, biasanya para petani mau ke sawah, atau pedagang sayur  keliling mau menuju daerah sasarannya. Sambil menunggu air mendidih, Pak Bei membuka pintu-pintu dan jendela untuk ngundhuh udara segar serta sinar mentari pagi.

Betapa kaget Pak Bei ketika membuka pintu depan, dilihatnya sesosok lelaki duduk tercogok di gladri kayu di teras sambil membolak-balik koran Solo Pos edisi kemarin. Tak asing lagi, dilihat dari bentuk punggung, rambut ikal, dan gaya duduknya, orang itu sahabat lamanya yang entah sudah berapa purnama tidak pernah ketemu. "Wah mau reuni nih...," pikir Pak Bei.

"Sasa ya? Sudah lama di sini?" tanya Pak Bei mengagetkan Sasa yang sedang asyik membaca.

"Hehehe...iya, Pak Bei. Assalaamu'alaikum...," jawab Sasa sambil berdiri dan mengulurkan tangannya menyalami Pak Bei.

"Kok gak salam dari tadi? tanya Pak Bei setelah menjawab salamnya.

"Lha tadi Pak Bei masih mengaji, ya aku duduk saja di sini sambil mendengarkan dan menikmati. Wah nyamleng tenan dengarkan ngaji Pak Bei. Adem rasanya."

"Sebentar ya, kubuat kopi dulu. Air sudah mendidih."

"Siap, Pak Bei."

Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke depan dengan membawa dua gelas kopi di nampan dan sebungkus rokok kretek.

"Kupikir kamu sudah di Jakarta pagi ini, Sa," kata Pak Bei sambil meletakkan nampan.

"Iya, Pak Bei. Harusnya saya dan teman-teman berangkat kemarin sore dan tadi shubuh sudah masuk Jakarta, kumpul dengan sedulur-sedulur dari berbagai daerah. Tapi batal, Pak Bei," kata Sasa dengan nada kecewa. Diraihnya gelas kopi panas dan diseruputnya sedikit. 

"Kukira teman-teman berani nekad seperti reuni dua tahun lalu, Sa," kata Pak Bei sambil menyodorkan rokok pada sahabatnya. Pak Bei ingat betul kejadian dua tahun lalu, ketika tiba-tiba nerima video call dari Sasa yang sedang berada di dalam bus bersama rombongan aksi Reuni 212 menuju Masjid Istiqlal Jakarta. Sasa, sahabatnya yang sehari-hari jadi juru parkir di warung Soto Kartongali Jolotundo itu, tampak bersih dan cakep pakai baju koko dan kopiah warna putih. Pak Bei tahu betul sahabatnya itu sebelumnya termasuk kelompok rewo-rewo, orang jalanan, anti-kemapanan, dan baru tiga tahun terakhir hidupnya berubah drastis. Dia jadi rajin ibadah, rajin ke mesjid dan ikut pengajian sejak anak laki sulungnya meninggal gara-gara terkena cikunguya. 

"Situasinya beda, Pak Bei," kata Sasa sambil menyulut rokok di jarinya. "Dulu dukungan dari berbagai kalangan masih sangat kuat sehingga kita berani berangkat ramai-ramai dengan biaya urunan, patungan. Sekarang ancamannya nggegirisi, Pak Bei. Maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kita memutuskan untuk berdoa saja dari rumah, semoga teman-teman yang hari ini datang reuni 212 di Jakarta tetap aman dan tidak terprovokasi para pihak pembenci ulama.

"Iyalah, Sa. Berbuat baik kan ada banyak cara dan jalannya. Bukankah Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya?"

"Ya memang, Pak Bei. Kalau kita gagas-gagas, sebenarnya yang paling bertanggungjawab ndandani keadaan yang rusak-rusakan ini ya Pemerintah, bukan kita sebagai rakyat. Pemerintah yang harusnya membasmi para koruptor yang berlomba maling uang rakyat. Pemerintah yang harusnya menghentikan ulah para makelar yang menjual kekayaan alam ke para Kumpeni. Pemerintah yang harusnya menangkap dan memenjarakan orang-orang yang suka mengadu-domba dan merusak persatuan kesatuan bangsa. Pemerintah yang harusnya melindungi para ulama dari fitnah orang-orang yang pro-maling dan perusak bangsa. Tapi Pak Bei tahu sendiri, kan....?"

"Maksudnya?"

"Lah yang terjadi kan berbalik 180 derajat. Justru orang-orang yang sedang berkuasa dan sedang menjabat di pemerintahan itu yang merangkap jadi garong, selalu mencari-cari celah untuk korupsi, dan menjadi bagian dari Kumpeni yang menjajah, menghisap, dan menyengsarakan rakyat. Orang-orang baik yang berani teriak "maling" dan mengingatkan agar para penjahat itu menghentikan ulahnya, justru ditangkapi, dipenjarakan, atau bahkan langsung di-dor, dihabisi tanpa proses pengadilan."

"Sa, kita kan masih punya wakil rakyat di Senayan. Seperti para pejabat di Pemerintahan, para wakil rakyat itu sudah kita pilih, kita angkat, dan kita bayar dengan gaji besar beserta fasilitas yang sangat banyak. Kita doakan saja mereka tergerak untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan benar."

"Walah, Pak Bei, Sampeyan kok masih berharap pada mereka. Gak bisa, Pak Bei. Mereka itu urusannya mencari seseran untuk mengembalikan modal kampanye, lalu mencari seseran lagi untuk modal kampanye Pemilu berikutnya. Makanya mereka gampang diajak kongkalingkong untuk bikin aturan-aturan yang melanggengkan permalingan."

Sinar matahari pagi tampak semakin benderang. Beberapa petani sudah asyik mengolah sawah di depan rumah. Pak Bei tahu Sasa pada jam-jam ini juga harus mulai bertugas sebagai juru parkir.

"Sa, kamu harus bertugas, kan? Sudah sana. Ayo dihabisin dulu kopinya."

"Baik, Pak Bei. Aku pamit dulu, ya. Wassalamu'alaikum wr.wb."

Sasa menaiki sepeda jengkinya meninggalkan halaman rumah Pak Bei menuju tempat dinasnya di warung Soto Kartongali Jolotundo. Dia juru parkir terhebat yang pernah Pak Bei Jumpai, layak dikukuhkan sebagai Juru Parkir Teladan Nasional.

#serialpakbei






Rabu, 24 November 2021

GURU- GURUKU

TERIMA KASIH, GURU-GURUKU

Kalau ada orang bertanya siapa guru yang paling berkesan dan berpengaruh  dalam hidupku, maka aku akan menjawabnya dengan cepat, "Ada 5 orang." Jawaban ini tentu tanpa sedikitpun bermaksud mengecilkan peran bapak-ibu guru dan dosen-dosenku yang lain yang telah berkontribusi memintarkanku.

Guruku yang pertama adalah ibuku, Asiyah Sahrowardi (Allaahuyarhamha). Beliaulah yang telah mendidikku sejak aku masih ada di dalam rahimnya dengan penuh kasih sayang, melahirkanku, menyusuiku, menyuapiku, mengajari cara makan minum, mengajari berkata-kata dan bertata-bahasa sederhana. Ibuku yang single-parent sejak usiaku 1,5 tahun inilah yang mengajariku (dan kakak2ku) menjalani hidup bersahaja, apa adanya alias tidak neko-neko, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang lumrah dan tidak lumrah dan selalu husnudhon pada Allah SWT dalam menjalani kehidupan. Beliau juga yang menanamkan pentingnya rajin sekolah tinggi agar jadi anak pintar, di samping harus rajin ibadah dan mengaji. Maklumlah, meski anak perempuan dan bukan anak priyayi, dulu ibuku sempat beberapa tahun mengenyam pendidikan Belanda hingga sekolahnya bubar karena kedatangan tentara Jepang. Jadi beliau tahu betul pentingnya pendidikan anak, pentingnya anak-anak rajin belajar dan sekolah hingga tinggi, di samping juga di sore dan malam hari harus belajar mengaji. Terima kasih, Ibu, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa ibu dan menempatkan di jannahNya yang indah. Aamiin.

Guru keduaku adalah Mas Muhadji (Allaahuyarhamhu), kakakku nomor 3. Sebagai anak laki-laki tertua, dia bukan saja telah menggantikan peran Bapak sebagai pelindung keluarga dan adik-adiknya, tapi juga mengajari dan memberi contoh bahwa laki-lali harus gentle, percaya diri, tidak boleh minder atau rendah diri, bertanggung-jawab, tidak imbas-imbis, peduli pada sesama, dan selalu menyayangi keluarga. 

Tapi ada satu hal yang lucu dari kakakku Muhadji. Alkisah, demi adik-adik lakinya (aku dan Mas Agus) tumbuh menjadi laki-laki yang percaya diri dan tidak minder sebagai anak desa dari keluarga miskin, kami diajarinya menjadi merokok aktif sejak mulai usia akil-baligh (klas 2 SMP). Menurutnya, laki-laki harus merokok, harus tampil gagah, jangan 'melambai'. Maklumlah, memang budaya di desa kami waktu itu bila anak laki sudah sunat mulai diajari merokok. Ada anak yang kemudian terus aktif sebagai perokok, tapi banyak juga yang merokok hanya sekadarnya. Dan Mas Muhadji mengajari kami menjadi perokok aktif agar adik-adiknya tidak imbas-imbis. Terima kasih, Mas Muhadji, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu dan menempatkanmu di jannahNya yang indah. Aamiin.

Guru ketigaku adalah Ibu Sulastri, guruku klas 1, 3, dan 5 di SD Negeri JEMAWAN, Jatinom, Klaten. Alhamdulillah hingga kini Bu Lastri __begitu kami memanggilnya__ masih sugeng dan tampak sehat. Beberapa kali beliau tampak sedang menyapu halaman ketika aku dan istriku jogging pagi-pagi lewat depan rumahnya. Meski sudah sepuh, setiap kali kusapa, beliau masih bisa  mengenaliku dengan baik.

Dulu, aku dimasukkan ke sekolah SD sebenarnya hanya berstatus titipan. Ceritanya, Mas Muhadji yang waktu itu sudah lulus sekolah STM pengin meneruskan kuliah ke Jogja. Jadi dia tidak bisa terus di rumah saja hanya untuk menemani adik bungsunya yang masih kecil. Maka, aku yang belum genap usia 5 tahun dan tidak mau disekolahkan di TK Pertiwi Gedaren, oleh Mas Muhadji dimasukkan  ke SD Negeri JEMAWAN. Waktu itu kebetulan Bu Lastri yang menjadi guru klas 1. Bu Lastri inilah orang yang mengenalkanku angka-angka dan huruf latin, mengajari membaca-menulis-berhitung, mengajari menyanyi sejak lagu-lagu permainan hingga lagu-lagu kebangsaan, mengenalkan bendera merah putih dan cara hormat bendera, dan sebagainya. Terima kasih,  Bu Lastri, semoga Ibu sehat selalu. Bila suatu saat Allah SWT memanggil Ibu, aku yakin Ibu akan ridho dan dalam keadaan husnul-khotimah. Aamiin.

Guru keempatku adalah Paklik Darussalam (Allaahuyarhamhu). Adik sepupu ibuku inilah guru ngajiku. Lek Darus, begitu kami dulu biasa memanggilnya, yang mengajari semua anak-anak di kampungku sejak generasiku dulu hingga beliau meninggal pada 2013 lalu, membaca Al Qur'an dengan baik dan benar, mengajari tafsir sederhana, mengenalkan fikih ibadah mahdhah beserta hadits2 yang menjadi dasarnya, mengenalkan beberapa mahfudhat untuk memotivasi anak-anak rajin belajar dan mengaji, melatih berpidato, kultum, khotbah, dan sebagainya. 

Beliau sebagai guru mengaji dan mubaligh (cukup terkenal di Kab. Klaten waktu itu) juga telah berhasil mengubah mindset serta budaya masyarakat kami agar selalu berpikiran maju, bersikap tasamuh dan moderat, dan terus belajar agar dapat menjalankan perintah agama sesuai tuntunan Kanjeng Nabi SAW serta meninggalkan yang tidak dituntunkannya. Terima kasih, Lek Darus. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Lek Darus dan menempatkan di jannahNya yang indah. Aamiin.

Guru kelimaku adalah Cak Nun, Emha Ainun Nadjib. Cak Nun-lah orang yang telah membuka cakrawala, cara memandang, cara membaca, dan cara memahami kehidupan yang cepat berubah, memahami setiap fenomena tidak hanya  dengan satu kaca mata. Dari Cak Nun-lah saya belajar untuk terus berjuang menemukan kebenaran sejati serta tidak terjebak pada kebenaran menurut orang banyak apalagi benarnya sendiri. Dari Cak Nun-lah aku belajar bahwa kebenaran yang kita yakini itu bukan untuk diomongkan dan diperdebatkan, apalagi disombongkan, tapi untuk disuguhkan dengan cara yang baik sebagai sajian yang enak dan indah, perilaku yang baik dan menyenangkan hati. Kebenaran itu ibarat resep makanan dan cara mengolahnya di dapur, sedangkan yang kita suguhkan adalah makanan enak yang bisa bikin orang menjadi tuman serta merasa nyaman makan dan ngobrol di warung kita. 

Semoga Cak Nun selalu sehat, mendapatkan keberkahan dan rejeki yang  berlimpah untuk terus menemani masyarakat berposes menemukan kesejatian hidup, yang selalu dalam kesadaran maiyyatullaah, kesadaran di mana saja dan kapan saja bersama Allah SWT. Aamiin.

SELAMAT HARI GURU 2021

Senin, 21 Juni 2021

WEDANG UWUH

WEDANG UWUH

Jam 9 malam, hujan sesorean baru saja mereda, tinggal menyisakan gerimis tipis dan udara yang terasa dingin. Pak Bei sedang menyalakan kompor hendak memasak air mau membuat minuman Wedang Uwuh untuk menghangatkan badan ketika tiba-tiba terdengar ada pesan WA masuk ke hpnya. Segera diambil hp di kamar dan dibukanya pesan WA. Dari Ustad Musthofa. 

"Ngopi, Om?" demikian pesan pendek dari Ustad Musthofa, persis seperti biasanya. Pak Bei pun paham betul maksud saudara sepupu yang juga teman mainnya sejak masa kecil itu. Dia pengin ngobrol. Ngobrol apa saja sambil wedangan.

"Siap, Mas," jawab Pak Bei singkat.

"Otw....," balas Ustad Mustofa.

Pak Bei pun kembali ke dapur. Air  yang hampir matang di atas nyala kompor ditambahinya lagi air biar cukup untuk 2 gelas, lalu dibukanya dua bungkus racikan wedang uwuh dan dituangkannya ke dalam gelas. Tak sampai dua menit, kedua gelas racikan wedang uwuh itu pun dicor dengan air mendidih. Minuman berwarna merah dengan aroma rempah yang sedap pun siap disajikan sebagai teman berbincang.

"Assalaamu'alaikum....," terdengar suara Ustad Mustofa uluk salam.

"Wa'alaikumsalam....duduk, Mas," jawab Pak Bei sambil berjalan keluar dengan kedua tangannya membawa gelas di atas lepeknya.

"Udara dingin mata juga belum ngantuk, jadi pengin wedangan, Om," kata Ustad Mustofa.

"Iya, Mas. Sama, aku juga belum ngantuk. Kita ini terlanjur gak biasa tidur sore sejak muda. Ayo diminum, Mas," jawab Pak Bei sambil menyilakan kakak sepupunya itu nyeruput minuman yang masih panas.

Usia kedua kerabat itu sudah tak lagi muda. Ustad Mustofa yang berprofesi sebagai guru agama di sebuah SMKN di Klaten itu akan pensiun sekitar 2 tahun lagi, sedang Pak Bei yang memilih dunia wirausaha usianya lebih muda 4 tahun. 

"Om, pembangunan relokasi tempat wudhu masjid kita masih kekurangan dana cukup banyak," kata Ustad Mustofa yang juga ketua penitia pembangunan itu setelah nyeruput minuman dan menyulut kreteknya.

"Masih kurang banyak ya, Mas?" tanya Pak Bei.

"Lumayan, Om. Tapi masalahnya saat ini kita belum bisa njagakke ada tambahan infak atau shodaqoh dari masyarkat."

"Kenapa, Mas?"

"Ya kan perhatian masyarakat sudah sudah ganti ke ibadah kurban pada Idul Adha nanti, Om. Calon peserta kurban sapi hingga hari ini sudah terdaftar 75 orang. Itu sama dengan sudah sapi ke-9. Tahun lalu kita nyembelih 10 sapi dari 70 peserta."

"Wah iya ya, Mas. Repot juga. Tampaknya memang panitia dan Takmir Masjid ke dapan harus kreatif-inovatif, Mas."

"Maksudnya, Om?"

"Begini lho, Mas. Sejak kita masih anak-anak dulu, semua program  pembangunan  kampung ini swadaya murni, hanya mengandalkan infak dan sedekah masyarakat. Tiap tahun ada saja program menarik iuran masyarakat, baik untuk membangun dan memugar masjid, maupun untuk pengerasan dan pengaspalan  jalan-jalan kampung. Juga masih harus kerja bakti gak kenal waktu, dari mencetak dan membakar batu bata, mencari pasir dan batu di sungai, hingga ibu-ibu bergiliran menyediakan konsumsi."

"Iya benar, Om. Itu sudah tradisi kita dari dulu."

"Di sisi lain, Takmir Masjid dan tokoh masyarakat tidak pernah memikirkan cara agar ekonomi masyarakat/jamaah semakin baik dan maju. Mereka kerja sendiri-sendiri lillaahita'ala tanpa bantuan modal dan pendampingan manajemen dari Takmir Masiid."

'Ya memang, Om. Kita belum berpikir ke sana."

"Ayo coba kita cari ide kegiatan ekonomi untuk sumber dana masjid sekaligus memakmurkan jamaah, Mas."

"Misalnya bikin toko kelontong atau sembako begitu ya, Om?"

"Wah ya jangan, Mas. Itu sama saja dengan mematikan usaha jamaah. Kan ada beberapa yang punya usaha kelontong dan sembako, Mas."

"Aku belum punya ide, Om," kata Ustad Mustofa.

"Misalnya begini, Mas. Di kampung kita ini hampir setiap tahun peserta kurban ada 70 orang, dengan iuran sebesar @ Rp 3 juta yang biasanya dibayarkan pada setengah bulan sebelum hari H. Lalu, panitia membelikan sapi ke pedagang atau peternak sapi dengan harga pasaran."

"Iya benar, Om."

"Kira-kira, mungkin gak misalnya Takmir Masjid membuat program peternakan sapi, Mas?"

"Caranya bagaimana, Om? Modalnya juga dari mana?"

"Bagaimana kalau para peserta kurban tahun ini kita ajak segera daftar lagi untuk kurban tahun depan dengan cara membayar iuran sebesar 50% di muka? Kalau 70 orang itu mau semua, kan lumayan ada dana terkumpul Rp 105juta, cukup untuk membeli 10 ekor pedet atau bakalan sapi, @ Rp 10,5 juta."

"Terus, Om...."

"Ada beberapa jamaah kita yang petani dan biasa memelihara sapi. Aku yakin mereka mau bila kita minta masing-masing memelihara 2 ekor, misalnya, dengan sistem  gadhuh."

"Wah menarik ini, Om. Terus..."

"Nah, pada Idul Adha tahun depan, panitia kurban membeli sapi-sapi itu dengan harga pasar. Kita asumsikan harga @ Rp 21juta. Para peserta tinggal menambah iuran 50%, Rp 1,5 juta. Keuntungan per sapi Rp 10,5 juta dibagi 2 antara Takmir Masjid dengan petani penggaduh, masing-masih dapat bagian Rp 5,250 juta. Dengan memelihara 2 ekor, petani akan mendapatkan bagi hasil Rp 10,5 juta , sedangkan Takmir Masjid mendapatkan total bagi hasil Rp 52.500.000 dari 10 ekor sapi. Lumayan to, Mas."

"Ya lumayan banget, Om. Perlu dicoba itu. Bahkan mungkin nanti bisa dikembangkan skalanya agar dapat melayani kebutuhan kurban tetangga kampung atau para aghniya' di kota-kota."

"Sipp itu, Mas. Mungkin ini bisa jadi alternatif membangun ekonomi jamaah sekaligus kemandirian masjid."

"Coba wacana ini kita kembangkan dan share ke teman-teman Takmir, Om. Mudah-mudahan responnya positif."

Udara malam sudah terasa anyep. Dua gelas wedang uwuh juga sudah tuntas diminum. Entah sudah berapa batang kretek disulut Pak Bei dan Ustad Mustofa sambil ngobrol tadi. Jam di hp Pak Bei sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.
Ustad Mustofa segera pamit pulang untuk istirahat. Pak Bei nguntapke, melepas kepulangan kakak sepupunya itu di halaman.

#serialpakbei








Selasa, 01 Juni 2021

TUKANG-TUKANG SIHIR

TUKANG-TUKANG SIHIR

Lumayan lama Pak Bei seperti puasa ngebleng, manarik diri dari hingat-bingar dunia, ngempet dari berbagai keinginan, membisu dari pembicaraan yang penuh gerundelan, perdebatan, dan caci-maki. Paling tidak sudah tiga bulan, sejak sebulan sebelum Ramadhan lalu hingga menjelang berakhir bulan Syawal ini, Pak Bei berhasil menahan diri dari bicara politik yang dirasanya semakin nggegirisi dan ngemar-emari.

Tapi pagi ini Pak Bei terpaksa berbuka gara-gara kedatangan tamu dari Semarang, ibu-ibu yang ingin melihat-lihat workshop dan produk Bundaco, usaha konveksi kami. Seperti biasanya, tamu Bundaco dilayani oleh karyawan, dan bila perlu Bu Bei sendiri yang terjun langsung melayani. Pak Bei  biasa bertugas menemani pengantarnya, mungkin suami atau bahkan sopirnya. Dan tak lupa, tamunya disuguhi minuman andalannya, Kopi Pak Bei, sehingga mereka betah berlama-lama.

Tamu Bundaco pagi ini diantar sopirnya, Anwar namanya. Sambil ngopi bersama Pak Bei, Anwar cerita bahwa dia hanya sopir pocokan alias freelance, biasa melayani siapa pun yang membutuhkannya. Tidak punya juragan tetap, tapi biasa melayani juragan-juragan yang ingin bepergian keluar kota. Tidak jarang juga Anwar diminta nyopiri keluarga pejabat Pemprof atau tokoh politik Jateng untuk urusan dinas ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya.

"Jadinya saya bisa dapat banyak informasi, Pak. Macam-macam. Dari soal bisnis, isu rumah tangga, sampai politik lokal dan nasional pun saya jadi agak paham," kata Anwar setelah nyeruput kopinya.

"Soal politik ada isu apa saja, Mas Anwar?" tanya Pak Bei memancing obrolan.

"Wah banyak, Pak," jawab Anwar. "Tapi kesimpulannya cuma satu." 

"Apa itu?"

"Remuk-remukan," jawab Anwar mantap.

"Remuk-remukan bagaimana, Mas? Menurutku biasa-biasa saja, baik-baik saja semua. Nyatanya rakyat dan mahasiswa juga adem-ayem, tidak ada yang demo-demo," pancing Pak Bei.

"Coba Pak Bei amati dan perhatikan dengan seksama. Apakah kondisi negara kita di semua sektor saat ini dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Anwar.

Belum sempat Pak Bei merespon, Anwar melanjutkan, "Remuk-remukan, Pak. Politik sudah dikuasai para cukong dan maling. Rakyat dibuat tak berdaya. Lawan politik digebuki tiap hari di medsos. Ekonomi dikuasai para penjudi, perampok, dan mafioso. Penegak dan penegakan hukum hancur-hancuran dari level terendah hingga level tertinggi. Istilahnya tajam ke bawah, tumpul ke atas. Agama juga terus diadu-domba dan difitnah-fitnah sebagai sebagai ancaman NKRI. Pendidikan semakin tidak jelas ke mana arahnya. Anak-anak usia sekolah jadi lolak-lolok karena harus belajar di rumah dan tak kunjung bisa kembali belajar di sekolah. Dan masih banyak lagi, Pak Bei. Lengkap sudah penderitaan rakyat kali ini,' kata Anwar panjang lebar.

Pak Bei agak terkejut. Ini bukan  kelas sopir pocokan, tapi seperti politisi oposan yang selalu mencari kekurangan lawan politik yang sedang berkuasa. Bagi Pak Bei, menghadapi orang seperti ini harus berhati-hati bila tidak ingin terseret masuk ke dalam keruwetan politik yang semakin absurd. 

"Ada satu hal yang membuat saya sangat prihatin, Pak Bei," kata Anwar lagi.

"Apa itu, Mas Anwar?" 

"Para cerdik pandai yang bergelar Profesor, Doktor, dan Kyai Haji seakan tidak ada yang peduli pada nasib rakyat. Semua sibuk ndlosor-ndlosor membela kebijakan Pemerintah, sibuk mencarikan pembenaran  untuk Tuannya demi mendapatkan remah-remah kekuasaan. Apakah mereka masih layak disebut cendekiawan, ulama, atau Kyai, Pak Bei? Rakyat sudah tidak bisa lagi berharap pada mereka," lanjut Anwar dengan ekspresi wajah prihatin.

"Mas Anwar, mendengar cerita dan keluh-kesah Sampean, aku jadi teringat kisah Nabi Musa menghadapi Firaun," kata Pak Bei sambil menghisap pipa kreteknya.

"Kisah yang mana, Pak Bei?"

"Tentu Sampeyan masih ingat satu episode ketika tukang-tukang sihir Firaun minta dipertemukan dengan Musa, pemuda yang dibesarkan oleh keluarga Firaun tapi kemudian menjadi tokoh utama oposisi yang selalu merongrong kewibawaan Firaun?," tanya Pak Bei.

"Ya jelas ingat, Pak Bei. Pada pertemuan itu, Musa dibuat grogi dan ketakutan menghadapi ular-ular ganas buatan tukang-tukang sihir Firaun."

"Ya betul."

"Lalu Allah menyuruh Musa melemparkan tongkatnya."

"Yes betul itu.'

"Tongkat Musa berubah menjadi ular besar dan memangsa seluruh ular buatan para tukang sihir."

"Tepat sekali, Mas Anwar."

"Lalu apa hubungannya dengan situasi kita saat ini, Pak Bei?"

"Begini, Mas Anwar. Mari kita coba memahami kisah itu bukan seperti membaca dongeng orang-orang yang sedang adu kesaktian."

"Begaimana, Pak Bei?"

"Tukang-tukang sihir itu menurutku bukanlah seperti dukun santet atau tukang tenung seperti yang kita bayangkan. Mereka orang-orang cerdik pandai di masanya yang mengabdikan kepandaian dan hidupnya itu untuk kelanggengan kekuasaan Firaun. Mereka bertugas mencari dan membuat dalil agar rakyat percaya pada Firaun. Mungkin kalau jaman sekarang, mereka juga bergelar Profesor, Doktor, Insinyur, SH, MH, MM, atau Kyai Haji."

"Mereka semacam Staf Ahli atau Wantimpres ya, Pak Bei?"

"Ya, tapi ini cuma penafsiran lho, Mas Anwar. Bisa kita bayangkan, forum 'adu kesaktian' Musa melawan Tukang Sihir itu seperti acara ILC yang beberapa waktu lalu sering kita tonton di tv. Seru, kan? Ternyata logika dan argumentasi para tukang sihir dapat dikalahkan oleh Musa yang cerdas. Akhirnya para tukang sihir itu justru menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, satu hal yang pasti membuat Firaun kecewa, malu, dan marah. Tapi sekali lagi, ini cuma penafsiran lho, Mas. Mungkin salah."

"Tapi ada benarnya juga itu, Pak Bei. Saya setuju dengan penafsiran Pak Bei. Nyatanya sekarang banyak sarjana, kaum cerdik-pandai, bahkan ulama dan kyai memilih jadi tukang sihir membantu Firaun menindas rakyatnya sendiri, kan?"

"Itu kan kesimpulan Sampean, Mas. Nyatanya banyak orang merasa tidak ada masalah, kok. Jadi ya santai sajalah.  Gak usah serius nggagas politik dan negara ini. Slow wae, Mas Anwar."

Tampak Bu Bei mengantar tamunya kembali ke mobil. Mas Anwar pun segera berlari menyambut juragannya dan membukakan pintu mobil. Beberapa saat kemudian, mobil bagus dan masih mulus itu perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Bu Bei pun kembali ke pekerjaannya di worshop Bundaco. Pak Bei kembali ke meja bundar di teras sambil senyum-senyum mengingat obrolannya dengan Anwar, sopir pocokan dari Semarang yang pintar tadi.


#serialpakbei











Senin, 22 Februari 2021

BANJIR

BANJIR

Balai Desa Karang Kadempel mendadak gempar. Bermula dari Ki Lurah Bagong bersama Ki Petruk Ketua BPD yang siang itu mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, PKK, dan Katua2 RT-RW untuk mengikuti Musdes membahas draft Raperdes Lingkungan Hidup. Arah Raperdes itu untuk menjadikan Desa Karang Kadempel sebagai Desa yang bersih, sehat, dan rapi sehingga terhindar dari bencana, terutama bencana banjir dan penyakit menular, sebagaimana arahan dari sesepuh dan pepunden Desa, Ki Semar Bodronoyo.

Sebagai Ketua BPD, Ki Petruk bertindak selaku Pemimpin Sidang, memberikan pengantar dan kerangka jalannya Musdes. Tutur katanya lembut tapi tegas, diksi dan kalimatnya santun dan tertata. Semua hadirin pun manthuk-manthuk tanda memahami maksud diselenggarakannya Musdes.

Tiba giliran Ki Lurah Bagong memberikan sambutannya. Sebagai mantan preman, alias preman yang sudah insyaf, pidatonya tampak menggebu-gebu dan terkesan sangar. Bahasanya pun agak sasar-susur. Maklum, latar belakang pendidikan Ki Lurah Bagong memang pas-pasan, dan lebih banyak pengalamannya sekolah di jalanan. 

"Bapak-Ibu ingkang dahat kinurmatan," Ki Lurah Bagong mengawali sambutannya dangan sapaan lembut. "Apa to yang dimaksud dengan Musdes?" lanjutnya dengan pertanyaan retoris. "Mus itu Musyawarah. Des itu Desa. Jadi, Musdes itu Musyawarah Desa, Bapak-Ibu."

Hadirin memperhatikan dengan seksama, hanya tampak beberapa orang yang seolah cuek dan tetap asyik dengan gadgetnya. Ki Petruk paham bahwa di antara tokoh yang diundang itu memang ada yang pada Pilkades lalu bukan pemilih Ki Lurah Bagong. Mereka kader dan timses jago lawan, anak buah Patih Sengkuni. Tapi itu bukan masalah bagi Ki Petruk. Bagaimanapun mereka rakyat Karang Kadempel yang harus tetap dihormati dan di-uwongke. Yang penting sekarang mau bersama-sama berbuat untuk kebaikan Desa Karang Kadempel di bawah kepemimpinan Ki Lurah Bagong. 

"Bapak-Ibu, kita tahu akhir-akhir ini banyak terjadi musibah banjir di mana-mana. Situasinya nggegirisi. Wabah penyakit juga belum berakhir. Banyak korban harta benda dan nyawa melayang. Apa sebabnya bisa terjadi bencana banjir, Bapak-Ibu? Ada yang bisa menjawab?" Ki Lurah Bagong bertanya pada hadirin.

"Karena hujan deras dan lama, Ki Lurah," kata salah seorang.

"Karena saluran air mampet. Banyak gorong-gorong tersumbat sampah," kata hadirin yang lain.

"Karena banjir kiriman dari daerah atas," kata yang lain lagi.

"Karena air laut pasang sehingga air dari sungai tidak bisa masuk," jawab yang lain lagi.

"Maaf, Ki Lurah," terdengar suara perempuan dari belakang. Semua hadirin menoleh ke sumber suara. Ternyata si Cangik yang kenes. Dia hadir mewakili pengurus Dasa Wisma dan Posyandu. Semua tetangga tahu, dia sebenarnya kaki tangan Sengkuni yang disusupkan ke Desa Karang Kadempel.

"Njih, Mbakyu Cangik. Badhe ngendikan punapa? Sumangga....," Ki Lurah Bagong mempersilakan.

"Begini, Bapak-Ibu. Kalau banjir di Kalimantan itu jelas karena hujan lebat beberapa hari. Banjir di Semarang jelas karena kiriman air dari atas dan laut utara pasang. Kalau banjir di Betawi itu beda, Bapak-Ibu," kata Cangik.

"Bedanya apa, Mbakyu Cangik? tanya Ki Lurah.

"Banjir di Betawi itu karena Gubernurnya memang tidak jegos bekerja, tidak sigap, tidak mampu, bisanya hanya nggaya pidato di mana-mana. Iya, kan?"

"Jadi khusus yang Betawi bukan karena faktor alam, tapi faktor Gubernur yang gagal ya, Mbakyu Cangik?" tanya Ki Lurah.

"Ya jelas to, Ki Lurah. Beda dengan yang di Kalimantan, Jawa Tengah, dan daerah lainnya. Jangan digabyah-uyah karena faktor alam. Betawi itu daerah khusus, Ki Lurah. Beda sekali. Jangan salah baca," jawab Cangik menggebu-gebu dengan bibirnya yang sinis dan matanya lirak-lirik ke kiri-kanan.

"Interupsi, Pimpinan Sidang," salah seorang peserta berdiri minta waktu pada pimpinan sidang. Ki Petruk pun mempersilakan.

"Sesuai undangan, agenda kita ini kan Musdes terkait pengelolaan lingkungan hidup kita. Tapi kenapa dari tadi malah membicarakan banjir di daerah lain. Ini tidak relevan," kata orang tadi.

"Tidak relevan bagaimana?" Cangik menyahut. "Jelas sangat relevan. Kita jangan picik. Kalau mau maju, kita harus mau belajar membaca kegagalan orang lain, terutama belajar pada Gubernur yang gagal total itu," lanjut Cangik.

"Nuwun sewu, Yu Cangik. Pernyataan Sampeyan itu sangat tendensius. Tidak objektif dan tidak adil," yang lain mencoba menyanggah.

"Tidak adil bagaimana? Yu Cangik kan cuma mengajak kita berpikir kritis, memotret kahanan apa adanya," kata peserta yang lain lagi. 

"Jelas itu tidak adil dan tendensius. Untuk banjir di daerah lain dia nyalahkan alam, sedangkan untuk Betawi dia nyalahkan Gubernurnya. Itu namanya pekok. Hati dan pikirannya kotor. Perlu diruwat dia."

"Pimpinan Sidang dan para hadirin, mohon maaf sambutan ini saya akhiri saja. Waktu sepenuhnya saya kembalikan pada Ketua Sidang," kata Ki Lurah Bagong. Dia tampak bingung mau ngomong apa lagi. Dia tidak menyangka pertanyaannya tadi akan memicu kehebohan forum.

"Baiklah, Ki Lurah dan Hadirin sekalian," kata Ki Petruk. "Situasi agaknya sudah tidak kondusif untuk kita melanjutkan musyawarah," lanjutnya.

"Betul, Ki Petruk. Sebaiknya Musdes ini kita tunda saja. Minggu depan kita ketemu lagi," sahut peserta.

"Baiklah, tolong Bapak-Ibu nanti di rumah membaca dan mencermati seluruh isi Draft Raperdes. Kami pun akan minta arahan pada pepunden kita, Ki Semar Bodronoyo. Semoga Minggu depan kita semua sehat dan bisa merampungkan pembahasan Raperdes ini untuk kebaikan kita bersama. Sampai jumpa Minggu depan," Ki Petruk menutup sidang.

Hadirin pun bubar. Tampak beberapa menyalami Cangik dan menyatakan dukungan. Beberapa yang lain tampak kecewa karena Musdes harus ditunda karena ulah Cangik yang provokatif. Untunglah Cangik itu perempuan, kalau laki-laki, mungkin sudah dihajar oleh si Gareng kepala Hansip Desa Karang Kadempel.

#serialpakbei