Kamis, 25 Agustus 2022

GOWES VIRTUAL

GOWES VIRTUAL

Seperti biasanya, setiap malam Jumat Pak Bei ikut Yasinan di kampung, satu majelis tilawatil-Quran khusus bapak-bapak dan pemuda. Menurut shahibul-hikayat, tradisi itu sudah berjalan sejak masa-masa awal kemerdekaan RI, diinisiasi oleh seorang guru ngaji kampung bernama Pak Wahab bin Mad Rais, ayahanda Pak Bei. Tempatnya bergilir dari rumah ke rumah jamaah. Konon, di masa awal dulu yang dibaca khusus surat Yaasiin. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al-Quran yang dijilid per-juzz dan dikenal sebagai Muqadaman. Sekitar 30 menit,  jamaah membaca bagiannya masing-masing secara bersama-sama. Seperti orang balapan lari, dalam mengaji bareng ini tentu ada yang lancar-fasih bacaannya dan keras suaranya, tapi juga ada yang pelan bahkan terbata-bata agak kurang lancar. 

Setelah mengaji, para pemuda mengeluarkan sajian makanan dan minuman yang disiapkan oleh tuan rumah. Sesuai dengan jamannya, dulu waktu Pak Bei masih remaja, menu wedangannya sering berupa ketela rebus, pondhoh, kacang  rebus, jagung, dan klethikan menggleng, rendeng, atau karak. Sekarang menunya lebih variatif, bahkan tidak jarang tuan rumah juga menyiapkan makan besar seperti soto ayam, kare ayam, lontong opor, atau nasi rames dan ayam goreng. Setelah menikmati makanannya, sambil klepas-klepus merokok, jamaah mendengarkan tausiyah dari ustadz lokal yang bertugas secara giliran. 

Tradisi yang sudah berlangsung berpuluh tahun itu rupanya menggelisahkan Pak Bei. Maka, sejak 5 tahun lalu jamaah diajaknya mengubah pola mengaji. Infak yang terkumpul tiap malam Jumat dan saldonya sudah lumayan banyak dibelikan sejumlah mushaf Al-Quran dan Terjemah sebagai inventaris. Setiap jamaah mendapatkan satu mushaf. Agar mushaf Al Quran yang ekslusif itu tidak cepat rusak, maka setiap jamaah juga dibagikan sebuah tas yang diberi tulisan sablon "Majelis Tilawatil Quran Kwaon YASINAN". Sejak itu, setiap jamaah berangkat dari rumahnya dengan menenteng tas keren berisi mushaf Al-Quran. Pola pembacaannya pun diubah. Tidak lagi balapan, tetapi dipandu oleh salah seorang yang bagus bacaannya, sepotong-sepotong, lalu diikuti atau ditirukan oleh seluruh jamaah. Dimulai dari awal Juzz 1 hingga beberapa halaman dalam waktu sekitar 30 menit. Setelah selesai, biasanya pemandu akan membacakan terjemahan dan menerangkan tafsirnya sesuai kemampuan yang dimiliki. Pola ini ternyata dirasakan oleh jamaah lebih khidmad dan khusyuk. 

Setelah majelis selesai dan jamaah pulang, biasanya beberapa bapak dan dan para pemuda ngobrol-ngobrol dulu sambil menghabiskan minuman dan makanan yang masih tersisa, atau sambil menikmati bekal rokok masing-masing. Tema obrolan bisa kemana-mana, biasanya tergantung isu yang lagi hot atau viral di medsos. Dan malam ini, obrolan lebih terfokus pada salah satu agenda Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, yakni Gowes Virtual atau MUKTAMARIDE.

"Pak Bei, Gowes Virtual itu bagaimana, to? Saya pengin ikut, tapi belum punya bayangan sama sekali bagaimana caranya," kata Suratman yang terkenal paling maniak-gowes di kampung itu.

"Iya, Pak Bei. Tolong dijelaskan, katanya pesertanya nanti dari seluruh Indonesia bahkan dunia? Sepertinya menarik sekali," Ratsono menambahkan.

"Benar, Om, saya juga banyak nerima pertanyaan itu, tapi gak bisa jawab karena memang saya belum paham sama sekali," kata Ustadz Musthofa yang biasa ngisi pengajian dari kampung ke kampung. "Tolong dilaskan, bagaimana teknisnya, cara daftarnya, penentuan pemenangnya, hadiahnya, dan sebagainya," tambahnya.

Semua mata peserta ngobrol tertuju pada Pak Bei. Mereka tampak antusias menunggu jawaban Pak Bei yang dari tadi hanya senyum-senyum mendengarkan pertanyaan bertubi-tubi. 

"Baiklah, Teman-Teman," Pak Bei mulai menjawab pertanyaan setelah menyulut dulu rokok kreteknya. "Muktamar di Solo nanti tampaknya memang istimewa, bahkan sangat istimewa. Karena apa? Pertama, karena Muktamar ke-48 ini mestinya sudah terselenggara pada Juli 2020 yang lalu, tapi karena sejak awal 2020 terjadi pandemi Covid-19, maka penyelenggaraan Muktamar pun harus ditunda, dan baru akan terlaksana pada November 2022. Ini artinya, masyarakat Solo harus menunggu 37 tahun untuk bisa kembali menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, sejak 1985."

"Wah  tahun itu saya belum lahir itu, Pak Bei," kata Sumadi.

"Saya juga belum," kata Ibnu.

"Saya masih balita," kata Ratsono.

"Kedua, sebagai tuan rumah, masyarakat Solo --dalam hal ini Panitia Penerima yang difasilitasi oleh UMS-- berusaha menyiapkan diri sebaik-baiknya guna menyambut jutaan tamu yang bakal hadir ke Solo, baik sebagai peserta muktamar alias muktamirin maupun sebagai jamaah alias penggembira."

"Wah pasti repot banget nyiapkan tempat dan ubo-rampe-nya ya, Pak Bei?" tanya Hanafi.

"Ya jelas, Nda. Untuk tempat Muktamar ya saja, UMS membangun gedung Edutorium  yang sangat megah dengan biaya 300an M, lho. Seluruh gedung kampus UMS juga disiapkan untuk acara muktamar. Untuk penginapan muktamirin dan penggembira, Seksi Akomodasi sudah booking hampir seluruh hotel di Solo. Untuk konsumsi jangan tanya, betapa repotnya teman-teman Seksi Konsumsi. Mereka harus menggandeng pengusaha-pengusaha catering dan rumah-rumah makan di sekitar Solo sebagai vendor."

"Wah ya pasti repot sekali, Pak Bei. Orang hajatan manten saja sudah sangat repot nyiapkan tempat dan konsumsi. Apalagi ini muktamar yang dihadiri jutaan orang," kata Udin.

"Soal Gowes Virtual tadi bagaimana, Pak Bei? Ini yang lebih penting bagi saya," Suratman tampak sudah tidak sabar.

"Oke, Nda. Begini. Seperti Kalian, sekarang ini di mana-mana orang demam olah raga sepeda, alias gowes. Tiap hari terutama pas hari libur, kita lihat di mana-mana ketemu rombongan pegowes menyusuri jalan entah mau kemana dan berapa kilo telah mereka kayuh sepedanya. Namanya juga olah raga, tentu itu sangat positif. Nah, sesuai spirit  Muhammadiyah for All alias Muhammadiyah untuk semua orang, maka panitia muktamar pun merasa perlu membuat program khusus bagi para pegowes di seluruh penjuru wilayah, kota, dan desa bisa terlibat muktamar. Maka kemudian dirumuskanlah konsep Gowes Virtual. Apa yang dimaksud Gowes Virtual?" Pak Bei sengaja mengajukan pertanyaan repetitif sambil menatap mata satu-persatu.

"Nah ini. Teruskan, Pak Bei," Ratsono juga ikut tidak sabar.

"Inilah lomba gowes secara daring," kata Pak Bei.

"Maksudnya?" Suratman semakin tidak sabar.

"Saudara-saudara kita para pegowes di Jayapura, Manokwari, Sorong, Ambon, Ternate, Palu, Banjarmasin, Bima, Denpasar, Banyuwangi, Surabaya, Jakarta, Banten, hingga Lampung, Palembang, Padang, Medan, dan Aceh, atau bahkan yang di Australia, Malaysia, Jepang, Canada, Mesir, Jerman, Belanda, dan sebagainya, ayo silakan ikut lomba ini dengan bersepeda di daerahnya masing-masing."

"Tidak harus ke Solo, Pak Bei?" tanya Inung.

"Ya tidak to, Le. Namanya saja virtual. Begini caranya....
1. Buatlah kelompok peserta terdiri dari 3-5 orang lalu salah seorang wakil mendaftar sebagai peserta via http//muktamaride.com. Pendaftaran akan dibuka mulai 1 September.
2. Lakukan pembayaran dan konfirmasi pembayaran dengan mengunggah bukti transfer. 
3.Setiap kelompok akan mendapatkan ridepack yang akan dikirimkan ke alamat yang dicantumkan.

4. Setiap kelompok diwakili satu orang/akun bergabung dalam club strava “Muktamaride 48” pada aplikasi Strava yang dapat didownload dari Playstore.

"Om, tolong digambarkan sekalian teknis pelaksanaannya nanti," Ustadz Musthofa tampak sudah penasaran.

"Begini, Mas," Pak Bei melanjutkan,

"1. Peserta dalam setiap kelompok menentukan sendiri lokasi start dan finishnya di daerah masing-masing. 

2. Setiap kelompok wajib menempuh jarak minimal 48 km dengan waktu pelaksanaan 7 Oktober hingga 5 November 2022. 

3. Peserta diperbolehkan menyelesaikan jarak tempuh tersebut dengan sistem cicil selama waktu pelaksanaan tadi. 

4. Peserta wajib mengunggah foto maupun video aktivitas bersepeda dengan latar icon Muhammadiyah atau icon daerah masing-masing. 

5. Selama bersepeda virtual sejauh 48 km peserta wajib menggunakan aplikasi Strava sebagai alat bantu tracking panitia. 

6. Peserta wajib mengirimkan screenshoot/tangkapan layar hasil tracking dari aplikasi Strava yang sudah menunjukkan hasil minimal 48 km kepada panitia."

"Jadi jarak tempuh setiap peserta 48 km ya, Pak Bei?," tanya Suratman.

"Iya, Nda. Tapi itu bisa dicicil antara tanggal 7 Oktober hingga 5 November. Misalnya Minggu pertama menempuh 15 km. Minggu kedua 15 km. Minggu ketiga 18 km. Total 48 km."

"Oke, Pak Bei. Dari kampung ini semoga nanti bisa ikut 3-4 kelompok," kata Ratsono optimis.

"Baiklah, sudah cukup larut malam, udara sudah terasa anyep. Mari kita pulang. Terima kasih infonya, Pak Bei. Sudah cukup jelas," kata Ustadz Musthofa.s

"Masih ada satu yang kurang, Pak Bei: hadiahnya apa?" tanya Suratman.

"Tenang saja, Nda. Insya Allah akan ada banyak hadiah untuk pemenang, salah satunya Umroh. Asyik, kan?" jawab Pak Bei.

"Baiklah, mari kita bubar sekarang. Wassalamu'alaikum....," ustadz Musthofa mendahului berdiri diikuti semua temannya. Pulang ke rumah masing-masing.


#serialpakbei

#wahyudinasution






Senin, 22 Agustus 2022

SOGOK-MENYOGOK

SOGOK-MENYOGOK


Pak Bei sedang asyik ngobrol dengan tamu-tamunya ketika Sasa sahabatnya mak-bedunduk datang naik supercup tua andalannya. Tamu-tamu yang dari tadi ngobrol dengan Pak Bei pun tampak surprise dengan kehadiran Sasa. Meski belum pernah kenalan, tapi mereka tahu bahwa yang datang itu si-juru parkir teladan yang sering diceritakan Pak Bei di berbagai kesempatan. 

"Assalaamu'alaikum, Pak Bei," Sasa menyampaikan salam sambil turun dari motornya.

"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Bei.

 "Mohon ijin saya mau minta kopi," kata Sasa sambil pringas-pringis.

"Siap, Sa. Sini kenalan dulu sama teman-temanku," lanjut Pak Bei sambil beranjak menuju dapur, membiarkan Sasa kenalan sendiri dan ngobrol dengan teman-temannya.

Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali dengan segelas kopi dan lepek di tangannya.

"Ada kabar apa, Sa, kok tumben sore-sore ke sini?" 

"Saya minum dulu, ya. Monggo, Mas," Sasa basa-basi sambil menuangkan kopi panas di lepek. Dia tahu betul cara minum kopi panas tapi tidak mlocot atau terbakar lidahnya.

"Begini lho, Om, aku cuma mau tanya bagaimana pendapat Njenengan soal seorang Rektor Universitas yang ketangkap tangan KPK karena kasus sogokan itu?"

Mendengar pertanyaan Sasa, Pak Bei senyum-senyum sambil melirik tamu-tamunya, tiga pemuda yang mantan aktivis kampus itu. Dari tadi mereka juga ngajak Pak Bei ngobrol soal kasus itu. Tentu obrolan juga melebar ke mana-mana, termasuk Genk Sambo dan mafia 303 yang masih heboh entah sampai kapan, juga tentang kasus penembakan laskar FPI di KM 50 yang masih misterius, dan berbagai isu kekinian dan sensitif lainnya. 

"Sa, kalau soal itu biar Mas Didin dan teman-teman ini yang jawab. Monggo, Mas Didin, silakan pertanyaan Pak Sasa direspon," Pak Bei mempersilakan tamunya.

Seperti biasa, Didin yang perokok berat itu menyulut dulu rokoknya sebelum mulai bicara. Pak Bei hafal betul kebiasaan temannya ini blangkemen alias  gak bisa banyak bicara kalau tidak sambil klepas-klepus mengisap rokok dan ngebulkan asapnya.

"Pak Sasa ternyata ngikuti juga kasus Rektor dicokok KPK, ya," Didin mulai merespon Sasa.

"Cuma kabetulan pas tadi pagi nyetel tivi kok ada berita itu, Mas. Saya jadi heran, kok ada ya pimpinan perguruan tinggi yang mentalnya sebejat itu," jawab Sasa.

"Gak usah heran, Pak Sasa."

"Gak usah heran bagaimana, Mas? Lha Rektor itu kan orang pintar yang terpilih sebagai pemimpin perguruan tinggi untuk mendidik kader-kader bangsa masa depan yang disebut mahasiswa." 

"Pak Sasa, Rektor itu juga manusia biasa, lho. Yang ketangkap itu kan hanya kebetulan saja sedang apes."

"Maksudnya?"

"Loh memangnya hanya Rektor Universitas itu saja yang selama ini main sogok-menyogok? Apa di perguruan tinggi yang lain tidak terjadi?"

"Wah ini, saya jadi gak mudheng, Mas. Nyatanya baru kali ini ada Rektor ketangkap KPK."

"Memang benar, Pak Sasa," Irfan ikut merespon. "Memang baru kali ini terjadi penangkapan. Tapi sebenarnya sogok-menyogok itu sudah lama terjadi di dunia pendidikan kita," sambungnya.

"Maksudnya, di perguruan tinggi lain juga terjadi, begitu?"

"Ya kan sudah biasa kita dengar, Pak Sasa," jawab Irfan. "Agar anaknya bisa diterima kuliah di perguruan tinggi yang diinginkan atau bekerja jadi pegawai negeri, misalnya, seorang bapak sampai menjual tanah, sawah, atau kebunnya. Namanya juga sayang anak."

"Ya iya sih, Mas. Saya juga pernah dengar cerita, agar anaknya bisa diterima jadi taruna di Akpol atau Akmil, misalnya, orang tua harus nyiapkan ratusan juta bahkan sampai milyaran untuk nyogok. Tapi saya kira itu cuma isu lho, Mas."

"Memang sulit dibuktikan, Pak Sasa," Didin bicara lagi. "Tapi nyatanya sekarang apa yang terjadi? Korupsi di mana-mana, di semua lini. Itu karena sejak proses belajarnya saja sudah pakai nyogok. Ketika pengangkatan pegawai juga pakai nyogok, penempatan pakai nyogok, kenaikan pangkat pakai nyogok."

"Wah enak ya yang disogok," kata Sasa sambil cengar-cengir.

"Mungkin enak, Pak Sasa. Tapi bagi yang sedang apes seperti Rektor itu, betapa malunya. Habis reputasinya sebagai Guru Besar. Ambyar kepercayaan orang padanya. Padahal di samping jadi Rektor, dia juga jadi tokoh sebuah ormas Islam, lho. Memalukan to, Pak Sasa?"

"Banget, Mas. Memalukan sekali. Dia bukan hanya telah merusak dunia pendidikan tinggi, tapi juga merusak kepercayaan masyarakat pada ormas itu. Kasihan jamaahnya."

"Tapi sekali lagi, itu cuma kebetulan lagi apes saja, Pak Sasa. Yang masih aman-aman saja di lembaga yang lain pasti juga banyak."

"Iya sih, Mas. Jadi pejabat jaman sekarang kalau gak mau korupsi pasti tidak akan awet. Istilahnya, kalau tidak bisa bekerja sama ya tidak akan dipakai lagi."

"Sudah paham to, Sa? Begitulah yang terjadi. Negeri kita ini memang sedang sakit karena yang ngurusi juga orang-orang yang lagi sakit," kata Pak Bei. 

"Repotnya, Pak Sasa, orang-orang yang sakit itu merasa sehat-sehat saja. Orang yang waras justru akan dianggap sakit dan sumber penyakit yang harus dimusuhi," kata Didin.

"Orang sakit tidak mau dikritik dan gak mau dibilang sakit, Pak Sasa. Orang yang mengkritik akan dituduh radikalis, teroris, intoleran, tidak pro-NKRI, pro-khilafah, anti-Pancasila, dan sebagainya," kata Irfan dengan semangat.

"Untung kita tinggal di desa ya, Pak Bei," kata Sasa, "Terserah saja orang-orang di kota rebutan kekuasaan, saling fitnah dan berlomba-lomba menguasai aset negeri. Kita tenang-tenang saja di sini, ayem-ayom ketawa-ketiwi sebagai penonton sambil ngopi-ngopi dan nyoto di pagi hari."

"Jangan lupa berdoa, Pak Sasa," Udin yang dari tadi diam saja ikut bicara, "Meski katanya doa itu selemah-lemahnya orang berjihad, tapi sebaiknya kita tetap berdoa agar keadaan negeri ini segera membaik, segara sehat kembali."

Terdengar azan Maghrib bersahut-sahutan dari speaker masjid-masjid sekitar. Pak Bei mengajak tamu-tamunya ke mesjid depan rumah. Obrolan dan ngopi sore pun diakhiri.

#serialpakbei
#wahyudinasution


























Kamis, 18 Agustus 2022

TREMBELANE

TREMBELANE

Sudah lama Pak Bei tidak mendengar sahabatnya misuh. Sejak menyatakan diri 'kembali ke jalan yang benar' dengan rajin sholat, ikut pengajian, dan tidak pernah ikut kumpul-kumpul lagi dengan 'kaum rewo-rewo' setiap menjelang Pemilu, praktis kata-kata umpatan tidak pernah terdengar keluar dari mulut Sasa. Memang kalau volume suaranya yang keras dan bertenaga masih tetap seperti dulu, terutama saat sedang bertugas di parkiran di warung Soto Kartongali Jolotundo. Umumnya tukang parkir bekerja mengandalkan property sempritan dan bendera, tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya. Tapi Sasa beda.  Bagi juru parkir yang satu ini, sempritan yang tergantung di lehernya dan bendera hanyalah sekadar buat pantas-pantas. Selebihnya, dia mengandalkan suaranya yang keras dan terkesan galak setiap mandu parkir tamu-tamu warung. Tidak jarang orang yang baru sekali berkunjung ke warung itu kaget bahkan tersinggung dengan cara Sasa memandu parkir yang bengok-bengok, badannya membungkuk-bungkuk, dan jari tangannya menuding-nuding mengarahkan sopir. Bagi yang sudah sering ke sana pasti akan mafhum dan senang, bahkan rindu mengikuti aba-aba Sasa yang dengan totalitasnya memandu parkir tamunya.

"Wah jiaan...trembelane tenan ya, Pak Bei," kata Sasa yang tahu-tahu sudah duduk di samping Pak Bei yang sedang khusyuk menikmati soto.

"Looh....ada apa, Sa?"

"Acara resmi kenegaraan Peringatan Proklamasi 17 Agustus di Istana Negara kok pakai nanggap dangdut koplo. Penyanyinya anak-anak lagi."

"Ya gak papa to, Sa. Itu kan tandanya Presiden kita merakyat, sekaligus menunjukkan kepada khalayak bahwa beliau menghargai kesenian rakyat. Istana Negara terbuka untuk pentas kesenian rakyat."

"Ya gak bisa begitu, Pak Bei."

"Kenapa gak bisa? Itu kan gaya kepemimpinan, Sa. Setiap Presiden punya gaya dan selera masing-masing."

"Iya tahu. Tapi mbokya jangan begitulah. Saya ini juga penggemar  dangdut koplo lho, Pak Bei. Tapi mbokya empan-papan dan sadar posisi, harus tahu kapan dan di mana boleh berkoplo-ria dan tidak. Masa di acara resmi kenegaraan kok jogetan seperti itu. Trembelane tenan."

"Mestinya bagaimana, Sa?"

"Pak Bei, yang bikin aku semakin ngelus dada itu, lha kok ya tega-teganya mlekotho anak kecil disuruh nyanyi untuk puja-puji pada Baginda di forum resmi kenegaraan."

"Lah kan Sasa lihat sendiri, nyatanya semua peserta upacara termasuk Presiden, Menteri, dan Pejabat Negara jadi terhibur bahagia, lalu semua ikut jogetan mengikuti alunan nada bocah cilik bersuara emas dan gayanya yang luwes itu."

"Cen trembelane kabeh."

"Lha gimana to, Sa. Namanya juga orang bergembira-ria mensyukuri kemerdekaan."

"Ya itulah koplo, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Pil koplo itu bikin orang jadi pekok, jadi mabuk, jadi teler, seakan tidak punya masalah dalam hidupnya. Padahal itu sejatinya hanya pelarian dari masalah berat yang sedang dihadapinya."

"Ya kan setiap orang hidup pasti punya masalah, Sa."

"Iya benar, Pak Bei. Saya juga tahu. Dan orang yang lari dari masalahnya dengan cara mabuk itu jadinya  pekok. Rakyat kok disuruh pekok kabeh."

"Sa, yang kemarin itu bukan mabok, lho. Gak mungkinlah bapak-bapak itu minum ciu atau bir oplosan seperti kamu dulu."

"Memang repot tenan ngobrol sama orang gak mudheng."

"Hahaha....iya benar, Sa. Kali ini saya memang merasa jadi pekok ngobrol sama kamu."

"Agak cerdas sedikitlah, Pak Bei. Jangan ikut-ikutan menganggap seolah negeri ini sedang baik-baik saja."

"Maksudmu?"

"Pak Bei pasti tahu lembaga penegak hukum kita sedang dhedhel-dhuel karena ulah para oknumnya. Bila masalah aparat penegak hukum ini tidak segera terselesaikan, lihat saja, rakyat pasti akan hilang kepercayaan pada Pemerintah. Ini bahaya, Pak Bei."

"Ooh maksudmu kita sedang menghadapi kasus polisi nembak polisi di rumah dinas polisi diumumkan oleh polisi lalu diusut dan diperiksa polisi di kantor polisi itu?"

"Bukan hanya itu. Pak Bei tentu juga tahu harga-harga kebutuhan pokok terus naik, termasuk listrik dan BBM terus naik tanpa kompromi. Fakir-miskin semakin banyak. Pergaulan bebas remaja-remaja kita juga semakin gila. Angka perceraian meningkat tajam di mana-mana. Kasus-kasus LGBT dan pornoaksi-pornografi kita dengar sehari-hari. Guru-guru sekolah tidak lagi dihormati, bahkan tidak jarang dianggap melanggar hak azasi siswanya. Dan masih banyak lagi, Pak Bei. Miris...."

Diam-diam Pak Bei kagum pada sahabatnya. Kali ini Sasa benar-benar menunjukkan kelasnya. Dia bukan juru parkir sembarangan, tapi orang jalanan yang punya ilmu titen. Dengan logika othak-athik gathuk berdasar sedikit informasi yangdidapatkannya, Sasa bisa membaca kahanan dengan tepat. Itulah sebabnya Pak Bei suka berguru kepadanya, meski Sasa tidak pernah menyadarinya. Kali ini Pak Bei melihat Sasa sedang benar-benar sedih, prihatin pada keadaan negara, tapi tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya grundhelan dan misuh. 

"Makanya jangan jadi rakyat terus, Sa," kata Pak Bei sambil meninggalkan Sasa, menuju kasir membayar makanan, lalu pulang mengurus pekerjaan di rumah.

#serialpakbei
#wahyudinasution





Jumat, 12 Agustus 2022

PENGGEMBIRA

PENGGEMBIRA

"Penggembira itu apa to, Pak Bei,?" tanya Sasa melihat Pak Bei hadir di teras.

"Kok tanya Penggembira, ada apa?" tanya balik Pak Bei sambil meletakkan nampan berisi dua gelas kopi yang baru saja dibuatnya. "Ayo kita ngopi dulu, Sa," Pak Bei mengajak sahabatnya menikmati kopi andalannya, Kopi Pak Bei.

Suara anggungan tiga burung perkutut masih bersahutan, sesekali ditimpali suara derkuku yang seakan tak mau kalah menunjukkan eksistensinya di pagi hari. Lalu-lalang kendaraan di jalan depan nDalem Pak Bei juga semakin ramai. Mereka orang tua yang mengantar anak-anaknya ke sekolah, atau para pekerja pabrik garment di Boyolali yang tampak kesusu karena takut terlambat datang sehingga kena sangsi, dan para petani menuju habitat di sawahnya masing-masing.

"Kemarin usai Jumatan saya ikut ngobrol di serambi mesjid. Gayeng banget," kata Sasa.

"Ngobrol soal apa?"

"Soal Muktamar Muhammadiyah di Solo bulan November nanti, Pak Bei. Jamaah kami ingin datang ramai-ramai sebagai Penggembira, katanya. Lha saya kan gak paham maksudnya apa. Waktu saya tanya, teman-teman malah nyuruh saya tanya langsung ke Pak Bei yang jadi Panitia. Makanya saya ke sini pagi ini."

"Ooh begitu. Ya syukurlah kalau jamaah mesjidmu juga mau datang ke Solo. Muktamar ke-48 kali ini memang luar biasa kok, Sa."

"Luar biasa bagaimana?"

"Yah kan rencananya Muktamar ke-48 dilaksanakan pada Juli 2020. Semua persiapan sudah dilakukan panitia dengan sangat baik.  Gedung Edutorium yang sangat megah pun sudah dibangun dengan dana tiga ratusan milyar sebagai tempat penyelenggaraan. Ibarat tinggal  pencet tombol Muktamar sudah berjalan, eeh tiba-tiba pandemi covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Mau tidak mau Muktamar ditunda entah sampai kapan."

"Wah iya ya, pandemi kemarin memang nggegirisi tenan. Banyak jatuh korban di mana-mana."

"Alhamdulillaah kini pandemi sudah berlalu, Sa. Sidang Tanwir PP Muhammadiyah pun sudah memutuskan untuk melaksanakan Muktamar di Solo ini pada 18-20 November 2022 secara luring." 

"Jadi diundur 2 tahun lebih, ya."

"Iya, Sa. Ini mirip Muktamar di Solo 37 tahun yang lalu."

"Pernah diundur juga to?"

"Pernah, Sa. Di Solo juga. Dulu, seharusnya Muktamar diselenggarakan pada 1983, tapi karena saat itu Pemerintah Orde Baru mewajibkan seluruh ormas, termasuk ormas Islam, harus berazaskan Pancasila, maka terpaksa penyelenggaraan Muktamar ditunda hingga tahun 1985. Maklumlah, waktu itu Muhammadiyah harus melakukan kajian yang matang dan mendalam menghadapi Azas Tunggal yang dipaksakan itu."

"Jadi kalau dulu penyebabnya Azas Tunggal, sekarang karena pandemi covid, ya?"

"Betul, Sa. Ternyata untuk bisa jadi tuan rumah Muktamar lagi,  masyarakat Solo harus menunggu 37 tahun, dari 1985 hingga 2022. Makanya Panitia mempersiapkan Hajatan Akbar ini juga sangat serius."

"Konon Muktamar nanti akan dihadiri sekitar 2 juta orang bahkan mungkin lebih, Pak Bei?"

"Insya Allah begitu, Sa. Kalau Peserta resmi Muktamar alias Muktamirinnya saja hanya sekitar 6.000 orang. Selebihnya ada jutaan Penggembira, alias jamaah atau anggota dan simpatisan Muhammadiyah, dari berbagai penjuru akan hadir tumplek-blek ke Solo secara berombongan."

"Ooh jadi yang dimaksud Penggembira Muktamar itu orang-orang yang datang bukan sebagai peserta Muktamar, ya."

"Betul, Sa. Kita tahu, sudah lama semua orang harus diam di rumah karena pandemi. Ke mana-mana dibatasi. Anak-anak sekolah dan mahasiswa belajar di rumah. Pegawai-pegawai bekerja dari rumah. Baru beberapa bulan terakhir ini orang sudah bebas bepergian, tapi harus sudah divaksin anti-covid tiga kali." 

"Ya itulah, Pak Bei. Mumpung sudah bisa bepergian, ini saatnya orang ramai-ramai.ke Solo. Bukan hanya untuk dolan atau plesiran, tapi untuk silaturahmi dengan saudara-saudaranya seiman dan seperjuangan dari berbagai penjuru negeri," kata Sasa yang tampaknya sudah mulai paham.

"Banyak juga yang dari Luar Negeri lho, Sa."

"Ada juga dari Luar Negeri?"

"Insya Allah banyak, Sa. Saat ini Muhammadiyah sudah ada setidaknya 14 Cabang Istimewa di Luar Negeri. Sasa juga harus ikut bangga, Cabang Istimewa di Australia sudah berhasil mendirikan Perguruan Muhammadiyah, muridnya juga banyak. Di Malaysia, kita juga sudah mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di sana. PCIM yang lain juga sedang memproses bikin lembaga pendidikan di negara setempat."

"Wah hebat, ya. Muhammadiyah mendunia. Beruntunglah aku ini...."

"Beruntung bagaimana?"

"Looh...jelek-jelek begini aku kan juga lulusan SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, Pak Bei. Sama seperti Sampeyan. Dulu kita sama-sama dilatih drum band oleh Pak Mas'ud almarhum."

"Iya ya, Sa. Dulu mayoret kita kemayu banget, namanya Purwanti, panggilannya Eblek."

Dua sahabat seperguruan itu pun tampak ketawa-ketiwi  mengenang masa-masa indah sekolah di depan Mesjid Gedhe Jatinom, Klaten. Bila waktu istirahat, sering mereka main di makam Ki Ageng Gribik alias Maulana Malik Maghribi, salah satu Walisanga yang memilih Jatinom sebagai basis dakwahnya pada abad 14-15. Kelak keturunannya yang ke-11 menjadi ulama besar di Kraton Yogyakarta dan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah yang menggurita hingga saat ini, K.H. Ahmad Dahlan.

"Pak Bei, yang mau hadir sebagai Penggembira Muktamar nanti apakah perlu mendaftar dulu ke Panitia?," Sasa yang selalu ingin tahu itu bertanya lagi pada Pak Bei.

"Kalau yang dadi dekat-dekat sini aja kupikir gak perlu, Sa. Toh tidak perlu cari penginapan. Kalau yang dari jauh, dari Luar Jawa misalnya, sebaiknya segera menghubungi Panitia supaya dibantu cari penginapan untuk rombongan dan disiapkan pemandu bila ingin jalan-jalan/wisata di seputar Solo Raya dan Yogyakarta."

"Panitia sudah nyiapkan penginapan untuk Penggembira, to?"

"Insya Allah sebagai tuan rumah, Panitia sudah siap menerima dan menjamu tamu-tamunya, Sa. Penginapan sudah disiapkan, baik di lokal-lokal sekolah maupun di hotel-hotel yang tidak dipakai untuk penginapan Muktamirin. Semua sudah dibooking."

"Alhamdulillaah, terima kasih infonya, Pak Bei. Akan saya kasih tahu saudara-sudara saya yang di luar kota dan luar Jawa. Mereka juga mau datang ke Solo, katanya."

"Baiklah, Sa. Sudah agak siang ini. Kamu harus ngurusi parkiran, kan?"

"Siap, Pak Bei. Pamit dulu, nggih."

Kedua sahabat glenak-glenik itu pun berpisah untuk ngurus pekerjaannya masih-masing.

#seralpakbei
#wahyudinasution
#panitiamuktamarke-48














Selasa, 09 Agustus 2022

UNTUNG ADA SASA

UNTUNG ADA SASA


"Assalaamu'alaikum. Piye kabare, Nda?" begitu bunyi pesan WhatsApp yang masuk tepat ketika Pak Bei selesai membuatkan kopi untuk sahabatnya, Sasa, si-juru parkir teladan nasional dari Soto Kartongali Jolotundo. Nomor pengirim WA belum dikenal, belum tersimpan di memori hp, tapi kata sapaannya 'Nda' menandakan cukup akrab. Dilihatnya foto profil pengirim pesan. Tak asing lagi, dari teman lama waktu masih aktif di kampus Bulaksumur dulu, yang sejak lulus berprofesi sebagai wartawan di media Nasional di Jakarta. Dab Wachid, begitu Pak Bei dulu memanggilnya.

"Apik, Dab. Aman terkendali, alhamdulillah," tulis Pak Bei.

Dimasukkannya HP ke saku baju, lalu  Pak Bei berjalan ke depan untuk nemui tamu sambil kedua tangannya menyangga lepek dan gelas kopi. Baru saja Pak Bei meletakkan dua gelas kopi di meja bundar dan duduk di bantal kesukannya, HP di sakunya berbunyi lagi, nada panggilan telepon WA.

"Nda, ini aku lagi di Semarang."

"Ada tugas di Semarang?'

"Iya ini, di tempat pelelangan mobil. Sampeyan butuh mobil apa? Ini mumpung ada lelangan bagus-bagus, harganya juga menarik. Mau Honda, Toyota, Mitsubhisi, Daihatsu, ada semua. Yang pick-up juga ada," sambung Wachid sembari menyebutkan beberapa contoh harga mobil lelangan.

Pak Bei bertanya-tanya, apa Wachid sekarang nyambi jadi makelar kendaraan? Apa sekarang tinggal di Semarang sehingga pakai kata sapaan 'Nda'? Atau mungkin saja dia kebetulan sedang liputan atau hunting berita di sekitar Semarang. Tapi kenapa di lelangan mobil? Apa sekarang jadi spesialis berita otomotif, bukan lagi berita sosial-budaya seperti dulu? Gak taulah, sudah hampir 5 tahun tidak ketemu Wachid, dan jarang bertukar kabar karena kesibukan masing-masing.

"Sebentar, Dab, ini aku lagi ada tamu. Sori, ya," jawab Pak Bei mengakhiri panggilan telepon Wachid. 

Baru saja Pak Bei mau mulai ngobrol dengan Sasa, panggilan masuk berdering, dari Wachid lagi. "Piye, Nda, ini mumpung ada barang bagus-bagus dan murah. Eman kalau terlewatkan," kata Wachid.

Memeng, sejak beberapa waktu lalu Pak Bei berpikir untuk nambah armada untuk operasional di Bundaco, minimal mobil pick-up untuk angkut barang kulakan dari Solo, juga untuk mengirim via ekspedisi di Kota Klaten.

"Ada pick-up apa saja, Dab?" tanya Pak Bei.

"Ini ada Grandmax dan Carry, juga ada L300."

"Berapa harga?"

"Grandmax 2021 harga 85. Carry 1.5 2020 harga 75. L300 2019 harga 90."

"Wah yang bener?"

"Sampeyan mau yang mana, tolong transfer 15 juta saja dulu untuk DP."

"Kapan?"

"Ya sekarang, masa besok. Biar bisa kuproses dulu. Ini cepet-cepetan, Nda. Siapa yang cepat dia dapat."

"Pelunasannya kapan?"

"Ya nanti kalau sudah fix kita  langsung dilunasi. Barang akan saya antar ke Klaten."

"Harus sekarang aku transfer  DP?"

"Iya, Nda. Ini cepet-cepetan."

"Oke, Dab. Nanti kukabari." Pak Bei mengakhiri pembicaraan.

"Kok nyolowadi to, Pak Bei?" kata Sasa mengomentari obrolan Pak Bei di telepon tadi. Rupanya dia sengaja nyuri dengar.

"Nyolowadi bagaimana, Sa?"

"Mencurigakan."

"Apanya?"

"Mendengar omongannya tadi, aku curiga orang itu hanya mau menipu Pak Bei."

"Kok bisa, Sa?"

"Feeling saya begitu."

"Gak mungkinlah, Sa. Itu tadi teman lamaku, lho."

"Pak Bei yakin orang tadi teman Pak Bei?" 

Pertanyaan Sasa menohok Pak Bei. Terlintas di ingatannya wajah Wachid yang dikenalnya sejak di kampus dulu. Orangnya lgugu, asli wong Bantul. Bahasanya medok Jawa Mataraman. Tapi kenapa tadi logatnya Suroboyoan, logat Ludrukan?

"Wah iya ya, Sa. Memang ada yang aneh. Mungkin benar feelingmu."

"Lah gimana, Pak Bei?"

"Pertama, kenapa Wachid ganti nomor? Kedua, Wachid itu asli orang Bantul, tapi kok omongannya tadi pakai logat Suroboyoan. Jelas ini tidak lazim, nyolowadi, aneh. Kedua, aku disuruh cepat-cepat transfer DP sekarang juga, seolah-olah aku ini lagi sangat butuh mobil."

"Terus, di ia minta transfer pelunasan kapan?"

"Nanti sebelum mobil diantar ke sini harus dilunasi dulu, katanya."

"Walah...itu cuma modus, Pak Bei. Jangan transfer DP, apalagi melunasi. Jelas itu penipuan. Kali ini Pak Bei harus percaya Sasa."

Pak Bei pun jadi penasaran dengan Wachid. Dicarinya nomor Wachid yang ada di phonebook, lalu dicoba menghubunginya via telepon. Masih aktif, nada panggilan pun masuk.

"Assalaamu'alaikum. Apa kabar, Dab Bei? Njanur gunung siang-telepon. Wonten dhawuh?" kata Wachid dengan logat Mataraman.

"Wa'alaikumsalam... Piye kabarmu, Dab? Lagi di mana ini?"

"Biasa di Jakarta, Dab. Di kantor."

"Kirain lagi di Semarang."

"Sudah lama aku gak tugas luar kota, Dab. Sejak sakit beberapa tahun lalu."

"Sakit apa?"

"Ya beginilah resiko kerja di bawah tekanan, dikejar-kejar deadline. Ginjalku kena, Dab. Gak boleh kecapekan lagi."

"Pantesan dah lama gak mampir ke rumah. Ya sudah, selamat bekerja. Jaga kesehatan, ya. Donga-dinonga."

"Siap, Dab Bei. Matur nuwun sudah telepon."

"Bener kamu, Sa. Joss tenan feelingmu. Orang tadi cuma penipu yang ngaku sebagai Wachid temanku dan pakai foto profilnya. Dia nyuri foto temanku."

"Gelagaknya sudah jelas kok,. Cetho welo-welo. Jelas cuma penipu."

"Wah untung ada kamu, Sa. Kalau tidak, pasti sudah kebobolan aku. Makasih ya, Sa."

"Jama sekarang kok, Pak Bei. Orang cari makan dan kesenangan semakin pintar dan banyak caranya. Orang berbuat jahat juga semakin canggih caranya."

"Tapi kita gak boleh shu'udhon pada orang lain lho, Sa."

"Bukan shu'udhon, Pak Bei, tapi  waspada. Harus waspada, hati-hati. Saat ini semakin banyak kejahatan mengincar kita. Nyatanya Pak Bei baru saja hampir saja kena tipu, kan?"

"Iya ya. Untung ada Sasa."

Terdengar azan dhuhur bersahutan. Sasa pun pamitan setelah menghabiskan kopinya, dan Pak Bei bersiap ikut jamaah di mesjid.

#seriakpakbei
#wahyudinasution



















Jumat, 05 Agustus 2022

KAJASHA

KAJASHA

Pak Bei baru saja selesai memberi makanan dan minuman untuk klangenannya, tiga ekor burung perkutut dan tiga ekor burung derkuku. Satu persatu kurungan telah dikembalikan pada cantelannya, tetiba terdengar dering HPnya berbunyi, notifikasi pesan WA pribadi masuk. Segera diraihnya HP di meja dan dibukanya. Dari Triyatmo, sahabatnya yang tinggal di Jogja dan sudah beberapa bulan tidak saling berkabar.

"Mampir nyoto," begitu pesan Triyatmo disertai foto suasana warung Soto Bening Boyolali di Rest Area Sartondho, warung yang digagas Pak Bei untuk menghidupkan Bumdes JEMAWAN di Jl. Klaten-Boyolali km 7. Tentu sahabatnya itu bermaksud ngabari bahwa dia sedang nglarisi soto Pak Bei.

"Oke, Nda. Sebentar lagi aku meluncur," jawab Pak Bei yang kebetulan sedang longgar tidak ada agenda keluar kota. Triyatmo memang sedang beruntung, berbeda dengan beberapa teman lain yang belum pernah bisa ketemu Pak Bei di Rest Area Sartondho.

"Nda, ayo kita ke warung nemui Om Triyatmo," Pak Bei mengajak Bu Bei yang sedang asyik dengan karyawan di workshop Bundaco.

"Om Triyatmo di warung?" tanya Bu Bei.

"Iya, dia barusan ngabari."

Tak sampai lima menit, Pak Bei dan Bu Bei sudah sampai di parkiran Rest Area Sartodho. Juru parkir menyambutnya dan  dengan sigap memandu di mana Pak Bei harus memarkir mobilnya. Segera ditemuinya Triyatmo yang sedang asyik menikmati soto non-micin bersama Mas Ifan Nuri rekan kerjanya. 

Pak Bei mengenal sahabatnya ini sejak masih sama-sama mahasiswa di UGM. Sebenarnya mereka beda fakultas dan angkatannya pun terpaut  beberapa tahun.  Triyatmo mahasiswa Teknik Mesin angkatan '89, sedangkan Pak Bei mahasiswa Sastra angkatan '85. Jadi usia Triyatmo  lebih muda beberapa tahun dari Pak Bei. Tapi karena  sama-sama aktivis di Gelanggang Mahasiswa, di Jamaah Shalahuddin khususnya, maka keduanya pun menjadi akrab dan bersahabat. Dulu, Triyatmo sempat jadi Ketua Jamaah Shalahuddin, dan Pak Bei Ketua Sanggar Shalahuddin, sayap kegiatan Jamaah Shalahuddin di bidang seni-budaya.

"Kok njanur gunung, pada mau ke mana ini?" tanya Pak Bei.

"Mau ke Semarang, Pak Bei. Ada meeting jam 13.00 nanti," jawab Triyatmo.

"Ikut nggarap jalan tol Joglosemar, to?"

"Wah enggaklah, Pak Bei. Berat."

"Berat piye?"

"Profitnya kecil, pembayarannya tempo dan rumit."

"Iya, Pak Bei. Sekarang kami pilih proyek-proyek kecil tapi pembayarannya bagus dan profitnya jelas," Mas Ifan ikut nembahi.

Pak Bei masih ingat betul, sahabatnya ini seorang enterpreuneur sejati. Sejak masih mahasiswa sudah merintis bisnis dengan teman-temannya, bergerak di bidang rekayasa mesin. Mereka punya mitra satu perusahaan cukup besar di Cilegon yang secara rutin memberi pekerjaan sebagai sub-kontraktor. Lalu, beberapa temannya setelah lulus kuliah ditarik ke perusahaan mitranya itu, ada yang jadi Dirut, manajer SDM, manajer produksi, dan sebagainya. Triyatmo memilih tetap khusyuk mengelola perusahaannya sendiri dengan segala dinamikanya. 

"Menjadi kepala ikan teri lebih nikmat daripada menjadi ekor ikan hiu," begitu prinsip Triyatmo.

Pada Reuni Akbar (lintas angkatan) Keluarga Alumni Jamaah Shalahuddin (Kajasha) di Bulaksumur sekitar empat tahun yang lalu, secara aklamasi Triyatmo terpilih sebagai Ketua Umum. Semua musyawirin mengakui kecakapan Triyatmo dalam mengelola organisasi dan diyakini akan mampu menjembatani generasi tua angkatan 70-80-an dengan generasi millenial, 90-2.000-an.

"Piye kabare Kajasha, Nda?" tanya Pak Bei.

"Belum ada progress, Pak Bei. Masih gini-gini saja," jawab Triyatmo. 

"Lha piye, to?"

"Sebenarnya sudah lama saya pengin Kajasha punya usaha, punya bisnis, atau semacam Bisnis Center, tempat semua anggota, terutama yang punya bisnis atau produk, bisa mengembangkan usahanya. Pusat bisnis itu sekaligus jadi tempat kongkow-kongkow bila teman-teman luar kota datang ke Jogja."

"Wah bagus itu. Kajasha Bisnis Center, KBC. Lebih bagus lagi kalau tempatnya bisa di kawasan Bulaksumur."

"Insya Allah bisa, Pak Bei. Aku pernah menjajaki kemungkinan Kajasha menggunakan satu-dua bagian di area Masjid Kampus. Respon dari pihak yayasan juga cukup bagus."

"Lah terus kenapa belum bisa jalan sampai sekarang?"

"Masalahnya belum ketemu ide usaha apa yang cocok untuk mengawali. Ide besar-besar banyak, tapi kesulitan dari mana mau memulainya. Maklum semua sudah punya kesibukan, dan tinggalnya banyak yang berjauhan di berbagai kota. Pak Bei ada ide?"

"Kalau ideku sih sederhana saja, Nda." 

"Apa itu, Pak Bei?"

"Mungkinkah kalau kita mulai dari buka warung soto seperti ini? Marketnya jelas potensial, lho."

"Wah cocok, Pak Bei. Kalau saya sih YES," Ifan menyahut. "Tempatnya jelas strategis. Marketnya sangat potensial. Komoditas soto non-micin ini jelas marketable. Enak tenan je. Pasti laris. Tapi ya terserah Pak Ketua," lanjut Ifan.

"Saya sih YES juga. Ide bagus Pak Bei bisa jadi alternatif. Coba kita share ke teman-teman dulu. Kalau responnya positif, kapan-kapan kita ketemu lagi untuk bikin bisnis-plannya," kata Triyatmo.

"Mas Tri," Bu Bei yang dari tadi hanya diam mendengarkan mulai ikut bicara, "Usaha soto ini kelihatannya memang sederhana, cuma warung soto. Tapi jangan salah, Mas Tri. Profitnya lumayan lho."

"Iya saya percaya, Bu Bei. Dan yang lebih penting bagi Kajasha sebenarnya soal perlunya tempat yang nyaman bagi anggota untuk bisa ketemu ngobrol-ngobrol kangen-kangenan."

"Mas Tri, kami sudah membuktikan bahwa warung soto seperti ini bisa menjadi pilihan tempat yang nyaman untuk ketemuan. Kami biasa ketemu teman-teman di sini sambil nyoto dan ngopi," kata Bu Bei. 

"Memang Bu Bei," Ifan menyahut," Sesuatu yang besar harus dimulai dari yang kecil dan sederhana. Tentu sulit bikin sesuatu yang langsung besar, apalagi bila harus melibatkan orang banyak. Usaha soto seperti ini mungkin justru bisa jadi solusi."

"Baiklah Pak Bei-Bu Bei, kapan-kapan kita sambung lagi, ya. Kita matangkan ide ini. Kami harus melanjutkan perjalanan dulu nih," kata Triyatmo sambil berdiri.

"Oke, Nda. Semoga lancar dan aman perjalanan kalian. Terima kasih sudah mau mampir menikmati soto kami."

Pak Bei dan Bu Bei pun mengantar sahabatnya itu hingga mobilnya keluar dari parkiran.

#serialpakbei
#wahyudinasution






 

















Senin, 01 Agustus 2022

JILBAB

JILBAB
(Wahyudi Nasution)

Seperti biasa ketika sedang tidak acara keluar kota, Pak Bei selalu menyempatkan nyambangi warung soto di Rest Area Sartondho JEMAWAN, Jatinom, Klaten. Rest Area milik Bumdes JEMAWAN ini digagas oleh Pak Bei bersama Pak Kades, dan pilihan usaha pertama berupa warung soto ini pun sepenuhnya digagas oleh Pak Bei dengan memanfaatkan jaringan pertemanannya yang luas. Maklum saja, Pak Bei memang  penggemar soto dari dulu. Hampir tiada hari tanpa makan soto, di mana saja dan kapan saja.

Setiap berkunjung ke warung, aktivitas Pak Bei yang utama adalah menyapa dan memperhatikan kinerja semua karyawan, dari tukang parkir, koki, pelayan, tukang cuci-cuci, hingga kasir. Untuk mengontrol kualitas masakan, tak lupa Pak Bei juga memesan semangkok soto, soto sapi atau soto ayam, dan segelas teh nasgithel. Sambil menikmati "soto tanpa micin" itu, Pak Bei bisa bertegur sapa dan beramah-tamah dengan pengunjung lain. Bila waktu dhuhur tiba, Pak Bei pun menyempatkan sholat di mushala, sekaligus untuk mengontrol kinerja tenaga kebersihan. Bila kamar mandi dan mushola kotor, tentu Pak Bei akan menegur karyawan yang giliran piket di hari itu.

Tapi betapa kaget Pak Bei ketika mau masuk kamar mandi, dari kamar sebelah makjegagik keluar seorang lalaki yang sudah sangat dikenalnya, Sasa, sahabatnya yang kerja sebagai juru parkir di warung soto Kartongali Jolotundo.

"Loh Sa, kok di sini,? tanya Pak Bei spontan.

"Hehehe....iya, Pak Bei. Mampir, mau numpang sholat," jawab Sasa yang juga tampak kaget.

"Ya sudah sana ambil wudhu dulu. Kita sholat bareng," kata Pak Bei dan langsung masuk kamar mandi.

"Sasa dari mana tadi?" tanya Pak Bei usai sholat dhuhur dan wiridan sebentar. 

"Tadi dari warung langsung ke sini, pengin ketemu dan ngobrol dengan Pak Bei?"

"Kok tumben siang-siang, Sa. Ada apa?" tanya Pak Bei sambil mengajak sahabatnya pindah duduk ke teras mushola. Pak Bei memberi aba-aba ke salah satu pelayan untuk mengantar 2 gelas teh. 

"Kita ngobrol di sini, Sa," kata Pak Bei sambil mengeluarkan rokok dan korek dari sakunya. Ada cerita apa, Sa?"

"Soal jilbab, Pak Bei."

"Weeh...ada apa soal jilbab?"

"Pengin tahu saja, tiba-tiba dalam dua hari ini kok ramai berita soal jilbab," kata Sasa sambil tangannya mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. "Orang-orang protes karena ada sekolah Negeri yang mewajibkan semua murid putrinya berjilbab. Yang satunya lagi tentang seorang tokoh politik yang menikahkan anak gadisnya pakai bahasa Arab, tetapi anak gadisnya itu tidak pakai jilbab. Orang-orang pun pada nyinyir," lanjutnya.

Pak Bei sudah menangkap yang maksud sahabatnya. Pasti itu kasus yang terjadi pada satu SMAN di Bantul dan satunya lagi peristiwa mantu Gubernur DKI yang dihadiri tokoh-tokoh politik Nasional itu.

"Berita gitu saja kok digagas, Sa. Mbokya biarin saja. Besok juga akan hilang dan ganti berita lain lagi."

"Bukan begitu, Pak Bei. Kali ini saya jadi pengin tahu pendapat Pak Bei soal jilbab. Pak Bei kan juragan jilbab, punya usaha konveksi aneka jilbab. Masa tidak terusik ada berita miring soal jilban begitu?"

"Aku biasa saja, Sa."

"Jujur sajalah. Bagaimana Pak Bei melihat peristiwa seorang siswi yang protes karena diwajibkan berjilbab itu? Banyak orang yang ikut mengecam aturan sekolah itu, lho?"

"Ya biarin saja, Sa. Lha wong pekerjaan orang yang protes itu memang mencari-cari masalah yang bisa dikecam di media agar jadi terkenal, lha kok digagas. Biasanya mereka hanya ingin kondang seolah-olah pembela hak kaum minoritas, Sa."

"Kok Pak Bei sinis begitu?"

"Bukan sinis, Sa. Tapi jaman memang sudah berubah."

"Maksudnya?"

"Dulu jaman aku masih sekolah di SMA Negeri, semua murid pakai seragam tapi modelnya tidak diatur. Semua pakai  lengan pendek. Siswa pakai celana panjang, dan siswi pakai rok pendek di atas lutut, bahkan ada yang lebih pendek lagi hampir setinggi sidratul-muntaha. Temanku yang cowok dan ndugal suka pura-pura ngambil pensilnya yang sengaja dijatuhkan agar bisa ngintip paha teman-teman cewek."

"Wah asyik ya. Dulu nasibku lulus SMP terus kerja jadi kernet angkot, gak neruskan sekolah."

"Bayangkan saja, Sa, betapa kasihan Pak Guru jaman dulu. Sering pas lagi asyik nerangkan pelajaran, tetiba pandangannya terantuk pada paha mulus muridnya yang lagi terbuka. Ngelu ndhase, Sa. Pusing kepala. Pak guru juga manusia. Manusia biasa."

"Kan malah seneng, Pak Bei."

"Sa, sekolah itu bukan hanya tempat belajar ilmu, tapi juga tempat belajar adab dan kesopanan. Sudah sewajarnya pihak sekolah membuat aturan guna melatih anak didiknya lebih beradab dalam  penampilan dan pergaulan."

"Ya tapi pihak sekolah kan harus menghormati juga hak-hak muridnya, Pak Bei. Tidak boleh melarang dan memaksakan aturan. Inilah yang bikin orang tua suka protes."

"Gampang itu, Sa. Kalau ada orang tua yang keberatan anaknya diatur dengan aturan-aturan di sekolah, suruh saja bikin sekolah sendiri atau diajari sendiri di rumah. Kan ada yang namanya home-schooling. Anaknya akan lebih bebas merdeka."

"Wah susah, Pak Bei."

"Sa, sekali lagi jaman sudah berubah. Jaman sekarang, anak gadis pakai rok pendek dan baju ketat itu sangat tidak sopan. Aurat itu harus ditutup, jangan dipamer-pamerkan, biar tidak hilang cahayanya. Bila sering diumbar, cahaya aurat akan pudar, jadi luntur keindahannya."

"Rambut di kepala perempuan itu termasuk aurat apa bukan to, Pak Bei? Kok sampai ada sekolah mewajibkan siswinya pakai jilbab? Di sisi lain, banyak juga gadis-gadis muslimah yang tidak pakai jilbab, seperti anak Gubernur yang nikah kemarin itu, misalnya."

"Sa, tolong dibedakan antara kasus sekolah yang berusaha mendidik murid-muridnya adab dan sopan-santun dengan pilihan seseorang dalam penampilannya sehari-hari."

"Maksudnya, Pak Bei?"

"Sa, ini kita ngobrol soal adab, lho, bukan soal hukum atau fikih. Soal sekolah tadi sudah jelas, kan? Itu soal aturan sekolah yang berusaha mendidik anak-muridnya agar bisa menjaga adab dan kesopanan. Namanya juga sekolah."

"Iya, Pak Bei. Sudah wijang."

"Soal penampilan keseharian, tentu kita akan melihatnya dari kacamata adab dan kesopanan juga. Ada perempuan yang pakai busana muslimah lengkap termasuk jilbab atau penutup kepala, tapi kurang beradab penampilan pergaulannya."

"Ada juga, to?"

"Banyak, Sa. Bahannya tipis, modelnya ketat lagi. Itu bikin ngelu yang melihatnya."

"Jadi tampak ting pecothot ya..."

"Banyak juga yang pakai baju longgar dan jilbab besar, syar'i katanya, tapi perilaku kesehariannya kurang baik dengan tetangga, dengan teman, dan dengan saudaranya, juga kurang santun pada anak-anak yatim dan fakir-miskin. Mereka tampak kaku dalam pergaulan, tidak ramah, karena lebih cenderung asyik memburu surganya sendiri."

"Terus yang mbuldhus kepalanya tidak berjilbab bagaimana, Pak Bei?"

"Sa, penampilan seseorang itu biasanya berdasarkan keyakinan dan keimanannya. Ada yang meyakini rambut di kepala itu bukan termasuk aurat sehingga memakai jilbab tidak wajib.  Sebagian lainnya meyakini bahwa memakai jilbab itu wajib bagi setiap perempuan. Tapi, Sa, inti hidup itu pada akhlaq. Akhlaq kita baik atau tidak dalam hubungan dengan Tuhan dan dalam hidup sehari-hari, dalam bermuamalah."

"Terus, kalau Pak Bei sendiri cenderung yang mana? Yang pakai jilbab atau tidak?"

"Saya, Sa?"

"Iya."

"Ya jelaslah, saya termasuk yang tidak mau pakai jilbab."

"Ya iyalah. Kalau pakai jilbab, panggilanmu jadi Bu Bei, bukan Pak Bei....wkwkwk"

Sasa tampak sudah lega dan bisa tertawa. Pak Bei pun harus pulang ganti ngurus pekerjaan di rumah. Kedua sahabat glenak-glenik itu pun berpisah.

#serialpakbei