GOWES VIRTUAL
Seperti biasanya, setiap malam Jumat Pak Bei ikut Yasinan di kampung, satu majelis tilawatil-Quran khusus bapak-bapak dan pemuda. Menurut shahibul-hikayat, tradisi itu sudah berjalan sejak masa-masa awal kemerdekaan RI, diinisiasi oleh seorang guru ngaji kampung bernama Pak Wahab bin Mad Rais, ayahanda Pak Bei. Tempatnya bergilir dari rumah ke rumah jamaah. Konon, di masa awal dulu yang dibaca khusus surat Yaasiin. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al-Quran yang dijilid per-juzz dan dikenal sebagai Muqadaman. Sekitar 30 menit, jamaah membaca bagiannya masing-masing secara bersama-sama. Seperti orang balapan lari, dalam mengaji bareng ini tentu ada yang lancar-fasih bacaannya dan keras suaranya, tapi juga ada yang pelan bahkan terbata-bata agak kurang lancar.
Setelah mengaji, para pemuda mengeluarkan sajian makanan dan minuman yang disiapkan oleh tuan rumah. Sesuai dengan jamannya, dulu waktu Pak Bei masih remaja, menu wedangannya sering berupa ketela rebus, pondhoh, kacang rebus, jagung, dan klethikan menggleng, rendeng, atau karak. Sekarang menunya lebih variatif, bahkan tidak jarang tuan rumah juga menyiapkan makan besar seperti soto ayam, kare ayam, lontong opor, atau nasi rames dan ayam goreng. Setelah menikmati makanannya, sambil klepas-klepus merokok, jamaah mendengarkan tausiyah dari ustadz lokal yang bertugas secara giliran.
Tradisi yang sudah berlangsung berpuluh tahun itu rupanya menggelisahkan Pak Bei. Maka, sejak 5 tahun lalu jamaah diajaknya mengubah pola mengaji. Infak yang terkumpul tiap malam Jumat dan saldonya sudah lumayan banyak dibelikan sejumlah mushaf Al-Quran dan Terjemah sebagai inventaris. Setiap jamaah mendapatkan satu mushaf. Agar mushaf Al Quran yang ekslusif itu tidak cepat rusak, maka setiap jamaah juga dibagikan sebuah tas yang diberi tulisan sablon "Majelis Tilawatil Quran Kwaon YASINAN". Sejak itu, setiap jamaah berangkat dari rumahnya dengan menenteng tas keren berisi mushaf Al-Quran. Pola pembacaannya pun diubah. Tidak lagi balapan, tetapi dipandu oleh salah seorang yang bagus bacaannya, sepotong-sepotong, lalu diikuti atau ditirukan oleh seluruh jamaah. Dimulai dari awal Juzz 1 hingga beberapa halaman dalam waktu sekitar 30 menit. Setelah selesai, biasanya pemandu akan membacakan terjemahan dan menerangkan tafsirnya sesuai kemampuan yang dimiliki. Pola ini ternyata dirasakan oleh jamaah lebih khidmad dan khusyuk.
Setelah majelis selesai dan jamaah pulang, biasanya beberapa bapak dan dan para pemuda ngobrol-ngobrol dulu sambil menghabiskan minuman dan makanan yang masih tersisa, atau sambil menikmati bekal rokok masing-masing. Tema obrolan bisa kemana-mana, biasanya tergantung isu yang lagi hot atau viral di medsos. Dan malam ini, obrolan lebih terfokus pada salah satu agenda Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, yakni Gowes Virtual atau MUKTAMARIDE.
"Pak Bei, Gowes Virtual itu bagaimana, to? Saya pengin ikut, tapi belum punya bayangan sama sekali bagaimana caranya," kata Suratman yang terkenal paling maniak-gowes di kampung itu.
"Iya, Pak Bei. Tolong dijelaskan, katanya pesertanya nanti dari seluruh Indonesia bahkan dunia? Sepertinya menarik sekali," Ratsono menambahkan.
"Benar, Om, saya juga banyak nerima pertanyaan itu, tapi gak bisa jawab karena memang saya belum paham sama sekali," kata Ustadz Musthofa yang biasa ngisi pengajian dari kampung ke kampung. "Tolong dilaskan, bagaimana teknisnya, cara daftarnya, penentuan pemenangnya, hadiahnya, dan sebagainya," tambahnya.
Semua mata peserta ngobrol tertuju pada Pak Bei. Mereka tampak antusias menunggu jawaban Pak Bei yang dari tadi hanya senyum-senyum mendengarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Baiklah, Teman-Teman," Pak Bei mulai menjawab pertanyaan setelah menyulut dulu rokok kreteknya. "Muktamar di Solo nanti tampaknya memang istimewa, bahkan sangat istimewa. Karena apa? Pertama, karena Muktamar ke-48 ini mestinya sudah terselenggara pada Juli 2020 yang lalu, tapi karena sejak awal 2020 terjadi pandemi Covid-19, maka penyelenggaraan Muktamar pun harus ditunda, dan baru akan terlaksana pada November 2022. Ini artinya, masyarakat Solo harus menunggu 37 tahun untuk bisa kembali menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, sejak 1985."
"Wah tahun itu saya belum lahir itu, Pak Bei," kata Sumadi.
"Saya juga belum," kata Ibnu.
"Saya masih balita," kata Ratsono.
"Kedua, sebagai tuan rumah, masyarakat Solo --dalam hal ini Panitia Penerima yang difasilitasi oleh UMS-- berusaha menyiapkan diri sebaik-baiknya guna menyambut jutaan tamu yang bakal hadir ke Solo, baik sebagai peserta muktamar alias muktamirin maupun sebagai jamaah alias penggembira."
"Wah pasti repot banget nyiapkan tempat dan ubo-rampe-nya ya, Pak Bei?" tanya Hanafi.
"Ya jelas, Nda. Untuk tempat Muktamar ya saja, UMS membangun gedung Edutorium yang sangat megah dengan biaya 300an M, lho. Seluruh gedung kampus UMS juga disiapkan untuk acara muktamar. Untuk penginapan muktamirin dan penggembira, Seksi Akomodasi sudah booking hampir seluruh hotel di Solo. Untuk konsumsi jangan tanya, betapa repotnya teman-teman Seksi Konsumsi. Mereka harus menggandeng pengusaha-pengusaha catering dan rumah-rumah makan di sekitar Solo sebagai vendor."
"Wah ya pasti repot sekali, Pak Bei. Orang hajatan manten saja sudah sangat repot nyiapkan tempat dan konsumsi. Apalagi ini muktamar yang dihadiri jutaan orang," kata Udin.
"Soal Gowes Virtual tadi bagaimana, Pak Bei? Ini yang lebih penting bagi saya," Suratman tampak sudah tidak sabar.
"Oke, Nda. Begini. Seperti Kalian, sekarang ini di mana-mana orang demam olah raga sepeda, alias gowes. Tiap hari terutama pas hari libur, kita lihat di mana-mana ketemu rombongan pegowes menyusuri jalan entah mau kemana dan berapa kilo telah mereka kayuh sepedanya. Namanya juga olah raga, tentu itu sangat positif. Nah, sesuai spirit Muhammadiyah for All alias Muhammadiyah untuk semua orang, maka panitia muktamar pun merasa perlu membuat program khusus bagi para pegowes di seluruh penjuru wilayah, kota, dan desa bisa terlibat muktamar. Maka kemudian dirumuskanlah konsep Gowes Virtual. Apa yang dimaksud Gowes Virtual?" Pak Bei sengaja mengajukan pertanyaan repetitif sambil menatap mata satu-persatu.
"Nah ini. Teruskan, Pak Bei," Ratsono juga ikut tidak sabar.
"Inilah lomba gowes secara daring," kata Pak Bei.
"Maksudnya?" Suratman semakin tidak sabar.
"Saudara-saudara kita para pegowes di Jayapura, Manokwari, Sorong, Ambon, Ternate, Palu, Banjarmasin, Bima, Denpasar, Banyuwangi, Surabaya, Jakarta, Banten, hingga Lampung, Palembang, Padang, Medan, dan Aceh, atau bahkan yang di Australia, Malaysia, Jepang, Canada, Mesir, Jerman, Belanda, dan sebagainya, ayo silakan ikut lomba ini dengan bersepeda di daerahnya masing-masing."
"Tidak harus ke Solo, Pak Bei?" tanya Inung.
"Ya tidak to, Le. Namanya saja virtual. Begini caranya....
1. Buatlah kelompok peserta terdiri dari 3-5 orang lalu salah seorang wakil mendaftar sebagai peserta via http//muktamaride.com. Pendaftaran akan dibuka mulai 1 September.
2. Lakukan pembayaran dan konfirmasi pembayaran dengan mengunggah bukti transfer.
3.Setiap kelompok akan mendapatkan ridepack yang akan dikirimkan ke alamat yang dicantumkan.
4. Setiap kelompok diwakili satu orang/akun bergabung dalam club strava “Muktamaride 48” pada aplikasi Strava yang dapat didownload dari Playstore.
"Om, tolong digambarkan sekalian teknis pelaksanaannya nanti," Ustadz Musthofa tampak sudah penasaran.
"Begini, Mas," Pak Bei melanjutkan,
"1. Peserta dalam setiap kelompok menentukan sendiri lokasi start dan finishnya di daerah masing-masing.
2. Setiap kelompok wajib menempuh jarak minimal 48 km dengan waktu pelaksanaan 7 Oktober hingga 5 November 2022.
3. Peserta diperbolehkan menyelesaikan jarak tempuh tersebut dengan sistem cicil selama waktu pelaksanaan tadi.
4. Peserta wajib mengunggah foto maupun video aktivitas bersepeda dengan latar icon Muhammadiyah atau icon daerah masing-masing.
5. Selama bersepeda virtual sejauh 48 km peserta wajib menggunakan aplikasi Strava sebagai alat bantu tracking panitia.
6. Peserta wajib mengirimkan screenshoot/tangkapan layar hasil tracking dari aplikasi Strava yang sudah menunjukkan hasil minimal 48 km kepada panitia."
"Jadi jarak tempuh setiap peserta 48 km ya, Pak Bei?," tanya Suratman.
"Iya, Nda. Tapi itu bisa dicicil antara tanggal 7 Oktober hingga 5 November. Misalnya Minggu pertama menempuh 15 km. Minggu kedua 15 km. Minggu ketiga 18 km. Total 48 km."
"Oke, Pak Bei. Dari kampung ini semoga nanti bisa ikut 3-4 kelompok," kata Ratsono optimis.
"Baiklah, sudah cukup larut malam, udara sudah terasa anyep. Mari kita pulang. Terima kasih infonya, Pak Bei. Sudah cukup jelas," kata Ustadz Musthofa.s
"Masih ada satu yang kurang, Pak Bei: hadiahnya apa?" tanya Suratman.
"Tenang saja, Nda. Insya Allah akan ada banyak hadiah untuk pemenang, salah satunya Umroh. Asyik, kan?" jawab Pak Bei.
"Baiklah, mari kita bubar sekarang. Wassalamu'alaikum....," ustadz Musthofa mendahului berdiri diikuti semua temannya. Pulang ke rumah masing-masing.
#serialpakbei
#wahyudinasution