Sudah lama Pak Bei tidak mendengar sahabatnya misuh. Sejak menyatakan diri 'kembali ke jalan yang benar' dengan rajin sholat, ikut pengajian, dan tidak pernah ikut kumpul-kumpul lagi dengan 'kaum rewo-rewo' setiap menjelang Pemilu, praktis kata-kata umpatan tidak pernah terdengar keluar dari mulut Sasa. Memang kalau volume suaranya yang keras dan bertenaga masih tetap seperti dulu, terutama saat sedang bertugas di parkiran di warung Soto Kartongali Jolotundo. Umumnya tukang parkir bekerja mengandalkan property sempritan dan bendera, tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya. Tapi Sasa beda. Bagi juru parkir yang satu ini, sempritan yang tergantung di lehernya dan bendera hanyalah sekadar buat pantas-pantas. Selebihnya, dia mengandalkan suaranya yang keras dan terkesan galak setiap mandu parkir tamu-tamu warung. Tidak jarang orang yang baru sekali berkunjung ke warung itu kaget bahkan tersinggung dengan cara Sasa memandu parkir yang bengok-bengok, badannya membungkuk-bungkuk, dan jari tangannya menuding-nuding mengarahkan sopir. Bagi yang sudah sering ke sana pasti akan mafhum dan senang, bahkan rindu mengikuti aba-aba Sasa yang dengan totalitasnya memandu parkir tamunya.
"Wah jiaan...trembelane tenan ya, Pak Bei," kata Sasa yang tahu-tahu sudah duduk di samping Pak Bei yang sedang khusyuk menikmati soto.
"Looh....ada apa, Sa?"
"Acara resmi kenegaraan Peringatan Proklamasi 17 Agustus di Istana Negara kok pakai nanggap dangdut koplo. Penyanyinya anak-anak lagi."
"Ya gak papa to, Sa. Itu kan tandanya Presiden kita merakyat, sekaligus menunjukkan kepada khalayak bahwa beliau menghargai kesenian rakyat. Istana Negara terbuka untuk pentas kesenian rakyat."
"Ya gak bisa begitu, Pak Bei."
"Kenapa gak bisa? Itu kan gaya kepemimpinan, Sa. Setiap Presiden punya gaya dan selera masing-masing."
"Iya tahu. Tapi mbokya jangan begitulah. Saya ini juga penggemar dangdut koplo lho, Pak Bei. Tapi mbokya empan-papan dan sadar posisi, harus tahu kapan dan di mana boleh berkoplo-ria dan tidak. Masa di acara resmi kenegaraan kok jogetan seperti itu. Trembelane tenan."
"Mestinya bagaimana, Sa?"
"Pak Bei, yang bikin aku semakin ngelus dada itu, lha kok ya tega-teganya mlekotho anak kecil disuruh nyanyi untuk puja-puji pada Baginda di forum resmi kenegaraan."
"Lah kan Sasa lihat sendiri, nyatanya semua peserta upacara termasuk Presiden, Menteri, dan Pejabat Negara jadi terhibur bahagia, lalu semua ikut jogetan mengikuti alunan nada bocah cilik bersuara emas dan gayanya yang luwes itu."
"Cen trembelane kabeh."
"Lha gimana to, Sa. Namanya juga orang bergembira-ria mensyukuri kemerdekaan."
"Ya itulah koplo, Pak Bei."
"Maksudmu?"
"Pil koplo itu bikin orang jadi pekok, jadi mabuk, jadi teler, seakan tidak punya masalah dalam hidupnya. Padahal itu sejatinya hanya pelarian dari masalah berat yang sedang dihadapinya."
"Ya kan setiap orang hidup pasti punya masalah, Sa."
"Iya benar, Pak Bei. Saya juga tahu. Dan orang yang lari dari masalahnya dengan cara mabuk itu jadinya pekok. Rakyat kok disuruh pekok kabeh."
"Sa, yang kemarin itu bukan mabok, lho. Gak mungkinlah bapak-bapak itu minum ciu atau bir oplosan seperti kamu dulu."
"Memang repot tenan ngobrol sama orang gak mudheng."
"Hahaha....iya benar, Sa. Kali ini saya memang merasa jadi pekok ngobrol sama kamu."
"Agak cerdas sedikitlah, Pak Bei. Jangan ikut-ikutan menganggap seolah negeri ini sedang baik-baik saja."
"Maksudmu?"
"Pak Bei pasti tahu lembaga penegak hukum kita sedang dhedhel-dhuel karena ulah para oknumnya. Bila masalah aparat penegak hukum ini tidak segera terselesaikan, lihat saja, rakyat pasti akan hilang kepercayaan pada Pemerintah. Ini bahaya, Pak Bei."
"Ooh maksudmu kita sedang menghadapi kasus polisi nembak polisi di rumah dinas polisi diumumkan oleh polisi lalu diusut dan diperiksa polisi di kantor polisi itu?"
"Bukan hanya itu. Pak Bei tentu juga tahu harga-harga kebutuhan pokok terus naik, termasuk listrik dan BBM terus naik tanpa kompromi. Fakir-miskin semakin banyak. Pergaulan bebas remaja-remaja kita juga semakin gila. Angka perceraian meningkat tajam di mana-mana. Kasus-kasus LGBT dan pornoaksi-pornografi kita dengar sehari-hari. Guru-guru sekolah tidak lagi dihormati, bahkan tidak jarang dianggap melanggar hak azasi siswanya. Dan masih banyak lagi, Pak Bei. Miris...."
Diam-diam Pak Bei kagum pada sahabatnya. Kali ini Sasa benar-benar menunjukkan kelasnya. Dia bukan juru parkir sembarangan, tapi orang jalanan yang punya ilmu titen. Dengan logika othak-athik gathuk berdasar sedikit informasi yangdidapatkannya, Sasa bisa membaca kahanan dengan tepat. Itulah sebabnya Pak Bei suka berguru kepadanya, meski Sasa tidak pernah menyadarinya. Kali ini Pak Bei melihat Sasa sedang benar-benar sedih, prihatin pada keadaan negara, tapi tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya grundhelan dan misuh.
"Makanya jangan jadi rakyat terus, Sa," kata Pak Bei sambil meninggalkan Sasa, menuju kasir membayar makanan, lalu pulang mengurus pekerjaan di rumah.
#serialpakbei
#wahyudinasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar