"Assalaamu'alaikum. Piye kabare, Nda?" begitu bunyi pesan WhatsApp yang masuk tepat ketika Pak Bei selesai membuatkan kopi untuk sahabatnya, Sasa, si-juru parkir teladan nasional dari Soto Kartongali Jolotundo. Nomor pengirim WA belum dikenal, belum tersimpan di memori hp, tapi kata sapaannya 'Nda' menandakan cukup akrab. Dilihatnya foto profil pengirim pesan. Tak asing lagi, dari teman lama waktu masih aktif di kampus Bulaksumur dulu, yang sejak lulus berprofesi sebagai wartawan di media Nasional di Jakarta. Dab Wachid, begitu Pak Bei dulu memanggilnya.
"Apik, Dab. Aman terkendali, alhamdulillah," tulis Pak Bei.
Dimasukkannya HP ke saku baju, lalu Pak Bei berjalan ke depan untuk nemui tamu sambil kedua tangannya menyangga lepek dan gelas kopi. Baru saja Pak Bei meletakkan dua gelas kopi di meja bundar dan duduk di bantal kesukannya, HP di sakunya berbunyi lagi, nada panggilan telepon WA.
"Nda, ini aku lagi di Semarang."
"Ada tugas di Semarang?'
"Iya ini, di tempat pelelangan mobil. Sampeyan butuh mobil apa? Ini mumpung ada lelangan bagus-bagus, harganya juga menarik. Mau Honda, Toyota, Mitsubhisi, Daihatsu, ada semua. Yang pick-up juga ada," sambung Wachid sembari menyebutkan beberapa contoh harga mobil lelangan.
Pak Bei bertanya-tanya, apa Wachid sekarang nyambi jadi makelar kendaraan? Apa sekarang tinggal di Semarang sehingga pakai kata sapaan 'Nda'? Atau mungkin saja dia kebetulan sedang liputan atau hunting berita di sekitar Semarang. Tapi kenapa di lelangan mobil? Apa sekarang jadi spesialis berita otomotif, bukan lagi berita sosial-budaya seperti dulu? Gak taulah, sudah hampir 5 tahun tidak ketemu Wachid, dan jarang bertukar kabar karena kesibukan masing-masing.
"Sebentar, Dab, ini aku lagi ada tamu. Sori, ya," jawab Pak Bei mengakhiri panggilan telepon Wachid.
Baru saja Pak Bei mau mulai ngobrol dengan Sasa, panggilan masuk berdering, dari Wachid lagi. "Piye, Nda, ini mumpung ada barang bagus-bagus dan murah. Eman kalau terlewatkan," kata Wachid.
Memeng, sejak beberapa waktu lalu Pak Bei berpikir untuk nambah armada untuk operasional di Bundaco, minimal mobil pick-up untuk angkut barang kulakan dari Solo, juga untuk mengirim via ekspedisi di Kota Klaten.
"Ada pick-up apa saja, Dab?" tanya Pak Bei.
"Ini ada Grandmax dan Carry, juga ada L300."
"Berapa harga?"
"Grandmax 2021 harga 85. Carry 1.5 2020 harga 75. L300 2019 harga 90."
"Wah yang bener?"
"Sampeyan mau yang mana, tolong transfer 15 juta saja dulu untuk DP."
"Kapan?"
"Ya sekarang, masa besok. Biar bisa kuproses dulu. Ini cepet-cepetan, Nda. Siapa yang cepat dia dapat."
"Pelunasannya kapan?"
"Ya nanti kalau sudah fix kita langsung dilunasi. Barang akan saya antar ke Klaten."
"Harus sekarang aku transfer DP?"
"Iya, Nda. Ini cepet-cepetan."
"Oke, Dab. Nanti kukabari." Pak Bei mengakhiri pembicaraan.
"Kok nyolowadi to, Pak Bei?" kata Sasa mengomentari obrolan Pak Bei di telepon tadi. Rupanya dia sengaja nyuri dengar.
"Nyolowadi bagaimana, Sa?"
"Mencurigakan."
"Apanya?"
"Mendengar omongannya tadi, aku curiga orang itu hanya mau menipu Pak Bei."
"Kok bisa, Sa?"
"Feeling saya begitu."
"Gak mungkinlah, Sa. Itu tadi teman lamaku, lho."
"Pak Bei yakin orang tadi teman Pak Bei?"
Pertanyaan Sasa menohok Pak Bei. Terlintas di ingatannya wajah Wachid yang dikenalnya sejak di kampus dulu. Orangnya lgugu, asli wong Bantul. Bahasanya medok Jawa Mataraman. Tapi kenapa tadi logatnya Suroboyoan, logat Ludrukan?
"Wah iya ya, Sa. Memang ada yang aneh. Mungkin benar feelingmu."
"Lah gimana, Pak Bei?"
"Pertama, kenapa Wachid ganti nomor? Kedua, Wachid itu asli orang Bantul, tapi kok omongannya tadi pakai logat Suroboyoan. Jelas ini tidak lazim, nyolowadi, aneh. Kedua, aku disuruh cepat-cepat transfer DP sekarang juga, seolah-olah aku ini lagi sangat butuh mobil."
"Terus, di ia minta transfer pelunasan kapan?"
"Nanti sebelum mobil diantar ke sini harus dilunasi dulu, katanya."
"Walah...itu cuma modus, Pak Bei. Jangan transfer DP, apalagi melunasi. Jelas itu penipuan. Kali ini Pak Bei harus percaya Sasa."
Pak Bei pun jadi penasaran dengan Wachid. Dicarinya nomor Wachid yang ada di phonebook, lalu dicoba menghubunginya via telepon. Masih aktif, nada panggilan pun masuk.
"Assalaamu'alaikum. Apa kabar, Dab Bei? Njanur gunung siang-telepon. Wonten dhawuh?" kata Wachid dengan logat Mataraman.
"Wa'alaikumsalam... Piye kabarmu, Dab? Lagi di mana ini?"
"Biasa di Jakarta, Dab. Di kantor."
"Kirain lagi di Semarang."
"Sudah lama aku gak tugas luar kota, Dab. Sejak sakit beberapa tahun lalu."
"Sakit apa?"
"Ya beginilah resiko kerja di bawah tekanan, dikejar-kejar deadline. Ginjalku kena, Dab. Gak boleh kecapekan lagi."
"Pantesan dah lama gak mampir ke rumah. Ya sudah, selamat bekerja. Jaga kesehatan, ya. Donga-dinonga."
"Siap, Dab Bei. Matur nuwun sudah telepon."
"Bener kamu, Sa. Joss tenan feelingmu. Orang tadi cuma penipu yang ngaku sebagai Wachid temanku dan pakai foto profilnya. Dia nyuri foto temanku."
"Gelagaknya sudah jelas kok,. Cetho welo-welo. Jelas cuma penipu."
"Wah untung ada kamu, Sa. Kalau tidak, pasti sudah kebobolan aku. Makasih ya, Sa."
"Jama sekarang kok, Pak Bei. Orang cari makan dan kesenangan semakin pintar dan banyak caranya. Orang berbuat jahat juga semakin canggih caranya."
"Tapi kita gak boleh shu'udhon pada orang lain lho, Sa."
"Bukan shu'udhon, Pak Bei, tapi waspada. Harus waspada, hati-hati. Saat ini semakin banyak kejahatan mengincar kita. Nyatanya Pak Bei baru saja hampir saja kena tipu, kan?"
"Iya ya. Untung ada Sasa."
Terdengar azan dhuhur bersahutan. Sasa pun pamitan setelah menghabiskan kopinya, dan Pak Bei bersiap ikut jamaah di mesjid.
#seriakpakbei
#wahyudinasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar