SOGOK-MENYOGOK
Pak Bei sedang asyik ngobrol dengan tamu-tamunya ketika Sasa sahabatnya mak-bedunduk datang naik supercup tua andalannya. Tamu-tamu yang dari tadi ngobrol dengan Pak Bei pun tampak surprise dengan kehadiran Sasa. Meski belum pernah kenalan, tapi mereka tahu bahwa yang datang itu si-juru parkir teladan yang sering diceritakan Pak Bei di berbagai kesempatan.
"Assalaamu'alaikum, Pak Bei," Sasa menyampaikan salam sambil turun dari motornya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Bei.
"Mohon ijin saya mau minta kopi," kata Sasa sambil pringas-pringis.
"Siap, Sa. Sini kenalan dulu sama teman-temanku," lanjut Pak Bei sambil beranjak menuju dapur, membiarkan Sasa kenalan sendiri dan ngobrol dengan teman-temannya.
Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali dengan segelas kopi dan lepek di tangannya.
"Ada kabar apa, Sa, kok tumben sore-sore ke sini?"
"Saya minum dulu, ya. Monggo, Mas," Sasa basa-basi sambil menuangkan kopi panas di lepek. Dia tahu betul cara minum kopi panas tapi tidak mlocot atau terbakar lidahnya.
"Begini lho, Om, aku cuma mau tanya bagaimana pendapat Njenengan soal seorang Rektor Universitas yang ketangkap tangan KPK karena kasus sogokan itu?"
Mendengar pertanyaan Sasa, Pak Bei senyum-senyum sambil melirik tamu-tamunya, tiga pemuda yang mantan aktivis kampus itu. Dari tadi mereka juga ngajak Pak Bei ngobrol soal kasus itu. Tentu obrolan juga melebar ke mana-mana, termasuk Genk Sambo dan mafia 303 yang masih heboh entah sampai kapan, juga tentang kasus penembakan laskar FPI di KM 50 yang masih misterius, dan berbagai isu kekinian dan sensitif lainnya.
"Sa, kalau soal itu biar Mas Didin dan teman-teman ini yang jawab. Monggo, Mas Didin, silakan pertanyaan Pak Sasa direspon," Pak Bei mempersilakan tamunya.
Seperti biasa, Didin yang perokok berat itu menyulut dulu rokoknya sebelum mulai bicara. Pak Bei hafal betul kebiasaan temannya ini blangkemen alias gak bisa banyak bicara kalau tidak sambil klepas-klepus mengisap rokok dan ngebulkan asapnya.
"Pak Sasa ternyata ngikuti juga kasus Rektor dicokok KPK, ya," Didin mulai merespon Sasa.
"Cuma kabetulan pas tadi pagi nyetel tivi kok ada berita itu, Mas. Saya jadi heran, kok ada ya pimpinan perguruan tinggi yang mentalnya sebejat itu," jawab Sasa.
"Gak usah heran, Pak Sasa."
"Gak usah heran bagaimana, Mas? Lha Rektor itu kan orang pintar yang terpilih sebagai pemimpin perguruan tinggi untuk mendidik kader-kader bangsa masa depan yang disebut mahasiswa."
"Pak Sasa, Rektor itu juga manusia biasa, lho. Yang ketangkap itu kan hanya kebetulan saja sedang apes."
"Maksudnya?"
"Loh memangnya hanya Rektor Universitas itu saja yang selama ini main sogok-menyogok? Apa di perguruan tinggi yang lain tidak terjadi?"
"Wah ini, saya jadi gak mudheng, Mas. Nyatanya baru kali ini ada Rektor ketangkap KPK."
"Memang benar, Pak Sasa," Irfan ikut merespon. "Memang baru kali ini terjadi penangkapan. Tapi sebenarnya sogok-menyogok itu sudah lama terjadi di dunia pendidikan kita," sambungnya.
"Maksudnya, di perguruan tinggi lain juga terjadi, begitu?"
"Ya kan sudah biasa kita dengar, Pak Sasa," jawab Irfan. "Agar anaknya bisa diterima kuliah di perguruan tinggi yang diinginkan atau bekerja jadi pegawai negeri, misalnya, seorang bapak sampai menjual tanah, sawah, atau kebunnya. Namanya juga sayang anak."
"Ya iya sih, Mas. Saya juga pernah dengar cerita, agar anaknya bisa diterima jadi taruna di Akpol atau Akmil, misalnya, orang tua harus nyiapkan ratusan juta bahkan sampai milyaran untuk nyogok. Tapi saya kira itu cuma isu lho, Mas."
"Memang sulit dibuktikan, Pak Sasa," Didin bicara lagi. "Tapi nyatanya sekarang apa yang terjadi? Korupsi di mana-mana, di semua lini. Itu karena sejak proses belajarnya saja sudah pakai nyogok. Ketika pengangkatan pegawai juga pakai nyogok, penempatan pakai nyogok, kenaikan pangkat pakai nyogok."
"Wah enak ya yang disogok," kata Sasa sambil cengar-cengir.
"Mungkin enak, Pak Sasa. Tapi bagi yang sedang apes seperti Rektor itu, betapa malunya. Habis reputasinya sebagai Guru Besar. Ambyar kepercayaan orang padanya. Padahal di samping jadi Rektor, dia juga jadi tokoh sebuah ormas Islam, lho. Memalukan to, Pak Sasa?"
"Banget, Mas. Memalukan sekali. Dia bukan hanya telah merusak dunia pendidikan tinggi, tapi juga merusak kepercayaan masyarakat pada ormas itu. Kasihan jamaahnya."
"Tapi sekali lagi, itu cuma kebetulan lagi apes saja, Pak Sasa. Yang masih aman-aman saja di lembaga yang lain pasti juga banyak."
"Iya sih, Mas. Jadi pejabat jaman sekarang kalau gak mau korupsi pasti tidak akan awet. Istilahnya, kalau tidak bisa bekerja sama ya tidak akan dipakai lagi."
"Sudah paham to, Sa? Begitulah yang terjadi. Negeri kita ini memang sedang sakit karena yang ngurusi juga orang-orang yang lagi sakit," kata Pak Bei.
"Repotnya, Pak Sasa, orang-orang yang sakit itu merasa sehat-sehat saja. Orang yang waras justru akan dianggap sakit dan sumber penyakit yang harus dimusuhi," kata Didin.
"Orang sakit tidak mau dikritik dan gak mau dibilang sakit, Pak Sasa. Orang yang mengkritik akan dituduh radikalis, teroris, intoleran, tidak pro-NKRI, pro-khilafah, anti-Pancasila, dan sebagainya," kata Irfan dengan semangat.
"Untung kita tinggal di desa ya, Pak Bei," kata Sasa, "Terserah saja orang-orang di kota rebutan kekuasaan, saling fitnah dan berlomba-lomba menguasai aset negeri. Kita tenang-tenang saja di sini, ayem-ayom ketawa-ketiwi sebagai penonton sambil ngopi-ngopi dan nyoto di pagi hari."
"Jangan lupa berdoa, Pak Sasa," Udin yang dari tadi diam saja ikut bicara, "Meski katanya doa itu selemah-lemahnya orang berjihad, tapi sebaiknya kita tetap berdoa agar keadaan negeri ini segera membaik, segara sehat kembali."
Terdengar azan Maghrib bersahut-sahutan dari speaker masjid-masjid sekitar. Pak Bei mengajak tamu-tamunya ke mesjid depan rumah. Obrolan dan ngopi sore pun diakhiri.
#serialpakbei
#wahyudinasution
"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar